Cerpen: Ranang Aji SP
Jendela Lantai Dua
[Pukul 10:00, 21-9-2003]
Aku baru menemui Lia bertahun-tahun kemudian. Itu terjadi setelah Jeany, kakak Lia berhasil menghubungiku. Namun, keadaan tidak seperti harapanku.
“Maaf, aku sudah berusaha, tapi aku tak bisa menemukannya,” kataku.
“Tak apa, aku membawanya pergi,” jawab Jeany.
“Aku benar-benar menyesal,” ucapku.
“Tak perlu,” katanya dengan mata suram.
Lia menyaksikkan ketika semua itu terjadi. Dia dikurung oleh kengerian saat pagar dan pintu didobrak. Seorang pria menyeretnya ke kamar sebelum memperkosanya. “Dia harus berasimilasi atau dipaksa,” katanya sebelum kemudian pergi meninggalkan Lia begitu saja yang tubuhnya terkulai seperti bangkai. Dari tangga, pria itu berteriak, mengusir para penjarah, seolah dirinya adalah pahlawan.
Pukul 19:00, 07-01-2004
Aku bertemu Lia di kamar lantai dua. Tubuhnya mengecil, dengan mata yang murung. Michel, anaknya, duduk di pojok ruang bersama dua anjing yang menjulurkan lidah. Anak itu kurasa mewarisi kecantikan ibunya, tapi matanya gelap dan mulutnya tertutup rapat. Hanya anjing-anjing itu yang sepertinya dekat dengannya.
Ketika aku menyapa, awalnya Lia tak bereaksi. Lalu, dia memutar tubuhnya. Matanya sedikit bercahaya, seolah ada pikirannya yang bergerak. “Dia mengingatmu,” bisik Jeany. Aku berharap begitu, tapi matanya kembali meredup, kembali menghadap jendela. Lalu. kudengar suara seperti geraman dari tenggorokannya.
Pukul 18:45, 15-06-2006
Jeany membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari Lia semakin menjauh dari kehidupannya. “Dia seperti singa terluka,” katanya. Lia tak pernah mengontak siapa pun. Ketika Jeany menemukannya pasca-kerusuhan, Lia tampak masih tabah. Tapi kemudian ia hamil. Menyadari sesuatu tumbuh dalam perutnya, ia histeris, dan mencoba menggugurkan kandungannya berkali-kali. Tapi, Jeany mencegahnya. “Akan lebih buruk jika dia membunuh bayinya dan dirinya sendiri.”
Setelah Michel lahir, Lia menjadi semakin murung. Dia tak pernah menyentuh anak itu. “Mereka keluargaku yang tersisa,” kata Jeany. “Kedua orangtuaku sudah menjadi korban,” lanjutnya. Jeany menghela napasnya. Diam sejenak. Matanya menatapku. “Michel harus diterima sebagai takdir. Aku yang memberinya nama. Aku yang merawatnya.”
[Pukul 11:15, 10-11-2009
Setelah bertahun-tahun, aku tetap saja masih merasa bersalah. Apalagi mengingat keadaan Lia. Seandainya aku menjemput Lia saat itu, semua itu mungkin tak akan terjadi. Tapi semuanya sudah berlalu. Aku hanya berharap Lia mampu pulih kembali. “Berjanjilah datang lagi,” kata Jeany. “Mungkin itu akan menyembuhkannya.”
Aku mengangguk dan berharap demikian.
[Pukul 21:30, 17-11-2009]
Telepon berdering. Aku mengangkatnya dengan sedikit heran; jarang sekali Jeany menelepon selarut ini. Suaranya terdengar aneh, seperti tercekat di tenggorokan. Beberapa detik aku hanya mendengar napasnya yang berat, seperti seseorang yang tengah menahan sesuatu yang tak bisa dikeluarkan begitu saja.
“Jeany? Ada apa?” tanyaku.
Dalam beberapa detik, aku hanya mendengar isakan kecil, nyaris tak terdengar, lalu napasnya tertahan sebelum akhirnya pecah. “Michel…” katanya dengan suara parau.
Aku menggenggam ponselku lebih erat. Ada jeda panjang yang mencekik di antara kami.
“Apa yang terjadi?” suaraku nyaris berbisik.
Jeany menghela napas panjang, seakan mencoba mengumpulkan keberanian. “Michel meninggal.”
“Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?” aku bertanya lebih keras dari yang kumaksudkan.
“Aku… aku tak tahu harus mulai dari mana,” suara Jeany terdengar gemetar. “Aku mendengarnya menangis tadi sore. Lia diam saja. Aku pikir dia hanya kelelahan. Lalu tiba-tiba, semuanya hening. Aku pikir Michel tertidur. Tapi… Tuhan, aku tak tahu… Aku tak tahu bahwa itu terakhir kalinya aku mendengar suaranya.”
Darahku terasa membeku. “Jeany, kau di mana sekarang?”
“Di hotel,” katanya dengan suara nyaris tak terdengar. “Aku tak bisa kembali ke rumah. Aku tak bisa melihatnya lagi.”
Aku menarik napas dalam, mencoba meredam getaran dalam suaraku. “Aku akan menemuimu besok pagi.”
[Pukul 09:00, 18-11-2009]
Aku menemuinya di lobi hotel. Udara di dalam terasa dingin, tapi bukan karena AC, melainkan karena sesuatu yang menggantung di antara kami. Jeany duduk di kursi dengan wajah pucat, matanya sembab. Cangkir kopi di depannya masih penuh, uapnya sudah menghilang.
Aku duduk di seberangnya, mencoba membaca ekspresinya, tapi ia menunduk.
“Bagaimana itu terjadi?” tanyaku akhirnya.
Jeany menatap kosong ke meja, seperti masih mencoba merangkai kata. Aku melihat tangannya sedikit gemetar.
Akhirnya, ia menghela napas panjang. “Lia melemparnya dari jendela lantai dua.”***
___________________________________________

Ranang Aji SP
Menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris dan naskahnya berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku: Antara Sastra Modern dan Pacamodern, Makna dan Jejak Terpengaruhannya” menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya “Mitoni Terakhir” diterbitkan penerbit Nyala (2021). Menggagas teknik fraksionasi dalam fiksi. Menulis “Sejarah Cerita Pendek dan Perkembangannya (Get Press Indonesia, 2025). Tinggal di Magelang, Jawa Tengah.
Leave a Reply