Monolog Oriale
Menunda Rindu
GADIS AWAL 20-AN, SEMESTER AKHIR KULIAH, TERKENAL CERDAS MEMPUNYAI BANYAK TEMAN TAPI SUKA SENDIRIAN, EXTROVERT YANG SEKALIGUS INTROVERT. SEJAK KECIL HANYA MEMILIKI SATU SAHABAT, SEKARANG SUDAH TIDAK PUNYA LAGI. SAHABATNYA MENINGGAL KARENA KECELAKAAN LIMA TAHUN YANG LALU. ANAK TUNGGAL, TINGGAL BERSAMA ORANG TUANYA.
DUDUK DI TEPI RANJANG, MEMAKAI DASTER, RAMBUT DIKUNCIR SATU, TIDAK RAPI. PANDANGANNYA MENUJU KE KURSI KOSONG DEKAT MEJA BELAJAR
(berbisik)
Hei!
Kamu masih disitu?
Ra…
Tadi malam aku sungguh mendengar suaramu, jelas di telingaku.
Bukan dalam angan-angan, audible!
Seperti suaramu dari seberang telepon… Dulu…
(senyum-senyum)
Kita suka telponan malam berjam-jam, padahal sesiangan kita barengan
Lebih konyol lagi waktu SMP, pake acara surat-suratan, padahal duduk sebangku….
Hahaha..
Ra…
Itu suara kamu, kan?
Bahkan aku tidak perlu menebak-nebak lagi.
Aku masih ingat benar.
Tenang, lambat dan sering nadanya meninggi di akhir kalimat, tanpa sebab.
(senyum-senyum)
Kita sering membahas soal ini dalam perjalanan pulang sekolah dulu.
Kata Bu Guru: suaramu bagus, tenang, berwibawa, tapi kenapa mesti tiba-tiba naik nadanya tanpa sebab? Apa motivasinya? Sungguh sangat mengganggu jadinya.
“Ada bunyi nging-nya di kuping, Ra”
Ehm, motivasinya apa?
MO – TI – VA – SI …. Hahaha…
Lahhh… wong cari motivasi buat konsisten bangun pagi dan semangat sekolah aja susahnya bukan main.
Ini malah diberi PR menjawab motivasi nadamu yang tiba-tiba naik di akhir kalimat.
Hahahaha….beraattttt….berattt…
Eh, tapi seingatku, sejak TK dulu nada akhir kalimatmu sudah kacau begitu, kan?
Sampai-sampai Ibu-Ibu kompleks sering kasih permen, tiap kali mereka tergelak mendengar suaramu.
Kecuali tante Tina yang senewen, karena merasa jantungan dengar suara tinggimu yang tiba-tiba.
“Kenapa kamu ini suka marah-marah? Masih kecil sudah pintar main nada protes”
Lalu wajahmu yang polos, bingung mau jawab apa, kembali membuat Ibu-Ibu yang lain terbahakbahak.
Dan sampai hari ini, belum terjawab juga PR-mu.
Motivasinya apaaaa?
Hahahahahaha…..
Hei!
Ra…
Kamu masih disitu kan?
Kamu dengar suaraku? Aku berbisik begini supaya tidak dianggap gila.
Kalau sampai Ibuku dengar aku sedang berbicara denganmu, aku bisa diseret keluar kamar lagi.
Kamu ingat?
Tepat seminggu yang lalu begitu, kan?
Lagi asyik-asyiknya kita ngobrol, langsung diinterupsi.
Dia bilang aku tidak waras, sering halusinasi, depresi, gila.
Sambil terus nerocos, panjang kali lebar kali tinggi.
Gak jelas ngomong apa!
Coba lain kali kejadian begitu lagi, aku mau dengar kelanjutannya,
sebutan apa lagi yang sudah dipersiapkan Ibu untukku.
Padahal aku ini anaknya lo, kok ya tega-teganya keluar istilah-istilah begitu dari mulutnya.
Siapa tahu ketidakwarasanku, depresiku, gilaku ini diturunkan dari Ibuku.
Deoxyribonucleic acid yang dia wariskan.
Ya kan?
DNA!
Bisa jadi, ini turunannya, kan?
Ah sudahlah, biarkan saja
Sesukanya saja, mau dibilang apa, dikata-katain apa
Toh aku tidak akan berubah, tetap begini
Mencarimu, memanggil namamu, ngobrol sama kamu
belum bosan denger ocehanku, kan?
Kata buku yang kemarin aku baca: ngomyang itu perlu
Dibilang penting, malah.
Ralat: buku itu pakai istilah ngobrol, bukan ngomyang
Ngomyang itu istilahku sendiri, untuk menyebut aktivitas ngomong sampai kenyang bareng kamu
Aku setuju sih…
Rasanya memang ada efek healing di aku setelah selesai satu sesi ngobrol panjang
Sekalipun rasanya Ibuku bakal menyebutku bertambah gila setiap ini kulakukan
(merosot, duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjang)
(ambil guling, dipeluk erat, diam sesaat mata menerawang)
(mata memejam sebentar untuk menghalau tangis)
Hei!
Aku tahu kamu masih disitu.
Karena kamu itu tipe pendengar yang ideal, Ra
Kamu tau pasti: kapan aku tidak butuh jawaban atau solusi,
dan kapan saat aku memerlukannya
Cukup didengarkan saja sudah senang.
Didengarkan lo ya, pakai akhiran –kan, bukan sekedar didengar.
Dan kamu jagonya, Ra!
(suara guruh panjang)
(menutup telinga dengan guling)
Hhrgghh… hujan pagi!
Bakal berantakan semua rencanaku hari ini
Bukan rencanaku sih sebenarnya, mood-ku yang berantakan
Kamu paling tahu: aku benci hujan!
Ada kemarahan dan kesedihan dalam hujan
Kemarahan menggelegar, seperti hendak menelanku bulat-bulat
Sekaligus kesedihan amat sangat di tiap rintik dan derasnya
(terdiam beberapa saat, kembali memeluk guling, lalu tersenyum)
Tapi aku jatuh cinta pada petrikor
Menenangkan…
Kamu pernah bilang padaku: kalau memang tidak ada yang bisa disukai, tidak perlu memaksakan diri
Tidak usah mencari-cari hikmah dalam sengsara.
Katamu untuk menggambarkan kebencianku pada hujan dan kecintaanku pada petrikor.
Hei!
Kali ini kamu salah
Aku tidak perlu memaksa diri untuk mencintai aroma bahagia sehabis hujan
Bahkan itu terjadi seketika, sesaat setelah hujan berhenti
Seperti ketika aku sangat membenci kepergianmu
Masa-masa yang dipenuhi ketakutan, seisi dunia menjauh, meninggalkanku sendirian
Aku terpojok di sudut kamar ini, meringkuk, menunggu bayangan hitam melahapku
Pelan tapi pasti, menelanku hidup-hidup
Masa-masa dadaku terasa nyeri, ditusuk-tusuk oleh sedih yang teramat sangat
Mata yang tiap pagi bengkak karena tangis panjang di malam hari
Kulit bibir yang mengelupas
Rambut yang rontok hebat
Kulit yang pucat, kurang tidur dan sakit
Sakit raga, sakit jiwa, sakit hati
Kamu pergi tiba-tiba, Ra!
(menangis tersedu-sedu beberapa saat)
(ambil tissue, menyeka airmata, membuang ingus)
(berulang kali menghela nafas, kembali menguasai diri, tersenyum tipis)
Ra…
Sekarang kamu dekat,
Sedekat jari-jariku yang masih menggenggam erat kenangan kita
Kamu nyata,
senyata bunyi detik jam dinding yang berkejaran dengan detak jantungku
Seperti aku mencintai petrikor,
aku mencintai hadirmu yang tidak dibatasi ruang dan waktu
(diam sesaat, mengembalikan guling ke tempatnya semula)
Aku masih waras, tidak sedang berhalusinasi, tidak depresi, tidak gila
(berdiri, menuju kursi dekat meja belajar, mengelus sandarannya)
Kamu masih disini, Ra?
(tersenyum)
Nanti kita sambung ngobrolnya lagi
Aku mau siap-siap ke kampus
Janji, jangan kemana-mana
Jangan ninggal aku lagi
(membuka pintu kamar, menoleh ke arah kursi lagi)
Tunggu aku ya, Ra!
Kudus, 2022

Oriale, penulis dan aktif di Teater Djarum kelahiran Temanggung.
Leave a Reply