Cerpen: Ilham Wahyudi
Negeri Kopi

Sudah kutulis
Segala senja
Dan semua
Proses di dalamnya 1)
###
Seorang lelaki tua. Tidak! Sepertinya belum begitu tua, sehingga langkahnya masih terlihat panjang dan cepat, yang kurus badannya, yang lurus rambutnya, yang tampak buru-buru sekali ingin pergi. Di sebuah simpang, lelaki yang belum begitu tua itu melintasi seorang pemuda berkulit gelap, yang tidak kurus, tapi tidak juga gemuk badannya, yang keriting rambutnya, yang hidungnya mirip aktor Bollywood Shah Rukh Khan, yang suka menulis puisi, yang kalau ditanya suka puisi siapa, dia akan sigap menjawab Jokpin, yang bila pertanyaan soal puisi disambung dengan pertanyaan: suka puisi Jokpin yang mana? Cepat sekali dia menjawab dengan mudah; puisi Anak Pencuri2).
“Mau pergi ke mana, Pak?” tanya pemuda itu ketika melihat lelaki belum begitu tua itu melintas di depannya. Lelaki belum begitu tua itu berhenti. Sejenak memperhatikan pemuda itu.
“Oh, kamu rupanya Mahli,” jawab lelaki belum begitu tua itu.
“Iya, Pak. Kok buru-buru sekali?”
“Bagaimana tidak buru-buru, saya baru dapat undangan.”
“Undangan baca puisi, Pak?”
Lelaki belum begitu tua itu tersenyum, “Bukan. Tapi bisa saja nanti ditodong baca puisi. Biasalah, undangan ‘kan kadang tidak sama persis dengan isi acaranya. Jadi tetap saja saya harus siap-siap kalau ditodong baca puisi.”
“Jadi benar undangan baca puisi, Pak?” kejar pemuda itu, macamnya dia masih penasaran. Lelaki belum begitu tua itu pun kembali tersenyum.
“Bukan Mahli. Saya diundang ke Negeri Kopi.”
“Negeri Kopi?” Sekejap pemuda itu terdiam. Sepertinya dia pernah mendengar nama negeri itu. Tanpa ragu dia kembali bertanya, “Apa benar ada Negeri Kopi, Pak? Saya kira itu hanya rekaan atau semacam metafora seorang penyair saja.”
Lelaki belum begitu tua itu tertawa. Diajaknya pemuda itu duduk untuk mengobrol sebentar di sebuah pos ronda yang ketepatan ada di dekat simpang jalan itu, yang kebetulan juga sedang kosong tak ada orang yang berjaga. Aneh, padahal itu masih subuh. Bukannya maling atau orang yang mendadak berpikir jahat suka beroperasi saat subuh? Harusnya pos ronda itu tidak kosong melompong. Namun kata lelaki belum begitu tua itu, “Nah, ketepatan tak ada yang jaga. Jadi kita bisa mengobrol sebentar tanpa harus merasa terganggu mau pun merasa mengganggu, atau bahkan sampai harus minta izin segala terlebih dahulu dengan orang yang sedang berjaga di pos ini.”
Mereka berdua menepi dan kemudian duduk di pos ronda itu. Selang beberapa saat, lelaki belum begitu tua itu pun membakar rokok kreteknya. Tampak rokoknya hanya tersisa dua batang. Kalau diperhatikan dengan saksama, dalam sekali tarikan rokoknya dan ketika asap rokoknya dihembuskan, semerbak bau kesturi memenuhi pos ronda itu. Bau yang enak sekali; menciumnya serasa berada di sebuah taman yang indah.
“Wangi sekali asap rokoknya, Pak. Beli di mana rokoknya?” tanya pemuda itu.
“Oh, ini sepaket tadi dengan undangan yang dikirim panitia Negeri Kopi, Mahli.”
Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu lanjut kembali bertanya, “Jadi memang benar ada Negeri Kopi itu, Pak?”
“Saya juga tidak tahu, Mahli. Itu sebabnya tadi saya terima saja undangan itu dengan dada lapang dan hati gembira senang. Toh apa salahnya juga saya datang menghadiri sebuah undangan. Lagi pula, kalau pun saya dikerjai, yang artinya Negeri Kopi itu sebenarnya tidak ada, saya pun tidak akan rugi. Hitung-hitung memperpanjang silaturahmi.”
“Kalau begitu boleh saya ikut menemani, Pak?” tanya pemuda itu seraya melanjutkan ucapannya, “jadi kalau misalnya bapak ditipu, setidaknya ada saya yang menemani bapak pulang.”
“Jangan! Selain undangan ini memang hanya untuk satu orang, saya juga berencana mau kasih kamu kesibukan. Namun itu pun kalau kamu tidak merasa sibuk dengan kesibukan yang mau saya berikan.”
Pemuda itu terdiam. Pikirannya melesat ke berbagai kemungkinan perihal kesibukan yang dimaksud lelaki belum begitu tua itu.
“Kesibukan apa yang bapak maksud?”
Sebelum menjawab pertanyaan pemuda itu, ia bakar lagi sebatang rokoknya. Sepertinya lelaki belum begitu tua itu sangat kuat merokok, belum ada lima menit rokoknya sudah habis. Tampaknya itu rokok terakhir sebelum ia benar-benar pergi ke Negeri Kopi. “Saya dengar kamu sedang giat-giatnya menulis prosa, Mahli. Jujur saya senang mendengarnya, meskipun ketika kamu menulis puisi saya juga senang. Nah, ini ada penggalan puisi saya,” lelaki belum begitu tua itu memberikan secarik kertas kepada pemuda itu, lalu melanjutkan petatah-petitihnya, “jangan buka sekarang! Nanti saja kalau saya sudah sampai di Negeri Kopi. Dan kesibukan buat kamu yang saya maksud adalah, coba kamu kembangkan penggalan puisi itu menjadi sebuah prosa. Kalau nanti sudah selesai, kamu kirim saja ke media Anu. Syukur-syukur dimuat. Kalau pun tidak dimuat, anggap saja itu latihan kamu menulis prosa, Mahli.”
“Lalu, Pak?” tanya pemuda itu yang kelihatannya masih belum sepenuh paham.
“Lalu pulanglah kamu. Saya ‘kan mau ke Negeri Kopi, dan saya mau pergi sendiri. Namun seperti yang saya katakan tadi, kalau kamu sedang tidak sibuk, cobalah buat prosa dari penggalan puisi saya itu. Akan tetapi kalau kamu sibuk dan tidak berminat, anggap saja itu cendera mata saya untuk kamu.”
Pemuda itu lagi-lagi mengangguk. Namun bersamaan dengan itu, terbit pula sebuah perasaan aneh dalam diri pemuda itu ketika melihat gelagat lelaki belum begitu tua itu: kok macam tak biasa! Pemuda itu pun mencoba menerka-mencari sebab apa kiranya lelaki belum begitu tua itu terasa aneh. Namun kemudian, spontan lelaki belum begitu tua itu berdiri dan berkata, “Baiklah, Mahli. Saya pamit dulu. Sampai jumpa lagi, ya.” “Tunggu, Pak! Masih banyak yang ingin saya tanyakan.” Lelaki belum begitu tua itu tersenyum dan kemudian menjawab, “Tidak semua harus kamu tanyakan, Mahli. Dan tidak semua juga pertanyaan memerlukan jawaban. Jadi, lekaslah pulang!”
“Baik, Pak. Tapi satu pertanyaan lagi boleh ya, Pak?” bujuk pemuda itu.
Lagi-lagi lelaki belum begitu tua itu tersenyum. Sungguh senyumnya indah sekali. Dan tidak sedikit pun ia tampak kecewa meski baru saja ia memberikan sebuah pemahaman kepada pemuda itu. Merasa dipersilahkan bertanya oleh lelaki belum begitu tua itu, pemuda itu pun melemparkan kail pertanyaan terakhirnya.
“Memangnya bapak tidak punya keinginan balik kembali kalau sudah di Negeri Kopi? Maksud saya, permintaan bapak yang tadikan bisa besok-besok saja bapak sampaikan kepada saya; setelah bapak kembali dari Negeri Kopi. Lagi pula kenapa tidak kepada Asu, murid yang paling bapak sayang—tugas itu bapak diberikan?”
“Loh, itu bukan tugas Mahli. Oleh sebab itu kalau pun kamu tidak berminat, itu tidak soal. Sungguh ini hanya karena kita ketepatan saja ketemu di simpang jalan ini.” Mendengar jawaban itu Mahli mengangguk kembali. Melihat Mahli paham, lelaki belum begitu tua itu pun bersiap-siap melanjutkan perjalanannya dan berkata, “Sudah, ya, Mahli, saya sudah ditunggu oleh panitia Negeri Kopi. Sampai jumpa!”
Lelaki belum begitu tua itu pun membuang puntung rokoknya, dan kemudian melangkah dengan langkah yang panjang dan cepat. Seperti sedang diburu-buru waktu. Pemuda itu pun akhirnya tak lagi menahan langkah kaki lelaki belum begitu tua itu.
Tepat pukul 06.03 pagi yang sewarna senja, lelaki yang belum begitu tua itu hilang dari pandangan pemuda itu. Dan seperti pesannya tadi, pemuda itu pun pelan-pelan membuka secarik kertas pemberian lelaki belum begitu tua itu. Di dalam kertas itu terang tertulis:
Sudah kutulis
Segala senja
Dan semua
Proses di dalamnya
Akasia, 2024
- Keterangan:
- 1) Penggalan (kemungkinan puisi terakhir Jokpin) puisi Jokpin yang saya baca melalui postinga FB Juru Baca (Hasan Asphani).
- 2) Anak Pencuri, puisi Jokpin yang termaktub dalam buku puisi “Buku Latihan Tidur”
ditulis sebagai persembahan untuk mengenang penyair Joko Pinurbo.
_________________________________________
Ilham Wahyudi
Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia salah seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Selain menjadi seorang Fundraiser di Adhigana Fundraising, ia juga dikenal sebagai tukang mabuk. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan banyak yang ditolak redaksi. Buku kumpulan cerpennya “Buku Belajar Menulis Cerpen” telah terbit dalam bentuk digital.
Leave a Reply