
Bunga Bulan
NASKAH LAKON
Karya: Asa Jatmiko
11/14/2025


Tokoh:
- Bunga
- Bulan
- Mamah Bunga
- Papah Bunga
- Ayah Bulan
- Ibu Bulan
- Teman-teman Bunga
- Para Tetangga/Warga
Adegan 1
ANAK-ANAK TENGAH BERMAIN DI HALAMAN RUMAH. BULAN BUNDAR DI ATAS ATAP RUMAH. TERDENGAR MEREKA MENYANYIKAN SEBUAH LAGU CIPTAAN SUNAN GIRI:
Yo pra kanca dolanan ing njaba (Ayo teman, bermain di luar)
Padhang mbulan padhange kaya rina (Sinar bulan terangnya seperti fajar)
Rembulane e sing awe-awe (Bulannya yang memanggil-manggil)
Ngelingake aja padha turu sore (Mengingatkan jangan tidur sore hari)
Yo pra kanca dolanan ing njaba (Ayo teman, bermain di luar)
Rame-rame kene akeh kancane (Ramai-ramai di sini banyak temannya)
Langite pancen sumebyar rina (Langitnya memang terang seperti fajar)
Yo padha dolanan sinambi guyonan (Ayo bermain sembari bercanda)
KEMUDIAN MEREKA MENUJU RUMAH BULAN, DAN MEMANGGIL-MANGGIL BULAN UNTUK MENGAJAKNYA BERMAIN.
TEMAN:
Bulan…. Bu…laaaan…
TEMAN:
Ayo kita main di halaman, Bulan…
TEMAN:
Bulan…. Bulaaan…
TAK BERAPA LAMA BULAN KELUAR DARI KAMARNYA DI LANTAI 2.
BUNGA:
Hai, teman-teman!
TEMAN:
Sini turun, kita main, yuk!!
BUNGA:
Pengin banget!! Tapi…
TEMAN
Lihat, bulan di atas sana nampak indah sekali. Malam seperti nampak siang. Kita bisa bermain-main di halaman.
TEMAN:
Iya, Bulan, ayo sini! Ndak rame kalau ndak ada kamu…
TEMAN:
Ayolah turun.
BUNGA:
Iya, tapi…
TEMAN:
Tapi apa?
TEMAN:
Kamu takut main malam-malam?
BUNGA:
Tidak, aku tidak takut itu.
TEMAN:
Makanya, ayolah! Tunggu apa lagi?
BUNGA:
Ehm…tunggu sebentar!! (MASUK KE DALAM RUMAH)
TEMAN:
Mau apa dia?
TEMAN:
Kita tunggu saja. Mungkin dia mau minta ijin Mamahnya.
TEMAN:
Halaah, mau main aja harus minta ijin!
TIBA-TIBA YANG KELUAR BUNGA BERSAMA MAMAHNYA.
MAMAH:
Kalian mau ngajak kemana?
TEMAN:
Kami mau mengajak Bunga bermain-main di halaman, Tante.
TEMAN:
Cuma di sekitar sini aja, Tante, ndak jauh koq.
MAMAH:
Main apa?
TEMAN:
Ehm…yaa…
MAMAH:
Sudah, kalian bermain saja sana. Tidak usah ajak Bunga.
TEMAN:
Kenapa, Tante?
MAMAH:
Jam segini waktunya Bunga untuk belajar. Bunga harus mempersiapkan pelajaran untuk besok pagi. Memangnya kalian tidak belajar?
TEMAN:
Ya, belajar Tante.
MAMAH:
Ya udah, sana pulang kalian. Belajar!
TEMAN:
Tante, ini ndak setiap malam koq. Malam ini indah sekali, di langit bulan Purnama nampak indah, bulat penuh, seperti mengajak kita untuk bermain sebentar… Refresing, Tante, sambal menikmati keindahan alam karya Tuhan.
MAMAH:
Ah, kamu ketus, malah ceramahi Tante. Sudah, Bulan tidak boleh keluar rumah. Ia harus belajar!!
TEMAN:
Kalau besok-besok, boleh ajak Bunga, Tante?
MAMAH:
Tidak boleh! Waktu Bunga hanya boleh habis untuk belajar, sekolah, belajar, sekolah. Untuk mempersiapkan masa depan. Memangnya kalian, hidup tinggal hidup. Kamu tahu masa depan, ndak?
TEMAN:
Ee…
MAMAH:
Kalian pasti ndak tahu apa itu masa depan. Mana mungkin orangtua kalian memberitahu dan mengajari kalian tentang apa itu masa depan. Masa depan itu sebuah waktu hidup yang dihasilkan dari apa yang kalian lakukan hari ini. Hari ini kamu bermain, masa depanmu akan susah. Hari ini kamu tidak belajar, masa depanmu adalah kemiskinan, kebodohan…
MAMAH:
Bunga, sekali Mamah bilang tidak, maka tidak!! Masuk kamar, tutup pintu, dan be-la-jar!!
BUNGA:
Iya, Mah.
MAMAH:
Mamah pergi dulu, ada rapat persiapan Natal di gereja.
BUNGA:
Iya, Mah.
LALU MAMAH PERGI.
BUNGA:
Maaf ya, teman-teman, mamahku cerewet!!
TEMAN:
Ndak apa-apa, Bunga.
TEMAN:
Ya udah, kami pergi dulu, ya..
BUNGA:
Ssst…, sebentar!! Aku ikut! Nanti sebelum Mamah pulang, aku akan pulang lebih dulu. Jadi tetap aman, kan!
TEMAN:
Bunga… kau gila?!
TEMAN:
Ya sudah, ayok!
NYANYIAN
Adegan 2.
ANAK-ANAK YANG TADI TENGAH BERMAIN DI SEBUAH HALAMAN, TIBA-TIBA BERLARIAN TUNGGANG-LANGGANG. MEREKA MERASA TELAH MELIHAT HANTU, ATAU LEBIH TEPATNYA SESEORANG YANG BURUK RUPA DAN ANEH PERILAKUNYA, PAKAIANNYA COMPANG-CAMPING, KUMAL, RAMBUTNYA AWUT-AWUTAN TIDAK TERURUS BERTAHUN-TAHUN. NAMUN, SEPASANG MATANYA MERAH MENYALA. BAGI ANAK-ANAK, SOROT MATA ITU ADALAH SOROT MATA YANG KEJAM, SEPERTI HENDAK MENERKAM.
TEMAN-TEMAN BUNGA YANG TADINYA BERLARIAN KETAKUTAN, MELIHAT BUNGA JATUH, SATU PERSATU MENDEKATI BUNGA.
TEMAN:
Kamu tidak apa-apa, Bunga?
BUNGA:
Aduuh....sakit...
TEMAN:
Apanya yang sakit? Kepala?
TEMAN:
Kepalanya terantuk batu mungkin. Coba lihat memar, ndak?
BUNGA:
Bukan! Bukan kepala!
TEMAN:
Yang mana yang sakit?
BUNGA:
Aduuh...
TEMAN:
Kakinya mungkin. Tadi aku lihat dia jatuh karena kakinya terpeleset.
BUNGA:
Aduuh... Sakit..
TEMAN:
Coba dicek kakinya!
TEMAN:
Masih...
TEMAN:
Masih apa?
TEMAN:
Dua!
TEMAN:
Dilihat, kakinya ada yang luka ndak?
BUNGA:
Sakit..! Aku tidak bisa berdiri!
TEMAN:
Teman-teman, lihat, setan itu ke sini!
TEMAN:
Setan?! (MELIHAT) Ah, iya... gendruwo kecil! Aku takut!
TEMAN:
Ayo lari! Dia setan jahat! Cepat-cepat!
BUNGA:
Aku tidak bisa berdiri! Tunggu aku!
TEMAN:
Hei, teman-teman kenapa lari semua? Bantu Bunga sini!! Ah, gimana sih kalian?!
ANAK KUMAL ITU TERUS BERJALAN SEMAKIN MENDEKATI BUNGA.
TEMAN:
Bunga, maaf ya, aku tinggal kamu sendirian. Aku juga takut! Nanti kalau kamu sudah sampai rumah, kabari aku ya!! (KEMUDIAN PERGI).
ANAK KUMAL ITU BERJALAN MENDEKATI BUNGA YANG TERJATUH.
BULAN:
(Sambil merintih kesakitan) Tolong, tolong... jangan mendekat!
ANAK KUMAL ITU BERNAMA BULAN.
BULAN:
Aku bukan setan. Aku manusia biasa seperti kalian. Kenalkan, namaku Bulan.
BUNGA:
Bulan?
BULAN:
Bulan Desember.
BUNGA:
Aku tahu ini bulan desember.
BULAN:
Iya. Namaku juga: Bulan Desember.
BUNGA:
Ah, kamu bisa saja. Memang kamu lahir di bulan desember?
BULAN:
Iya.
BUNGA:
Deket hari ulang tahunmu, dong?
BULAN:
Iya, beberapa hari lagi.
BUNGA:
Namaku Bunga.
BULAN:
Bunga apa?
BUNGA:
Maksudmu?
BULAN:
Bunga Mawar? Bunga Matahari? Bunga Melati...
BUNGA:
Bukan itu... Namaku: Harum Bunga
BULAN:
Waah... indah sekali namamu.
BUNGA BERUSAHA BANGKIT BERDIRI. BULAN TAHU BUNGA CUKUP KESULITAN, LALU IA MENDEKAT DAN MEMBANTUNYA BERDIRI.
BUNGA:
Kamu bukan setan?
BULAN:
Bukan
BUNGA:
Kamu bukan orang jahat?
BULAN:
Bukan. Aku hanya jarang mandi. Aku tidak punya rumah. Tidurku di bawah kolong jembatan, atau kalau dapat kardus, aku membuat rumah-rumahan dari kardus untuk aku bisa tidur di dalamnya.
BUNGA:
Kamu hidup sama siapa?
BULAN:
Sendirian.
BUNGA:
Ayah dan Ibumu?
BULAN:
Ayahku pergi entah kemana. Ia pergi meninggalkan aku dan ibu.
BUNGA:
Sekarang dimana ibumu?
BULAN:
Aku tidak tahu. Seminggu yang lalu aku pergi meninggalkan ibu. Aku tidak ingin menjadi beban ibuku. Aku ingin hidup dari jerih keringatku sendiri.
BUNGA:
Memangnya kamu sudah bekerja?
BULAN:
Belum. Eh, sudah... kerjaanku meminta-minta. Kalau pas kebetulan yang kutemui orang baik, maka hari itu aku bisa makan kenyang. Tapi kalau tidak ada, ya cari-carilah di mana saja: tempat sampah, di trotoar... dimana saja yang ada.
BUNGA:
Ah, itu menjijikan Bulan! Menjijikan dan apa yang kamu makan itu tidak sehat. Nanti ikutlah ke rumahku, mumpung Mamahku belum pulang dari gereja. Akan aku ambilkan makanan buatmu. Kamu belum makan seharian ini, kan? Di tempatku ada banyak kue dan makanaan, aku bisa mengambilkannya untukmu.
BULAN:
Kamu baik sekali. Kamu tidak jijik atau takut sama aku?
BUNGA:
Takut si tidak. Ternyata kamu baik juga. Kalau jijik, iya. Kapan terakhir kamu mandi?
BULAN:
Wah, kapan ya... lupa, Bunga...
BUNGA:
Ya udah, nanti kamu mandi juga biar bersih badanmu. Ayo sekarang kita ke rumahku!
NYANYIAN
Adegan 3.
Mamah Bulan mencari-cari Bulan, setiap Bulan tidak ada di rumah. Ia curiga Bulan bermain ke tempat-tempat yang tidak baik. Saat itulah ia bertemu dengan ODGJ yang menolong Bulan di adegan 2. Tetapi Mamah sudah terlanjur takut dan benci terhadap orang-orang yang secara fisik kelihatan miskin, urakan dan tidak normal. Maka ia memberitahukan kepada orang-orang bahwa orang itu telah menganiaya dirinya, disakiti dan sebagainya.
Ada salah seorang Ibu yang juga tengah mencari-cari Bunga, anaknya. Dan anaknya itu adalah ODGJ tersebut. Ia mengatakan kepada orang-orang, kalau menemukan anak itu untuk dikembalikan kepadanya, karena ia lepas saat hendak dipasung. Ibu itu pun merasa menyesal telah melahirkan seorang anak yang tidak waras seperti anaknya. Ia bilang, anaknya juga berbahaya untuk lingkungan, karena suka merusak dan perilakunya aneh, sering tidak terkendali.
AYAH DAN IBUNYA BULAN MASUK.
AYAH BULAN:
Dimana anak kita, Bu? Kita sudah cari kemana-mana, belum juga ketemu.
IBU BULAN:
Aku juga tidak tahu. Biasanya dia main juga tidak jauh-jauh.
AYAH BULAN:
Kamu juga sih, kenapa ndak bisa njagain anak. Anak Cuma semata wayang, koq ya hilang….
IBU BULAN:
Bulan itu sudah besar, Pak. Harus dijagain bagaimana? Digendong dituntun ditimang-timang seperti anak kecil begitu? Dia itu sudah bukan anak kecil, Pak.
AYAH BULAN:
Bukan begitu maksudku. Kita itu orang miskin. Hidupnya bergantung kepada kebaikan orang. Rumah ndak punya, baju hanya punya ini dan satu-satunya. Mereka sering menganggap kita orang jahat. Aku khawatir Bulan diperlakukan semena-mena sama orang; dibully, dimaki, diusir. Bu, jangan-jangan Bulan malah digebukin orang…
IBU BULAN:
Eh, jangan ngomong sembarangan ah, Pak! Kamu ndak kasihan apa, kalau Bulan mengalami itu? Jangan mikir jelek. Sebaiknya kita cari lagi di tempat lain.
AYAH BULAN:
Iya.
PAPA DAN MAMA BUNGA MASUK.
MAMAH:
Tadi itu kan sudah Mamah pesan, “jangan pergi bermain! Belajar di rumah!” Kita pulang dari gereja, eh rumah kosong tidak ada orang.
PAPAH:
Mah, sudahlah, tidak perlu mengkhawatirkan Bunga. Mungkin dia lagi pergi sebentar. Di kamar terus juga bosan kan.
MAMAH:
Ah, Papah malah membela Bunga! Kalau Mamah bilang di rumah saja, ya di rumah saja, tidak boleh pergi. Ini rumah kosong, pergi pun tidak pamit.
PAPAH:
Koq marah sama aku. Nanti kalau ketemu Bunga, Papah nasehati.
MAMAH:
Sudah terlambat! Anaknya sudah pergi bermain entah dimana. Ngasih nasehat itu sebelum kejadian seperti ini.
PAPAH:
Iya…iya, Mah. Kita cari lagi saja. Mungkin di rumah temannya yang lain.
MAMAH:
Sudah dicari kemana-mana, Pah. Tidak ada.
BEBERAPA WARGA MASUK.
PAPAH:
Bapak-bapak, Ibu-ibu, maaf. Kami mau menanyakan, barangkali Bapak dan Ibu ada yang tahu. Apakah Bapak Ibu melihat anak kami Bunga?
WARGA 1:
Bunga? Ehm… tidak tahu, Pak. Apa dia tidak pamit mau kemana perginya?
MAMAH:
Kalau dia pamit kemana perginya, tentu kami tidak akan mencari-carinya, Pak.
WARGA 2:
Biasanya memang saya lihat Bunga, bersama teman-temannya. Tapi seharian ini, saya juga tidak melihatnya, Pak. Bahkan teman-teman Bunga pun, aneh juga, seharian ini tidak melihat mereka.
PAPAH:
Kalau Bapak, lihat Bunga ndak?
WARGA 3:
Kalau bunga yang ada di taman milik lingkungan itu, saya lihat memang ada beberapa tanaman yang sudah berbunga, Pak. Bagus bagus dan indah warnanya.
MAMAH:
Bunga anak saya, Pak.
WARGA 3:
Nah, kalau Bunga anak Bapak, saya tidak tahu.
WARGA 4:
Sebentar Bapak Ibu. Coba Bapak Ibu lihat ke sana: dua orang dengan pakaian compang-camping itu. Lihat kan?
SEMUA:
Iya, lihat.
WARGA 4:
Nahhh, itu dia!
WARGA 1:
Apanya yang “Naahhh”?
WARGA 4:
Siapa tahu mereka mengetahui dimana Bunga. Dan saya yakin mereka tahu. Seperti kabar yang sedang viral, orang-orang yang berpakaian compang-camping itu hanya kedok.
WARGA 2:
Kedok bagaimana?
WARGA 4:
Mereka itu bisa mendekati anak-anak dengan mudah, lalu dengan bujuk rayu mereka membawa anak-anak kita.
WARGA 3:
Mereka penculik?! Ah, kita habisi saja kalau begitu!!
WARGA SEMUA:
Ayoo! Habisi! Tidak ada kompromi! Sampah masyarakat!
PAPAH:
Sebentar..sebentar… jangan cepat untuk menghakimi orang lain. Apalagi menghabisi. Ndak boleh begitu. Sebaiknya kita tanyai dulu.
BEBERAPA WARGA MENDEKATI BAPAK DAN IBUNYA BULAN, DAN MENYURUH MEREKA KE TENGAH-TENGAH WARGA. SEMUA WARGA MEMPERHATIKAN BAPAK IBUNYA BULAN DARI UJUNG RAMBUT SAMPAI KAKI. DAN RESPON MEREKA ADA YANG MENAHAN MARAH, ADA YANG JIJIK.
PAPAH:
Maaf Bapak dan Ibu. Sepertinya Bapak dan Ibu ini bukan warga sini, ya? Kami baru melihatnya, dan masih asing. Siapa sebenarnya Bapak dan Ibu ini?
BAPAK:
Saya dan ini istri saya, bapak ibunya Bulan, Pak. (IBUNYA BULAN TURUT MENGANGGUK)
PAPAH:
Ada keperluan apa masuk ke lingkungan kami? Ya, barangkali ada yang dapat kami bantu.
WARGA 4:
Sudah jelas mereka penculik, Pak. Langsung saja kita habisi!
PAPAH:
Sebentar to…
WARGA 3:
Melihat wajah mereka, yaaa…. Memang wajah-wajah kriminal si… iya, kan?
WARGA SEMUA:
Iya, betul. Wajah kriminal.
PAPAH:
Kalian itu looo, menilai orang koq dari wajah.
WARGA 2:
Bukan hanya wajah, pakaiannya juga, Pak. Lihat, sekarang itu sudah tidak ada orang miskin di lingkungan kita. Mereka hanya pura-pura miskin. Hanya akting, Pak.
PAPAH:
Kamu juga sama, menilai orang dari pakaiannya. Sudah, kita tidak boleh menilai orang dari fisiknya. Kita juga harus mau mendengarkan pendapatnya.
BAPAK:
Apa yang disampaikan Bapak Ibu, memang benar kami itu orang miskin. Tetapi barangkali untuk menjadi kriminal, kami tidak pernah melakukannya. Hidup kami susah, untuk makan sehari-hari kami kesulitan. Tetapi kami tidak ada niat secuil pun dalam hidup kami untuk menyakiti orang lain.
PAPAH:
Terus kalian masuk ke lingkungan kami untuk apa? Kalian pemulung?
IBU:
Kami sedang mencari anak kami, Pak.
MAMAH:
Naaaahhhh, ketahuan bohong kalian, ya…
BAPAK:
Bohong bagaimana, Bu?
MAMAH:
Yang lagi mencari anak, itu saya. Kamu mau pura-pura bilang kehilangan anak karena kamu telah menculik anak kami, kan?
WARGA 3:
Sikat, Bu!
WARGA 4:
Sudah jelas, mereka ini yang menculik Bunga!
WARGA 1:
Iya betul! Dasar penculik!
BAPAK:
Kami tidak tahu apa-apa. Sungguh. Kami juga tengah mencari anak kami, Bulan namanya. Dia pergi entah kemana, dan tidak pamit.
MAMAH:
Kalian jangan bohong, ya!
BAPAK:
Kami berkata yang sebenarnya, Bu. Kami tidak berbohong.
WARGA 2:
Dasar penculik miskin! Kita usir saja!!
WARGA 4:
Iya, kita usir saja.
BEBERAPA WARGA MEMBELENGGU BAPAKNYA BULAN, SEMENTARA YANG LAIN HENDAK MEMUKULNYA. MEREKA HENDAK MEMBAWA BAPAK DAN IBU ITU KELUAR DARI LINGKUNGAN MEREKA DENGAN PAKSA.
Adegan 4.
LALU TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA BUNGA MENGHENTIKAN MEREKA SEMUA. BUNGA MASUK DIIKUTI BULAN DAN TEMAN-TEMANNYA.
BUNGA:
Mamah…! Papah…! Jangan!!
BULAN:
Ibu….! Bapak..!
BUNGA MENGHAMPIRI MAMAH DAN PAPAHNYA, SEMENTARA BULAN MENGHAMPIRI KEDUA ORANGTUANYA YANG MASIH BERSIMPUH DI LANTAI.
MAMAH:
Bunga, kamu dari mana saja? Mamah cariin kamu kemana-mana?
PAPAH:
Papah sama Mamah sampai keliling kampung untuk cari kamu. Kalau pergi itu pamit.
BUNGA:
Tadi kan ndak ada orang di rumah, Pah. Papah sama Mamah rapat persiapan Natal di gereja. Lagi pula, Bunga juga suntuk belajar terus. Pengin refresing, Mah. Bermain Bersama teman-teman.
WARGA:
Papah sama Mamah kamu khawatir kalau sampai kamu diculik orang.
WARGA:
Iya betul. Kan sekarang lagi marak penculikan anak.
WARGA:
Kita harus waspada, Bunga.
WARGA:
Ya, kita tidak pernah benar-benar yakin semua tempat itu aman. Apalagi untuk anak-anak seusia kalian. Dan tidak semua orang bisa kita percaya.
WARGA:
Nah, orang-orang kayak ini (KE ORANGTUA BULAN), orang-orang yang harus kita curigai. Kalau mereka bukan penculik, mereka ini juga sampah masyarakat. Kalau sampai mereka menculik, mereka adalah musuh masyarakat.
WARGA:
Baik sampah atau musuh, keduanya harus kita usir dari kampung kita, Pak/Bu!
BUNGA:
Sebentar, sebentar! Bapak dan Ibu semuanya salah sangka. Mereka bukan orang jahat, juga bukan sampah masyarakat.
PAPAH:
Bunga, apa maksudmu? Kamu kenal mereka?
MAMAH:
Ini akibat dari kamu banyak main di luar rumah, Bunga. Kamu punya teman-teman yang tidak baik seperti ini. Sudah, kamu pulang sana!
BUNGA:
Sebentar to, Mah. Sebentar Bapak Ibu… Bapak Ibu mungkin hanya melihat mereka dari luarnya saja. Pakaiannya jelek, compang-camping. Tapi baju dan penampilan itu tidak otomatis begitu juga dengan hatinya, kan?
Bapak dan Ibu juga menuduh mereka orang jahat. Apakah Bapak Ibu melihat sendiri kejahatan yang mereka lakukan? Apakah Bapak Ibu punya bukti mereka telah berbuat jahat? Tidak kan?
MAMAH:
Lantas siapa mereka, Bunga?
BUNGA:
Mereka orang baik. Mereka punya hati yang baik. Bungan dan teman-teman tadi juga ketakutan melihat Bulan. Kami berlari, dan Bunga terjatuh. Tapi Bulan datang mendekati Bunga dan menolong Bunga, Mah.
AYAH:
Bulan. Ayah sama Ibumu juga mencari-cari kamu kemana-mana. Dimana-mana kedatangan kami ditolak oleh orang-orang. Kami hampir putus asa tidak akan ketemu kamu…
BULAN:
Maafkan Bulan, Ayah Ibu.
BUNGA:
Bulan cerita dia pergi dari rumah, karena dia tidak mau hidupnya menjadi beban orangtuanya.
BULAN:
Iya, benar.
IBU:
Tidak, Nak. Kamu bukan beban buat hidup kami. Kamu tetap dan akan selalu menjadi penyempurna kebahagiaan hidup kami. Jangan pergi lagi, Nak. Hidup bersama kami.
MAMAH:
Pah, kamu jangan diam saja. Ayo punya inisiatif apa, gitu… Kita akan merayakan Natal, malah urusannya jadi begini.
PAPAH:
Iya, Mah.
(KEPADA BAPAK IBU DAN BULAN) Bapak dan Ibu, kamu minta maaf. Kami telah salah menilai orang, hanya dari penampilan. Tapi melihat cerita ini, kami justru merasa menjadi orang-orang yang menolak kehadiran Maria dan Yusuf yang meminta bantuan tumpangan, untuk melahirkan bayi Yesus. Kami benar-benar merasa bersalah dan menyesal. Kami yang sering ke gereja, malah tidak melihat Allah yang hadir melalui Bapak Ibu dan Bulan.
(KEPADA SEMUA ORANG) Bapak dan Ibu semuanya. Mari kita menjadi domba-domba yang hidupnya seturut kehendak gembalanya, ialah kehendak Allah sendiri. Kita tidak boleh menuduh dan mengadili orang semau dan suka-suka kita.
(KEPADA BUNGA DAN TEMAN-TEMANNYA) Bunga, dan kamu semua. Papah dan Mamah bersyukur sekali saat ini. Kalian adalah anak-anak Terang yang menunjukan kami jalan kebenaran. Kalian seperti Bintang-bintang yang membimbing kepada Bintang Timur, menempuh perjalanan Panjang untuk berjumpa dengan keluarga Nazaret. Papah dan Mamah sekarang justru bersyukur dan bangga. Peristiwa ini membuat kami semua merasakan betul kehadiran Allah di tengah keluarga.
MAMAH:
Pah, bagaimana kalau kita ajak mereka ikut merasakan kegembiraan dan kebahagiaan Natal di gereja?
PAPAH:
Setuju, Mah.
Bapak, Ibu dan Bulan. Kalau berkenan, kami ingin mengajak Bapak Ibu dan Bulan untuk merayakan Natal Bersama kami di gereja. Saya juga ingin memberikan baju-baju yang lebih pantas untuk Bapak Ibu dan Bulan pakai. Apakah mau?
IBU:
Iya, kami mau.
AYAH:
Terimakasih sekali.
MAMAH:
Ini sekaligus sebagai tanda, Bapak Ibu dan Bulan menanggalkan cara hidup lama dan berganti memasuki hidup yang baru: hidup bersama bayi Yesus di kandang-Nya, ialah di gereja.
AYAH:
Bapak Ibu dan anak-anak semuanya. Kami sungguh terharu atas kebaikan Bapak Ibu. Dan kami merasakan sungguh, bahwa Allah telah hadir dan menyelamatkan keluarga kami.
SEMUA:
Haleluya. Amin.
NYANYIAN PUJIAN.
TAMAT
_____________________
ditulis pertama kali pada 2023, diperbaiki dan diselesaikan pada Oktober 2025.
--------------------------
ASA JATMIKO
Art Provocateur



