
Esai
Dari Pipiek, Jimat, hingga Asa sebagai Jejak Ingatan dalam "Mencari Jejakmu"
Esai: Imam Khanafi
Edisi 21/II, September 2026
Mencari Jejakmu (mungkin) bukan sekadar antologi tentang rindu, melainkan tentang kerja ingatan itu sendiri: bagaimana manusia menyimpan seseorang, sebuah kota, sejarah, Tuhan, atau masa lalu melalui benda-benda yang tampaknya sederhana. Jejak tidak pernah benar-benar berhenti menjadi jejak karena setiap pembacaan akan mengubahnya, sebagaimana setiap kenangan selalu membawa kembali masa lalu dalam bentuk yang sedikit berbeda. Dan mungkin, di situlah puisi-puisi Pipiek menemukan makna terdalamnya: bukan ketika semua jejak berhasil dijelaskan, melainkan ketika setelah buku ditutup, masih ada sesuatu yang tertinggal dan membuat kita ingin kembali mencarinya.



Saya Berhenti di Beberapa Baris
Esai: Jimat Kalimasadha
Edisi 21/II, September 2026
Tetapi saya juga menemukan beberapa bagian ketika puisinya justru terlalu cepat menjelaskan maksudnya. Bagi saya, ketika penyair sudah menemukan benda atau metafora yang kuat, kadang-kadang kita tidak perlu diberi tahu lagi apa artinya. Biarkan saya sebagai pembaca menemukannya sendiri.
Jadi, bagi saya, pertanyaan menarik setelah membaca buku ini bukan hanya: ‘Apa yang ingin dikatakan Pipiek?’ Tetapi juga: ‘Di bagian mana Pipiek berhasil membuat saya menemukan makna sendiri, dan di bagian mana saya merasa maknanya terlalu cepat diberikan?’


Jejak Rindu Seorang Pipiek Isfianti
Esai: Asa Jatmiko
Edisi 21/II, September 2026
Kupu-kupu seringkali dipergunakan untuk melambangkan transformasi, keajaiban alam, perjuangan hidup. Dalam tradisi Jawa, kehadiran kupu-kupu ke dalam rumah dipercaya sebagai pertanda akan datangnya tamu. Penjemput itukah? Mungkin saja. Ketika penyair menulis “udara tak lagi ada”, maka saya mengartikannya sebagai kehidupan sesudah kehidupan saat ini. Pipiek mempertegas hal itu, simaklah puisi “Air Tiga Rasa” ia menulis, “Kau lupa/Ada kehidupan setelah ini/ Tempat dimana dirimu abadi”.



Ketika Panggung Belum Padam: Dari "Sebrang Mbalangan" ke "Nitisemito De Kretek Koning"
Esai: Nur Choiruddin
Edisi 21/II, September 2026
Catat "Sebrang Mbalangan". Catat Edi Buseng Purnomo dan perjalanan gagasannya. Catat bagaimana gagasan Nitisemito kemudian diolah Agung Widodo menjadi naskah. Catat sutradara, aktor, pemusik, koreografer, kru, pemain yang datang dan pergi, serta penonton. Catat pula ruang tempat pertunjukan berlangsung. Dan jangan takut mengarsipkan kritik serta kegagalan. Sebab arsip yang baik tidak hanya menyimpan sesuatu yang dianggap berhasil. Ia menyimpan proses, perdebatan, perubahan, bahkan kemungkinan yang belum selesai. Selengkapnya...


Nitisemito Sudah Naik Panggung, Tetapi Sejarah Belum Selesai
Esai: Imam Khanafi
Edisi 21/II, September 2026
Dalam drama musikal, ketiga hal tersebut semestinya tidak berdiri sendiri, sebab musik, nyanyian, gerak, dan akting idealnya ikut menggerakkan dramaturgi, bukan sekadar menjadi hiasan di antara adegan. Di sinilah menariknya sebuah pertunjukan diuji: apakah musik benar-benar memperdalam emosi dan konflik, apakah lagu membuat cerita bergerak, dan apakah setiap gerak di panggung memiliki alasan dramaturgis. Sebab ketika unsur-unsur pertunjukan hanya hadir secara bersamaan tanpa saling menghidupkan, drama musikal mudah berubah menjadi sekadar cerita yang diberi musik, bukan sebuah kesatuan artistik yang memiliki napasnya sendiri.



Gosip sebagai Kemampuan Dasar Seorang Pengarang
Esai: July Prasetya
Edisi 21/II, September 2026
Nieuwenhuys menambahkan, bahwa tentulah tidak semua penulis roman adalah tukang bergunjing, tetapi tidak dapat dibayangkan seorang tukang bergunjing yang tidak pandai bercerita. Bakat bergunjing amat rapat hubungannya dengan bakat bercerita. Bakat mengarang.


Keringkasan Sastra dan Fraksionasi dalam Fiksi
Esai: Ranang Aji SP
Edisi 20/II, Agustus 2026
Fraksionasi memungkinkan sebuah cerita memiliki daya pantul yang lebih luas. Karena tidak semua dijelaskan secara penuh, maka ruang tafsir menjadi terbuka. Dalam banyak hal, pembaca akan mengingat fragmen-fragmen tertentu lebih kuat dibanding keseluruhan cerita. Sebuah adegan pendek, kalimat singkat, atau gambar kecil bisa tinggal lama dalam ingatan pembaca seperti serpihan mimpi. Hal itu penting karena pada dasarnya manusia juga mengingat hidupnya dalam fragmen-fragmen tertentu, bukan sebagai narasi utuh yang runtut. Kita mengingat aroma hujan, suara radio tua, wajah seseorang di terminal, atau suara langkah kaki di malam hari. Semua itu hadir sebagai pecahan pengalaman yang justru membentuk kesadaran manusia.



Teror "Kelir" Teater Marjuki: Ketika Penderitaan Menjadi Estetika dan Penonton Menjadi Wayang Algoritma
Esai: Elang Ade Iswara
Edisi 19/II, Juli 2026



Gadis Pingitan, Ruang Rahasia dan Tubuh-tubuh yang Menjaga Sunyi
Esai: Imam Khanafi
Edisi Mei 2026, Tahun II


Kritik Sastra Menjadi Profan dan Berlari Tanpa Suara Kesadaran
Esai: Vito Prasetyo
Edisi Mei 2026, Tahun II




Caping Kalo, Tubuh Perempuan dan Arsip yang Menari
Esai: Imam Khanafi
Edisi Februari 2026, Tahun II



Sintesis Eksistensialisme Barat dan Kearifan Jawa dalam Ruang Urban Paris
Esai: Harwi Mardianto
Edisi Februari 2026, Tahun II


PTTJT: Ruang Alternatif Pertunjukan dan Perjumpaan
Esai: Iniibubudi
Edisi Januari 2026, Tahun II



Mie Godog Dobel, Kopi Pahit, dan Puisi yang Tak Pernah Pulang
Esai: Imam Khanafi
Edisi Januari 2026, Tahun II



Ibu sebagai Sign of God Blessing
Esai: Aviskha Izzatun Noilufar, S.Pd.
Edisi Januari 2026, Tahun II



FTP Teater Djarum:
Sebuah Panggung Kreativitas Anak Muda yang Kurang Didampingi
Esai: Pipiek Isfianti
Edisi November 2025, Tahun I

Luka, Keberanian dan Kisah Tubuh "Para Petarung"
Esai: Imam Khanafi
Edisi Oktober 2025, Tahun I


Para Petarung: Meta Kritik, Buruh, Panggung, dan Cermin Sosial
Esai: Ranang Aji SP
Edisi Oktober 2025, Tahun I


Film "Gowok": Momen Musik Kristal dan Bagian yang (Kurang) Masuk Akal
Esai: Akhmad Idris
Edisi Oktober 2025, Tahun I


"Para Petarung" Tak Pernah Selesai Bertarung
Esai: Kusprihyanto Namma
Edisi Juli 2025, Tahun I


SARASVATI: Pelan dan Hangatnya Setangkup Seduhan
Esai: Imam Khanafi
Edisi Juli 2025, Tahun I


Mempersoalkan "Pendek" pada Cerita Pendek (di) Indonesia
Esai: Polanco S. Achri
Edisi Juni 2025, Tahun I


FFAB "Air Mata Air": Film sebagai Cermin Kesadaran dan Ruang Refleksi
Esai: Imam Khanafi
Edisi Mei 2025, Tahun I


Tabrakan Dua Kecenderungan Sinematik dalam "Penyalin Cahaya"
Esai: Ranang Aji SP
Edisi Mei 2025, Tahun I


Radha, Pembentuk Fondasi Sikap Ksatria Radheya
Esai: Arif Khilwa
Edisi April 2025, Tahun I


"Liang Langit": Sebuah Ruang Kosong atau Penuh Isi
Esai: Jimat kalimasada
Edisi Desember 2024, Tahun I


Merayakan Realitas Mimpi-Mimpi, Menelisik Beban Makna di Pundak Remaja
Esai: Elang Ade Iswara
Edisi Januari 2025, Tahun I
Follow us on Instagram

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






































