
BUNGA KRISAN MERAH DAN CERITA-CERITA FRAKSIONASI
Oleh: Iniibubudi


BUNGA KRISAN MERAH adalah ledakan cinta seorang Ranang Aji SP yang pada mulanya ditata untuk kemudian bisa terpajang di altar kesastraan Indonesia. Ya, pada mulanya. Seusai meninggalkan Yogyakarta di tahun 2000, saya tidak lagi banyak berhubungan dengan Ranang Aji SP kecuali membaca karya-karyanya di media cetak nasional, baik cerpen maupun tulisan-tulisan lain. Namun saya paham betul bagaimana matanya tajam memeriksa dan mengamati keadaan di sekitarnya. Kami sering jalan kaki berdua menyusuri malam di beberapa ruas jalan di Ngasem, gang-gang di Suryowijayan, dan lainnya.
Apa yang kami lihat bukan yang ia ceritakan kemudian, ia menguraikan kepada saya: antara referensi yang banyak ia baca berikut sanggahannya, antara gagasan dan realita, antara kesenian dan kesadaran, dan saya sering tidak “mudheng” maksudnya. Saya rasa, dia mulai berbicara dengan dirinya sendiri, dan menikmatinya.
Dari sanalah, saya rasa, Ranang Aji SP meneruskan “perjalanannya” di dunia sunyi yang riuh sekaligus; kesastraan Indonesia. Gairahnya untuk menuliskan namanya bisa tercatat dan diingat, mengantar pengembaraannya semakin masuk di rimba raya kesastraan Indonesia. Dia banyak menulis dan menulis, banyak
bereksperimen. Ranang Aji SP, setahu saya, bukan seorang yang mudah berbicara dengan siapapun, dan ia juga bukan seorang yang pemberani untuk secara terang-terangan tampil sebagai siapapun, termasuk sastrawan.
Namun dari balik tingkap inilah, Ranang Aji SP justru mengamati lebih banyak. Karena selama beberapa tahun berproses bersama, saya tahu dia memiliki sepasang mata elang yang tajam menangkap peristiwa dan sepasang kaki perkasa yang mampu berjalan jauh serta mulut diamnya justru telah menyimpan banyak kata-kata untuk dibicarakannya sendiri. Dari kejauhan saya kemudian membaca karya-karyanya, menikmatinya dan saya membanggakannya. Karya-karyanya menghiasi altar kesastraan Indonesia.
Balak berdiri di hadapan ketua suku yang bersandar
pada pohon kayu putih besar yang kulitnya
mengelupas seperti sisik naga tua. Pohon itu
berlubang di pangkalnya. Sebuah lubang tempat
dahulu roh-roh keluar untuk menari pada malam
bulan mati. Suara angin mengelilingi batang-batang,
menyentuh dada Balak yang telanjang, membawa
serta nyanyian burung yang terikat pada helai
dedaunan seperti mantra-mantra tak kasat mata.
Tetua itu adalah bagian dari pohon, dan mungkin
sudah menjadi pohon, sebab tubuhnya kecil
dan kering seperti batang cemara yang ditinggal
hujan. Kulit wajahnya berkerut seperti peta yang
telah dibaca terlalu sering oleh waktu. Dagu dan
tangannya dihiasi bulu putih seperti jamur lembut
di kayu basah. Matanya hitam, berkilau pelan,
diliputi kabut tipis pterygium yang membuatnya
seolah selalu melihat ke tempat yang tak dapat
dilihat oleh manusia biasa, tempat di mana jiwa-jiwa
bermusyawarah.
(Nukilan Cerpen: "Mantra Orang Hutan")
Ranang Aji SP dalam cerpen-cerpennya nampak sangat lihai menghidupkan obyek dan situasi sebagai perikopperikop. Maka di dalam setiap deskripsinya, ia menyisipkan tidak hanya sekadar “pelengkap” namun justru turut andil menajamkan peristiwa yang emosional, kompleks dan sarat makna. Pernah seorang kritikus cerpen mengatakan bahwa puncak cerpen seringkali terungkap di paragraf terakhir. Bagaimana kekuatan atas keseluruhan penceritaan cerpen bisa kita shortcut dengan bagaimana cerpenis menulis paragraf terakhir. Pada cerpen-cerpen fraksionasi yang ditulis Ranang Aji SP, menjadi tidak berlaku.
Kita harus membaca setiap fraksi yang ada. Oleh karena keutuhan cerpen-cerpen fraksionasi justru pada kelengkapan membaca setiap fraksi yang ada. Apabila setiap fraksi merupakan cerita yang memiliki penanda, petanda dan pemakna, maka akan cukup kesulitan merumuskan keutuhan cerpen ketika kita mengharapkan “puncak” ada di paragraf terakhir. Peristiwa dan pemaknaan atas setiap paragraf barangkali bisa menjadi dua hal berbeda, keduanya bisa saling tumpang-tindih, tidak linier, silang-sengkarut. Ranang Aji SP meyakini bahwa setiap fraksi memiliki otoritas atas ruang dan waktunya, dengan demikian kita akan melihat peristiwa demi peristiwa (yang tidak linier itu) sebagai mata-rantai pemaknaan yang utuh dan baru bisa diperoleh seusai tuntas membaca seluruh fraksi.
“Bunga Krisan Merah” adalah ledakan cinta seorang Ranang Aji SP yang pada mulanya ditata untuk kemudian bisa terpajang di altar kesastraan Indonesia. Ya, pada gilirannya. Cerpen-cerpen fraksionasi yang ditulisnya menjadi cerpen-cerpen yang penting untuk dibicarakan. Sebagai ledakan yang mengganggu kenyamanan kita menikmati cerpen-cerpen konvensional, sebagai cara bercerita yang berkontribusi merombak cara membaca sebuah cerpen. Dan inilah tanda cinta Ranang Aji SP pada dunia sastra Indonesia.***
Asa Jatmiko,
art provokator, penyair, pengarang dan sutradara
Judul: Bunga Krisan Merah dan Cerita-cerita Fraksionasi
Penulis: Ranang Aji SP
Editor: E. Hermawan
Tebal Hal:
Cetakan Pertama: Desember 2025
Penerbit: Iniibubudi
ISBN: 978-634-96531-0-7
