
Burung Api
CERPEN
Oleh: M. Arif Budiman
6/1/2026


SUATU siang. Seekor burung api mengapung di langit kemarau yang panas. Seolah tengah mengabarkan bahwa tak ada lagi air yang mengalir dari ceruk-ceruk mata air yang lelah. Segalanya telah mengering. Segalanya telah usai.
Barangkali orang-orang tak akan percaya jika bukan karena Habib selalu berkata bahwa apa yang mereka lihat adalah sebuah pertanda. Ya, pertanda tentang adanya sebuah bencana yang sebentar lagi akan mewabah.
“Aku yakin burung itu datang dari neraka. Dan tak lama lagi ia akan menghujani kita kerikil-kerikil panas,” ujar Habib.
“Kau ini mengigau di siang bolong? Itu hanya burung biasa. Tak lebih ganas dari elang,” jawab Tosin.
“Ya, paling-paling mau maling anak ayam seperti yang sudah-sudah,” timpal Kamil.
“Tidak. Dugaan kalian salah. Itu bukan burung biasa. Itu burung api yang sudah lama melegenda. Orang-orang dulu percaya, kedatangannya selalu memberikan kabar tentang bencana.”
Entah mengapa orang-orang yang melihat burung itu hanya sebatas menduga-duga. Bahkan terkesan acuh dan tak peduli.
“Apa kalian tak curiga. Burung itu sudah mengitari wilayah ini beberapa hari. Suaranya yang parau seolah tengah mengabarkan sebuah berita yang amat penting,” ucap Habib.
“Lalu?”
“Apa kalian pernah mendengar cerita tentang burung ababil?”
Orang-orang di kedai kopi tergelak.
“Jadi kau anggap burung itu burung ababil?”
Orang-orang kembali tergelak.
“Mimpi di siang bolong kamu, Bib.”
“Lantas, siapakah Raja Abrahahnya?”
“Bukan tak mungkin kita inilah yang serupa Raja Abrahah dan bala tentaranya.”
“Bagaimana mungkin. Kita tak memiliki gajah barang seekor pun!”
“Tapi kita selalu memiliki niat untuk selalu merusak apa pun seperti Raja Abrahah, bukan?”
“Lalu, mana kakbahnya?”
“Tak ada. Tapi ada padanannya.”
“Apa itu wahai Habib yang alim?”
“Hutan. Hutan yang selama ini kalian jarah.”
Orang-orang tergelak. Lalu salah seorang menepuk-nepuk pundak Habib.
“Kamu ini sukanya berkhayal. Jangan-jangan karena kamu kebanyakan iktikaf di rumah. Sekali waktu berlama-lamalah di kedai kopi. Agar kamu tahu apa yang dirasakan orang-orang kelas bawah macam kami. Asal kamu tahu, Bib. Ada yang lebih penting dibandingkan khayalan-khayalanmu itu.” Ia mengelus-elus perutnya. “Urusan ini!”
Tawa kembali pecah dan Habib masih juga mendongak ke langit. Menatap khusyuk tiap pergerakan burung berwarna kuning keemasan itu.
***
Suara gergaji mesin meraung-raung di lebatnya hutan. Debum pohon-pohon tumbang mencipta irama kegetiran. Burung-burung memekik perih melihat rumahnya yang hancur terhempas ke tanah. Meratapi kematian yang prematur pada telur dan anak-anaknya.
“Jangan kasih ampun. Babat pohon yang besar-besar. Kerjakan secepat mungkin. Jangan sampai petugas keburu tahu,” perintah seorang pembalak.
Gergaji mesin kembali meraung-raung. Mencincang tiap jengkal pohon-pohon yang telah tumbang. Kemudian memasukkannya ke dalam truk yang telah lama menunggu.
Jauh dari balik semak-semak, sepasang mata menatap nyalang pada orang-orang yang tengah berpesta kayu. Wajahnya merah padam. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Tekadnya sudah bulat. Ia harus melaporkan apa yang tengah ia rekam di kepalanya.
“Bapak harus bertindak. Ini tak bisa didiamkan. Jangan sampai Bukit Kendeng gundul karena keserakahan orang-orang yang hanya mementingkan perut sendiri. Buktinya sudah kita rasakan sendiri. Banyak mata air yang mengering.”
“Kamu ini mengada-ada.”
“Mengada-ada bagaimana, Pak. Aku melihatnya sendiri. Ini jelas-jelas perbuatan kriminal.”
“Kamu tak perlu repot-repot mengurusi hal itu. Itu sudah ada yang menangani.”
“Tapi kalau tak ada laporan, semuanya akan sia-sia belaka. Bagaimanapun sebagai mantan lurah, Bapak musti bertindak.”
“Bapak tak berani melaporkan.”
“Bukankah Bapak kenal banyak aparat?”
“Pokoknya Bapak tak berani. Titik!”
“Berarti aku dan kawan-kawan LSM yang akan melaporkan mereka.”
“Habib! Lebih baik kamu urusi urusanmu sendiri. Tak perlu kamu repot-repot mengurusi urusan orang lain.”
“Tapi, Pak...”
“Sudahlah. Bapak tak mau mendengar kamu membahas perkara itu lagi.”
Habib terdiam. Diperhatikan air muka bapaknya dalam-dalam. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan.
“Jangan-jangan Bapak...”
“Jangan-jangan apa? Kamu hendak menuduh Bapak ikut terlibat, hah?!”
Habib melihat wajah Bapak menegang. Tangannya mengepal seakan bersiap mendaratkan tinjunya ke wajah Habib.
“Jangan berpikir macam-macam tentang Bapak. Atau kamu tanggung akibatnya.”
Melihat bapaknya naik pitam, kengototan Habib perlahan surut. Namun di dalam dadanya masih menyimpan bara keingintahuan tentang hal yang disembunyikan bapaknya.
***
Senja mengatup. Malam memekat. Seekor pungguk meringkuk di atas bubungan. Suaranya yang parau seolah melantunkan nada kegetiran yang teramat sangat.
Di luar rumah, sayup-sayup terdengar orang bercakap-cakap. Habib bersejingkat menuju jendela. Disibaknya gorden dengan perlahan. Samar dalam kegelapan, ia melihat bapak tengah berunding dengan beberapa orang.
“Bukankah mereka orang-orang pemerintahan?”gumam Habib. Lalu kembali ke ranjang.
Pagi membumbung. Tetes-tetes embun menjadi saksi atas kematian pohon-pohon yang sia-sia. Perlahan pucuk-pucuk padi melayu. Menguning. Lalu mengering. Para pemilik sawah memekik pedih. Pupus sudah segala harapan yang telah lama membayang. Semua karena bukit-bukit tak lagi memberi air yang berlimpah.
“Ini tak bisa dibiarkan. Kita harus bertindak.”
“Benar. Bukti-bukti sudah terkumpul. Sudah kuat untuk mengantarkan mereka ke balik jeruji besi.”
Perlahan akar masalah mulai menemukan titik terang. Satu per satu aktor dibalik layar terkuak. Mereka diringkus. Lalu di gelandang ke meja hijau. Hakim nemutuskan bersalah.
“Maafkan Habib, Pak. Sungguh, Habib tak bermaksud...”
“Sudahlah. Segalanya sudah terlanjur. Bapak memang bersalah. Kamu jaga ibu dan adik-adikmu dengan baik. Semua tanggung jawab kini ada di pundakmu.”
Habib terguguk. Memeluk erat tubuh bapaknya. Tak ingin lekang. Hingga kemudian seorang petugas memisahkan mereka berdua.
Di luar, langit membiru. Seekor burung api memekik parau. Seolah mengabarkan kepiluan yang tak berkesudahan.
Kudus, 2019


--------------------------
M. ARIF BUDIMAN
Penulis lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus
INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14
Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com
Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI
Mitra Kerja:




