
Burung Api
CERPEN
Oleh: M. Arif Budiman
6/1/2026


Suatu hari, Ibu mengajakku menjenguk sahabat lamanya. Ibu memanggilnya Cermin. Ibu berkata jika mereka sudah saling mengenal sejak lama. Jauh sebelum aku dilahirkan.
Dalam genggaman tangannya yang erat, Ibu mulai bercerita. Cermin tinggal di sebuah gedung tua yang memiliki banyak kamar, penuh lorong-lorong gelap, dan lantainya terbuat dari kayu yang sering berderit. Aku berpikir jika Cermin pasti seusia Ibu, dengan wajah tua dan berkeriput. Mungkin ia juga senang menyesap teh melati dan mengunyah biskuit di sudut ruangan. Sama seperti kebiasaan Ibu di rumah.
Kakiku membuat suara lantai yang terinjak saling bersahutan. Seakan lantai kayu itu menjerit saat aku menginjaknya. Seperti enggan menyimpan kenangan dari langkah kaki manusia yang pernah menginjaknya. “Hati-hati, lantainya berderit. Jangan menginjaknya terlalu keras,” Ibu berbisik pelan di telingaku. Tangannya tetap memegang jemariku.
“Langkah kaki yang terlalu keras hanya akan membangunkan tetangga yang sedang tertidur pulas,” tambahnya. Kemudian aku melangkahkan kakiku dengan pelan dan sedikit berjinjit. Sebisa mungkin untuk menyimpan suara dari kaki yang sedang kuayunkan.
Ibu mengetuk pintu tiga kali. Sejenak hening menyelimuti udara lembab di sekitar kami. Aku mendengar suara engsel pintu bergerak. Suara engsel pintu itu mengisyaratkan pada kami bahwa ia sudah lelah dengan kehidupannya dan segera ingin diganti lalu beristirahat.
“Cermin adalah teman Ibu yang pemalu dan pendiam,” ucap Ibu. Telapak tangannya mengelus puncak kepalaku. “Tapi kamu tak usah malu dengannya, dia baik dan suka bercerita jika kamu sudah mengenalnya.”
Aku sedikit terkejut. Di ambang pintu itu, berdiri Cermin yang seakan menyalin wajah Ibu. Dia lebih muda, lebih cantik, seperti bayangan masa lalu Ibu yang menjelma nyata di hadapan kami. Aku rasa, rupa Cermin lebih mirip dengan Ibu, lebih dari rupaku sendiri.
Kamar Cermin hanya diterangi cahaya tipis, cukup untuk menampakkan bayangannya. Aku menyingkir ke sudut, membuka koran yang tak benar-benar kubaca. Mataku lebih sering melirik ke arah Ibu yang tertawa kecil bersama sahabat lamanya. Ada rasa asing yang merayap dalam diriku. Seolah aku sedang menyelinap di rumah orang lain, bukan lagi di sisi ibuku.
Beberapa bulan setelah kunjungan itu, Ibu membuat keputusan untuk mengajak Cermin tinggal bersama di rumah kami. Kabar itu tentu membuatku senang. Aku membayangkan jika rumah kami kembali hidup dengan bertambahnya satu orang teman. Setelah lama sunyi sejak kepergian Ayah.
Sejak Cermin tinggal bersama kami, Ibu mulai lebih sering berbicara. Sebelumnya, ia hampir setenang permukaan kaca; pendiam, hanya mengulang gerakan-gerakan yang pernah kuabadikan di rumah ini. Kini, sebagian besar kata-kata Ibu justru ditujukan pada Cermin, bukan padaku.
Sejak Cermin pindah ke rumah kami, semuanya menjadi asing. Kamar Ibu menjadi tempat yang hampir tidak aku kenali. Tak ada lagi aroma tubuh Ibu yang pernah menghangatkanku dulu. Yang tersisa hanya aroma teh melati yang membuat ruangan ini menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Kamar Ibu tampak lebih gelap, hanya menggantungkan setitik cahaya yang menampilkan bayangan Ibu yang sedang bercengkrama dengan Cermin. Rumah ini seolah menjelma menjadi kamar milik Cermin yang pernah kujumpai dulu.
“Jangan menampilkan celah yang bisa orang lain lihat darimu. Mereka akan menghakimimu tanpa ampun.” Aku mendengar Cermin berbicara pada Ibu.
Sejak sore itu, aku melihat banyak perubahan dalam diri Ibu. Ibu yang tak pernah menyapukan bedak di wajahnya, kini senang duduk berlama-lama di depan cermin yang tersimpan di sudut kamar itu. Sedang Cermin, kehadirannya masih setia menemani Ibu bercerita tentang orang-orang yang ia temui hari itu. Sesekali Cermin mengangguk, lalu menarik napas panjang menanggapi cerita Ibu.
Setiap kali aku masuk ke kamar Ibu, aku melihat meja rias yang dipenuhi lipstik, bedak, perona pipi, dan botol-botol kecil yang entah sejak kapan dibelinya. Ada sesuatu yang berubah pada wajah Ibu. Aku melihat, kini wajah Ibu tampak lebih halus tanpa kerutan dan juga bersih dari senyuman yang dulu pernah menghangatkanku.
Aku lebih sering melihat Ibu menatap cermin, menyapukan bedak, mengoleskan lipstik, lalu menutupnya dengan menyemprotkan parfum. Setiap gerakan tangan Ibu tampak teratur dan rapi. Nyaris seperti ritual yang tak pernah selesai.
Aku tak lagi menemukan Ibu hadir di meja makan ini. Pagi hari, Ibu tak lagi duduk bersamaku untuk sarapan. Aku tak lagi merasakan masakan Ibu yang terhidang. Sesekali hanya roti, susu, atau sebungkus mi instan menunggu di piring untuk makan malam. Tanpa suara milik Ibu yang memanggilku untuk makan. Tak ada langkah ringan Ibu yang bersahutan dengan tawanya dan tak ada suara sibuk yang datang dari piring yang beradu dengan sendok dan garpu.
Sesekali aku melihat bekas merahnya bibir Ibu di sudut cangkir kopi yang ia tinggalkan semalam. Aku menatapnya diam-diam, mencoba menangkap bayangan Ibu yang dulu selalu hangat dan sering tertawa tanpa alasan. Kini tersisa satu pertanyaan, kemana sosok Ibu yang pernah kukenal dulu?
Sejak senyum Ibu menghilang, berganti bibir yang kian merah, aku menjadi lebih takut untuk berbicara pada Ibu. Apalagi meminta Ibu untuk menemaniku sarapan di pagi hari atau memasakkan kudapan untukku di sore hari. Aku takut sosok Ibu semakin hilang, karena saat ini yang tersisa hanya bekas bayangan Ibu yang tak sempat hadir untukku.
***
Cermin masih seperti biasanya, ia sering kutemukan sedang duduk diam di sudut kamar Ibu sambil menyesap teh melatinya. Sesekali aku merasa Cermin sedang mengawasiku saat aku diam-diam mengintip kamar Ibu. Kadang aku menemukan ekor mata Cermin yang terus mengawasi Ibu di dalam kamarnya, atau mengawasi bayangan Ibu yang tak pernah aku tahu sosoknya?
Cermin menjadi sosok asing yang semakin misterius. Ia tak pernah makan, tak pernah keluar kamar, tak pernah pergi bekerja, dan tak pernah tidur—setidaknya, dia tidak pernah kulihat tertidur. Hanya kebiasaan menyesap teh melati yang terus menerus kutemukan dari Cermin.
Sesekali aku menemukan Cermin duduk di sudut kamar Ibu dengan mata terbuka lebar saat malam sudah sangat larut. Cermin hanya diam, tak bergerak seolah menunggu sesuatu menghampirinya. Pemandangan yang membuatku gelisah, bahkan saat kulihat Ibu masih terlelap di samping Cermin. Dadaku bergemuruh melihat Ibu tertidur pulas di samping Cermin yang begitu asing bagiku.
Kadang saat aku melewati kamar Ibu, aku merasa sepasang mata Cermin mengikuti setiap gerakanku, seolah Cermin menempel pada setiap langkahku. Tatapannya menusuk dan membuatku ingin berlari. Cermin bukan hanya melihatku, tapi juga menyibak bayangan diriku yang bahkan aku sendiri tak berani mengenalnya.
***
Malam itu, aku mendengar Ibu tertawa pelan dari dalam kamarnya. Tawa itu terasa asing. Bukan tawa Ibu yang pernah kudengar dulu. Bukan tawa yang pernah kutemukan saat Ibu mendengar lelucon-lelucon garing yang Ayah lontarkan. Bukan tawa yang pernah kudengar saat kami sedang menonton film di hari libur. Tawa Ibu terdengar datar, tipis, dan dingin. Seolah meluncur dari dinding kamar Ibu yang lembab dan sedikit basah, kemudian lenyap tak bersisa sebelum aku bisa menyentuhnya.
Aku mengintip Ibu dari celah pintu. Aku menemukan dua bayangan tampak bergerak di dalam kamar itu: Satu milik Ibu, satu lagi milik Cermin. Di sudut kamar itu, aku melihat Ibu sedang melihat wajahnya yang terekam di dalam mata Cermin. Ibu mulai berbicara sendiri. Kadang dengan suara pelan yang datar, kadang pula dengan suara yang meninggi nyaris menggema.
Semakin banyak mereka bicara, suara Ibu dan Cermin menjadi semakin mirip. Aku tak pernah lagi bisa membedakan milik siapa suara itu. Siapa yang sedang berbicara, entah Ibu atau Cermin. Suara Ibu menjadi serupa dengan Cermin. Aroma Cermin menjadi aroma milik Ibu. Kadang aku merasa Cermin benar-benar ada. Ia duduk di samping Ibu sambil menyesap teh melati. Namun di saat lain, Cermin tampak seperti bayangan yang terlepas dari wajah Ibu. Semakin lama Cermin menjelma menjadi bayangan yang melekat pada tubuh Ibu. Cermin menyalin setiap gerakan, setiap tatapan, seakan ingin merebut Ibu dari diriku. Perlahan Cermin menyatu ke dalam tubuh dan jiwa Ibu.
Suatu kali, aku menemukan suara cermin pecah dari kamar Ibu. Kaca-kaca bekas cermin meja rias Ibu berserakan di lantai bersama kosmetik dan berbagai botol yang pernah tersimpan rapi di meja rias Ibu. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi melihat Cermin duduk di sudut kamar Ibu. Aku tak lagi mendengar tawa dingin dari balik pintu. Aroma teh melati pun menghilang. Ibu dan Cermin, mereka lenyap tanpa jejak. Hanya aku yang tertinggal, terikat kembali pada sunyi yang dulu pernah datang setelah Ayah kawin lagi dan tak pernah menengok kami.
Sejak Ibu pergi, tak satupun orang datang untuk mengetuk pintu rumah kami. Bahkan sekadar menyampaikan duka atas kepergian Ibu. Sampai dengan hari ini, aku tak pernah lagi menemukan Ibu di rumah ini. Atau Cermin yang datang sekadar menyapaku sebagai kawan lamanya.
Tepat saat suara magrib berkumandang, aku menemukan pintu itu terketuk tiga kali. Persis seperti suara yang kudengar saat Ibu mengetuk pintu kamar Cermin. Pelan tapi pasti.
Aku menggenggam gagang pintu itu. Bunyinya berderit, dimakan usia rumah ini. Di balik pintu yang terbuka, tampil seorang perempuan dengan wajah yang tak asing bagiku. Lebih muda dan lebih bahagia. Ia tersenyum, lalu tanpa aba-aba memelukku erat, seolah kami telah lama saling mengenal. Dalam pelukannya, perempuan itu membisikkan sepotong kalimat di telingaku.
“Aku Cermin. Aku pernah mengenalmu… di masa lalu.”
Jepara, September 2025


--------------------------
M. ARIF BUDIMAN
Penulis lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.
INIIBUBUDI
Sejak 17 Februari 2016
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com




