Cahaya Layar dari Pinggiran: FFAB 2026 dan Mimpi yang Tidak Mau Menjadi Kecil

ESAI

Oleh: Imam Khanafi

6/22/2026

DI BAWAH bayang Pegunungan Muria, tepatnya di Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR), sebuah percakapan tentang sinema mencoba menemukan bentuknya. Tempat itu berdiri di antara bentangan desa dan Waduk Logung yang memantulkan langit seperti cermin besar. Tidak ada gedung megah, tidak ada karpet merah yang membentang panjang, dan tidak ada gemerlap kota yang menandai pusat kebudayaan. Yang ada justru sawah, jalan desa, rumah-rumah warga, serta ritme kehidupan yang bergerak lebih pelan daripada ambisi manusia modern. Namun sering kali sejarah membuktikan bahwa hal-hal besar justru lahir dari tempat-tempat yang tidak banyak diperhitungkan.

Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 hadir sebagai sebuah paradoks yang menarik untuk diperhatikan. Festival film pendek berskala nasional ini tidak berlangsung di kota-kota yang selama ini identik dengan industri kreatif atau sejarah perfilman Indonesia. Ia tumbuh dari ruang yang berada di pinggiran, jauh dari pusat-pusat perhatian. Dalam dunia yang masih percaya bahwa segala sesuatu yang besar harus lahir dari kota besar, keberadaan FFAB menjadi semacam pembangkangan kecil terhadap cara berpikir yang sudah lama mengakar. Festival ini mengingatkan bahwa persoalan terbesar daerah sering kali bukan kekurangan fasilitas, melainkan kekurangan keberanian untuk membangun imajinasi.

Selama ini kita terlalu sering diajarkan bahwa keberhasilan harus memperoleh pengakuan dari pusat. Karya dianggap penting setelah diputar di kota besar, dan seorang seniman dianggap berhasil setelah meninggalkan kampung halamannya. Cara berpikir seperti itu secara perlahan membentuk keyakinan bahwa daerah hanya menjadi tempat singgah sebelum orang-orang pergi menuju pusat perhatian. Padahal sejarah kebudayaan memiliki sifat yang sulit diprediksi. Banyak perubahan besar justru lahir dari ruang-ruang kecil yang sebelumnya tidak pernah dianggap penting.

Namun keberanian membangun ruang alternatif juga tidak berarti bebas dari persoalan. Gerakan kebudayaan yang lahir dari pinggiran selalu memiliki kemungkinan mengulangi kesalahan yang dahulu mereka kritik. Sebuah ruang yang awalnya terbuka dapat berubah menjadi ruang yang tertutup ketika mulai merasa memiliki legitimasi tertentu. Orang-orang yang dahulu meminta pintu dibuka bisa saja berubah menjadi penjaga pintu yang paling ketat. Karena itu, setiap gerakan kebudayaan memerlukan kesadaran untuk terus mengkritik dirinya sendiri.

Tema FFAB 2026, Scene The Unseen, sesungguhnya membawa sebuah kegelisahan yang cukup penting. Tema tersebut seperti sebuah gugatan terhadap dunia yang terlalu sibuk melihat apa yang terang dan mudah terlihat. Di tengah zaman ketika hampir setiap orang memiliki kamera di genggaman tangan, justru semakin banyak kehidupan yang luput masuk ke dalam bingkai. Buruh, petani, perempuan yang menyimpan sejarah keluarga di dapur, dan masyarakat desa sering kali hadir sebagai angka statistik, tetapi jarang hadir sebagai manusia dengan kisahnya sendiri. Di titik inilah film independen memiliki tugas yang lebih besar daripada sekadar hiburan.

Film dapat menjadi semacam arsip sosial bagi mereka yang selama ini tidak dituliskan dalam sejarah resmi. Ia tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menyimpan pengalaman hidup yang kerap terabaikan. Kamera dapat menjadi alat untuk melihat sesuatu yang selama ini tidak memperoleh perhatian. Dalam pengertian itu, sinema tidak sekadar menghasilkan gambar bergerak, melainkan juga membangun ingatan kolektif. Barangkali itulah alasan mengapa festival seperti FFAB tetap memiliki arti penting.

Sebanyak 92 sineas dari berbagai daerah Indonesia mengirimkan karya mereka kepada FFAB tahun ini. Dari jumlah tersebut, tiga puluh karya melewati tahap administrasi dan hanya tujuh belas film yang akhirnya dipilih untuk tampil dalam malam penganugerahan. Angka tersebut memang menunjukkan bahwa ada antusiasme dan semangat dari para pembuat film. Namun angka juga dapat menyimpan pertanyaan yang perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Penurunan jumlah peserta dibanding tahun sebelumnya seharusnya tidak hanya dipandang sebagai data statistik biasa.

Pertanyaan mengenai menurunnya jumlah peserta bukan dimaksudkan untuk meragukan keberhasilan festival. Justru pertanyaan seperti itu penting agar sebuah ruang budaya tetap hidup dan berkembang. Dunia seni kadang memiliki kebiasaan terlalu cepat merayakan keberhasilan, tetapi terlalu lambat melakukan evaluasi. Setelah acara selesai, media sosial biasanya dipenuhi dokumentasi dan kalimat yang hampir seragam. Acara dinyatakan sukses, antusiasme disebut luar biasa, lalu semua pihak saling mengucapkan terima kasih.

Tidak ada yang salah dengan perayaan keberhasilan. Setiap kerja keras memang layak memperoleh penghargaan dan apresiasi. Namun kebudayaan yang sehat tidak hanya dibangun dari dokumentasi yang indah atau laporan kegiatan yang terlihat sempurna. Kebudayaan yang sehat juga tumbuh dari keberanian mengakui kelemahan dan membicarakan kegagalan. Sebab kritik bukan ancaman bagi kebudayaan, melainkan bagian dari cara kebudayaan bertahan hidup.

Malam penganugerahan selalu memiliki daya tarik tersendiri. Ada lampu panggung, tepuk tangan, nama pemenang, dan piala yang menjadi simbol pengakuan. Tidak ada yang keliru dari penghargaan, karena manusia memang selalu ingin dikenang atas apa yang telah dikerjakannya. Persoalan muncul ketika seorang sineas mulai membuat karya bukan karena ingin menyampaikan sesuatu, melainkan demi memenuhi selera juri. Pada saat itulah seni perlahan kehilangan kebebasannya.

Hal tersebut juga menjadi pengingat bagi para juri dan penyelenggara. Kehadiran juri profesional memang penting untuk memberikan legitimasi terhadap sebuah festival. Namun tidak ada satu pun juri yang memiliki kebenaran mutlak atas seni. Mereka hadir dengan pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang masing-masing yang tentu memiliki keterbatasan. Karena itu, transparansi dan keterbukaan terhadap kritik menjadi hal yang sama pentingnya dengan penilaian itu sendiri.

FFAB pada akhirnya juga menjadi semacam cermin bagi Kudus. Sebuah kota sering kali merasa maju ketika memiliki jalan yang lebih lebar, bangunan baru, atau taman yang dipenuhi lampu warna-warni. Namun pembangunan fisik tidak selalu berjalan seiring dengan pembangunan ruang kreatif bagi masyarakatnya. Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah seberapa banyak ruang yang sungguh-sungguh diberikan kepada anak muda untuk berkarya. Sebab kota tidak hanya dibangun dari beton, tetapi juga dari cerita yang tumbuh di dalamnya.

Kebudayaan sering dipuji sebagai aset daerah, tetapi pelaku budayanya terkadang masih kesulitan menemukan ruang untuk berdiskusi. Gedung yang besar tidak selalu menghasilkan gagasan yang besar. Sebaliknya, ruang kecil dapat menjadi tempat yang hidup ketika di dalamnya terdapat orang-orang yang berpikir, berdebat, dan bermimpi bersama. Barangkali itulah pelajaran sederhana yang dapat ditemukan dari keberadaan RKBBR. Tempat kecil dengan gagasan besar sering kali lebih berarti daripada bangunan besar yang kehilangan arah.

Pada akhirnya, nilai FFAB tidak ditentukan oleh jumlah tamu, panjang daftar sponsor, atau banyaknya unggahan di media sosial. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah layar dimatikan dan acara selesai. Apakah para sineas masih bertemu, berdiskusi, dan saling mendukung setelah festival berakhir. Apakah anak-anak muda menjadi lebih berani membuat karya setelah melihat kemungkinan-kemungkinan baru. Sebab kebudayaan tidak tumbuh dari acara yang sesekali ramai, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil yang terus dirawat.

FFAB 2026 dapat dibayangkan sebagai api kecil yang dinyalakan di bawah bayang Pegunungan Muria. Api itu mungkin saja padam karena kelelahan, ego, konflik, atau ketidakmampuan melakukan regenerasi. Namun api itu juga dapat menjadi cahaya yang mengubah peta kebudayaan jika terus dirawat dengan kesadaran dan keterbukaan. Mungkin makna terdalam dari Scene The Unseen bukan sekadar tentang menghadirkan mereka yang selama ini tidak terlihat. Ia juga menjadi ajakan untuk berani melihat kekurangan diri sendiri yang selama ini sengaja disembunyikan. Semoga bermanfaat. (*)

--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi, cerita anak, peneliti dan penikmat film pendek.

INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14

Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com

Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI

Mitra Kerja:

INIIBUBUDI bertumbuh berkarya