
“Confessio”, Film Karya Putra Kudus Duduki Tiga Besar Film Pendek Terbaik di Festival Film Internasional
BERITA
Oleh: Hadepe - suarabaru.ID
2/24/2026


Pengantar Redaksi:
Berita ini sudah diterbitkan dan dibaca di suarabaru.id
--------------------------------
KUDUS (SUARABARU.ID) – Sebuah lompatan prestasi internasional kembali diukir oleh anak muda Indonesia di bidang film. Adalah film pendek berjudul “Confessio” karya sutradara Cornel Innos dari Kudus, Jawa Tengah, telah berhasil menduduki tiga besar ajang Mirabile Dictu International Catholic Film Festival di Roma, Italia. Pengumuman itu disampaikan panitia pada 30 Januari 2026.
Film Confessio nampang bersama film “Un Giorno In Piu” karya sutradara Fabio Bagnasco dari Italia dan “Gold, Gusts & God: St. Teresia of Avila Catholic Church karya sutradara David Harrison dari Amerika Serikat. Di kalangan perfilman internasional, Mirabile Dictu sendiri sering dikenal sebagai “Oscar”-nya film religi internasional.
Cornel Innos yang masih mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang tingkat akhir ini tidak menyangka “Confessio” berhasil nongol di tingkat dunia. “Saya tidak menyangka, sebab awalnya memang tidak diproyeksikan untuk mengikuti festival-festival film internasional. Temanya soal anti-korupsi, dengan mengambil tokoh utama pejabat negara yang korup namun dermawan di mata masyarakat,” kata Innos.
“Tapi masuk 40 besar saja tidak di ajang festival film anti-korupsi,” lanjutnya sembari tertawa. “Kemudian tim produksi mencoba mengirimkannya ke beberapa festival film internasional, salah satunya ke Mirabile Dictu ini.”
Film “Confessio” merupakan film yang diproduksi oleh GsT Production, yang digarap pada Maret 2025 dengan lokasi pengambilan gambar di gereja peninggalan Belanda di Ambawara. Di dalam tradisi gereja Katolik terdapat doktrin yang menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat pengampunan dosa. Dan salah satu caranya adalah dengan mengakukan semua perbuatan (dan pikiran) berdosanya kepada seorang pastur di kamar pengakuan.
“Pejabat yang korup itu pada akhirnya terbentur dengan kesadaran bahwa ia disamping telah mengkhianati kepercayaan rakyat dengan korupsi, mengoplos beras premium dengan raskin (beras untuk orang miskin) ia juga telah mengkhianati istrinya; berselingkuh dengan anak buahnya sendiri. Film ini ingin mengajak kita untuk berefleksi, menimbang diri dan bertindaklah untuk berani jujur.
Dalam sebuah adegan, Dea yang adalah selingkuhan pejabat korup itu mengatakan, “Mas, kamu bertahun-tahun korupsi dan kamu masih aman sejauh ini. Kamu bertahun-tahun mengkhianati istri, dan kamu masih aman juga sejauh ini. Sudahi ini semua, Mas. Aku rasa kamu perlu bertemu Pastor untuk mengaku dosa dan bertobat.”
Film ini mengisyaratkan bahwa jujur mengakui kesalahan dan bertobat, adalah jalan memperbaiki hidup yang lebih baik. Termasuk untuk semua para koruptor yang saat ini belum tertangkap, dan merasa aman.
Skenario ditulis oleh Asa Jatmiko, sekaligus dipercaya untuk turut menjadi aktor pembantu dalam film ini. “Kisah dalam film ini sebenarnya terinspirasi dari pengalaman diri saya, yang merasa tertipu mentah-mentah setiap saat membeli bensin non subsidi yang bertahun-tahun kemudian ternyata yang saya terima adalah bensin oplosan,” kata Asa.
Kemudian Asa Jatmiko merangkainya dalam satu kisah pendek, bagaimana sebetulnya pandangan para koruptor itu terhadap rakyat sebelum kedua tangannya diborgol dan memakai rompi orange. Barangkali saja mereka akan tak bergeming dengan apapun, pokoknya mumpung. Tetapi ketika tengah bergumul dengan dirinya sendiri, apakah mereka juga tidak mendengar suara hati nuraninya sendiri? Bahwa “becik ketitik, ala ketara.”
“Confessio” saat ini masih berlaga di ajang kelas internasional lainnya, yakni Short Shorts Film Festival & Asia. Mereka akan mengumumkan para pemenanganya pada bulan April mendatang. Namun apa yang telah dicapai saat ini, sekali lagi memberikan bukti bahwa kreativitas kita meskipun dari lokal, akan diapresiasi oleh siapapun bahkan di tingkat internasional. “Pokoknya terus bergerak, terus berkarya, terus bersuara,” pungkas Asa.(*)Hadepe.



