
Dari Bilik Pengakuan ke Roma: Ironi “Confessio” dan Bisikan Nurani yang Mengalahkan Borgol
ESAI
Oleh: Imam Khanafi - Mentas.ID
2/25/2026


Pengantar Redaksi:
Artikel ini sudah diterbitkan dan dibaca di Mentas.ID
--------------------------------
DARI ruang pengakuan dosa yang remang di sebuah gereja tua Ambarawa, film pendek Confessio karya sineas muda Kudus, Cornel Innos, justru menggema hingga Roma setelah menembus tiga besar Mirabile Dictu International Catholic Film Festival pada 30 Januari 2026 sebuah ironi manis bagi karya yang semula “ra doyan” di festival antikorupsi nasional, namun kini dipuji di panggung internasional karena keberaniannya memindahkan sorotan korupsi dari ruang sidang ke ruang batin, dari borgol aparat ke bisikan nurani.“Apakah sebelum tercium aparat, tidak ada secuil pun nurani yang berbisik?” kata Asa Jatmiko, saat dihubungi seolah pertanyaan itu lebih ia tujukan pada dirinya sendiri ketimbang pada para pejabat yang gemar bersembunyi di balik reputasi.
Pertanyaan itulah yang menjadi rahim bagi lahirnya Confessio, film pendek karya sutradara muda Kudus, Cornel Innos. Film yang pada mulanya diniatkan untuk menyapa festival-festival antikorupsi dalam negeri, justru berlayar jauh dan menepi di Roma. Pada 30 Januari 2026, panitia Mirabile Dictu International Catholic Film Festival mengumumkan Confessio masuk tiga besar. Namanya bersanding dengan Un Giorno In Piukarya Fabio Bagnasco dan Gold, Gusts & God: St. Teresia of Avila Catholic Church karya David Harrison.
Di kalangan sineas religi, Mirabile Dictu kerap dijuluki “Oscar”-nya film Katolik internasional. Sebuah panggung yang, bagi Cornel mahasiswa tingkat akhir Universitas Katolik Soegijapranata bahkan tak pernah terbayang sebelumnya.
Ironinya, film ini semula diniatkan untuk mendukung gerakan antikorupsi. Asa Jatmiko, penulis skenario yang juga tampil sebagai aktor pembantu, mengaku heran ketika karya tersebut “ra doyan” di festival film antikorupsi nasional. “Masuk 40 besar saja tidak,” ujarnya sembari tertawa getir.
Tema Confessio memang tidak memilih jalur konvensional. Ia tidak memusatkan kisah pada aparat penegak hukum, tidak pula pada adegan-adegan penggerebekan dramatis dengan rompi oranye. Film ini justru menyelinap ke ruang paling sunyi: kamar pengakuan dosa. Sebuah ruang kayu, remang, tempat seseorang duduk berhadapan tak langsung dengan pastur, dan lebih dari itu, dengan dirinya sendiri.
Cornel dan tim produksi dari GsT Production menggarap film ini pada Maret 2025. Lokasi pengambilan gambar dipilih di sebuah gereja tua peninggalan Belanda di Ambarawa. Dindingnya tebal, kayunya menyimpan bau lembap sejarah. Di ruang itulah, tokoh utama seorang pejabat negara yang dikenal dermawan dan taat beragama mendapati dirinya terpojok.
Ia korup. Ia mengoplos beras premium dengan raskin. Ia berselingkuh dengan bawahannya. Tetapi selama bertahun-tahun, ia aman.
“Apa harus menunggu diborgol dan memakai rompi oranye baru mengaku?” tanya Asa. Pertanyaan itu lahir dari pengalaman personal yang terasa remeh, namun justru mengiris. Ia pernah membeli bensin non-subsidi, lalu bertahun-tahun kemudian mengetahui bahwa yang diterimanya adalah bensin oplosan. Ia membeli beras premium, tetapi yang didapat adalah campuran beras untuk rakyat miskin.
Kemarahan itu bukan semata karena tertipu sebagai konsumen. Ia marah karena merasa direndahkan sebagai warga. Dari situ ia membayangkan: bagaimana pandangan seorang koruptor terhadap rakyat sebelum kedua tangannya diborgol? Apakah mereka benar-benar tak mendengar suara batin?
Dalam salah satu adegan, Dea selingkuhan sang pejabat mengucapkan kalimat yang menggantung lama di kepala penonton: “Mas, kamu bertahun-tahun korupsi dan kamu masih aman sejauh ini. Kamu bertahun-tahun mengkhianati istri, dan kamu masih aman juga. Sudahi ini semua. Kamu perlu bertemu Pastor untuk mengaku dosa dan bertobat.”
Kata “aman” di sini menjadi ironi. Aman bukan karena benar, tetapi karena belum tertangkap. Aman bukan karena bersih, melainkan karena belum tercium.
Di negeri yang kerap diguncang kasus rasuah, publik sering terpaku pada lembaga penindakan seperti Komisi Pemberantasan Korupsi atau Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Namun Confessio memutar arah kamera: dari ruang sidang ke ruang batin.
Dalam tradisi Gereja Katolik, pengakuan dosa adalah jalan menuju pengampunan. Seseorang datang, menyebutkan kesalahan dan bahkan pikiran berdosanya, lalu menerima absolusi. Film ini tidak sedang berkhotbah. Ia tidak menawarkan penyelesaian instan. Tetapi ia mengusulkan sesuatu yang jarang dibicarakan dalam diskursus hukum: pengakuan sebagai revolusi personal.
“Memberantas korupsi harus dimulai dari diri sendiri,” kata Asa. Kalimat yang sering terdengar klise itu, di tangan Confessio, menjadi konkret. Pejabat yang korup itu digambarkan bukan sebagai monster, melainkan manusia yang retak. Ia dermawan di mata publik. Ia rajin ibadah. Reputasi baiknya justru menjadi selimut paling tebal untuk bersembunyi.
Film ini seperti menohok paradoks moral masyarakat kita: ketika citra kebaikan menjadi tameng, ketika gelar dermawan menjadi perisai, dan ketika kesalehan tampil sebagai panggung.
Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan, “becik ketitik, ala ketara” yang baik akan tampak, yang buruk akan terbuka. Tetapi dalam kenyataan, keburukan sering tersembunyi lama. Maka Confessio seolah bertanya: sebelum keburukan itu “ketara” oleh aparat, adakah ia sudah “ketitik” dalam hati pelakunya?
Dari Kudus ke Roma
Bahwa film ini lahir dari Kudus memberi lapisan makna tersendiri. Kota kecil yang lebih sering diasosiasikan dengan industri rokok dan tradisi santri itu mendadak hadir di peta festival film internasional. Bagi Cornel, capaian ini terasa seperti lompatan tak terduga.
“Saya tidak menyangka,” ujarnya. Awalnya film ini bahkan tidak diproyeksikan untuk festival internasional. Setelah gagal di ajang antikorupsi nasional, tim mencoba mengirimkannya ke berbagai festival luar negeri. Salah satunya Mirabile Dictu. Keberhasilan menembus tiga besar di Roma menjadi semacam pembalikan nasib: ketika panggung lokal menutup pintu, panggung global justru membuka jendela.
Kini Confessio juga tengah berlaga di Short Shorts Film Festival & Asia, sebuah festival film pendek bergengsi di Asia. Pengumuman pemenang dijadwalkan pada April mendatang. Apapun hasilnya, perjalanan film ini telah menegaskan satu hal: kreativitas lokal tak selalu harus menunggu validasi pusat.
Secara sinematik, Confessio memilih tempo lambat. Dialog menjadi tulang punggung. Tidak banyak adegan luar ruang; sebagian besar berlangsung di ruang pengakuan. Kamera seakan menjadi saksi yang diam, tidak menghakimi, tetapi juga tidak membela.
Pendekatan ini memberi ruang bagi penonton untuk tidak sekadar membenci tokoh utama, melainkan memahami kompleksitasnya. Di sinilah kekuatan film ini: ia tidak menawarkan kepuasan moral berupa hukuman spektakuler. Ia menawarkan kegelisahan.
Gelisah karena mungkin, sedikit banyak, kita pernah berada di wilayah abu-abu itu meski dalam skala berbeda. Membiarkan kecurangan kecil. Mengambil yang bukan hak. Membenarkan diri dengan alasan “semua orang juga begitu”.
Asa menyadari, tidak ada manusia yang sepenuhnya bersih. Tetapi ia percaya, selalu ada titik mula untuk berubah. Pengakuan dan tobat, baginya, adalah langkah awal memperbaiki hidup.
Bahwa film bertema antikorupsi ini justru mendapat tempat di festival film Katolik internasional, bukan di festival antikorupsi nasional, membuka ruang refleksi lain. Mungkin pendekatan moral dan spiritual yang diusung Confessio dianggap terlalu “sunyi” untuk panggung yang lebih politis. Atau mungkin ia memang tidak mudah dicerna dalam kerangka kampanye.
Namun di Roma, film ini menemukan resonansinya. Di tengah tradisi panjang Gereja yang menempatkan pengakuan dosa sebagai ritus penting, kisah seorang pejabat yang bergulat dengan nurani terasa relevan dan universal.
Korupsi, pada akhirnya, bukan semata soal hukum negara. Ia soal etika, soal relasi manusia dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri. Bagi Asa, capaian ini bukan garis akhir. “Pokoknya terus bergerak, terus berkarya, terus bersuara,” katanya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dari kota kecil seperti Kudus, ia menjelma tekad.
Confessio mungkin hanya film pendek. Durasi singkat, lokasi terbatas, pemain tidak banyak. Tetapi ia membawa pertanyaan panjang: jika kita menunggu aparat untuk membuat kita jujur, apakah kita masih punya nurani?
Di tengah berita-berita korupsi yang silih berganti, film ini seperti mengetuk pintu yang jarang dibuka: pintu batin. Ia tidak berteriak. Ia berbisik. Dan mungkin, justru dalam bisikan itulah, perubahan bermula. (*)
--------------------------
IMAM KHANAFI
tinggal di Kudus, menulis esai pertujukan dan budaya.



