Dari Tilik Sarira, Kudus Belajar Apa?

ESAI

Oleh: Imam Khanafi

10/8/2026

Dari Tilik Sarira, Kudus Belajar Apa?
Oleh: Imam Khanafi

MENDATANGKAN kelompok teater dari luar kota semestinya tidak berhenti pada urusan menonton pertunjukan. Ada kesempatan lain yang jauh lebih penting: melihat bagaimana orang lain memperlakukan cerita, ruang, aktor, dan penontonnya. Kedatangan Tilik Sarira Creative Process dengan Surti + 3 Sawunggaling di Studio Teater Djarum Kudus, Minggu malam, 4 Oktober 2026, memberi kesempatan itu. Kudus bukan hanya menjadi tempat singgah sebuah pertunjukan, tetapi semestinya juga menjadi tempat belajar.

Saya mengatakan belajar bukan berarti teater di Kudus lebih buruk dan kelompok yang datang dari luar selalu lebih baik. Anggapan semacam itu justru berbahaya karena mudah membuat kita silau kepada tamu dan lupa melihat kemampuan sendiri. Yang patut diperhatikan dari Surti + 3 Sawunggaling adalah cara sebuah pertunjukan dipikirkan sebagai pengalaman yang utuh. Dari cerita, pemain, bunyi, ruang, sampai hubungan dengan penonton, semuanya seperti menyadari bahwa teater tidak selesai ketika aktor sudah hafal dialog.

Lakon ini berangkat dari Surti + Tiga Sawunggaling karya Goenawan Mohamad. Ceritanya membawa kita ke Juli 1947, ketika Agresi Militer Belanda I menjadi latar kehidupan Surti, seorang perempuan yang berhadapan dengan kehilangan dan kesunyian. Suaminya, Jen, seorang gerilyawan, semakin jauh dari kehidupannya, sementara Surti bertahan bersama batik dan tiga Sawunggaling: Anjani, Baira, dan Cawir. Batas antara kenyataan, mimpi, ingatan, dan kehilangan kemudian semakin sulit dibedakan.

Sebagai novel, terus terang saya tidak terlalu menyukainya. Kepuitisan yang menjadi kekuatan Goenawan Mohamad justru beberapa kali terasa menjadi beban karena cerita seperti terlalu sadar ingin menjadi indah. Simbol bertumpuk, kalimat meminta direnungkan, sementara peristiwa kadang kehilangan daya dorongnya. Saya dapat menikmati beberapa bagian bahasanya, tetapi sulit sepenuhnya masuk ke dalam kehidupan Surti.

Anehnya, panggung justru membuka pintu yang tidak saya temukan ketika membaca novelnya.

Di tangan Tilik Sarira, cerita itu mendapatkan tubuh. Kata-kata tidak lagi bekerja sendirian karena ada aktor, gerak, cahaya, bunyi, jarak, dan diam yang ikut bercerita. Sesuatu yang dalam novel terasa sebagai simbol dapat berubah menjadi pengalaman ketika hadir beberapa langkah dari tempat kita duduk. Di sinilah saya kira pelajaran pertama yang penting: teater membutuhkan pencerita yang baik, bukan sekadar pemain yang mampu mengucapkan teks dengan baik.

Menjadi storyteller di panggung bukan berarti seseorang berdiri lalu menceritakan semuanya kepada penonton. Seluruh unsur pertunjukanlah yang harus ikut bercerita. Ketika aktor diam, diamnya mesti membawa sesuatu; ketika bunyi muncul, ia harus mempunyai alasan; ketika tubuh bergerak, geraknya harus membawa kita semakin dekat kepada peristiwa. Bahkan ruang kosong pun semestinya mempunyai cerita.

Hal sederhana semacam itu terkadang luput ketika sebuah kelompok terlalu bersemangat membuat pertunjukan. Kita sibuk dengan konsep, artistik, lampu, kostum, musik, bahkan istilah-istilah besar tentang teater, tetapi lupa bertanya satu hal sederhana: cerita ini sampai atau tidak kepada penonton? Sebab pertunjukan pada akhirnya bukan perlombaan menunjukkan betapa rumit pikiran pembuatnya. Ada seseorang yang duduk di kursi penonton dan berharap diajak mengalami sesuatu.

Surti + 3 Sawunggaling memperlihatkan kesadaran tersebut melalui pilihan ruangnya. Studio Teater Djarum terasa tepat karena pertunjukan membutuhkan kedekatan. Jarak pemain dengan penonton sangat tipis sehingga ekspresi, tarikan napas, suara langkah, dan perubahan tubuh dapat diterima tanpa harus dibesar-besarkan. Kita tidak melihat Surti dari kejauhan; kita seperti ditempatkan tidak jauh dari kesunyiannya.

Kedekatan semacam ini sekaligus kejam bagi pemain. Panggung intim tidak menyediakan banyak tempat untuk bersembunyi. Gerak yang tidak mempunyai alasan akan mudah terlihat, emosi yang dibuat-buat cepat terbaca, sementara konsentrasi yang terputus dapat segera dirasakan penonton. Karena itu, panggung kecil sebenarnya tidak selalu lebih mudah daripada panggung besar.

Bunyi juga mengambil peran penting dalam pertunjukan. Beberapa kali suara muncul tiba-tiba dan bekerja hampir seperti jump scare, membuat tubuh penonton spontan bereaksi. Kita terkejut, menjadi waspada, lalu menunggu kemungkinan kejutan berikutnya. Artinya, pertunjukan memahami bahwa penonton tidak hanya mempunyai pikiran untuk menerima cerita, tetapi juga mempunyai tubuh yang bisa diajak mengalami cerita.

Meski demikian, bagian tersebut sekaligus perlu dikritik. Ketika kejutan bunyi terlalu mudah digunakan untuk menghasilkan ketegangan, ia dapat berubah menjadi jalan pintas. Kita terkejut karena suara keras, bukan karena sungguh-sungguh ikut mengalami kecemasan Surti. Pertunjukan yang baik semestinya tidak hanya berhasil membuat tubuh penonton tersentak, tetapi juga meninggalkan sesuatu setelah tubuh itu kembali tenang.

Ada persoalan lain yang lebih besar: jarak sejarah. Surti hidup pada 1947, sedangkan kami duduk menontonnya pada 2026. Ruang pertunjukan memang berhasil membuat jarak fisik antara pemain dan penonton menjadi sangat dekat, tetapi kedekatan itu belum selalu berhasil menjembatani jarak hampir delapan puluh tahun antara pengalaman Surti dan kehidupan penonton hari ini. Saya dapat melihat kesedihannya dari dekat, tetapi tidak setiap saat merasa bahwa kesedihan itu sedang berbicara tentang kehidupan saya sekarang.

Justru kritik itu penting karena belajar dari sebuah pertunjukan bukan berarti memujinya tanpa jarak. Kita tidak perlu meniru Tilik Sarira. Kita bahkan tidak perlu sepakat dengan semua pilihan artistiknya. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana sebuah kelompok mempunyai keberanian memilih cara bercerita dan bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut.

Hal ini penting bagi kehidupan teater di Kudus. Kita mempunyai kelompok, pemain, ruang, penonton, dan berbagai peristiwa pertunjukan. Tetapi ekosistem teater tidak tumbuh hanya karena kalender pentas semakin penuh. Ia tumbuh ketika satu pertunjukan membuat pertunjukan berikutnya menjadi lebih matang.

Karena itu, kehadiran kelompok dari luar kota seharusnya tidak selesai dengan tepuk tangan, foto bersama, unggahan media sosial, lalu pulang. Setelah lampu studio dimatikan, justru percakapan yang lebih penting semestinya dimulai. Mengapa mereka memilih bentuk panggung seperti itu? Bagaimana mereka mengolah aktor? Mengapa bunyi ditempatkan pada bagian tertentu? Bagaimana teks yang berasal dari karya sastra dipindahkan menjadi peristiwa tubuh?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih berguna daripada sekadar mengatakan pertunjukannya bagus atau jelek. Teater berkembang melalui pertukaran cara kerja. Sebuah kota membutuhkan tamu bukan hanya untuk mengisi panggungnya, tetapi juga untuk mengganggu kebiasaan-kebiasaan yang sudah dianggap benar. Tamu yang baik membawa pertunjukan; tuan rumah yang baik membawa pulang pelajaran.

Dan pelajaran dari Tilik Sarira, bagi saya, bukan bahwa Kudus harus membuat pertunjukan seperti Surti + 3 Sawunggaling. Bukan pula bahwa panggung intim harus menjadi pilihan setiap kelompok. Yang patut dipelajari justru kesadaran bahwa setiap keputusan di panggung harus mempunyai hubungan dengan cerita dan penonton. Teater bukan tumpukan unsur artistik, melainkan cara membuat seseorang bersedia tinggal di dalam sebuah cerita selama pertunjukan berlangsung.

Mungkin selama ini kita terlalu sering mengukur kehidupan teater sebuah kota dari berapa banyak pertunjukan yang berhasil diselenggarakan. Padahal ukuran lainnya adalah apakah satu kelompok masih mau belajar dari kelompok lain. Apakah aktor bersedia melihat cara aktor lain bekerja, sutradara bersedia mempertanyakan kembali metodenya, dan penonton mempunyai ruang untuk membicarakan apa yang baru saja mereka alami. Tanpa itu, pertunjukan akan datang dan pergi seperti agenda.

Malam itu Surti + 3 Sawunggaling akhirnya tidak hanya membawa Surti, Jen, dan tiga burung dari masa lalu ke sebuah studio kecil di Kudus. Ia membawa kemungkinan untuk melihat kembali cara kita membuat pertunjukan. Ada yang dapat dipuji, ada yang patut dipersoalkan, dan ada yang tidak perlu ditiru. Tetapi dari sanalah proses belajar dimulai.

Sebab kota yang mempunyai banyak panggung belum tentu mempunyai kehidupan teater yang sehat. Kehidupan itu tumbuh ketika sebuah pertunjukan tidak mati bersamaan dengan padamnya lampu. Ia diteruskan menjadi percakapan, kritik, latihan, keberanian mencoba, lalu pertunjukan berikutnya.

Tilik Sarira datang ke Kudus membawa sebuah cerita. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah pertunjukan mereka bagus atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah:setelah mereka pulang, apa yang dipelajari teater Kudus?(*)

--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi, cerita anak dan pengarsip.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: