Etika, Kuasa, dan Tafsir dalam Tengul

AGENDA

Oleh: Iniibubudi

1/24/2026

Berangkat dari kesadaran bahwa pementasan teater tidak berhenti pada peristiwa artistik di atas panggung, diskusi pasca pentas yang diinisiasi Mentas.id, Kelompok Kajian Teater Tigakoma, dan Tikusputih Collective menghadirkan teater ketiga, ruang lanjutan setelah proses penciptaan (teater pertama) dan pementasan (teater kedua). Teater ketiga adalah wilayah refleksi kritis, tempat karya dibaca ulang, diperdebatkan, dan diperkaya melalui dialog setara antara seniman, pengamat, dan penonton. Di ruang inilah makna pertunjukan diuji, dipersoalkan, bahkan digugat.

Dalam konteks pementasan Tengul karya Arifin C. Noer (adaptasi Tigakoma) di Kudus yang disutradarai Afif Khoirudin Sanjaya (Apop), teater ketiga menjadi penting untuk menelaah bagaimana konsep panggung tapal kuda, reaksi penonton sebagai “vonis moral”, serta adaptasi isu, absurditas sosial, dan konflik etis berkelindan dengan realitas sosial-budaya setempat. Diskusi ini tidak sekadar merayakan capaian artistik, tetapi juga mengkritisi relasi kuasa penonton–aktor, cara pertunjukan berdialog dengan zamannya, hingga sejauh mana resonansi isu-isu kontemporer dihadirkan. Dengan demikian, Tengul tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan bertransformasi menjadi pengetahuan bersama dan pemantik kritik yang terus hidup.

Diskusi Pasca Pentas:
Sebagai Panggung Ketiga Pertunjukan Teater
"
Etika, Kuasa, dan Tafsir dalam Tengul"

Bersama:
•⁠ ⁠Afif Khoirudin Sanjaya — Sutradara Tengul
•⁠ ⁠Ahmad Zaki Yamani — Teater Keset
•⁠ ⁠Abimanyu Ianocta P. — Teater Samar

Moderator:
Petrus Budi Utomo — Tikusputih Collective

Waktu & Tempat:
Kamis, 29 Januari 2026 | Pukul 19.30 WIB
Depan Sanggar Teater Tiga Koma - Universitas Muria Kudus

Mari bertemu di ruang dialog, tempat teater tidak selesai di panggung, tetapi dilanjutkan dalam percakapan, tafsir, dan kritik bersama.(*)

--------------------------
IMAM KHANAFI

Penulis