
Gosip sebagai Kemampuan Dasar Seorang Pengarang
ESAI
Oleh: July Prasetya
9/1/2026


GOSIP atau bergunjing yang pada umumnya kita anggap sebagai sebuah kegiatan yang negatif, dan kontraproduktif karena membicarakan kejelekan dan keburukan orang lain, ternyata memiliki fungsi penting bagi dunia pengarang, dunia sastra. Hal ini dikarenakan seorang pengarang itu pasti memiliki kemampuan untuk bergosip dalam mengarang semua karangannya. Semacam proses kreatif yang mesti dilalui dan dimiliki oleh para pengarang.
Gosip atau bergunjing ternyata memiliki jalannya sendiri untuk menemukan kegunaannya, kebermanfaatannya. Dan itu bisa dikaitkan dengan proses kepengarangan seorang penulis. Perihal gosip ini dulu pada tahun 1989 pernah sedikit dibahas oleh penulis, pengarang, penyair, dan esais kawakan kita yang bernama Subagio Sastro Wardoyo dalam tulisannya.
Di dalam esainya yang berjudul Bergunjing dan Roman La Barka dalam Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan (hlm.117-118) ia mengatakan bahwa dalam menulis roman pengarang bercerita tentang watak-watak. Di dalam hal itu kesibukan sastra itu ada hubungannya dengan kebiasaan memperkatakan sifat dan kelakuan orang. Robert Liddle di dalam Some Principles of Fiction (Indiana University Press, Bloomington, 1954) menyatakan, bahwa ada asas-asas sahaja yang terlibat dalam penciptaan. Sandiwara dekat hubungannya dengan perbuatan meniru-niru, sedang roman dekat pada gosip, bergunjing. Ditunjukkan pula, bahwa bergunjing atau surat menyurat berisi gunjingan, menjadi tempat bersemi yang paling baik bagi seorang penulis roman. Karya-karya roman Jane Austen dan Samuel Richardson tumbuh dari kesenangan bergunjing itu. Nilai luhur budaya dalam menulis roman oleh Liddle telah dipertalikan dengan kesibukan manusia yang sederhana saja, bergunjing.
Rob Nieuwenhys dalam penyelidikannya dalam kesusasteraan Hindia-Belanda telah sampai kepada kesimpulan yang sama. Pendapatnya dapat kita baca dalam pengantar bunga rampai kesusastraan yang telah disusunnya, bernama Bij het Scheiden van den Markt (Pada Waktu Pasar Bubar) (E.M. Querido, Amsterdam, 1965). Menurut Nieuwenhuys, di tengah masyarakat kolonial kegiatan bersastra tidaklah dipandang tinggi dan terhormat, maka akibatnya tidak terdapat tradisi sastra yang kuat di Hindia Belanda. Roman-roman yang terbit pada masa itu lebih banyak terlahir dari cara hidup di negeri jajahan itu, yang banyak memberi kesempatan untuk berbincang dan ngobrol.
Di tengah kesunyian suasana di kota atau di perkebunan, penduduk Belanda suka berkumpul-kumpul di gedung-gedung pertemuan atau duduk-duduk di ruang belakang atau di serambi muka rumah mereka, sambil mengisi waktu kosong dengan berbicara tentang keadaan sesaat dan mempercakapkan orang-orang di sekitarnya. Menurut apa yang dapat dibaca di dalam roman-roman dan bentuk tulisan-tulisan lain, rupanya penghuni-penghuni daerah Hindia Belanda dulu itu amat doyan sekali ngobrol dan bergunjing. Untuk pandai bergunjing perlu ada pengenlan kepada sifat-sifat manusia, kecerdasan yang intuitif serta kecakapan berangan-angan. Dari kebiasaan bergunjing itulah telah lahir kebanyakan karya tulisan Hindia Belanda.
Nieuwenhuys menambahkan, bahwa tentulah tidak semua penulis roman adalah tukang bergunjing, tetapi tidak dapat dibayangkan seorang tukang bergunjing yang tidak pandai bercerita. Bakat bergunjing amat rapat hubungannya dengan bakat bercerita. Bakat mengarang.
Dari sini kita sudah mendapatkan semacam insight atau pemahaman baru, bagaimana ternyata bakat bergunjing, atau bergosip ini sangat erat kaitannya dengan bakat seorang pencerita atau pengarang. Maka tidak berlebihan ketika saya menulis bahwa gosip adalah kemampuan dasar yang mesti dan harus dimiliki oleh setiap penulis atau seorang pengarang. Karena memang begitu besarnya manfaat kemampuan bergosip dan bergunjing ini bagi perkembangan dan proses kreatif seorang pengarang, dalam menulis karangan-karangannya, tulisan-tulisannya, karya-karyanya.
Karena di dalam bergosip ini, kita tidak hanya memereteli kejelekan-kejelekan dari orang yang sedang kita gosipkan semata, akan tetapi kita juga mesti paham dan membayangkan watak, pedalaman, dan jalan pikiran orang yang sedang kita gunjingkan tersebut. Ini mirip seperti menjelaskan dan membongkar perwatakan yang kita gambarkan dan kita deskripsikan dalam tokoh-tokoh di dalam karangan kita, karangan para penulis pada umumnya.
Selain itu, dalam bergosip ada kemampuan dan kecenderungan untuk melebih-lebihkan sesuatu, melebih-lebihkan sebuah cerita. Dan ini juga sangat dekat kaitannya dengan laku mengarang itu sendiri. Ronny Agustinus dalam kumpulan esainya yang berjudul Macondo, Para Raksasa & Lain-lain Hal menuliskan bahwa Gabriel Garcia Marquez atau yang akrab disapa Gabo seorang pengarang, peraih nobel sastra, novelis Amerika Latin yang menelurkan sebuah karya masterpis seperti One Hundred Years of Sollitude (Seratus Tahun Kesunyian) mengaku butuh bertahun-tahun baginya untuk menemukan teknik bertutur yang tepat untuk Seratus Tahun Kesunyian, maka kemudian ia meniru cara bercerita atau mendongeng dari neneknya yang suka melebih-lebihkan sebuah cerita, meskipun Gabo tahu bahwa cerita neneknya itu tidak ada yang benar secara realitas, namun bisa membuat para pendengarnya percaya (hlm. 67-68).
Dan ini tentu saja tidak lepas dari kemampuan seorang pengarang untuk berimajinasi. Gosip dan imajinasi menjadi kemampuan yang sama pentingnya dengan kepengrajinan seorang pengarang dalam menulis karangannya. Gosip dan imajinasi memiliki kemiripan dalam hal menyusun dan membangun cerita, karena memang terkadang bergosip itu seringkali hiperbola, hiperealitas, berlebihan. Begitu pula dengan imajinasi, kita mengarang cerita dengan betul-betul mengandalkan totalitas imajinasi agar bisa menggerakkan cerita, dan menghasilkan karya, dan setiap cerita fiksi pasti membutuhkan imajinas, dan hasil dari imajinasi, tidak bisa tidak. Dan dalam pandangan realisme, karya sastra yang bersifat fiksi dan bertumpu pada imajinasi, memang tetap berpijak pada logika dunia, pada logika cerita. Tapi kita juga harus ingat, bahwa fiksi terkadang memiliki logikanya sendiri.
Gosip di sini telah didekonstruksi, ia sudah tidak lagi berkonotasi negatif, di mana bergosip sebelumnya dipandang sebagai kegiatan sia-sia, yang hanya suntuk untuk menceritakan kejelekan orang lain, menggunjingkan orang lain. Namun konsep gosip di sini sudah menemukan fungsinya yang paling ideal. Ia ternyata menjadi salah satu kemampuan yang bahkan mesti dan harus dimiliki oleh seorang penulis, oleh seorang pengarang novel atau roman khususnya. Karena bergosip itu mesti bisa membaca watak dan pedalaman jiwa manusia, bisa mengimajinasikan jiwa dan watak manusia untuk bisa menggerakkan sebuah cerita.
Dalam konteks proses kreatif dan kepengarangan ini, bukankah kemampuan bergosip dan bergunjing sudah tidak lagi dipandang sebagai perilaku rendahan yang merugikan orang lain. Yang konon sangat meresahkan dalam dunia pergunjingan di lingkaran arisan ibu-ibu maupun perkumpulan tongkrongan bapak-bapak. Namun ternyata ia juga bisa menjadi salah satu motor penggerak cerita yang paling penting setelah imajinasi pengarang. Dan menjadi salah satu kemampuan yang bahkan wajib dimiliki oleh setiap insan pengarang. Jadi, sudahkah Anda bergosip dan berimajinasi hari ini?(*)
Banyumas, Oktober 2025


--------------------------
JULY PRASETYA
Seorang penulis asal Banyumas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung di Desa Purbadana.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






