
Hari Kretek Nasional: Mencipta Tradisi
ESAI
Oleh: Imam Khanafi
10/4/2026


Hari Kretek Nasional:
Mencipta Tradisi
Oleh: Imam Khanafi
Pengantar Redaksi:
Puja Doa Kretek atau dalam bahasa Jawa: Umbul Donga Kretek, merupakan prosesi doa dan ungkapan syukur atas kehadiran kretek sebagai salah satu karya kebudayaan nusantara. Dari kretek, kemudian melahirkan berbagai pencapaian dalam industri kretek, dari tradisional hingga modern. Oleh karenanya, Kretek juga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Pengetahuan dan ketrampilan mengenai kretek, juga telah berjalan dari waktu ke waktu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Puja Doa Kretek menjadi momentum sesaat untuk mengajak kita semua mensyukuri keberadaan kretek dengan segala kebermanfaatannya bagi masyarakat dan bangsa ini. Berikut esai Imam Khanafi, sampai kapan Puja Doa Kretek menjadi ritus tradisi, yang telah berlangsung sejak 3 Oktober 2017. Secara khusus tulisan ini redaksi tayangkan sebagai persembahan pada Hari Kretek Nasional 2026.
“KETIKA Teater Djarum menciptakannya, kapan ia berhenti menjadi milik Teater Djarum dan mulai menjadi milik masyarakat?” Itulah yang terlintas dalam pikiran saya setelah dua kali mengikuti Puja Doa Kretek Teater Djarum. Dari seluruh rangkaian acara, ada satu adegan yang terus tinggal dalam ingatan: malam-malam, mereka berjalan membawa obor sambil merapal doa yang nyaris tak terdengar. Cahaya api bergerak bersama tubuh-tubuh dalam gelap, sementara suara doa seperti sengaja dibiarkan menjadi bisik. Entah mengapa, justru bagian sederhana itu yang membuat saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang berbeda.
Rangkaian acara lainnya mungkin sudah akrab: pembacaan puisi, kronika, renungan, dan performance art. Namun perjalanan membawa obor dan rapalan doa itu mengubah suasana; pertunjukan seperti bergeser menjadi sebuah laku. Saya tidak lagi sibuk bertanya siapa pemain dan siapa penonton, sebab orang-orang sedang berjalan dan doa benar-benar sedang diucapkan. Barangkali dari adegan itulah pertanyaan saya bermula: ketika sebuah tindakan terus diulang dari tahun ke tahun, apakah kita masih sedang menyaksikan pertunjukan, atau diam-diam sedang melihat sebuah tradisi dilahirkan?
Ada sesuatu yang selalu membuat saya curiga pada upacara yang dilakukan berulang-ulang: apakah pengulangan dengan sendirinya melahirkan tradisi? Sebuah acara bisa diselenggarakan setiap tahun, orang-orang datang, prosesi dijalankan, doa diucapkan, dokumentasi disimpan, lalu tahun berikutnya semuanya dilakukan kembali. Namun tradisi barangkali membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada kalender dan repetisi. Ia membutuhkan alasan mengapa masyarakat merasa perlu mengingat, menjalankan, bahkan merasa kehilangan ketika suatu hari peristiwa itu tidak lagi ada.
Kecurigaan itulah yang saya bawa ketika melihat Puja Doa Kretek yang diselenggarakan Teater Djarum setiap 3 Oktober sejak 2017. Sebagai antropolog partikelir, saya tertarik mempertanyakan sesuatu yang sedang tekun mereka bangun: apakah Puja Doa Kretek sedang tumbuh menjadi peristiwa kebudayaan atau kelak hanya menjadi seremoni tahunan sebuah kelompok teater? Pertanyaan itu penting karena tradisi tidak lahir hanya dari kehendak penciptanya, tetapi juga dari kesediaan orang lain untuk ikut memiliki, mengingat, menafsirkan, dan meneruskannya. Setelah hampir satu dasawarsa, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana Puja Doa Kretek dipentaskan, melainkan apakah ia mulai mempunyai kehidupan di luar kelompok yang melahirkannya.
Malam telah jauh ketika orang-orang itu mulai berjalan. Tembakau, cengkeh, rempah, bunga, dan berbagai uba rampe dibawa bersama tubuh-tubuh yang bergerak menuju Monumen Kretek Indonesia. Ada doa yang dirapal, suara yang menyertai perjalanan, dan benda-benda yang memperoleh makna baru karena ditempatkan dalam sebuah peristiwa. Malam 3 Oktober 2026 itu, Teater Djarum kembali menggelar Puja Doa Kretek.
Saya melihat peristiwa dengan cara bagaimana manusia memperlakukan benda, menciptakan kebiasaan, mengulang tindakan, lalu memberi makna kepadanya. Kebudayaan kadang-kadang justru terlihat paling terang dari perkara yang dianggap kecil: cara orang berjalan, benda yang dibawa, tempat berkumpul, atau kalimat yang diucapkan bersama-sama. Dari perkara-perkara kecil itulah saya mencoba membaca Puja Doa Kretek.
Acara ini dilakukan Teater Djarum sejak 2017 dan ditempatkan setiap 3 Oktober. Tahun 2026 mereka mengusung tema “Kretek, Adikarya Nusantara”, dengan rangkaian renungan kretek oleh Abud SB Runcing, pembacaan puisi Pamflet Kretek oleh Anang Ma'ruf, pembacaan kronika oleh Abdul Ghofar dan Erin Dwi K., performance art Anggi Putri Hartanti dan kawan-kawan, kemudian prosesi Puja Doa Kretek. Sembilan tahun penyelenggaraan membuat peristiwa ini layak dilihat bukan semata sebagai agenda kesenian. Ia telah memiliki tanggal, bentuk, ruang, dan ingatannya sendiri.
Di sinilah pertanyaan mengenai teater muncul. Jika ukuran kita tentang teater adalah aktor yang memainkan tokoh, mengucapkan dialog, membawakan cerita, sementara penonton duduk menyaksikan, Puja Doa Kretek terasa jauh dari pengertian itu. Tidak ada aktor berpura-pura menjadi petani tembakau, buruh rokok, pengusaha kretek, atau Nitisemito. Orang yang berjalan benar-benar berjalan, orang yang membawa tembakau benar-benar membawa tembakau, dan ketika doa dipanjatkan, doa itu tidak sedang memerankan doa.
Justru di situlah teater menemukan kemungkinan lainnya. Tubuh, perjalanan, malam, tembakau, cengkeh, bunga, suara, cahaya, dan doa disusun menjadi sebuah peristiwa. Benda-benda tersebut tidak harus menjadi properti yang mewakili sesuatu di luar dirinya, sebab tembakau hadir sebagai tembakau dan tubuh hadir sebagai tubuh. Yang menjadikannya pertunjukan adalah bagaimana semua unsur itu ditempatkan, diurutkan, dipertemukan, dan dialami bersama.
Dramaturgi Peristiwa
Maka dramaturgi Puja Doa Kretek bukan terutama dramaturgi cerita, melainkan dramaturgi peristiwa. Cerita tidak menjadi satu-satunya pusat karena tindakan itu sendiri telah mengandung makna. Perjalanan, benda, tubuh, ruang, dan doa mengambil fungsi yang biasanya dikerjakan oleh plot dalam pertunjukan dramatik. Yang berlangsung bukan semata sesuatu untuk ditonton, melainkan sesuatu untuk dialami.
Dalam kajian performance, Richard Schechner membawa perhatian pada wilayah tempat teater dan ritual tidak selalu dapat dipisahkan dengan garis yang bersih. Victor Turner melihat ritual sebagai proses sosial yang memungkinkan manusia memasuki pengalaman bersama melalui tindakan-tindakan simbolik. Pemikiran keduanya membantu kita memahami bahwa sebuah performance tidak selalu membutuhkan cerita sebagaimana sebuah drama membutuhkan cerita. Ia dapat dibangun melalui tindakan, pengulangan, simbol, ruang, waktu, dan pengalaman komunal.
Puja Doa Kretek mempunyai unsur-unsur tersebut. Ia berlangsung pada tanggal tertentu, berada dalam ruang yang memiliki hubungan simbolik dengan kretek, menggunakan benda-benda dari dunia kretek, mempunyai perjalanan dan prosesi, kemudian berpuncak pada doa. Dalam penyelenggaraan sebelumnya, peserta bahkan berjalan membawa sembilan unsur bahan kretek, dupa, bunga, dan obor. Tubuh dan benda dengan demikian bukan sekadar hadir di dalam pertunjukan, melainkan ikut menjadi bahasa pertunjukan.
Namun kita perlu berhati-hati menyebutnya ritual tradisional. Puja Doa Kretek bukan upacara yang begitu saja diwariskan dari nenek moyang lalu diteruskan Teater Djarum. Ia merupakan ritual yang dikonstruksi secara sadar oleh manusia hari ini untuk membaca hubungan mereka dengan kretek. Karena itulah saya lebih suka menyebutnya teater ritual kontemporer, atau performance kebudayaan yang bekerja melalui dramaturgi ritual.
Kretek membuat perkara ini menjadi lebih rumit sekaligus menarik. Sebatang kretek tidak pernah hanya terdiri atas tembakau dan cengkeh karena di Kudus ia berkelindan dengan sejarah kota, pabrik, buruh, petani, perdagangan, keluarga, bahkan aroma yang menempel dalam ingatan. Sebuah benda sehari-hari telah ditumpuki begitu banyak pengalaman manusia sehingga ia menjadi penanda kebudayaan. Di belakang sebatang kretek terdapat riwayat orang-orang yang menanam, meracik, melinting, menjual, dan menggantungkan kehidupan kepadanya.
Seorang antropolog partikelir seperti saya tentu tergoda memperhatikan hal demikian. Manusia mempunyai kebiasaan aneh sekaligus mengagumkan: mengambil benda dari kehidupan sehari-hari, memberinya makna, kemudian menciptakan tindakan bersama di sekelilingnya. Padi memperoleh upacara, laut mendapatkan sesaji, sementara gunung mempunyai cerita dan larangan. Di Kudus, tembakau dan cengkeh memasuki doa melalui tubuh teater.
Tetapi Puja Doa Kretek tidak sedang menghidupkan kembali sebuah ritual lama tentang kretek. Ia justru menunjukkan bahwa sesuatu yang kelak kita sebut tradisi dapat bermula dari tindakan manusia pada masa kini. Kita sering membayangkan tradisi selalu datang dari masa lampau dalam keadaan sudah jadi, kemudian kewajiban generasi berikutnya hanyalah menjaga dan meneruskannya. Padahal setiap tradisi, betapapun tua usianya sekarang, pernah mempunyai hari pertama.
Seseorang memulai tindakan, kemudian orang lain mengikutinya. Pada waktu berikutnya tindakan itu dilakukan lagi hingga orang mulai mengenali tanggal, benda, urutan, dan makna yang menyertainya. Repetisi dengan demikian bukan sekadar melakukan hal yang sama, melainkan kemungkinan membangun ingatan bersama. Dari sanalah sebuah tindakan yang mula-mula baru dapat memperoleh usia kebudayaan.
Mungkin proses semacam itulah yang sekarang sedang berlangsung pada Puja Doa Kretek. Sejak 2017 hingga 2026, sembilan tahun telah dilewati, tetapi sembilan tahun tentu belum cukup untuk buru-buru menyebutnya sebagai tradisi masyarakat Kudus. Kita belum tahu apakah ia akan bertahan dua puluh atau lima puluh tahun, atau justru berhenti ketika generasi penciptanya tak lagi menjalankannya. Ketidakpastian itu malah membuatnya menarik untuk diamati sekarang: kita berkesempatan melihat sebuah kemungkinan tradisi ketika ia belum menjadi tua.
Biasanya kita bertemu tradisi setelah semuanya mapan. Kita menyaksikan upacara yang telah berumur puluhan atau ratusan tahun, lalu sibuk mencari siapa yang memulai dan dari mana asal-usulnya. Jarang kita berkesempatan menyaksikan sebuah kebiasaan ketika sejarahnya sedang ditulis oleh orang-orang yang masih berada di sekitar kita. Puja Doa Kretek menyediakan kemungkinan untuk melihat proses kebudayaan itu dari dekat.
Di sinilah Teater Djarum menarik perhatian saya. Mereka tidak sekadar membuat pertunjukan yang bercerita tentang kretek, sebab untuk keperluan itu sebuah lakon dramatik sebenarnya sudah memadai. Aktor dapat menjadi petani, buruh, pedagang, pengusaha, atau tokoh sejarah, kemudian penonton pulang membawa sebuah cerita. Puja Doa Kretek justru memilih mengeluarkan kretek dari representasi dan menghadirkannya sebagai peristiwa.
Kretek tidak hanya diceritakan, tetapi dihadirkan melalui materialnya. Sejarah tidak seluruhnya diterangkan, melainkan dipanggil melalui kronika, benda, tubuh, perjalanan, dan ingatan. Orang-orang tidak sekadar menyaksikan tubuh aktor memainkan sesuatu, melainkan berhadapan dengan tindakan yang sungguh dilakukan di depan mereka. Dari sinilah batas antara pertunjukan dan kehidupan menjadi tidak terlalu tegas.
Posisi penonton pun kemudian menjadi samar. Apakah orang yang berdiri mengikuti prosesi masih merupakan penonton, dan apakah seseorang yang ikut berjalan, mendengar kronika, mencium tembakau dan dupa, kemudian mengamini doa masih berada di luar pertunjukan? Pada teater semacam ini, penonton berpotensi berubah menjadi peserta peristiwa. Jarak yang lazim memisahkan panggung dan auditorium perlahan kehilangan kepentingannya.
Barangkali di sanalah kata puja dan doa mendapatkan bobotnya. Doa berbeda dengan dialog karena ia tidak membutuhkan tokoh fiktif untuk menjadi sungguh-sungguh. Ketika seseorang berdoa bagi keberlangsungan kehidupan orang-orang yang bergantung pada kretek, ucapannya diarahkan kepada sesuatu yang berada di luar panggung. Pertunjukan dengan demikian mempunyai kemungkinan berlanjut sebagai pengalaman setelah tindakan artistiknya selesai.
Tetapi kretek hari ini juga berada dalam medan yang kompleks. Ia dapat dibaca sebagai warisan sejarah dan sumber ekonomi masyarakat, sementara pada saat yang sama produk tembakau berada dalam perdebatan kesehatan publik, regulasi, industri, dan kepentingan ekonomi. Puja Doa Kretek akan kehilangan daya reflektif apabila kebudayaan hanya dipakai untuk mengukuhkan satu wajah kretek sambil menyingkirkan wajah lainnya. Justru kebudayaan menjadi penting ketika sanggup menyediakan ruang bagi manusia untuk melihat kerumitan hubungannya dengan sebuah benda.
Karena itu, doa untuk kretek dapat dibaca lebih luas sebagai doa bagi manusia-manusia yang berada di sekelilingnya: petani, buruh, pekerja, keluarga, dan sebuah kota yang sebagian ingatannya tumbuh bersama industri tersebut. Pembacaan semacam ini tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap persoalan yang mengikuti produk tembakau. Sebaliknya, ia mengajak kita membedakan antara benda, industri, sejarah, manusia, dan kebudayaan yang telanjur saling berkelindan. Di sana kretek tidak pernah datang sendirian karena ia membawa kehidupan manusia di belakangnya.
Saya kembali memikirkan malam 3 Oktober itu. Tubuh-tubuh berjalan membawa benda yang sesungguhnya sangat biasa: tembakau, cengkeh, bunga, dan rempah. Ketika benda-benda biasa tersebut dibawa bersama pada waktu dan ruang tertentu, sesuatu terjadi pada cara manusia memandangnya. Benda memperoleh konteks, tindakan mendapatkan ingatan, dan sebuah pertunjukan memperoleh kemungkinan untuk melampaui dirinya sendiri.
Mungkin teater memang tidak harus selalu melahirkan lakon. Kadang-kadang ia menyediakan ruang agar manusia dapat melihat kembali benda, sejarah, dan kehidupan yang setiap hari berada begitu dekat sehingga tak lagi diperhatikan. Tubuh tidak perlu menjadi orang lain dan kehidupan tidak harus terlebih dahulu diubah menjadi cerita agar layak memasuki sebuah peristiwa artistik. Pada keadaan semacam itu, teater bukan sekadar cermin kehidupan karena kehidupan itu sendiri telah datang mengambil tempat di dalamnya.
Namun di sinilah Puja Doa Kretek menghadapi ujian yang sesungguhnya. Jika ingin bergerak dari pertunjukan menuju tradisi, Teater Djarum pada suatu saat harus rela kehilangan sedikit kepemilikannya dengan membiarkan masyarakat masuk, memberi tafsir, mengubah, bahkan mungkin menjalankannya tanpa mereka. Tradisi yang hanya dapat hidup selama penciptanya hadir masih sangat dekat dengan sebuah karya. Tradisi mulai mempunyai kehidupannya sendiri ketika ia sanggup diwariskan tanpa terus-menerus bergantung kepada siapa yang pertama kali menciptakannya.
Karena itu saya tidak ingin tergesa-gesa mengatakan bahwa Teater Djarum telah menciptakan tradisi. Sebagai antropolog partikelir, saya lebih tertarik menunggu apakah kelak orang Kudus merasa ada sesuatu yang hilang ketika malam 3 Oktober berlalu tanpa tubuh-tubuh berjalan, tembakau dan cengkeh dibawa, kronika dibacakan, serta doa dilangitkan. Jika perasaan kehilangan itu suatu hari muncul, Puja Doa Kretek mungkin tidak lagi membutuhkan perdebatan apakah ia teater, ritual, performance art, atau seremoni tahunan. Sebab barangkali tanda paling kuat sebuah tradisi telah lahir adalah ketika penciptanya tidak lagi perlu mengatakan: ini tradisi kami.(*)


--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi, cerita anak dan pengarsip.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






