Jejak Rindu Seorang Pipiek Isfianti

RESENSI BUKU

PUISI-PUISI Pipiek Isfianti adalah ekspresi kerinduan penyair akan sesuatu yang membuat dirinya (barangkali) merasa semakin lengkap. Sesuatu itu pun tidak bermakna tunggal. Sesuatu itu bisa dimaknai sebagai sosok, ruang, waktu, situasi, dan sebagainya. Tak heran ia menempatkan puisi berikut sebagai puisi pertama dalam antologi puisi “Mencari Jejakmu”:

SEBARIS RINDU

Sebaris kata rindu
yang selalu aku tuliskan pada kesiur angin pagi
semoga segera menujumu
agar kelak jika udara tak lagi ada
Kau bisa menjemputku
dengan sepasang sayap kupu-kupu

Rindu menjadi diksi utama yang ingin disampaikan penyair. Bahkan disampaikannya “selalu” dan sejak “kesiur angin pagi”. Artinya, diksi “rindu” menjadi prioritas dalam hidupnya sejak hari masih pagi, ia memiliki kerinduan dan menyampaikan kerinduan itu sejak muda. Lalu siapa yang sebenarnya tengah dirindukannya?

Dialah “mu” dalam “menujumu” tujuan rindu itu disampaikan. Sesuatu atau sosok yang penting bagi hidupnya, bisa: anak, orangtua, suami, kekasih, Tuhan. Tetapi inilah yang kemudian rindu menemukan perwujudannya, bahwa “jika udara tak lagi ada/ Kau bisa menjemputku/ dengan sepasang sayap kupu-kupu”. Ruang dan waktu dapat membuat jarak dan perbedaan-perbedaan, yaitu pada masa masih ada “kesiur angin”. Hidup saat ini. Namun (nanti), pada masa dimana “udara tak lagi ada”, ruang dan waktu itu nihil, tak berjarak, dan yang ada Adalah “keterhubungan spiritual”. Maka jawaban atas kerinduan itu akan datang “menjemputku/ dengan sepasang sayap kupu-kupu”.

Kupu-kupu seringkali dipergunakan untuk melambangkan transformasi, keajaiban alam, perjuangan hidup. Dalam tradisi Jawa, kehadiran kupu-kupu ke dalam rumah dipercaya sebagai pertanda akan datangnya tamu. Penjemput itukah? Mungkin saja. Ketika penyair menulis “udara tak lagi ada”, maka saya mengartikannya sebagai kehidupan sesudah kehidupan saat ini. Pipiek mempertegas hal itu, simaklah puisi “Air Tiga Rasa” ia menulis, “Kau lupa/ Ada kehidupan setelah ini/ Tempat dimana dirimu abadi”.

Dalam kisah Sampek Engtay, “Kupu-kupu” yang keluar dari makam Sampek Engtay merupakan perwujudan Sampek Engtay itu sendiri. Kisah itu ingin mengatakan bahwa cinta sejati adalah cinta abadi yang tak bisa dipisahkan meskipun sudah berganti di lain dunia. Kerinduan penyair itu terlahir dari cinta, yang terus hidup (dan menghidupi), yang pada gilirannya cinta itu bersambut (dengan) perwujudan sepasang sayap kupu-kupu yang datang menjemput.

Jejak rindu seorang Pipiek Isfianti juga tertuang dalam puisi berjudul “Mengirim Rindu dari Kaligelis”. Dia menulis, “Adakah yang tahu dimana rindu ini hendak berlabuh”. Sebab ia melihat kemegahan dan kemashuran kota di masa lampau melalui ibu pedagang sayur, rumah-rumah gedongan tua, tempat Sunan Kudus mengajar soal niaga.

Pipiek tidak ingin memberitahu dimana kerinduan yang ia alirkan lewat arus air Sungai Kaligelis itu akan bermuara. Sebaliknya Pipiek ingin mengingatkan kembali bahwa kerinduannya tidak sekadar kerinduan murahan. Ia menulis bahwa segala kerinduannya, “Aku alirkan lewat Kaligelis dari hulu Gunung Muria”. Sebuah tempat tinggi, atau tertinggi dari bagian lain di wilayah Kudus, yang juga menjadi sumber-sumber mata air. Maka kerinduan itu adalah kerinduan yang berasal dari kejernihan (mata air), ketulusan dan kesungguhan.

Saya kira jejak-jejak kerinduan seorang Pipiek Isfianti dalam buku puisi ini juga bisa kita selidiki lagi di puisi-puisi lainnya. Coba Simak puisi “Pesan-pesan yang Tak Pernah Kukirim”, “Menyebut Namamu”, kemudian “Langit Prambanan”, “Kamboja”, untuk menyebut beberapa puisi saja, bahwa kuat sekali Pipiek Isfianti menulis dan memproyeksikan puisi-puisinya di dalam buku ini sebagai jejak yang dalam tentang rindu.

***

Pipiek Isfianti juga memberi perhatian kepada religiousitas. Barangkali, dan disadari maupun tidak, bertambahnya umur seorang penyair, karya-karya puisi yang ditulisnya semakin relijius. Taufik Ismail, Sutardji Cazoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, juga Rendra, Joko Pinurbo, dan banyak lagi. Semakin riuh menuangkan dirinya sebagai yang “bukan siapa-siapa” dan “bukan apa-apa”.

Puisi “Merayu Cahaya” misalnya, Pipiek menulis begini pada beberapa larik cuplikannya, “Aku sedang merayu cahaya/ Agar ia terus datang/ Menjagaku siang dan malam/ Menepis segala kegelapan jiwa/ Menjelma sinar di urat nadiku, darah juga wajahku/ Mengapa aku harus merayunya/ Aku takut ia akan pergi meninggalkanku/ Seperti berabad-abad yang lampau/ Di jaman kegelapan ku/ Sebelum aku mengenalnya/ Sebelum ia selalu datang menelusup kegelapan hatiku/ Tetaplah di sini cahaya/ Bersembunyilah di lubuk hati/ Pada kedalaman yang tak tercapai oleh benci Juga rindu dendam/ Yang datang mendera/ : Padanya yang tak terjangkau//” Kita menemukan “menjagaku”, kemudian “kegelapan”, ada juga “takut”, “mendera” yang memperkuat suasana batin penyair untuk kehadiran Sang “Cahaya”.

Selain relijius, puisi berikut ini juga memiliki daya puitik yang kuat. Mari kita simak sebuah puisi berjudul “Namaku Batu”:

NAMAKU BATU

Namaku batu
pernah berfikir menjadi angin
tapi itu dulu

Kini aku menjadi sungai dan rumput yang
tumbuh di telapak tanganmu.

2019

Juga puisi “Mimpi yang Sempurna”, mari kita Simak: “Pernahkah kau bermimpi yang sempurna?/ dimana bulan bintang mendoakan keselamatanmu/ Dan matahari dengan anggun menyelimuti hatimu/ Pernahkah kau bermimpi yang sempurna?/ Saat kotamu bermandikan cahaya menara dan gunung/ Muria berpendaran dan hatimu hangat oleh damai/ Pernahkah kau bermimpi yang sempurna?/ Hingga kau tak ingin lagi bangun membuka mata// Pernahkah kau bermimpi sesempurna ini?/ Aku pernah!//. Puisi relijius yang ditulis Pipiek lainnya, misalnya: “Mencium Baumu di Simpang Tujuh”, “Gunung Cahaya”.

***

Saya tidak ingin melewatkan satu hal lagi, sebelum saya mengakhiri tulisan atas pembacaan saya atas buku puisi “Mencari Jejakmu” karya Pipiek Isfianti ini. Ialah bahwa dalam menuliskan puisi-puisinya, Pipiek Isfianti juga sangat memperhatikan permainan logika selain permainan diksi yang memikat. Secara tak berurutan saya ingin menyebut beberapa frase puitis maupun logika puitis yang menurut saya berhasil dicapai oleh Pipiek sebagai penyair.

“Ini musim ketiga/ Musim yang hanya kau dan aku yang tahu/ Musim tercinta/ Juga musim paling keparat untuk kita//” dalam “Musim Ketiga". “Karena hatiku mewangi oleh derai-derai hujan yang terus/ kau kirim/ Mendingin dan mengaliri tiap jeda di dadaku// Sungguh ini sudah seperti Januari//” dalam “Seperti Sudah Januari”.

Ada frase “keningku dinyalakan” yang terasa kuat pada “Aroma Asmara”, begini: “pada garis tanganku sudah terbenam namamu jauh/ sebelum keningku dinyalakan//’ Entah disengaja atau tidak, frase itu dituliskannya kembali dalam puisi “Langit Prambanan”. Saya tulis ulang selengkapnya:

LANGIT PRAMBANAN

Pernah, ingin
aku bernama langit Prambanan
tapi matahari adalah ayahku, dan telaga
adalah ibuku, ingin aku menjadi biduk
yang merenangi garam lautan
di pesisir Parangtritis

Padahal, langit Prambanan itu, Sayangku, seperti rupa-
rupa hatimu
dipenuhi pelangi dan burung
yang berkesiur pagi

Langit itu, Sayangku juga
wajah badai
dalam jiwa yang penuh hujan rindu

Tapi bukankah rindu
memang telah lama menjadikanku batu pada
Prambanan dan
kisah-kisah jenaka percintaan di tanah Jawa atau
barangkali saja
pada garis tanganku sudah
terbenam namamu
jauh sebelum keningku
dinyalakan

Ada juga “pada jejak-jejakmu yang tak pernah kucatat juga kutemu/ dalam hidupku/ kita senantiasa terpisah bagai rel Rendeng ini//” dalam “Senja di Rel Rendeng”. Dan masih banyak lagi. Silakan para pembaca menikmati puisinya satu demi satu.

Buat Penyair Pipiek Isfianti, saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku puisi “Mencari Jejakmu”. Menurut hemat saya, buku ini akan menjadi jejak rindu yang khas dari seorang penyair perempuan kelahiran Semarang yang tinggal di Kudus, yang tengah rindu dan mencari “jejak” Sang Ratu.***

________________________
Asa Jatmiko, Penyair & Sutradara

Membaca Antologi Puisi "Mencari Jejakmu"
Jejak Rindu Seorang Pipiek Isfianti

Oleh. Asa Jatmiko

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: