Kekasih kepada Kekasih

CERPEN

Karya: Aldi Rijansah Putra

5/1/2026

WAJAHNYA pucat hampir serupa permukaan bulan. Berdiri kaku mengenakan gaun pengantin yang warna putihnya telah jadi abu-abu. Sejenak sosoknya yang tampak compang-camping serta merana itu membuatku ngeri, tapi ngeri itu pun hanya berlangsung sebentar. Karena aku tahu siapa dia, malah setiap orang di wilayah ini tahu dengan baik siapa dia.

***

Kali pertama aku memutuskan bersembunyi di kota kecil serta pelosok ini dari para pengejarku, kisah mengenai dirinyalah yang pertama kali kuketahui dari para penduduk sekitar. “Kau pasti melewati rumah bergaya kolonial itu dalam perjalanan kemarikan,” ucap setiap orang yang kutemui. Nada suara mereka seolah tak minta jawaban, tapi penegasan. “Kau tak lihat sosoknya?” selalu kumenggeleng.

Mereka lalu tanpa kuminta menceritakan kisahnya.

Tidak ada yang tahu pasti siapa sebenarnya sosok hantu perempuan di rumah tua kolonial di dekat Jl. Pahlawan, warga setempat hanya menyebutnya sebagai si Pengantin. Karena penampakkan dirinya selalu terlihat memakai gaun pengantin. Orang-orang lalu membuat asumsi sendiri mengenai dirinya. Ada yang bilang dia seorang perempuan yang mati karena sedih akan kekasihnya yang meninggal sebelum mereka melangsungkan pernikahan, ada yang bilang dia meninggal dibunuh kekasihnya sendiri, ada yang bilang dia mati karena sakit parah menanti kekasihnya pulang berperang, ada yang bilang dia mati bunuh diri karena patah hati sebab hubungan cintanya tak direstui, dan cerita-cerita lain sejenis. Kisah latar belakang dirinya selalu berbeda, tergantung siapa yang bercerita.

Aku sendiri diceritakan tentang versi di mana dia menemui maut bukan karena duka, tapi karena penantiaan yang tak kunjung reda.

Menurut versi cerita ini, dia adalah putri dari keluarga Meier atau putri dari keluarga Coen atau putri dari keluarga Hendrik atau putri keluarga besar lain yang melakukan suatu bisnis gelap. Tak jelas sebenarnya apa jenis bisnis gelap yang dimaksud sehingga dikemudian hari menyebabkan keluarga besar itu runtuh. Jadilah keluarga ini, meskipun bisa disebut terpandang serta kaya, tetapi agak dihindari di wilayah selatan sana karena bisnis gelap yang mereka punya.

Keluarga itu memiliki lima orang anak. Terdiri atas laki-laki serta perempuan. Mengenai pembagian pasti jumlah antar anak perempuan atau laki-lakinya tak ada yang tahu. Dipercaya bahwa sosok hantu perempuan di rumah tua itu adalah si bungsu. Yang terakhir sekaligus yang paling menawan.

Sebelumnya sudah kusebutkan bahwa meski keluarga itu kaya dan terpandang, tetapi orang-orang lebih pilih menjaga jarak dan tidak berurusan dengan mereka. Tapi selain hal itu, seperti keluarga besar lain yang menjalankan bisnis terlarang, keluarga ini juga punya saingan. Sama kuat, berpengaruh, serta sangat bernafsu menghancurkan pihak lawannya.

Maka ketika kepala keluarga besar itu ditemukan meninggal secara misterius di malam ke 43 ulang tahunnya, orang-orang lebih suka berasumsi dia telah dihabisi, daripada meninggal secara alami, oleh saingannya. Itulah sangkaan yang dipercaya semua orang. Tak terkecuali oleh para pria di keluarga itu sendiri. Putra sulungnya segera melakukan aksi balas dendam ke pihak yang dia curigai bertanggung jawab. Dalam sekejap memulai suatu perang pertumpahan berdarah. Mata ganti mata, nyawa ganti nyawa. Ayah ganti ayah.

Masing-masing pihak tak dapat hidup tenang, bahkan pihak yang sebenarnya tak ada sangkut pautnya sekalipun tapi tak sengaja terjebak. Setiap bersantap makan mereka takut piring mereka telah dibubui diracun. Setiap pergi tidur mereka takut dibawah ranjang telah menanti seorang jagal. Mulai mencurigai kesetiaan para pelayan yang mereka pekerjakan. Menduga bahwa di antara para jongos serta babu, terdapat seorang pembunuh yang menyamar, yang akan menikam mereka ketika turun malam. Lalu dimulailah hari-hari penuh teror di wilayah selatan sana. Saat sering terdengar letusan nyaring tembakan menembus badan, pembunuh bayaran menunggu dalam bayangan, tangis perempuan kehilangan kerabat, serta sumpah menuntut pembalasan nyawa. Sebuah kekacauan.

Demi terhindar dari konflik, nyonya rumah yang sekarang menjanda memutuskan mengungsikan putra-putrinya yang masih hidup ke tempat lain secara terpisah. Ke lokasi jauh serta terpencil. Ke kota inilah si bungsu dikirim.

Gadis itu berusia 16 tahun ketika dia dikirim berlindung ke kota ini. Ke rumah aman yang tak diketahui keluarga besar lain. Tepatnya ke rumah tua besar yang sekarang jadi bangunan yang paling dihindari setiap orang. Dia pindah dengan ditemani beberapa pelayan pribadi terpercaya yang telah mengurusnya sedari kecil.

Di hari-hari persembunyian inilah, saat si gadis merasa bosan akibat terlalu lama terkungkung, dia akan menyelinap dari pengawasan para pelayan untuk turun ke jalan, berbaur di antara orang-orang biasa. Berpura-pura menjadi anak gadis salah seorang pembantu di rumahnya. Berkenalan serta berteman dengan leluhur penduduk kota kecil ini di masa lalu. Yang tak menyadari bahwa dia sebenarnya adalah putri dari sebuah keluarga besar berbahaya.

Lalu dia bertemu seorang pria. Seorang prajurit dari detasemen kecil yang ditempatkan di sana. Mereka berkenalan dan segera jadi kawan. Sering keluar bersama, ke puncak bukit kecil untuk duduk memandang awan atau ke pantai bermain air serta pasir. Lama-kelamaan benih-benih asmara pun tumbuh dan mereka jadi sepasang kekasih, bertunangan sederhana disaksikan bulan dan bintang. Tapi seperti segala hal baik yang tak dapat berlangsung lama, begitu pula dengan kebahagiaan mereka.

Perang meletus dan si pemuda dikirim untuk melaksanakan bakti pada negeri. Bahkan ia tak sempat pamit ke kekasihnya ketika peletonnya menjemput di waktu subuh. Jadilah si perempuan tak sempat berpeluk-berkecup mesra melepas sejoli ke medan laga.

Sepanjang hari, minggu, bulan, serta tahun, dia menanggung rindu untuk bersatu kembali dengan kekasihnya. Bahkan, ketika permasalahan besar yang menyebabkan dia jauh dari rumah dan harus sembunyi telah reda, dan dia diminta pulang, dia pilih kukuh bertahan di rumah itu. Menunggu kepulangan si kekasih yang tak jelas apakah masih hidup atau sudah mati. Dan ketika keluarganya berusaha menjemput dengan paksa, dia mengancam akan mengakhiri hidupnya saat itu juga. Tekadnya begitu teguh sehingga tak ada yang tak percaya perkataannya.

Dia menunggu dengan setia, meski para prajurit berangsur-angsur pulang pergi silih-berganti, dan tahun-tahun yang terlewati memunculkan uban juga keriput. Orang-orang sangat mengagumi ketaatan penantiannya. Tetapi seperti semua penantiaan, penantiannya harus berakhir di genggaman kematian. Bukan usia tua atau sakit yang merenggut dirinya, tetapi harapan yang terus berkobar akan pertemuan kembali.

Sayangnya, ternyata bahkan kematian tak sanggup memadamkan semangat jiwanya guna meninggalkan dunia kehidupan. Jiwanya masih berdiam di rumah itu—di lantai dua pada kamar yang jendelanya menghadap ke jalan raya—menunggu kepulangan sang pujaan hati yang barangkali sendiri telah lama mati. Menunggu, menunggu, terus menunggu, hingga dia sendiri jadi penunggu di rumah tua itu.

***

Setelah dikisahkan mengenai hantu penunggu di rumah tua itu, aku pun pergi ke sana beberapa kali di malam hari. Bukan ke rumah itu tepatnya. Hanya ke sisi Jl. Pahlawan yang menghadap ke jendela lantai dua tempat penampakan dirinya sering dirumorkan. Seperti sekarang. Aku menunggu di bawah lampu jalan pada pukul 22.30 dengan rokok yang sambung-menyambung padam menyala. Angin malam berhembus dingin, tapi tak kuhiraukan. Duduk di trotoar jalan mengamati bagian jendela yang sering jadi tempat sosoknya menampakkan diri. Aku seringnya tak lama disana, hanya hingga tengah malam. Aku tak ingin menarik perhatian atau menimbulkan gosip tak perlu yang merugikan diri sendiri. Ketika lelah, aku segera kembali ke penginapan.

“Bagaimana jalan-jalan malamnya pak,” sapa putri si pemilik penginapan, seorang mahasiswi gemuk yang pulang libur semester.

Umurku kini 28 tahun dan dipanggil pak agak membuatku jengkel, “Menyenangkan,” sahutku. “Mungkin aku menginap lebih lama.”

“Syukur,” balasnya tersenyum. “Senang ada wajah baru di sini, jarang-jarang ada turis yang lama singgah di kota ini.”

“Kau tak segera tidur?”

“Sebentar lagi pak. Bapak sendiri tak segera tidur?” tanyanya masih dengan senyum yang merekah-rekah.

Meski kusadar senyumnya sekadar sopan santun kepada tamu, lama-lama aku nyaman juga akan kepalsuan itu. “Aku kadang terjaga di malam-malam tertentu.”

“Mungkin bapak perlu minum air rebusan daun pandan. Saya bisa buatkan sekarang kalau bapak mau. Kebetulan mama menanamnya di belakang.”

“Lain kali saja. Aku tak ingin kau repot di tengah malam,” buru-buru kunaik ke lantai dua tempat kamarku berada.

Sayangnya, rencana untuk menetap lebih lama di kota kecil itu tak mungkin kejadian.

Para pengejarku berhasil melacak serta menemukanku, dan setelah aksi kejar-kejaran yang berlangsung di gang-gang sempit kota dan aku menghabisi satu di antara mereka, aku lolos, untuk sementara waktu.

Dalam usaha pelarianku, aku tanpa sadar telah melesat masuk ke rumah tua yang katanya angker ini. Aku kini berada di lantai satu. Bertemu keusangan serta kegelapan yang menyertainya. Ditemani para laba-laba yang memintal jaring perangkap. Kujelajahi barang sebentar selagi cahaya bulan masih menyinari bagian-bagian dalam rumah meski secara samar. Beberapa lukisan telah terlepas dari dinding sementara yang masih menggantung hanya tinggal bingkai. Perabot seperti kursi, meja, guci, serta apa pun yang dapat disebut sebelumnya berharga, sekarang berserakan di lantai. Sebagian lapuk serta hancur dimakan rayap serta waktu. Gempa bumi besar, sepertinya juga pernah menghantam rumah ini, terlihat dari retakan-retakan pada dinding.

Kuputuskan untuk beristirahat di salah satu kamar di lantai dua yang kuperhatikan dapat disebut layak. Aku sendiri tak terlalu yakin apakah di ruangan ini tempat si hantu perempuan yang sering dirumorkan penampakannya itu, atau di ruangan lain. Agaknya karena otot-otot syarafku yang masih tegang sehabis melarikan diri, telah membuat segala desas-desus soal keberadaan setan atau hantu, tak mampu membuatku gentar.

Kubersihkan perlahan sudut ruangan di kamar itu, bersandar pada dinding melepas lelah. Malam begitu dingin, tapi tubuhku banjir keringat karena tegang. Kamar itu lengang dan penuh debu. Kaca jendelanya coklat dan rusak membuat udara dingin masuk. Tak ada sesuatu yang menarik di sana, kecuali sebuah lukisan besar yang menarik perhatianku. Bisa kukatakan bahwa, lukisan inilah satu-satunya yang masih bertahan dengan baik menghadapi kelembaban serta waktu yang merongrong rumah tua ini.

Lukisan itu adalah potret seorang pria kulit putih berambut hitam serta bermata coklat. Bibir penuh, rahang persegi, hidung bangir mirip paruh burung elang, dengan garis pipi tegas. Suatu kesan menunjukkan bahwa pria di lukisan ini bukanlah seorang bule tulen. Ada sedikit bagian dirinya yang memberi kesan oriental. Suatu campuran dari dua ras berbeda. Seorang blasteran. Kuduga potret ini bisa jadi adalah gambaran kekasih si perempuan yang diceritakan pergi berperang, tapi itu bukanlah sesuatu yang terlalu penting untuk kupikirkan sekarang.

***

Tiga malam sudah aku sembunyi. Berusaha tak menimbulkan suara apapun seminimal mungkin. Hiburanku cuma memperhatikan satu-satunya lukisan yang masih bertahan (selain tak diganggu oleh makhluk tak kasat mata manapun). Aku menyadari bagaimana wajah, potongan rambut, postur rahang, serta kesan tegas yang ditimbulkan di kanvas tua itu membuatku merasa pernah melihat sosoknya ini. Tentu saja bukan sosok aslinya karena dia pasti telah lama mati, melainkan gambaran dirinya di tempat lain. Karena dia diceritakan pergi berperang, aku pasti telah melihatnya entah di buku sejarah atau di antara potret-potret pahlawan yang digantung di ruang kelas.

Tepat ketika aku berusaha dengan keras mengingat.

“Kau yakin dia kemari?”

“Beberapa warga berkata mendengar seseorang berada di rumah ini setelah malam kita hampir menangkapnya.”

Tanpa perlu ragu, aku sendiri tahu mereka adalah para pengejarku. Mereka sungguh tak kenal lelah dan tak mau menyerah.

Langkah mereka menimbulkan derit di tangga naik, aku langsung dapat menebak posisi serta jumlah orangnya. Dua? Empat? Enam? Enam orang sedang menaiki tangga? Oh salah, tujuh tepatnya. Mereka mengantisipasiku dengan baik setelah aku menghabisi seorang rekan mereka. Aku jelas kalah jumlah.

Mereka terdengar sedang memeriksa satu persatu ruangan. Hanya masalah waktu hingga mereka menemukanku di ruangan ini. Dengan aku sendirian dan tanpa senjata. Aku merangkak sepelan mungkin ke arah jendela rusak. Meraba-raba mencari serpihan kaca pecah, memungut, dan memegangnya erat. Tertangkap bukanlah sebuah pilihan, sementara kematian yang lekas bukanlah sesuatu yang akan mereka beri dengan mudah setelah kesalahan besar yang membuat mereka memburuku. Satu-satunya pilihanku adalah melawan sampai mati.

Kudengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Langit malam sedang tanpa cahaya, bulan berada di balik awan dan aku menunggu dalam gelap ruangan dengan perasaan gugup menunggu suatu perkelahian yang pasti selagi dari bawah pintu aku melihat kibasan-kibasan cahaya para pengejarku. Aku bersandar di samping pintu menunggu giliran mereka membuka ruangan ini. Aku tak punya kesempatan menang, yang kupunya hanya usaha untuk menusuk leher mereka sebanyak yang kubisa sebelum mereka sendiri mengalahkanku.

Aku menghirup-menghembus nafas perlahan menunggu momen itu terjadi. Langkah-langkah mereka tertuju ke ruangan ini dengan pasti. Aku menghitung dalam hati. Satu... jarak mereka semakin dekat. Dua… tak ada keraguan akan hal itu. Tiga… inilah akhir pelarianku yang melelahkan. Empat… aku sungguh menyukai kota kecil ini walaupun hanya sebentar. Lima… sekaranglah saatnya!

***

Aku kebingungan. Seharusnya mereka telah membuka pintu ruangan ini dan kami bersitatap. Tapi keadaan tiba-tiba menjadi demikian hening. Mereka juga tak mungkin kembali turun karena aku tak dengar langkah pergi apa pun. Yang ada hanya keheningan tanpa suara serta cahaya. Aku tak yakin apakah ini sebuah tipuan atau tidak, maka akupun terus menunggu. Tetap saja, tak ada apa pun terjadi.

Bulan muncul kembali dan cahayanya menerangi ruangan. Meski ragu, kuputuskan membuka pintu, sangat perlahan. Aku menunggu suatu reaksi atas aksiku dengan cemas. Tetap tak terjadi apa pun. Aku mengintip dari bukaan kecil pintu dan tak melihat seorang pun. Salah. Bukannya tak melihat seorang pun, tapi setiap orang itu telah terkapar di lantai! Aku tak tahu ini adalah sebuah tipuan atau bukan, tapi para pengejarku sedang tergeletak seolah tak sadarkan diri. Apakah aku harus keluar atau tidak, aku benar-benar ragu.

Tapi akhirnya aku tetap keluar. Tentu dengan perasaan curiga. Aku menerkam yang terdekat, menindih serta menempelkan pecahan kaca ke lehernya. Menunggu reaksi yang lain. Tetap tak ada pergerakan. Kuteliti denyut nadinya, ia ternyata sudah mati. Kuperiksa masing-masing di antara mereka, tak ada keraguan mereka binasa. Karena keadaan yang demikian gelap dan aku sulit melihat, aku memungut salah satu senter yang terjatuh guna mengetahui penyebab mereka semua mati.

“Aaa!” aku menjatuhkan senter karena terkejut. Walaupun menyadari apa yang akan kudapati bukanlah suatu hal yang menyenangkan, aku pun tak mengira akan bertemu sesuatu yang sungguh mengerikan seperti ini. Ekspresi setiap orang yang mati itu berkata satu hal: teror yang menakutkan.

Sebelum mati mereka seolah bertemu sesuatu yang amat menakutkan, yang berdasarkan ekpresinya, membuat mereka berteriak ngeri. Sayangnya, bunyi dari teriakan itu tak berhasil keluar saking menakutkannya hal itu dan mereka keburu mati. Hanya menyisakan tubuh kaku dingin dengan tampang penuh teror. Inilah kematian yang disebabkan ketakutan.

Tepat ketika aku masih dicekam kebingungan serta kengerian akan penemuan kondisi kematian para pengejarku, sebuah sosok bayangan melintas di depanku. Aku terlalu tak siap dengan peristiwa yang cepat berganti ini hingga membuatku terjungkal ke belakang oleh salah satu tubuh yang tergeletak binasa. Aku menahan nafas saking tertegun.

Wajahnya pucat hampir serupa mayat. Berdiri kaku mengenakan gaun pengantin yang warna putihnya telah jadi abu-abu dengan tubuh ringkih tulang dibungkus kulit serta rambut hitam awut-awutan yang menjuntai ke segala arah dan seolah terbentuk dari ribuan lipan. Sosoknya yang tampak compang-camping serta merana itu sungguh membuat ngeri, ngeri yang mungkin akan terpatri selamanya dalam hidupku. Inilah momok yang selalu dibicarakan itu. Penunggu rumah tua yang mengantarkan jiwa para pengejarku kea lam baka.

Tubuhku bergetar hebat ingin segera lari keluar dari rumah itu secepat mungkin. Tapi ketakutan telah menguasai sendi-sendi tubuhku, membuatku diam membeku. Satu-satunya gerakan yang dapat kulakukan adalah merogoh kantung celanaku untuk mengeluarkan selembar uang kertas yang sudah kelewat lecek dengan gugup, yang malah menyelesaikan teka-teki lain di malam itu. Sekalipun dikuasai teror, aku tersenyum kecut memandangi selembar uang kembalian itu. Bukan karena nominalnya yang kecil, tapi karena sosok yang tercetak di sana, yang walaupun samar-samar, tak lain adalah gambar pria di lukisan di ruangan sebelah.(*)

--------------------------
ALDI RIJANSAH PUTRA
Penulis kelahiran Sumbawa Barat. Lulusan dari Jurusan Kehutanan, Universitas Mataram.

Ilustrasi:
"Gerbang Kendeng Utara", karya: Putut Pasopati.

INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14

Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com

Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI

Mitra Kerja: