
Kemenangan Koruptor
CERPEN
Oleh: Herumawan P A
6/1/2026


LIMA tahun lalu, viral kejadian seorang pria paruh baya yang ketahuan menjambret, dimandikan dalam genangan lumpur dari jalanan berlubang oleh beberapa warga atas provokasi dariku yang dikenal orang paling dipercaya di kampung. Ia mengaku baru sekali ini menjambret Memohon belas kasihanku dan para tetua kampung agar tidak dihukum mandi lumpur dan dibawa ke kantor polisi. Ia berdalih sebagai warga kurang mampu yang terpaksa menjambret akibat tidak punya pekerjaan ditambah dana bantuan tidak pernah diterimanya. Aku tidak percaya kata-katanya. Sudah banyak kutahu orang mengaku kurang mampu agar bisa mendapat dana bantuan.
Bukan salahku kalau punya ide gila memandikan lumpur si penjambret. Itu juga salahnya, mengapa ia jujur mengakui perbuatannya? Harusnya jangan langsung mengakui dulu, buatlah sedikit drama pakai wajah memelas dan cucuran air mata. Setidaknya sepertiku, berani berbuat kotor tapi rapat menyimpannya.
Para tetua kampung saat itu tidak ada menginterupsi atau mencegahnya. Hanya diam melihat si penjambret dimandikan dengan genangan lumpur. Aku tersenyum melihatnya, ada kepuasan batin melihat hukuman yang diterima si penjambret. Kuhentikan hukumannya. Lalu aku perintahkan si penjambret dibawa ke kantor polisi.
***
Kini sudah lima tahun kejadian main hakim sendiri berlalu. Tidak ada yang tahu bagaimana nasibnya, apakah masih di penjara atau sudah bebas. Tidak ada peduli padanya. Karena bagiku dan warga, hukuman mandi lumpur itu sudah lebih dari cukup sebagai pengingat pada siapapun agar tidak melakukan tindakan mencuri. Atau malah yang lebih besar lagi, korupsi.
Tapi apakah realitanya akan seperti itu? Belum tentu. Karena sejatinya akulah yang mengkorupsi dana bantuan warga kurang mampu dan dana perbaikan jalan. Akibatnya beberapa warga kurang mampu termasuk si penjambret hingga jalanan kampung berlubang adalah korbanku selama ini. Kunikmati uang hasil korupsi itu. Aku lakukan pencucian uang untuk sebagian uangku. Sisanya yang masih banyak kupakai foya-foya, membangun rumahku lebih mewah lagi, membeli kendaraan keluaran terbaru. Tidak ada yang curiga. Bahkan para tetua kampung hanya diam saja. Mulut mereka sudah kututup dengan uang. Dan rahasia skandal mereka sudah kupegang.
Tapi seperti kata pepatah, “Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya pasti tercium juga”, perbuatanku akhirnya terbongkar. Bukan hanya korupsiku saja, tapi semua perbuatan kotor yang kulakukan merugikan warga kampung. Aku kesal dan marah, perbuatanku sudah kusimpan rapi, yang tahu sudah kuberi uang atau kuajak kerja sama tapi mengapa masih bisa terbongkar? Aku pun mencari tahu penyebabnya.
Penjambret yang lima tahun lalu dimandikan lumpur oleh warga atas provokasi dariku ternyata dalangnya. Aku tidak tahu kapan ia bebas dari penjara. Yang pasti beberapa bulan lalu, rumah mewahku yang kini lebih mewah, kemalingan. Tidak ada hartaku yang hilang. Hanya beberapa dokumen penting yang hilang. Aku tidak mau lapor Polisi karena itu sama artinya membongkar perbuatanku sendiri. Kupilih menyiapkan alasan yang masuk akal. Aku briefing sejumlah netizen dengan narasi-narasi yang kuciptakan sendiri, bahwa aku ini orang baik tidak punya masalah apapun atau dengan siapapun, merasa paling suci dan teraniaya. Aku ingin pencitraan sebagai sosok yang tanpa cela sedikitpun, agar aku bisa maju ke Pemilihan Kepala Kampung lima tahun lagi.
***
Kini para warga menuntut aku melakukan hal sama untuk diriku sendiri. Karena aku ketahuan korupsi dana bantuan warga kurang mampu, hingga dana perbaikan jalan yang merugikan perekonomian kampung triliun rupiah.
Mereka menggelar demonstrasi di halaman rumah mewahku. Kulihat dari gorden jendela, orang itu ada di antara kerumunan warga yang berdemo. Ya, ia si penjambret yang dulu dimandikan lumpur itu. Kini ia berteriak paling lantang agar aku juga mandi lumpur karena menurutnya koruptor itu juga kotor, bahkan lebih kotor dari penjambret seperti dirinya dulu.
Sedang warga yang lain membentangkan poster dan spanduk bertuliskan,
“Koruptor itu kotoran masyarakat, dia harus mau mandi lumpur biar tahu rasa.”
“Koruptor… mandi lumpur, Koruptor… mandi lumpur!!” Aku jelas menyangkalnya di depan mereka. Bahwa aku tidak korupsi, itu fitnah, lalu dari mulutku keluar sumpah membawa nama Tuhan. Tapi dalam batinku berkata lain, “Aku hanya mengambil sedikit-sedikit tapi banyak. Mungkin nanti aku akan kembalikan, itupun kalau aku ingat.” Kuperhatikan sebagian dari mereka mulai goyah pendiriannya.
Aku lalu masuk ke dalam rumah. Para penjaga kuperintahkan memperketat penjagaan, mengunci dan menutup pintu gerbang. Lalu kukumpulkan para tetua kampung. Sebagian ada yang memintaku melakukan cara mandi lumpur seperti yang dulu aku pernah terapkan pada penjambret itu Aku menolak mentah-mentah. Kubalik peringatkan mereka yang menyuruhku mandi lumpur, akan aku bongkar skandal-skandal yang pernah dilakukan. Mereka seketika tutup mulut. Dan berbalik mendukungku.
“Bagaimana dengan warga yang demo di luar?” tanya salah seorang tetua kampung. Aku tersenyum mendengarnya. Kuambil koper besar yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Menariknya ke dalam lift khusus dalam rumah. Kuajak serta para tetua kampung untuk masuk ke dalam lift. Langsung menuju ke balkon paling atas.
Di balkon paling atas, aku dan para tetua kampung melihat ke bawah.
“Sekarang buka koper besarnya.” perintahku kepada para tetua kampung. Tidak ada yang berani membantahnya. Salah seorang lantas membuka koper besar milikku. Mereka terpana melihat uang banyak dalam koper besar.
“Ini buat apa?” salah seorang bertanya heran. Aku tidak menjawab. Kuambil segenggam uang kertas dari dalam koper. Kemudian kusebar ke bawah. Kulihat para warga yang demo ricuh memperebutkan uangnya. Orang itu berusaha menenangkan warga. Tapi ia malah jatuh, kepala hingga kakinya terinjak-injak warga yang sibuk berebut uang yang kusebar. Aku tersenyum melihatnya. Kuyakin ia sudah mati. Selesai satu masalah.
Aku kembali memperhatikan para tetua kampung yang sedari tadi diam. Mereka tidak menyangka apa yang kulakukan.
“Sayang sekali uangnya hanya disebar begitu.” Aku tersenyum mendengarnya.
“Bagian kalian sudah ada.” Aku bertepuk tangan. Keluarlah dari lift, beberapa orang membawa sejumlah koper besar. Wajah mereka langsung sumringah.
“Sekarang bantu aku menyebarkan uang ke bawah,” pintaku. Dengan sigap, mereka mengambil uang-uang yang ada di dalam koper yang sudah terbuka lalu menaburkannya ke bawah. Dari atas balkon, aku dan para tetua kampung melihat warga yang berdemo saling injak, saling sikut, saling pukul, saling tendang demi mendapatkan paling banyak uang. Kami tersenyum senang.
“Lihatlah di bawah, orang-orang saling bertengkar, ribut memperebutkan uang-uang itu. Mereka tetiba lupa tadi koar-koar bilang aku kotoran masyarakat lalu menyuruhku untuk mandi lumpur.” Para tetua kampung tertawa mendengar perkataanku.
Tiba-tiba dari arah lift, keluar dua pelayan berpakaian khusus. Satu memegang botol anggur kualitas tinggi dengan sarung tangan putih di kedua tangannya. Yang seorang lagi, membawa beberapa gelas mahal di atas nampan perak. Keduanya membungkuk hormat padaku. Aku tersenyum. Lalu botol anggur dibukanya. Menuang cairan putih ke dalam beberapa gelas mahal di atas nampan perak.
“Silakan diminum.” perintahku pada para tetua kampung. Tanpa sungkan, mereka berebut mengambil gelasnya. Kemudian meminumnya hingga timggal setengah di gelas.
“Nasib Anda beruntung, nggak perlu mandi lumpur seperti si penjambret dulu itu. Malah sekarang Anda mandi uang. Dan masih bisa hirup udara bebas.” Aku tertawa kencang mendengarnya.
“Koruptor gitu loh.” celetukku singkat. Para tetua kampung gantian tertawa.
“Cheers… untuk kejayaan Koruptor.” Aku berkata sambil mengangkat gelasku tinggi-tinggi.
“Cheers… .” sahut mereka serempak yang juga mengangkat gelas tinggi-tinggi. Bunyi denting gelas beradu terdengar nyaring di kala lembayung jingga muncul di langit sore yang sebentar lagi berganti petang.
Sedangkan di halaman rumah mewahku, warga yang tadinya berdemo seakan sudah lupa tujuan utamanya. Mereka sekarang malah sibuk berebut uang yang dilemparkan oleh dua pelayanku dari atas balkon. Saling pukul, saling tendang, saling tinju, saling hantam dengan batu besar yang diambil dari taman yang belum selesai dibangun hingga saling lempar pot-pot bunga yang ada di situ. Beberapa diantaranya sudah terbujur kaku termasuk orang itu, si penjambret. Oleh sejumlah penjaga pintu gerbang, tubuh-tubuh kaku itu lantas ditarik keluar dari kerumunan orang-orang yang sibuk berebut uang.
Yogyakarta, 14 Mei 2026


--------------------------
HERUMAWAN P A
Penulis tinggal di Yogyakarta, seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram).
INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14
Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com
Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI
Mitra Kerja:




