
"Kepala Badan" Teater Djarum
ENTITAS
Oleh: Iniibubudi


KEPALA BADAN
Judul: Kepala Badan
Karya & Sutradara: Asa Jatmiko
Pimpinan Produksi: Abdul Sholeh
Asisten Sutradara 1: Andreas Teguh
Asisten Sutradara 2: Wijayanto Franciosa
Penata Cahaya: Zen dan Syarif
Penata Artistik Panggung: Masrien dan Rahmat
Penata Rias & Kostum: Lulu’atul Mufida, Umi Setiyani dan Soviah Salisatina
Penata Musik: Kristian Kevin Pratama dan Cornel Innos
Video Instalasi: Ricky Marthin Rumuat
Dokumentasi: Apip dan Galuh
Pemain: Aditya Debe Seputra, Purna Irawan, Dewy Evelyn, Arvian Yofi, Aeliza Mariyana, Abdul Ghofar, Anang Ma’ruf, Nabila Khurul Aini, Puteri Lestari, Anggi Putri Hartanti, Uptalia, Bambang Susanto, Kasmin, Deni Anggaresta, Erin Dwi K, Tania Kirana, Syifa Regita, Lutfifah, Meli dan Khothibul Umam.
PERTUNJUKAN
📅 Sabtu, 31 Oktober 2026
⏰ Pukul 15:00 dan Pukul 19:30 WIB
📍 Taman Budaya Sosrokartono, Kudus
MENGGARAP lakon Kepala Badan ini merupakan sebuah pengalaman baru bagi Teater Djarum. Kandungan surealisnya lebih kental daripada Petuah Tampah yang kami garap 10 tahun sebelumnya. Kepala Badan sepertinya lebih cocok digolongkan sebagai absurd, bahkan mungkin mulai melangkah ke post-dramatik.
Setelah beberapa kali membacanya, saya sampai pada kesimpulan bahwa naskah ini sungguh berbeda dari naskah-naskah kami sebelumnya. Kepala Badan tidak menawarkan solusi/resolusi apapun kepada penonton, tidak pula bermaksud memberikan nasehat maupun ancaman. Ia benar-benar hanya menyuguhkan potret realita dalam perspektif fantasi hiperbolik.
Pemilihan kepala sebagai simbol utama dalam naskah ini sungguh berani, sekaligus menantang bagi yang menggarap. Berbeda dengan tampah yang merupakan obyek mati dan cenderung asing bagi penonton, kepala sangatlah nyata dan akrab. Ini berpotensi menghadirkan sensasi yang lebih mendalam bagi penonton, tidak sebatas pada ranah emosional ataupun kognitif.
Sensasi yang berbeda inilah yang saya rasa akan menjadi kunci kesuksesan Kepala Badan. Bagaimana kami menghadirkan potret yang meneror tapi sekaligus intim, yang memaksa penonton untuk berefleksi. Dan ini jelas menantang bagi kami yang belum pernah merambah wilayah itu. Terlebih bagi saya yang didapuk menjadi asisten sutradara. Pengalaman menjadi pemain saja belum ada.
Itulah mengapa sejak awal proses saya berpesan kepada teman-teman pemain dan tim artistik untuk berani mencoba, dan jangan takut salah. Saya gunakan jargon learning by njajal.
Artinya di sini semua orang mesti belajar, saya pun masih belajar. Mereka tidak bisa mengharapkan arahan yang hitam-putih dari saya, eksplorasi mesti dikerjakan oleh masing-masing individu. Jangan juga berharap prosesnya akan mudah dan sekali jadi, tapi harus terus mencoba tanpa kapok gagal.
Ibarat bermain pizzle, setiap kegagalan mesti dianggap sebagai satu kepingan puzzle yang ikut menyumbang pada upaya untuk menguak gambaran besar seutuhnya. Sehingga setiap kegagalan merupakan bagian penting dari proses secara keseluruhan, bukan noda yang harus disembunyikan.
Kurang-lebih 3 bulan perjalanan proses Kepala Badan, saya mendapati ternyata pendekatan learning by njajal ini cukup menantang. Butuh mental baja untuk terus mencoba lagi ketika eksplorasi-eksplorasi yang sudah dilakukan sebelumnya dinilai belum pas. Saya sendiri mesti memeras otak untuk menyusun kata-kata saat mengevaluasi, bagaimana agar mereka paham mengapa yang ini kurang pas, dan bagaimana memberi bekal untuk eksplorasi pribadi mereka selanjutnya.
Waktu terasa seperti sumberdaya yang paling langka dalam proses kali ini. Saya jadi kangen pada proses Petuah Tampah 10 tahun yang lalu. Saya ingat betul, setiap habis latihan, kami selalu sempat ngobrol tentang naskah itu. Masing-masing individu berkesempatan menyampaikan kesan, pengalaman, serta pemikirannya seputar tampah dan naskah itu sendiri. Hasil sharing informal ini ternyata banyak memberi inspirasi untuk eksplorasi selanjutnya. Terjadi semacam eksplorasi kolektif.
Tapi itu tidak mungkin dilakukan sekarang. Kesibukan kerja teman-teman jauh lebih padat dibanding 10 tahun yang lalu. Akibatnya, latihan mesti dimulai agak malam dan selesainya sudah terlalu larut untuk dilanjutkan dengan sesi ngobrol. Mau tidak mau, eksplorasi mesti mengandalkan kepekaan dan kedalaman imajinasi masing-masing individu.
Harus diakui, proses kami kali ini belum bisa benar-benar ideal. Seandainya ada waktu beberapa minggu lagi... Hehehe...
Tapi terlepas dari segala kekurangan yang ada, saya cukup hepi melihat pencapaian teman-teman Teater Djarum hingga sepekan menjelang jadwal pementasan. Banyak sekali temuan baru dan segar yang bermunculan, yang tidak terbayangkan di awal proses. Hasil akhirnya pun berbeda jauh dibandingkan versi-versi awalnya dulu. Sungguh banyak pelajaran yang saya petik dari proses kali ini.
Semoga semua itu akan berhasil menghadirkan teror bagi penonton, menjadi gangguan dalam benak mereka selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelahnya. Juga semoga langkah berani Teater Djarum ini mampu membuka wilayah baru untuk dijelajahi oleh seniman-seniman teater di Kudus dan sekitarnya.(*)
Membuka (Kemungkinan) Wilayah Estetika Pemanggungan Baru
Oleh: Andreas Teguh, Asisten Sutradara 1


PERTUNJUKAN ini adalah suatu pengalaman baru bagi saya dalam proses kreatif pementasan naskah “Kepala Badan” ini. Pendekatan yang paling menarik untuk pementasan ini adalah surealisme yang berpadu dengan absurd dan estetika post dramatik. Namun, keanehan visual dan permainan tubuh harus tetap memiliki arah pemikiran yang jelas. Dengan logika tersendiri di dalamnya.
Menurut saya, “Kepala Badan” memiliki potensi menjadi pertunjukan yang kuat dan menarik serta merupakan hal baru yang pernah dipentaskan oleh Teater Djarum. Cerita tentang orang-orang yang menderita sakit kepala, sebagai gambaran masyarakat yang mengalami gangguan kesadaran, kehilangan nalar, dan hidup dalam sistem yang membuat manusia perlahan kehilangan kemanusiaannya.
Gambaran sebuah masyarakat yang sedang mengalami wabah, bukan sekadar kumpulan pasien yang berakting kesakitan. Tokoh yang mengusik kenyamanan tokoh lain. Penolakannya terhadap tindakan yang dianggap biasa dapat membuka pertanyaan tentang kebebasan, kesadaran, dan kendali atas diri.
Proses Kreatif
Proses pembedahan naskah bukanlah hal yang mudah, bahkan Ketika penulis naskah memberikan Gambaran-gambaran besar tentang naskah ini, saya tetap belum bisa memahami dengan gamblang, alih-alih membuat panggung dan pementasan surealis, alur, tujuan, dan makna utama naskah saja masih penuh dengan kebimbangan.
Ialah ketika Lirik lagu kepala badan menjadi pembuka jalan penemuan premis naskah. Hal yang tidak terduga Ketika saya mencoba untuk membuat koreo di babak 4 naskah ini. Hal pertama yang saya lakukan adalah dengan mendalami lagu beserta liriknya. Lirik lagu yang menarik dengan kalimat kalimat puitis mengetuk pintu hati saya sekaligus membuka pikiran saya. Yang terjadi adalah Bagaikan ledakan ledakan kembang api di kala lebaran. Kata demi kata, bait demi bait akhirnya munculah sebuah premis yang menjadi dasar saya untuk bisa melangkah ke proses berikutnya.
Dari penemuan premis inilah saya bisa merumuskan bagaimana koreo ini bermula. Bagaimana terciptanya 8 karakter Tubuh Penari yang menjadi inti semua Gerakan. Kedelapan tubuh tersebut Adalah Tubuh yang bodoh, Tubuh yang tertawa bebas, Tubuh Hewani, Tubuh Mesin, Tubuh Anak-anak, Tubuh Ritual, Tubuh pembawa kain, dan Tubuh Empati. Kedelapan tubuh inilah yang menjadi kunci seluruh Gerakan koreo. Dimulai dari setelah pemotongan kepala dengan Gerakan pencarian jati diri, dilanjut Gerakan empati, Gerakan ritual, Gerakan penyucian yang dilambangkan oleh symbol Tubuh pembawa kain, dan diakhiri Gerakan pesta kebebasan.
Bukan hanya di koreo, property pun akhirnya menemukan titik terang. Bagaimana saya bisa membagi property ke dalam dua area besar, area sebelah kiri merepresentasikan rakyat kecil yang penuh mimpi, bahkan ada simbol level tangga yang menuju ke sebuah pintu kecil gerbang dunia lain. Bagaimana Kain-kain yang menggantung dapat menjadi metafora pikiran kusut, ruang yang menekan, atau sistem yang menjerat manusia, dan sebagai ruang mimpi-mimpi. Sebuah bentuk kusen kayu merupakan pintu masuk ke area mereka. Tiga kotak kecil, sedang, dan besar merupakan simbol level kemiskinan, kebodohan, dan keterpurukan yang direkayasa oleh penguasa.
Di tengah panggung ada bentuk kotak Panjang sebagai tempat duduk Bela dan Billy, yang merupakan titik pemisah dari area rakyat dan area penguasa.
Sementara itu di area sebelah kanan merepresentasikan area penguasa, dengan sebuah meja dengan setengah lingkaran di tengah merupakan simbol alat potong kepala, sebuah tong sebagai simbol tempat penyimpanan kepala yang sudah dipotong, dua buah tiang sebagai simbol gapura masuk ke area penguasa, sebuah level berwarna biru sebagai simbol level kekuasaan.
Keaktoran
Kunci akting adalah bagaimana para actor bisa berimajinasi dengan menciptakan tokoh-tokoh imajiner sesuai tokoh yang dimainkan oleh masing-masing, dengan ketenangan yang ganjil, tidak lurus, saling tumpeng tindih, tapi tetap dengan logika surealis di dalamnya. Alih-alih dengan dialog filosofis yang dominan sehingga tubuh hanya berfungsi sebagai ilustrasi kata-kata saja, tetapi setiap gagasan memiliki konsekuensi fisik. Ketika seorang tokoh menyangkal sesuatu, tubuhnya justru menunjukkan hal yang bertentangan. Ketika percakapan semakin sulit, jarak antartokoh berubah, arah pandang bergeser, dan ritme tubuh mulai terganggu.
Dengan begitu, konflik tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat. Gangguan relasi: tubuh seseorang mulai memengaruhi tubuh orang lain. Gangguan kesadaran: ucapan tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan gerakan. Kehilangan kendali: ruang dipenuhi tindakan yang sulit dipahami secara logis, tetapi memiliki pola yang konsisten.
Konsep pentingnya ialah motif gerak. Misalnya, gerakan memegang kepala pada awal pertunjukan dapat muncul kembali dalam bentuk berbeda menjelang klimaks. Gerakan yang semula merupakan tanda rasa sakit kemudian berubah menjadi tanda ketakutan, kepatuhan, atau bahkan kekuasaan. Sehingga Ini akan membuat pertunjukan memiliki nilai tinggi, dan bukan hanya rangkaian adegan surealis.
Video-video pendek di bangsal
Dalam konteks pertunjukan pementasan teater "Kepala Badan" ini saya juga bisa menambah pengalaman kreatif saya dengan pembuatan film pendek. Ketika sutradara ingin menyajikan bangsal-bangsal dengan pasien-pasien di dalamnya, bukan aktor-aktor pengganti sebagai pasien, tapi videolah sebagai pasiennya, video ini dibuat bukan sekadar sebagai pemanis visual di pintu masuk gedung, melainkan instrumen dramaturgi penting:
Ada 5 Video pendek yang merepresentasikan orang-orang sakit di bangsal masing-masing. Alih-alih orang-orang sakit di atas ranjang, tapi monitor di atas kasur dengan infus dan alat monitor jantung, atau di atas kursi roda, dengan selimut yang menutupi. Kesemuanya adalah proses kreatif pementasan ini yang di dalamnya mengibaratkan:
Menembus Batas Panggung (Ekstensi Multimedia.
Personifikasi Tema "Kepala Badan” yang surealis tanpa batas.
Pemberi Tekanan Psikologis (Psychological Anchor): ditayangkan sebagai flashback, visualisasi trauma, atau jembatan antar babak (scene transition) untuk membangun ketegangan emosional sebelum adegan langsung di panggung dimulai.
Memperkuat Rasa Teror Eksistensial: menghadirkan rasa ngeri yang nyata (body horror) kepada penonton, mengaburkan batasan antara penyakit medis fisik dan kutukan/penyakit batin yang dialami oleh tokoh utama
Menurut saya kekuatan utama “Kepala Badan” terletak pada originalitas naskah, keunikan cerita yang mempunyai peluang mengubah sesuatu yang personal yaitu sakit kepala menjadi sebuah pertanyaan yang lebih luas mengenai rakyat yang semakin terpuruk dan kekuasaan yang makin mendominasi.(*)
Mengubah Persoalan Personal Menjadi Persoalan Komunal (Warga Bangsa)
Oleh: Wijayanto Franciosa, Asisten Sutradara 2


TERAKHIR kali saya bermain teater sekitar tujuh tahun lalu. Sekarang saya ikut berproses lagi sekaligus riset bersama Teater Djarum, dengan naskah "Kepala Badan" karya Asa Jatmiko. Tujuh tahun secara relatif cukup panjang untuk membuatku bertanya apakah pengalaman bermain teater sebelum ini masih bisa saya andalkan. Membaca naskahnya tentu tetap bisa mudah saya lakukan. Tetapi ketika harus ikut memainkannya, saya perlu memikirkan bagaimana “pembacaan” itu bisa dikerjakan oleh tubuhku sendiri.
"Kepala Badan" membuka persoalan itu dengan cukup menarik. Pada awal lakon, Orang-orang berkumpul di rumah sakit karena sakit kepala. Mereka mengerang, marah, dan memperlakukan kepalanya sendiri dengan berbagai cara. Petunjuk adegannya bahkan menyebut tidak seorang pun mengucapkan “aduh”. Rincian kecil itu seakan mengajak berpikir tentang kebiasaan bermain peran. Kalau kata yang paling mudah dipakai untuk menyatakan kesakitan justru ditiadakan, suara dan gerak seperti apa yang masih bisa ditemukan?
Persoalannya bertambah ketika rumah sakit menawarkan penyelesaian yang mengerikan, yaitu kepala para pasien dihilangkan agar mereka tidak sakit lagi. Logikanya memang keterlaluan dan di luar nalar, tetapi sebenarnya sangat mudah dipahami. Sumber keluhan dibereskan dengan meniadakan orang yang bisa mengeluh. Saya membaca bagian ini sambil memikirkan Indonesia di bawah rezim kiwari. Selain itu, yang juga mengganggu adalah bayangan tentang pemerintah yang menginginkan rakyat tenang, lalu menganggap pertanyaan rakyat sebagai penyebab kegaduhan. Dalam pembacaan semacam itu, kepala yang dipenggal terasa dekat dengan kemampuan warga untuk menilai kebijakan yang menentukan hidup mereka.
Ada percakapan yang membuat hubungan itu menjadi lebih jelas. Walikota heran mengapa warga yang telah memilihnya kemudian menentang kebijakannya. Seakan-akan setelah memberi suara, warga seharusnya diam dan menyerahkan saja segala urusan kepada rezim sampai pemilihan berikutnya. Keheranan Walikota sendiri sudah memperlihatkan bagaimana ia memahami mandat dengan banal. Ia mungkin sungguh percaya sedang berbuat baik. Justru kepercayaan itulah yang membuat tokoh ini menarik sekaligus mengerikan.
Namun di sisi lain, saya juga harus berurusan dengan jarak antara memahami kritiknya dan mampu bermain di dalamnya. Menyetujui pesan sebuah naskah tidak otomatis membuat seseorang bisa membawakannya. Saya mungkin bisa menjelaskan bahwa hilangnya kepala adalah gambaran pembungkaman. Lalu setelah penjelasan itu selesai, bagaimana tubuh tanpa kepala berjalan? Bagaimana ia mendekati tubuh lain? Pertanyaan seperti ini mengembalikanku pada pekerjaan pemain yang sudah lama kutinggalkan. Tafsir yang terasa lancar di kepala masih harus diuji lewat permainan.
Bagi Teater Djarum, “Kepala Badan” juga membawa dinamika tersendiri. Mereka biasanya memainkan naskah realis. Kali ini sedikit berbeda karena ada manusia tanpa kepala yang berpesta, teriakan yang disusun menjadi paduan suara, serta perpindahan dari percakapan biasa menuju gambaran yang menyerupai mimpi buruk. Kebiasaan membangun tokoh dan hubungan antartokoh tetap berguna. Hanya saja, ada bagian-bagian yang menuntut cara lain. Misalnya kemungkinan bahwa sebuah gerak bersama bisa menyampaikan sesuatu yang akan terasa berlebihan jika seluruhnya dijelaskan lewat dialog. Gestur bisa lebih berbicara daripada verbal.
Saya pun perlu belajar menghadapi kemungkinan itu. Jarak tujuh tahun dari panggung tidak memberi alasan untuk sekadar mengulang cara bermain yang masih bisa diingat. Apalagi saya datang ke kelompok yang memiliki pengalaman dan kebiasaannya sendiri. Saya tidak bisa langsung menganggap apa yang asing bagiku sebagai kekurangan mereka. Bisa jadi ternyata saya yang belum mengenali cara mereka bekerja.
Bermain bersama “buruh-aktor” Teater Djarum merupakan bagian yang paling membuatku penasaran dalam proses ini. Saya ingin mengenali bagaimana pengalaman kerja mereka ikut hadir ketika berproses teater. Tetapi saya merasa perlu menahan keinginan untuk segera menafsirkannya. Terlalu mudah membayangkan tubuh buruh sebagai tubuh lelah dan patuh, lalu memasukkannya begitu saja ke dalam pembacaan naskah. Dengan cara tersebut, saya malah tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan sesuatu yang berada di luar dugaan dan habit kelompok teater lainnya.
Ada pertanyaan lain yang muncul karena proses ini berlangsung bersama kelompok yang menyandang nama perusahaan atau korporasi. Bagaimana kami mengerjakan lakon tentang kepatuhan dan pembungkaman di lingkungan kerja korporasi yang hierarkis? Jujur, saya tidak mempunyai jawaban yang bisa dibereskan dalam satu kalimat. Pertanyaan itu justru membuatku memikirkan hal yang lebih dekat. Apakah pemain punya kesempatan sepakat untuk tidak sepakat? Bagaimana sebuah usulan didengarkan dan dielaborasi?
Sampai di sini, pengalaman kembali bermain terasa cukup repot namun menyenangkan. Saya harus memikirkan naskah sambil bersedia mengubah pembacaanku ketika bertemu orang lain. Ada keinginan untuk menghasilkan permainan yang baik, tetapi saya juga perlu menerima bahwa pengalaman lama tidak selalu menyediakan jawaban. Kadang dalam proses berteater, perkara artistika, estetika, hingga isu yang diangkat akan lebur dengan sendirinya ketika kita mau hanyut dalam prosesnya. Mungkin justru bagian tersebut yang saya rindukan dari berteater.
Bagian akhir naskah menahan pembacaanku agar tidak berhenti pada kemuraman. Bela dan Billy masih bermain sundamanda, berbicara tentang kehilangan, dan berusaha saling menemani. Saya membacanya bukan sebagai penyelesaian atas kekerasan yang telah terjadi, melainkan sebagai sisa kemampuan untuk mengakui bahwa orang lain berharga. Justru setelah gambaran penghancuran geger gedhen, perhatian kecil itu terasa penting. Barangkali di situlah saya ingin menempatkan pengalaman kembali berteater ini. Belajar hadir bagi sesama pemain dan tetap peka terhadap fenomena sosial sekitar. Kami memainkan manusia yang kehilangan kepala. Prosesnya, bagi saya, harus menjadi kesempatan untuk tetap menggunakannya dengan dingin dan bijaksana.(*)
Ketika Bermain Bersama Tubuh Teater Djarum
Oleh: Khothibul Umam, Peneliti Teater Djarum dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta


SAYA ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh tim kerja dalam produksi ke-43 Teater Djarum “Kepala Badan”. Terutama kepada Andreas Teguh, asisten sutradara 1, yang telah memberikan arahan dan petunjuk dramaturgi kepada para pemain. Kepada Wijayanto Franciosa, asisten sutradara 2, yang getol mencari penanda dalam metafora koreografi, visual instalasi dan arahan artistik panggung.
Terimakasih untuk Abdul Sholeh, komandan produksi kali ini yang mengupayakan semua kebutuhan hingga pertunjukan dengan rapi. Juga kepada Masrien Lintang dan Rahmat Syaifudin yang telah mewujudkan artistik panggung sedemikian dinamis untuk para aktor. Zen dan Syarif juga, yang telah melukis panggung dengan pola dan tata cahaya surealis yang memesona. Terimakasih Kevin Kristian Pratama dan Cornel Innos yang telah membersamai “Kepala Badan” dengan balutan musikal yang kuat, menajamkan misi di setiap adegan.
Usia Teater Djarum tahun ini memasuki 23 tahun. Dan selama itu pula Teater Djarum berusaha tetap konsisten untuk belajar sembari terus memberikan sudut pandang kebudayaan secara khas melalui karya seni pertunjukan dan kegiatan-kegiatan.
Melengkapi itu semua, saya ingin berterimakasih juga kepada seluruh pemain dan kru “Kepala Badan”. Untuk: Aditya Debe Seputra, Purna Irawan, Dewy Evelyn, Arvian Yofi, Aeliza Mariyana, Abdul Ghofar, Anang Ma’ruf, Nabila Khurul Aini, Puteri Lestari, Anggi Putri Hartanti, Uptalia, Bambang Susanto, Kasmin, Deni Anggaresta, Erin Dwi K, Tania Kirana, Syifa Regita, Lutfifah, Meli dan Khothibul Umam. Tim Tata Rias dan Kostum:Lulu’atul Mufida, Umi Setiyani dan Soviah Salisatina. Penyanyi: Heru Nugroho dan Video (Instalasi): Ricky Marthin Rumuat.
Mereka telah membuat airmata saya menetes, karena saya tahu persis bagaimana upaya keras yang telah mereka lakukan di hari-hari latihan. Memaksakan diri untuk berlatih dan mewujudkan impian bersama: sebuah pertunjukan yang indah dan mengesankan.
Selanjutnya, saya persembahkan ungkapan syukur ini dan peristiwa pertunjukan di panggung “Kepala Badan”, untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia.
Tabik!
Hanya Ingin Sampaikan Terimakasih
Oleh: Asa Jatmiko, Sutradara


Semua masuk perangkap dalam sebuah Program Pandemi Sakit Kepala. Mereka merancang agar semua orang menjadi sakit. Kota lumpuh. Di saat itulah mereka mengambil apa yang berharga yang dimiliki manusia, “cogito ergo sum”. Tidak ada solusi selain revolusi. Namun apalah daya? Kehidupan di atas panggung tidak menawarkan apa-apa, setelah bertahun rezim drama berkuasa. Di atas panggung, mereka merobohkan rezim dramatik dengan perasaan dan tubuh tanpa “kepala”.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






