Keringkasan Sastra dan Fraksionasi Fiksi

ESAI

Oleh: Ranang Aji SP

8/1/2026

DALAM sebuah pengantar The Art of Short Story yang tidak diterbitkan di tahun 1959, namun diterbitkan kemudian secara anumerta, Ernest Hemingway menulis:

"Jika seorang penulis prosa cukup tahu tentang apa yang dia tulis, dia mungkin menghilangkan hal-hal yang dia ketahui dan pembaca, jika penulis menulis dengan cukup benar, akan memiliki perasaan tentang hal-hal itu seolah-olah penulis telah menyatakannya."

Apa yang dia (Hemingway) sampaikan adalah apa yang kemudian dikenal sebagai prinsip gunung es (The principle of Iceberg) atau Ommision of Theory. Seorang penulis tak perlu menuliskan semua adegan dalam ceritanya. Meskipun ada sesuatu yang tersembunyi, pembaca akan memahaminya. Inilah prinsip gunung es yang menghasilkan apa yang kita sebut sebagai substeks. Konsep atau prinsip itu bagi Ernest Hemingway adalah sebuah kesadaran bahwa sebuah fiksi sebaiknya ditulis melalui kalimat yang padat dan memberikan kelonggaran pembaca untuk bernafas ketika membaca fiksi. Meskipun secara teknis estetis, maksudnya lebih pada efek imaginasi.

Prinsip itu menjadi relevan dengan fenomena masyarakat abad 21 yang mulai kehilangan nafas untuk membaca tulisan-tulisan panjang. Terutama pada masyarakat yang tak memiliki tradisi membaca - karena membaca panjang adalah sebuah siksaan yang menyiksa. Oleh sebab itu, semua tradisi membaca buku, menulis catatan harian berubah atau beralih menulis dan membaca status, membuat cerita, memposting foto, gambar, tulisan di medsos yang pendek.

Pada awal cerita pendek berkembang mendapatkan makna modernya di tahun 1880-an menurut Kevin J Hayes, yaitu setelah melewati era dongeng, di Eropa, cerpen ditulis setidaknya ditulis sepanjang sepuluh hingga dua puluh ribu kata. Misalnya, Mark Twain menyebut cerpen adalah fiksi yang bisa dibaca sepanjang sepuluh menit. HG Wells berpendapat bahwa cerpen yang menyenangkan dan penuh emosi dapat dibaca dari lima belas hingga lima puluh menit ketika dibaca dengan keras. Tradisi atau konvensi itu sudah semakin ditinggalkan saat ini, terutama di Indonesia yang tradisi menulis cerpen dibangun dari media cetak yang terbatas ruangnya. Cerpen sepanjang dua ribu kata yang di Amerika, misalnya, disebut sebagai flash fiction sudah tergolong (dirasakan) panjang. Meskipun demikian, tak ada satu kekuatan pun yang mampu menghentikan dorongan seseorang untuk tetap menulis sepanjang waktu. Meskipun juga tidak panjang.

Keringkasan
Hanya saja, sastra di masa depan, tentu akan menghadapi banyak tantangan, terutama bila merujuk sejumlah pembaca muda yang hidup dengan tradisi keringkasan. Selain format digital menjadi pilihan, menulis dengan keringkasan tapi dengan kualitas baik adalah asumsi yang mendasar untuk ditawarkan. Dalam menulis cerita pendek atau fiksi, pada dasarnya prinsip, konsep atau bahkan teori yang menekankan pada teknik keringkasan dalam sepanjang cerita, saya belum menemukan selain prinsip gunung es (The Principle of Iceberg) Ernest Hemingway.

Tentu saja, cerpen atau fiksi adalah sebuah seni yang memungkinkan banyak prinsip atau metode atau teori digunakan atau dikembangkan, namun semua itu bukan urusan keringkasan. Kita mengenal Chekov's Gun sebagai prinsip drama yang menekankan pada relevansi 'sesuatu' (pistol) diletakkan pada sebuah cerita. Kita mengenal 'stream of consciouness' atau aliran kesadaran dalam sastra modernisme yang dicetuskan semula oleh May Sinclair di tahun 1918. Sebuah teknik yang menggunakan gagasan psikologi William James di tahun 1890 yang justru mengalirkan kalimat panjang tanpa terputus, seperti karya Virginia Woolf, James Joyce, dan William Faulkner. Kita juga diperkenalkan metode penulisan 'Show, Don't Tell' yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu dari sejak Konfunsius (551 – 479 SM), Aristoles (350 SM), Ibn Rušd (Averroes) di abad 12 hingga Anton Chekov. Semua itu digunakan sekaligus dipertentangkan dalam prinsip gunung es Hemingway, tapi, sekali lagi, semua itu bukan soal keringkasan. Namun, lebih sebagai teknis narasi. Terutama, jika bicara soal keringkasan untuk menghasilkan subteks. Semua teknis itu bisa diterapkan dalam tulisan panjang atau pendek.

Jadi, dalam esai ini saya menawarkan konsep 'Fraksionasi'. Di mana secara teknis konsep ini tak hanya mengembangkan prinsip gunung es Hemingway yang mengatur cerita dalam kepenuhan yang tertakar. Memilih dan membuang yang tak perlu dalam latar cerita. Namun, dalam dalam konsep 'fraksionasi' sebuah cerita dipecah menjadi beberapa fraksi atau fragmen. Setiap fragmen bisa berarti menjadi semacam apa yang dikenal sebagai pengembangan karakter. Dalam setiap fragmen memiliki otoritas dengan memasukkan clift hanger, misalnya, sebagai puncak jeda. Meskipun cerita terpecah dalam fragmen-fragmen, tetapi setiap bagian adalah koheren dan kohesif menyatu dalam satu cerita utuh yang membawa unsur karakter utama dan protagonis sebagai pusat tindakan dan pergerakan cerita. Keadaan itu, kesatuan cerita yang terpecah dalam unit-unit fragmen tetap terhubung secara koheren melandaskan pada logika waktu durée Henri Borgson, di mana waktu tidak bekerja secara kronologis, atau durée didefinisikan sebagai waktu nyata yang dialami oleh kesadaran manusia secara mengalir dan terus-menerus. Jadi, fraksionasi di sini bukan gaya menulis, tapi cara membangun dunia dalam fiksi.

Teknik ini memungkinkan untuk menghasilkan keringkasan untuk bernapas para pembaca yang terutama tak memilki stamina membaca panjang. Namun, fraksionasi bukan sekadar teknik memotong cerita menjadi bagian-bagian kecil agar tampak ringkas atau mudah dibaca. Jika hanya demikian, maka ia tidak lebih dari strategi layout atau sekadar penyesuaian terhadap perhatian pembaca yang semakin pendek di era digital. Yang membedakan fraksionasi dengan sekadar fragmentasi biasa atau fiksi mini adalah kesadarannya terhadap ritme pengalaman manusia modern. Dunia abad ke-21 bukan hanya dunia yang serba cepat, tetapi juga dunia yang dipenuhi pecahan pengalaman. Manusia tidak lagi hidup dalam alur linear yang tenang, melainkan dalam tumpukan notifikasi, potongan ingatan, trauma, video pendek, status media sosial, percakapan yang terputus, dan perpindahan perhatian yang terus-menerus. Kesadaran manusia modern bekerja secara terpecah, tetapi anehnya tetap merasa hidup dalam satu identitas yang utuh. Fraksionasi berusaha menangkap keadaan itu dalam bentuk sastra.

Karena itu, fraksionasi tidak anti terhadap kedalaman. Justru kedalaman dibangun melalui pecahan-pecahan yang saling memantulkan makna. Dalam tradisi lama, sebuah karakter dibangun melalui uraian panjang tentang masa lalu, psikologi, lingkungan, atau dialog yang berlapis. Dalam fraksionasi, karakter justru muncul dari potongan-potongan tindakannya, dari jeda, dari sesuatu yang tidak selesai diucapkan, dari benda-benda kecil yang muncul berulang, atau dari perpindahan fragmen yang tampaknya acak tetapi sebenarnya menyusun pola emosional tertentu. Pembaca tidak lagi digiring secara penuh, tetapi diajak menyusun sendiri dunia cerita melalui intuisi dan pengalaman membaca mereka. Dengan kata lain, pembaca menjadi lebih aktif, bukan sekadar penerima cerita.

Di titik ini, fraksionasi juga memiliki hubungan dengan perkembangan teknologi dan budaya visual. Generasi yang tumbuh bersama TikTok, Instagram Story, atau video pendek memiliki cara berbeda dalam menyerap narasi. Mereka terbiasa menerima dunia dalam potongan-potongan cepat. Namun, sastra tidak boleh tunduk sepenuhnya pada logika media sosial. Sastra tetap membutuhkan kedalaman refleksi dan pengalaman batin. Oleh sebab itu, fraksionasi bukan usaha untuk mengubah sastra menjadi sekadar konten pendek, tetapi usaha untuk menemukan bentuk naratif baru yang tetap memiliki kualitas estetik sekaligus mampu bernegosiasi dengan perubahan cara manusia membaca. Jika tidak, sastra berisiko semakin jauh dari generasi pembaca baru.

Selain itu, fraksionasi memungkinkan sebuah cerita memiliki daya pantul yang lebih luas. Karena tidak semua dijelaskan secara penuh, maka ruang tafsir menjadi terbuka. Dalam banyak hal, pembaca akan mengingat fragmen-fragmen tertentu lebih kuat dibanding keseluruhan cerita. Sebuah adegan pendek, kalimat singkat, atau gambar kecil bisa tinggal lama dalam ingatan pembaca seperti serpihan mimpi. Hal itu penting karena pada dasarnya manusia juga mengingat hidupnya dalam fragmen-fragmen tertentu, bukan sebagai narasi utuh yang runtut. Kita mengingat aroma hujan, suara radio tua, wajah seseorang di terminal, atau suara langkah kaki di malam hari. Semua itu hadir sebagai pecahan pengalaman yang justru membentuk kesadaran manusia. Fraksionasi bekerja dari logika ingatan seperti itu.

Maka, pada akhirnya, fraksionasi adalah usaha mencari bentuk sastra yang tetap puitik, padat, dan reflektif di tengah perubahan besar peradaban membaca. Ia bukan penolakan terhadap tradisi sastra lama, melainkan pengembangannya. Prinsip gunung es Hemingway tetap menjadi dasar penting: bahwa sesuatu yang tidak dikatakan justru bisa memiliki daya yang besar. Namun, fraksionasi melangkah lebih jauh dengan memecah pengalaman cerita menjadi unit-unit kesadaran yang bergerak secara durée, saling terhubung secara emosional dan simbolik. Dengan demikian, keringkasan tidak lagi berarti pengurangan kedalaman, tetapi justru cara baru untuk mencapai intensitas. Sastra masa depan mungkin tidak selalu panjang, tetapi ia tetap bisa meninggalkan gema yang panjang dalam kesadaran pembacanya.(*)

--------------------------
RANANG AJI SP
Sastrawan, pengelola Sekolah Burobudur.

INIIBUBUDI
Sejak 17 Februari 2016

Iniibubudi.com merupakan media nirlaba, terbit setiap bulan, menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan kesenian dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI DANA KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

© 2026 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang