Kesa(n)daran Literasi
ESAI
Oleh: Agung Widodo
8/17/2026


Pengantar Redaksi:
INIIBUBUDI dengan sengaja meminta Agung Widodo, penulis naskah Nitisemito: De Kretek Koning untuk menuliskan pandangannya serta gagasan-gagasan yang ingin disampaikannya. Menurut kami hal ini penting, sebagai informasi tambahan sekaligus bahan pendalaman penjelajahan akan naskah itu sendiri manakala karya tersebut dibaca dan dinikmati khalayak dari sudut pandang penulis naskah. Tulisan ini juga dapat menjadi bekal kita nanti menyaksikan pertunjukan musikal Nitisemito: De Kretek Koning yang diproduksi oleh Keluarga Segitiga Teater (KESET) di Taman Budaya Kudus pada 29 Agustus 2026. Semoga bermanfaat.
SETELAH beberapa bulan rajin berkunjung ke berbagai beranda literasi dan berjumpa dengan kawan-kawan diskusi, akhirnya naskah drama musikal Nitisemito: De Kretek Koning rampung pada 3 Mei 2026.
Bagi saya, selesainya naskah bukan sekadar penanda berakhirnya proses menulis. Ia justru menjadi ruang sekuel, sebuah titik awal pengembaraan catatan sejarah mencari tubuhnya di atas panggung.
Naskah ini dikemas bukan semata-mata untuk memindahkan sejarah sebagai klangenan masa lalu ke atas panggung teater. Lebih dari itu, naskah ini mencoba meniupkan kembali nyawa sebuah biografi tokoh besar di abad ke-20 awal agar menjelma menjadi peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan sebagai pengalaman manusia. Sejarah tidak ditempatkan sebagai kolofon yang cukup dikenang, melainkan sebagai pijakan untuk membangun sebuah pengalaman dramatik.
Dalam proses penulisan, saya memaksa untuk patuh pada sebuah premis yang sederhana: kisah seorang kusir dokar dengan perempuan bernama Nasilah, yang kemudian hidup bersama dan tumbuh menjadi pengusaha industri kretek. Premis itu sengaja saya jadikan kurungan agar penulisan tidak liar “ucul” ke mana-mana, tidak terjebak menjadi kronik sejarah yang terlalu luas, apalagi berubah menjadi biografi yang sekadar menumpuk peristiwa.
Premis tersebut kemudian menjadi semacam kerangka historiografi yang mengikat perjalanan Nitisemito dari seorang kusir dokar, seorang suami, merintis usaha, hingga akhirnya dikenal sebagai De Kretek Koning. Peristiwa-peristiwa sejarah yang terlalu luas dipilih, disaring, dan ditempatkan sejauh memiliki fungsi terhadap perjalanan dramatik tokoh. Batas itu pula yang kemudian melahirkan struktur naskah dalam tiga babak.
Romantika Cinta Nitisemito dan Nasilah
Babak pertama menggambarkan rutinitas pagi hari di Kudus Kulon pada 1894. Panggung dibayangkan sebagai ruang sosial yang hidup. Pedagang, kusir dokar, transaksi, dan warung Nasilah menjadi titik pertemuan ideologi berbagai tokoh sekaligus ruang lahirnya hubungan romantika cinta Nitisemito dan Nasilah.
Aktivitas pasar yang riuh tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi menjadi bagian dari koreografi. Keramaian tersebut saya posisikan sebagai semacam “karakter” yang ikut bernapas bersama cerita. Ia tidak sekadar berada di belakang para tokoh, melainkan ikut membentuk suasana, ritme, bahkan energi dramatik adegan.
Dari ruang yang riuh itu, Nitisemito dan Nasilah diperkenalkan bukan sebagai nama-nama yang kelak tercatat dalam sejarah, melainkan sebagai dua manusia yang hidup di tengah masyarakat. Nasilah hadir dengan warungnya, para lelaki datang dan berkerumun, sementara Nitisemito masuk sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pilihan untuk membuka cerita dari suasana semacam ini bukan tanpa alasan. Saya ingin penonton terlebih dahulu mengenal Kudus sebelum Nitisemito. Sebab, manusia tidak pernah lahir dari ruang yang kosong. Ia tumbuh dari lingkungan, kebiasaan, percakapan, dan orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Hubungan Nitisemito dan Nasilah kemudian berkembang menjadi titik emosional pertama. Adegan kasmaran tidak hanya ditempelkan sebagai romantika, tetapi menjadi simbol dari sebuah keputusan dua orang memutuskan untuk membangun kehidupan bersama. Kalimat pinangan Nitisemito tentang “meracik hidup bersama” kemudian menjadi metafora penting bagi keseluruhan perjalanan cerita. Melinting hidup lalu diikat dalam satu benang cinta. Dari sanalah kisah cinta itu dimulai. Dan dari kisah cinta itulah perjalanan seorang kusir dokar menuju De Kretek Koning perlahan-lahan bergerak.
Melawan Arus Perdagangan
Memasuki babak kedua, cerita mulai bergeser dari romantika menuju perjuangan merintis usaha klobot. Nitisemito dan Nasilah mulai berhadapan dengan persoalan harga cengkeh, persaingan, dan cara sederhana tentang bagaimana membuat sesuatu yang biasa menjadi beda.
Di titik ini, karakter Nitisemito saya bangun sebagai seorang tokoh visioner, cerdas, dan memiliki keyakinan yang kuat. Ia tidak melihat rokok klobot semata-mata sebagai barang dagangan. Ia membaca kemungkinan yang lebih besar di baliknya. Baginya, sebuah produk tidak cukup hanya memiliki rasa, ia membutuhkan cerita, identitas, dan cara untuk diingat. Ia memberinya nama “Kodok Nguntal Ulo”.
Gagasan tentang pemberian nama “Kodok Nguntal Ulo” kemudian saya gunakan sebagai pemantik konflik yang bersifat ideologis sekaligus dramatik. Nama yang terdengar mokal itu bukan sekadar susunan kata. Ada permainan logika sebagai cara mempropaganda pasar. Ada juga sisipan pesan perlawanan dari seorang pribumi. Sebuah kodok menelan ular. Yang kecil berhadapan dengan yang besar. Sebuah cara sederhana memberi identitas yang berani, bahkan sedikit provokatif.
Bagi saya, gagasan tersebut menjadi jendela untuk membaca Nitisemito bukan hanya sebagai pedagang yang pandai melihat peluang, tetapi sebagai seseorang yang berani menantang dua arus sekaligus: sistem perdagangan dan kolonial. Maka, nama “Kodok Nguntal Ulo” menjadi bagian dari perlawanan.
Melihat caranya berhasil, perjalanan itu kemudian bergerak lebih jauh. Nitisemito tidak berhenti pada “Kodok Nguntal Ulo”. Ia lantas memborbardir pasar dengan cara yang tidak lazim. Ia memberi gambar tiga bola pada kemasan produknya, kemudian membiarkan gambar itu “menggelinding” ke tengah masyarakat. Gambar tiga bola itu kemudian kembali memancing kegaduhan.
Orang-orang bertanya. Mereka menebak. Mereka memperdebatkan namanya. Sampai akhirnya masyarakat sendiri yang memberinya nama “Bal Tiga”. Dalam naskah, saya tidak ingin kelahiran “Bal Tiga” disajikan sebagai bisnis akting yang datar. Momentum tersebut sengaja dibangun melalui percakapan dan respons kolektif masyarakat hingga nama itu menjadi milik mereka bersama. Ada proses partisipasi. Ada keberanian untuk membiarkan sesuatu yang belum memiliki nama menjadi milik publik. Suara mereka menjadi bagian dari lahirnya sebuah “kemerdekaan”. Bagi saya, di sinilah “Bal Tiga” menjadi lebih dari sekadar nama merek. “Bal Tiga” saya interpretasikan sebagai simbol kemerdekaan, bahkan saya pribadi menafsirkannya sebagai adagium “suara rakyat, suara tuhan”.
Revolusi Produksi dan Industri
Dari dua peristiwa runtut itulah, perjalanan Nitisemito mulai berubah. Ia tidak lagi sekadar menjual rokok. Ia mulai menjual gagasan. Dan seperti sebuah gagasan yang dilempar ke tengah masyarakat, klobot “Bal Tiga” kemudian bergerak sendiri, dari tangan ke tangan, dari mulut ke mulut, dari pasar ke pasar hingga cerita memasuki fase yang lebih besar.
Pada tahap ini muncul gagasan sistem abon. Bahan dibagikan melalui mandor, pekerja melinting di rumah, kemudian hasilnya dikembalikan kepada pabrik. Nitisemito bahkan merencanakan pabrik tidak lagi terbatas pada sebuah bangunan, melainkan dapat menjangkau seluruh rumah-rumah di desa dan wilayah Kudus.
Namun sebuah kisah tentang keberhasilan tidak akan memiliki daya dramatik yang kuat tanpa ancaman terhadap keberhasilan itu sendiri. Karena itu, sistem abon kemudian menjadi sumber konflik. Taryono ditempatkan sebagai tokoh yang berseberangan dengan Nitisemito. Ia tidak sekadar berfungsi sebagai “tokoh jahat”, tetapi menjadi representasi dari konflik kepentingan, dendam, dan godaan keserakahan yang muncul ketika sebuah sistem semakin besar.
Taryono menghasut para mandor untuk mencampur bahan dan mengambil keuntungan dari celah sistem. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan kualitas produk, pemotongan upah, manipulasi bahan, pemalsuan, kenaikan pajak cukai, masalah higienitas pabrik, hingga tuduhan eksploitasi pekerja. Nitisemito melawan, ajukan gugatan ke Volksraad dan menyingkirkan mitra yang nakal.
Krisis tersebut kemudian menjadi titik balik karakter Nitisemito. Ia menyadari bahwa sistem yang sebelumnya menjadi solusi justru telah menciptakan celah bagi kecurangan. Keputusan penting kemudian diambil. Sistem abon dihentikan dan Nitisemito memilih membangun pabrik besar dengan sistem produksi yang lebih terpusat. Karmain dipercaya memimpin pabrik, sementara Nitisemito kembali menata strategi usahanya.
Ia kemudian memilih membangun pabrik besar dengan sistem produksi yang lebih terpusat. Karmain dipercaya memimpin pabrik, sementara Nitisemito kembali menata strategi usahanya. Dalam naskah, keputusan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengembalikan persoalan industri kepada manusia yang berada di dalamnya. Nitisemito menegaskan bahwa pengkhianatan terhadap pabrik pada akhirnya bukan hanya pengkhianatan terhadap dirinya, tetapi juga terhadap orang-orang yang menggantungkan hidup di sana.
Pada titik ini, saya ingin Nitisemito tidak tampil sebagai seorang pengusaha yang selalu benar. Ia mengalami proses salah dan tetap perlu belajar. Keberhasilan tidak hanya membutuhkan keberanian untuk membangun, tetapi juga keberanian untuk membongkar dan membangun kembali. Pabrik kemudian menjadi simbol perubahan untuk menghidupi ribuan tangan yang menggantungkan hidup pada industri yang dibangunnya.
Puncak perjalanan kemudian ditutup dengan gambaran kejayaan Bal Tiga. Panggung berubah menjadi ruang perayaan. Pada puncak tersebut, Wilhelmina hadir dan menyebut Nitisemito sebagai “De Kretek Koning”.
Secara dramaturgis, gelar tersebut bukan sekadar penghargaan. Ia merupakan titik akhir dari perjalanan yang telah dimulai dari sebuah warung kecil. Seorang kusir dokar tumbuh menjadi pengusaha. Sebuah lintingan sederhana berkembang menjadi merek yang dikenal masyarakat. Dan sebuah mimpi pribadi akhirnya menjadi bagian dari sejarah industri kretek di Nusantara.
Kesadaran Literasi, Dialog Kudusan, dan Rima Lagu
Sejak awal, saya menyadari bahwa naskah ini ditulis untuk panggung, bukan semata-mata menyusun adegan dan dialog, tetapi membayangkan sebuah pertunjukan secara utuh. Keutuhan cerita selalu bersandar pada koridor sejarah. Maka, tugas selanjutnya adalah bagaimana meramu catatan sejarah menjadi naskah drama musikal yang mampu menggabungkan empat unsur utama: adegan, dialog, musik, dan koreografi. Keempatnya tidak berdiri sendiri, melainkan saling menghidupkan agar panggung dapat hadir sebagai sebuah pengalaman.
Kesadaran tersebut membuat proses penulisan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan membaca. Saya harus berulang kali kembali kepada berbagai literatur, catatan sejarah, kisah-kisah tentang Nitisemito, perkembangan kretek, kehidupan masyarakat Kudus, hingga kemungkinan bahasa yang hidup pada ruang dan waktu tersebut. Bagi saya, literasi bukan sekadar upaya mengumpulkan fakta, tetapi menjadi cara untuk menemukan apa yang dapat menjadi peristiwa di atas panggung. Dari sekian banyak informasi yang saya temukan, tidak semuanya saya adopsi ke dalam naskah. Ada fakta yang penting bagi sejarah, tetapi tidak penting bagi drama. Sebaliknya, ada detail kecil yang mungkin remeh dalam catatan sejarah, tetapi justru memiliki daya hidup ketika diterjemahkan menjadi adegan. Di situlah proses seleksi dimulai. Dari sana saya memilih mana yang harus dipertahankan sebagai pijakan sejarah, mana yang perlu diolah menjadi peristiwa dramatik, dan mana yang harus ditinggalkan karena tidak memiliki fungsi terhadap perjalanan cerita.
Pada titik inilah sebagai penulis saya berada dalam posisi yang agak pelik, harus setia kepada sejarah, tetapi tidak boleh menjadi budak sejarah. Data menjadi pagar agar cerita tidak kehilangan pijakan, sementara imajinasi menjadi pintu agar fakta sejarah dapat bernapas di atas panggung. Keduanya harus bernegosiasi.
Kemudian, dari kebutuhan panggung itulah lahir persoalan bahasa. Saya mencoba mencari bentuk dialog yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki bunyi, ritme, dan identitas. Saya tidak ingin sekadar menghadirkan bahasa Kudusan, tetapi menghadirkan rasa Kudus melalui bahasa. Dialog Kudusan saya hadirkan sebagai bagian dari upaya menghidupkan ruang sosial cerita. Dialek tidak semata-mata digunakan untuk membuat tokoh terdengar lokal, melainkan untuk memberikan karakter pada manusia dan lingkungan tempat mereka hidup pada masanya.
Di sisi lain, ketika dialog tidak lagi cukup menampung emosi atau gagasan, musik mengambil alih. Di sinilah penulisan lirik menjadi bagian penting dari proses kreatif. Rima menjadi pilihan agar menjadi semacam jembatan antara teks dan zaman. Pola bunyi, pengulangan kata, pilihan diksi, dan susunan bait saya pertimbangkan agar lagu memiliki rasa tutur yang sesuai dengan dunia cerita, sekaligus tetap dapat diterima oleh telinga penonton hari ini.
Inilah inti proses kreatif penulisan Nitisemito: De Kretek Koning. Mengubah fakta sejarah menjadi pengalaman teatrikal, mengubah perjalanan industri menjadi konflik manusia, dan mengubah lintingan kretek menjadi metafora tentang mimpi, kepercayaan, kerja keras, dan keberanian untuk tumbuh.
Naskah ini pada akhirnya tidak hanya ingin menceritakan bagaimana Nitisemito menjadi Raja Kretek. Lebih dari itu, ia ingin mengajak penonton menyaksikan bagaimana seorang manusia membangun kebesaran dari sesuatu yang sangat sederhana, lalu menjadikannya sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Terlepas dari pesan, tafsir, dan orientasi yang saya bawa dalam naskah ini, tentu masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Untuk itu, saya membuka diri untuk meminta maaf sekaligus menghaturkan beribu terima kasih kepada semua pihak yang pernah saya ganduli, saya ajak diskusi, saya repotkan, dan ikut memberi warna dalam proses penulisan ini.
Semoga tulisan naskah sederhana ini dapat diterima, dikaji, dan jika memungkinkan memberi sedikit manfaat bagi dunia literasi dan panggung teater. (aw)
--------------------------
AGUNG WIDODO
Penulis naskah Nitisemito: De Kretek Koning.


INIIBUBUDI
Sejak 17 Februari 2016
Iniibubudi.com merupakan media nirlaba, terbit setiap bulan, menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan kesenian dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI DANA KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com




