KOL

BUKU

KOL - Kumpulan Naskah Lakon Jepara ini berisi naskah-naskah lakon yang dimainkandalam Festival Teater Jepara (FESTERA) Tahun 2025. Membaca satu demi satu dan mengingat peristiwa panggungnya saat itu, tak ubahnya lempeng-lempeng bumi yang bergerak, bergeser, memiliki energi kuat, mencari keseimbangan baru. Kegelisahan dan kepanikan luar biasa, yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa genting karya ukir Jepara. Dan di sinilah naskah-naskah itu memiliki posisi penting. Mereka telah membaca, mengingat, menuliskan kisah karya ukir Jepara dalam berbagai sudut pandang kemanusiaan. Ah, merekabahkan telah memainkannya sebagai peristiwa di atas panggung.

Dalam “Tresna kang Keukir” karya Noor Arief Aulia Rahmansyah, tokoh Asih menimpali Renita, “Emang kondisi usaha meubel lagi menurun mungkin itu mempengaruhi kondisi ibumu. Ya gimana ya Nit, jualan di online kalau harganya kayak offline ya gak bakal laku.” Kondisi tersebut membentur karya ukir Jepara hari ini pada situasi serba salah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi mereka yang ingin menyelamatkan karya ukir Jepara. Dengan segala cara harus diupayakan agar karya ukir di Jepara tetap hidup dan menghidupi.

Sekali lagi karya ukir, bukan yang lain. Pak Juki dalam “Bom Waktu” karya Moenifjuga mengatakan kepada Bu Arin, ”Menurutku, jangan. Jepara itu sentral ukir kayu bukan gypsum, akrilik atau sebagainya. Apalagi sekarang seniman ukir seperti Sakroni, langka,semenjak para maestro ukir banyak wafat dan tidak ada yg mau belajar.” Naskah “Ukir Jepara” juga mengungkapkan upaya beberapa warga mempertahankan karya ukir Jepara. Melalui tokoh Arif yang mengatakan dengan tegas, “Kalau pun rumah ini akhirnya harus dijual, aku akan pastikan ukiran ini tetap tinggal di sini, jadi saksi bahwa kita pernah berjuang.”

Penyelamatan karya ukir Jepara agar tetap hidup dan menghidupi, menurut “Menginjak Kepala Tiga” karya Kurniawan Saputra, haruslah menjadi gerakan dan semangat bersama. Tokoh Indra sepakat, “Benar Rum, kalau kita menyerah. Sama saja kita membiarkan kota kita di injak-injak.” Meskipun demikian, pada kenyataannya memang sulit diwujudkan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada setiap upaya baik, selalu saja ada bermain-peran menjadi orang-orang yang “memanfaatkan”-nya untuk memperoleh keuntungan pribadi, keuntungan sesaat, sembari membakar nama baik ukir Jepara.

Dalam “Ingkar” karya Maseko BS yang diadaptasi oleh Erlangga Darrojati, secara jujur mengungkapkan hal itu. Seperti soal kepercayaan pembeli yang menurut tokoh Ahmad sangat dipengaruhi sikap pengrajin sendiri. Kata Ahmad, “Nyatane ancen ngono kok! Wong kaya kowe ngono iku, Lek! Kirim orderan tidak sesuai standar, kayu Jati nom putihan koobat, jadi aku jati tuo. Gara-gara kelakukanmu Lek, jadi banyak orang-orang tidak lagi mempercayai para pengrajin mebel ukir Jepara.”

Kebudayaan, selalu berisi warisan-warisan, termasuk nilai. Sebab dari sanalah adab sebuah masyarakat terbentuk dan hidup menjadi peradaban. Apa yang diwariskan oleh orangtua ketika semuanya nyaris tidak ada? Seorang Bapak telah menulis surat untuk mereka; Tari dan Indah yang kemudian dibacakan Mbok Sri, Ibunya. Tokoh Mbok Sri dalam “Warisan Bapak” menyampaikan, “Tari, anakku. Bapakmu selalu menyayangi keluarga kita. Bapak memang seorang pengukir, tapi dia sosok yang luar biasa. Kalian ingat, Bapak dulu mengajari kalian dengan penuh cinta agar kalian bisa mengembangkan keahlian kalian.” Lalu katanya, “Nduk, ini surat yang ditulis oleh Bapakmu. Dia berpesan agar anak-anaknya mau meneruskan apa yang sudah dibangun oleh Bapak. Bapak ingin kalian tahu dan paham dengan sejarah ukir apalagi ukir Jepara ini. Dia bertekad mempertahankan sejarah yang diberikan nenek-kakeknya dulu. Bapak ingin kalian menjadi orang hebat seperti Bapak. Bapak adalah seorang pengukir hebat. Dia dikenal orang banyak karena karya-karyanya.”

Dalam “Pahat Rani” karya Asyari Muhammad, Rani bersolilukui, “Bapak memang petarung tangguh menghadapi kerasnya kehidupan, tanpa sadar mengajari Rani bahwa hidup itu keras. Melihat betapa kerasnya pertarungan dan perjuangan hidup bapak. Rani semakin yakin bahwa mengukir adalah tradisi keluarga kita, Pak. Biar bagaimanapun Rani akan tetap menjaga marwah ukir sebagaimana ilmu yang pernah bapak ajarkan sampai kapan pun biar tradisi mengukir ini tidak punah meski zaman sudah berubah.”

Disadari maupun tidak keadaan hari ini yang dikisahkan dalam naskah lakon di buku ini, membuat kita gelisah, tidak nyaman, membuat kita merasa harus bergerak melakukan sesuatu. Karya-karya sastra menelanjangi kehidupan kita dengan membuka paradigma baru. Teater memberikan pengalaman atas peristiwa-peristiwa genting yang terjadi di dalam masyarakat kita. Kita menjadi mahfum, paham dan merenung. Sesudah itu? Dan berkarya tidak harus dari yang besar, bahwa kayu-kayu kepelan sisa limbah perusahaan mebel yang tidak terpakai ini akan menjadi karya yang luar biasa, aku akan tunjukkan pada dunia bahwa tradisi mengukir akan selalu ada dalam sanubari Rani untuk Jepara, untuk dunia,” pungkas Rani.

Lempeng-lempeng bumi dalam buku ini, sudah bergerak. Menjadi energi besar untuk perubahan yang lebih baik. Energi semesta yang menyeimbangkan kembali peradaban sebuah bangsa. Selamat dan sukses para kreator Jepara. Terus bergerak, terus berkarya, terus bersuara. Salam budaya. Rahayu.(*)

Kudus, 2 Februari 2026
Asa Jatmiko

Judul: KOL - Kumpulan Naskah Lakon FESTERA 2025 "Mengukir Karya"
Penulis: Abah Bawono, dkk
Editor: Eko Bowo Saputro

Tebal Hal: xvi + 274 Hal
Cetakan Pertama:
Maret 2026
Penerbit: Iniibubudi
ISBN: 978-634-xxxxx-x-x

Lempeng Bumi yang Selalu Bergerak