Kopi Alesia

PUISI

Karya: Joe Hasan

9/1/2026

Kopi Alesia


kopi alesia tersidang di meja ruang tamu
tengah malam buta
menunggu malaikat mendatangi kabar
kebiasaan yang senantiasa damai
pelajaran dari ibunya
sambut tamu dengan hangat
usai mengusir setan berjamak
kopi alesia habis tiada jeda
darah mengucur deras dari rasanya
yang khawatir
doa alesia yang pagi sudah sampai rumahnya
membunuh sakit-sakit yang menjalari ibunya
malaikat tak mengambil
membawa
hanya memberi kabar
bahwa doa tak pernah tua
di bibir basah anak-anak pengharap
malam lain
malaikat menghampiri rumah lain
menanyakan kopi alesia
merinduinya

(Baubau, 2021)

Demta


muka-muka penuh debu
senyum melebar hingga ujung desa
menemui semburat jingga di pantai demta
dan sampailah pada titik ingin yang nyata

(Surabaya, 2018)

Gadis Kecil


malu-malu ia menerima bingkisan dariku
ternyata sangat sederhana untuk bahagia
cukup melihat senyum digaris wajahnya
disamping mobil starwagon
gadis gembel mengutuk lelaki yang tak punya perkejaan
secepat itu ia lupa pada hati yang suci
sungguh tak ada hinaan yang diharapkan
sang kuasa telah menggarisnya
bahkan sebelum kau hidup

lihatlah gadis kecil tadi
ia bahagia dengan sekantong putu
dengan senyum
sayang kau berwajah dua

(Jayapura, 2016)

Episode 16


memaafkan cinta yang luka
aku berhasil
namun bukan untuk kembali

pada setiap hari
kita hanya menanyakan kabar
berharap semua baik-baik saja
sambil menunggu kepulangan lelakiku
aku tak berhenti larut untuk itu

pagi terlalu usang
kesedihan jadi begitu membumi
bunyi klik pintu kudengar samar
langkahmu berbunyi tuk tak tuk tak
mirip detak jantung
semoga bukan mimpi menjelang kerja
dan kau akhirnya pulang
tamati cerita

(Baubau, 2022)

Biasanya


biasanya aku akan membelaimu dengan puisi-puisi sendu
sebelum lelap
tapi kali ini tidak
entah ke mana susunan huruf ajaib yang pernah kusediakan untukmu seorang
mungkin mengendap di dada para penyair yang suka mabuk

biasanya ada lagu perpisahan sebelum malam berganti
tapi kali ini tidak
entah sedang bersembunyi di mulut penyanyi siapa alunan itu
biasanya aku terjaga sebelum melakukan keduanya
tapi kali ini aku santai saja
asam lambung lebih menggoda untuk melupakanmu sejenak
yang jauh, menanti hingga esok
meski belum pasti
tapi aku akan terbiasa
dengan tidak memikirkanmu
yang kutahu sedang bersembunyi di selangkangan
para pendusta akad

(Wanci, 2021)

--------------------------
JOE HASAN
lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya dimuat di media cetak dan online. Buku Puisinya, Dosa Termanis (Penerbit Komentar, 2024).

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: