Kritik Sastra Menjadi Profan dan Berlari Tanpa Suara Kesadaran

ESAI

Oleh: Vito Prasetyo

5/1/2026

KRITIK sastra seharusnya memberikan perbaikan; memberikan jalan bagi sesuatu yang subjektif menuju sebuah objektivitas yang sangat mendekati. Harus dibangun dengan substansi logika yang menyempurnakan argumen-argumen sebelumnya.

Judul di atas, mungkin terlalu idealis jika saya dianggap lebih paham dengan keilmuan sastra. Tetapi saya semata-mata hanya menggoreskan pena dengan warna tinta berbeda. Sebuah kesadaran yang tumbuh di antara sangkaan-sangkaan, dan acapkali menjadi polemik yang entah pada titik mana, persoalan itu akan diakhiri. Bukankah hidup ini adalah sebuah perjalanan untuk menunda kekalahan?

Seyogianya, kritik sastra harus hadir di tengah-tengah masyarakat, ketika sastra mulai kehilangan fungsi edukatif dan didaktif. Hanya saja, kecenderungan untuk berpolemik dianggap pembenaran yang lebih efektif. Lantas, apa parameter yang digunakan untuk klasifikasi sebuah karya sastra yang dikategorikan sebagai kritik sastra? Jujur, kebanyakan penulis yang menulis kritik sastra lebih banyak meraba tentang bentuk atau format dari kritik sastra tersebut. Apakah sekadar pelampiasan ego dan emosional, atau sekadar mencoba-coba untuk menajamkan analisisnya.

Pembacaan Liar Polemik Sastra
Kenapa ruang sastra sering memunculkan polemik atas karya sastra? Jika ini dianggap sebagai pengingat, artinya sastra memiliki ruang kreatif yang hidup dan dinamis. Ini mungkin jawaban yang terlalu jujur dan sederhana.

Pertama, kita memang harus lihat secara bijak. Setiap karya sastra adalah karya imajiner dan lahir dari pemikiran subjektif. Yang kemudian memunculkan penafsiran yang berbeda-beda. Tetapi tentunya tidak meninggalkan teori-teori sastra yang ada. Penafsiran ini sebagai jalan untuk pencapaian konsep pemikiran menuju suatu yang disepakati mendekati pilihan objektif. Sebab, dari pilihan-pilihan subjektif, harus ada pilihan yang mendekati objektif.

Sastra tidak mungkin hadir secara sempurna, karena indikator untuk itu tidak ada. Persoalan yang sering muncul, karya sastra jarang diujikan secara ilmiah. Ia acapkali hadir dengan warna-warni yang diduga sebagai karya seni (bahasa). Kemudian dibacakan secara liar oleh pembaca, sehingga memunculkan interpretasi dan penafsiran yang berbeda. Di titik ini, pembaca sering lalai terhadap nilai-nilai intuisi pengarang atau penulisnya.

Yang kedua, ini yang sangat minim. Peran akademisi sastra secara eksplisit, yang diharapkan bisa menjangkau publik pembaca masih sangat terbatas. Masih ada sekat antara praktisi sastra (pegiat) dan akademisi sastra, yang titik batasnya sangat abstrak. Semestinya sastra itu tetap kritis. Kalaupun ada, yang banyak kita temukan peran akademisi sastra hanya menelaah karya sastra dari para pegiat sastra (sastrawan) yang telah memiliki branding kuat di dunia sastra. Atau juga, sastrawan yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Meski ini dibeberkan tanpa data.

Dorongan liar dari beberapa pegiat sastra yang berlabel atau mengatasnamakan sastrawan, sering kali melahirkan polemik karya sastra yang berkepanjangan. Penafsiran ini sering menjadi liar, karena kritik sastra tidak lagi digunakan sebagai instrumen dasar dalam studi keilmuan. Ia sering digunakan hanya untuk menyerang secara personal, terutama pada jejaring sosial (mainstream). Apakah karena kita berada dalam peradaban yang memunculkan diskursus sosial yang begitu besar, atau kita hanya sedang mencari cara untuk tetap bertahan dalam fase identifikasi sosial?

Suara Kesadaran
Kehadiran intelektual sastra seharusnya menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan karya sastra. Atau memang daya kritis sastra semakin menyempit akibat hegemoni politik yang terus-menerus menggerus nilai-nilai budaya?

Acap kali kata profan terdengar seperti metafora, terutama di ruang sastra, tetapi sekaligus menciptakan suasana ambivalen dan antagonis di ruang publik. Dan, karya-karya sastra apakah masih mampu menjadi corong keseimbangan dalam menumbuhkan kesadaran kolektif, untuk mendawamkan keadilan dan kemanusiaan?

Apakah sastra hanya menjadi panel diskusi, yang merepresentasikan bentuk-bentuk interaksi dan identitas sosial belaka? Atau jauh di balik itu, menjadi bagian dari sebuah revolusi yang meniscayakan kemajuan teknologi yang memiliki daya destruktif terhadap nilai-nilai budaya.

Di suatu titik dalam perjalanan peradaban, budaya yang dahulu sakral—yang mengikat manusia dengan makna, nilai, dan spiritualitas—perlahan kehilangan auranya. Ia menjadi profan: terbuka, banal, bahkan terkadang dangkal. Apa yang dulu dianggap sebagai ritus, kini berubah menjadi rutinitas; yang dahulu menjadi simbol kesadaran kolektif, kini tereduksi menjadi komoditas. Dalam arus ini, sastra tidak lagi berdiri sebagai penjaga makna, melainkan sering kali berlari—tanpa suara kesadaran—mengikuti arus yang sama, terseret oleh pasar, tren, dan kebutuhan eksistensi yang serba instan.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan pergeseran paradigma. Budaya tidak lagi menjadi ruang kontemplasi, tetapi ruang konsumsi. Festival budaya menjadi tontonan, bukan lagi perayaan nilai. Tradisi dipertahankan bukan karena diyakini, melainkan karena layak dipublikasikan. Di sinilah kontradiksi pertama muncul: budaya tetap hidup, tetapi kehilangan ruhnya. Ia hadir secara visual, tetapi absen secara esensial.

Dalam kesadaran kita, yang melihat bahkan merasakan perubahan sosial di masa kini, kita sering menjadi manusia yang berpandangan stereotip. Selalu saja subjektif dan sangat klise, tetapi dengan pembenaran-pembenaran yang tidak rasional. Simbolik zaman mengkultuskan generasi-generasi yang seolah-olah terbentuk secara alami, dan mengingkari tradisi dan budaya yang tidak mereka alami. Kita lupa, sejarah tidak terbentuk dari penggalan-penggalan generasi. Tapi, proses simultan yang menerangkan masa kini ada, karena adanya masa lalu yang belum tuntas.

Sastra, yang semestinya menjadi suara kritis terhadap kondisi ini, justru kerap terjebak dalam permainan yang sama. Alih-alih menjadi cermin reflektif, ia berubah menjadi alat legitimasi estetika tanpa kedalaman. Banyak karya lahir dengan bahasa yang indah, tetapi miskin kesadaran. Kata-kata mengalir deras, namun tidak menyentuh akar persoalan. Sastra berlari cepat—diproduksi, dipublikasikan, dan dikonsumsi—tetapi tanpa sempat bertanya: untuk apa ia hadir?

Menurut Theodor W. Adorno, dalam masyarakat modern, budaya telah menjadi bagian dari “industri budaya” (culture industry), di mana karya seni tidak lagi otonom, melainkan tunduk pada logika pasar. Dalam kerangka ini, sastra kehilangan daya subversifnya. Ia tidak lagi menggugat realitas, tetapi justru menyesuaikan diri dengan selera yang dibentuk oleh sistem. Adorno melihat bahwa ketika seni kehilangan resistensinya, ia berhenti menjadi seni dalam arti yang sesungguhnya.

Sementara itu, Jean Baudrillard menawarkan perspektif lain: dalam dunia simulasi, realitas telah digantikan oleh representasi. Budaya tidak lagi merujuk pada makna asli, melainkan pada citra yang terus direproduksi. Dalam konteks ini, budaya yang profan bukan hanya kehilangan kesakralannya, tetapi juga kehilangan referensinya. Ia menjadi simulakra—tiruan tanpa asal. Sastra yang lahir dari kondisi ini pun sering kali hanya mereproduksi tanda-tanda, bukan makna.

Namun, kontradiksi tidak berhenti di sana. Di tengah degradasi ini, justru muncul upaya-upaya kecil yang mencoba mengembalikan kesadaran. Ada penulis yang menolak arus, yang memilih sunyi daripada popularitas, yang menulis bukan untuk dilihat, tetapi untuk dipahami. Mereka mungkin tidak terdengar keras, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Sastra yang diam bukan berarti mati; ia sedang menunggu pembaca yang juga bersedia diam dan mendengar.

Topik universal seperti identitas, makna hidup, keterasingan, dan relasi manusia dengan waktu menjadi semakin relevan dalam situasi ini. Ketika budaya kehilangan arah, manusia mencari pijakan baru. Sastra, dalam bentuknya yang paling jujur, masih memiliki potensi untuk menjadi ruang pencarian itu. Ia bisa menjadi tempat di mana manusia kembali bertanya, bukan sekadar menjawab.

Namun, tantangan terbesar adalah kesadaran itu sendiri. Kesadaran tidak bisa dipaksakan, apalagi dimodifikasi. Ia lahir dari keheningan, dari refleksi, dari keberanian untuk melawan arus. Dalam dunia yang serba cepat, kesadaran menjadi sesuatu yang langka—dan justru karena itulah ia menjadi penting.

Maka, pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah budaya telah menjadi profan atau sastra telah kehilangan suaranya, melainkan: apakah kita masih mampu mendengar? Sebab mungkin, suara itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertimbun oleh kebisingan yang kita ciptakan sendiri.

Ada hal yang menjadi perenungan sekaligus permenungan, nilai dan spiritualitas seakan kehilangan Tuhan. Pada titik ini, akar budaya seperti tanaman kehilangan tempat tumbuh. Suara-suara budayawan, kaum intelektual dan ulama (rohaniawan) tidak lagi dianggap sebagai pengingat dan peringatan. Manusia tumbuh menjadi gimik sosial yang berorientasi popularitas. Begitu juga puisi (karya sastra), sangat jarang berfungsi sebagai fungsi edukatif, religius, reflektif, sosial, estetika. Ia hadir demi sebuah kebebasan pemikiran.

Mungkin ada benarnya, seperti apa yang pernah ditulis oleh seorang pegiat sastra, yang melihat dunia ini tumbuh tergesa-gesa. Kita terjebak dalam situasi yang serba instan. Pemujaan teknologi maju, dianggap sebagai ruang yang didewakan, sementara nalar masyarakat umum masih berjalan timpang dengan cara tradisional. Budaya menjadi profan dengan makna simbolik yang menggusur keberadaan tradisi dan adat istiadat, bahkan nilai-nilai moral. Sastra berlari pesat di ruang digital tanpa pernah mencari siapa Tuhan-Nya. (*)

--------------------------
VITO PRASETYO
Dilahirkan di Makassar, Februari 1964 -- Bertempat tinggal di Kab. Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983. Founder grup Penyair Berkarya. Karya-karyanya telah dimuat di pelbagai media cetak lokal, nasional, dan Malaysia, antara lain: Koran TEMPO – Kompas - Media Indonesia Jawa Pos – Pikiran Rakyat Kedaulatan Rakyat - Republika Solopos Majalah Pusat - Suara Merdeka – Majalah Karas – Rakyat Sultra – Kompas.id – Bali Post – Utusan Borneo – Harian Ekspres - Batam Pos – Riau Pos - Bangka Pos – Erakini.idCagak.idBasabasi.coKalamsastra.id dan puluhan lainnya. Termaktub dalam puluhan buku antologi. Buku kumpulan puisi tunggal: Rindu, Sunyi, dan Kematian (Lentera, 2024). Beberapa kali masuk nominasi dan juara, antara lain: Juara 3 Lomba Cipta Puisi HPI Tahun 2022

Ilustrasi:
"Kelas Kakap", karya Putut Pasopati.

INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14

Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com

Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI

Mitra Kerja: