Mea Culpa

NASKAH LAKON

Karya: Asa Jatmiko

6/4/2019

PANGGUNG ADALAH SEBUAH KAMAR SEORANG BIARAWAN. DIA HENDAK MINUM OBAT YANG TERSEDIA DI MEJA, TETAPI DIURUNGKANNYA.

Nanti saja, sesudah pertemuan. Kalau aku minum obat sekarang, bawaannya ngantuk. Payah juga kalau saat pertemuan aku terlihat tidak antusias. Bisa-bisa malah menyinggung perasaannya.

Tapi sudah hampir dua jam aku menunggu. Dan belum juga ada tanda akan datang. Sepertinya benar firasatku kemarin, aku sebenarnya sudah ogah-ogahan untuk menyanggupi. Seharusnya memang aku mengatakan tidak menyanggupi pertemuan ini.

Setiap kali hendak bertemu orang, jantungku mesti berdegub lebih kencang. Seperti ada sesuatu yang salah. Tetapi, bukankah manusiawi ya kalau aku juga memiliki perasaan seperti itu.

Ya, manusiawi. Seperti halnya kita menilai seorang perempuan. Wajahnya lumayan cantik. Atau tutur bahasanya yang kasar jadi terdengar halus karena warna suaranya yang lembut merdu. Atau sepasang matanya sebetulnya tajam dan lebih sering terkesan menantang itu terasa teduh seperti telaga. Atau, tubuhnya yang... dan seterusnya dan seterusnya. Kita semua bisa melakukan itu, karena bukankah itu sangat manusiawi. Demikian juga aku.

Tunggu, aku ingin menyampaikan hal penting dulu sebelum semua menjadi semakin salah kaprah. Tidak ada secuil pun apa yang aku katakan ini adalah kisah orang lain. Dan juga tidak ada niat setitik pun untuk mendiskreditkan kongregasi atau orang lain, siapapun itu. Ini kisahku sendiri. Dan aku merasa harus menceritakan ini, karena kepalaku sudah penat. Sudah tidak tahan lagi untuk menyimpannya sendiri. Juga karena aku menyadari sepenuhnya bahwa aku benar-benar seorang manusia biasa. Manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangannya.

Aku tidak membayangkan sebelumnya, hidupku akan menjadi begini, menjadi seorang biarawan. Apakah bahagia, menurutku iya. Apakah tidak bahagia, menurutku juga iya. Karena persoalan yang aku hadapi saat ini bukan soal itu. Tetapi persoalan tanggungjawab moral.

Sebenarnya aku merasa beruntung telah dilahirkan sebagai anak dari orangtua yang miskin di sebuah desa. Dengan menjadi seorang anak miskin, aku telah belajar banyak bagaimana susahnya berusaha menyambung hidup sehari demi sehari. Dan itu menjadikanku seorang yang pantang menyerah kemudian.

Tapi belakangan ini, justru kekuatan pantang menyerah itu telah menjadi boomerang bagi diriku sendiri, seolah ia ingin mencabutnya agar aku tak memilikinya lagi. Dan benar, kini aku benar-benar merasa payah. Terpuruk. Sendiri dan merasa tak ada kawan yang bisa aku percaya.

Aku juga cukup beruntung diberi otak yang lumayan cerdas. Aku mampu belajar dengan cepat. Boleh dicek nilai-nilai ulangan pada saat aku masih sekolah, selalu bagus. Nilai raport-ku selalu ranking. Ralat, mungkin bukan cerdas, tapi lebih tepat aku adalah orang yang tekun belajar. Cerdas itu ibarat pisau yang sudah tajam sejak dibeli, aku itu pisau yang tajam setelah diasah berkali-kali. Kalau kemudian orang lain bilang aku cerdas, mereka cuma tidak tahu saja bagaimana caraku belajar. Dan itu sungguh berat, karena mesti melawan diri sendiri, melawan kemalasan, melawan kantuk, melawan hasrat untuk santai dan berenang-senang.

Untuk itu aku menyebutnya ada hadiah untuk seorang bintang kelas seperti aku. Yang kualami kemudian adalah kemudahan akses komunikasi dengan siapapun. Aku bisa berbicara dengan kepala sekolah setiap saat, dengan para guru, dan ucapanku selalu didengarkan. Seolah penting untuk didengarkan. Dan hadiah itu tidak berhenti di situ. Tiba-tiba aku seperti menjadi seorang selebritas, banyak ajakan, terutama cewek-cewek, baik ngajak ke kantin bareng, kelompok belajar, ekstra kurikuler ini itu. Aku menyebutnya sebagai hadiah-hadiah. Karena tidak setiap pemberian aku terima, tidak setiap hadiah aku buka.

Dan, oh seperti kisah sinetron saja, mereka satu persatu meninggalkan aku, manakala mereka tahu aku memutuskan untuk hidup membiara. Tidak kawin, berkarib kemiskinan, dan menyetiai itu semua sampai akhir. Oh, kehidupan tiba-tiba berubah, dari keramaian menjadi kesunyian. Pertemuan demi pertemuan, hanya bertemu dengan orang-orang saleh dan berhati baik. Aku seolah-olah dijaga untuk tidak melakukan dosa. Dan selain kebutuhan akan kaul kekal yang harus aku taati dan penuhi, semua terpenuhi. Meja makan yang tak pernah kosong, kamar tidur yang selalu rapi, dan apa yang kamu inginkan segera didatangkan.

Tapi aku kan manusia biasa. Hanya keindahan yang datang pada waktunya, sementara kesedihan jatuh selalu tidak pada waktunya. Kini aku sudah tua, Biarawan yang telah pensiun dari tugas-tugas formal konggregasi. Seharusnya aku tinggal menikmati waktu senjaku dengan tenang. Sekali lagi, aku jatuh pada waktu yang tidak tepat. Itu sayang.

IA SEPERTI TERINGAT SESUATU. DAN ITU YANG MEMBUATNYA SEDIH.

Tuhan, mengapa Engkau membiarkan aku bertemu dengannya? Mengapa Engkau membiarkan aku mengenalnya, dan mengenalnya lebih jauh? Apakah Engkau tidak mempertimbangkan betapa lemah jiwaku, betapa ringkihnya aku untuk melawan godaan dan cobaan? Mengapa Engkau membiarkan jatuh di dalam dosa?

Dia datang dengan tergopoh-gopoh ke biara. Dua puluh tujuh tahun yang lalu, ketika aku masih muda. Perempuan itu menangis tak tertahan kan, seperti telah menahan tangis.

berabad-abad lamanya. Aku tanya, ada apa ini? Aku ingin mengaku dosa, katanya. Baiklah. Selesaikan dulu tangismu, sudah itu ceritakanlah.

Sementara ia menyelesaikan menangis, aku membawakannya air putih, untuk melegakannya. Lalu ia mengatakan kalau selama dua tahun perkawinannya dengan suaminya, ia tidak bahagia. Ia merasa selalu disalah-salahkan dan dikalah-kalahkan oleh suaminya. Dalam berbagai persoalan, apapun itu. Dari soal menata meja makan, menentukan menu makan sampai urusan pelik utang-piutang dengan rentenir dan bank. Ia sudah selalu mengalah, demi mempertahankan perkawinan. Tapi ia merasa sudah tidak betah untuk melanjutkan hidup bersama.

Kalian baru dua tahun membangun bahtera rumah tangga? Dia mengangguk. Dua tahun yang sudah serasa dua ratus tahun kesesakan, katanya. Kamu tidak pernah mencoba mengajak bicara dengan baik-baik pada waktu yang baik? Siapa tahu, suamimu begitu karena ia terlalu sibuk bekerja, atau sedang ada tekanan di pekerjaan, misalnya.

Kalau dia mulai marah dan menyalahkan aku, katanya, aku pun akan menyikapi dengan marah yang sama. Juga menyalahkan yang sama. Laki-laki dan perempuan sudah setara derajatnya. Kalau dia berhak marah, aku pun juga, kan? Aku mengangguk-angguk, dengan pikiran yang tidak mengerti tentu saja. Suami istri ini, sepertinya tidak ada niat sama sekali untuk memperbaiki hubungan. Keduanya sama-sama bertahan dalam pendapatnya. Masing-masing sudah merasa benar sendiri.

Lalu kamu merasa berdosa karena apa? Apa yang kamu lakukan menurutmu sudah benar, kan?

Dia selalu maunya menang sendiri. Dia keras. Dia tidak mau disalahkan, dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Tapi dia setia. Aku tahu pasti dia setia memegang janji pernikahan untuk selalu bersamaku. Sementara aku, sejak hari pertama sesudah resepsi pernikahan, aku selingkuh dengan pria lain. Tolonglah, aku tahu itu berdosa, dan aku mau mengaku dosa.

Kamu tahu dosa, tapi kenapa kamu melakukannya? Apalagi suamimu tidak menyelingkuhi kamu, kenapa kamu selingkuh? Dan dia menangis ketika aku tanyakan itu. Dia ingin mengutarakan nya, tapi ia seperti ragu-ragu. Sambil menangis, dia menatapku, lalu menunduk, begitu berulangkali. Hingga aku mendekatinya, dan dengan pelan aku bertanya sekali lagi, kenapa kamu lakukan itu?

Anunya kecil, jawabnya. Aku sangat terkejut mendengar jawabannya. Demi Tuhan, aku tidak apa-apa anunya kecil. Bahkan anunya tidak bisa tegak pun aku ndak soal. Tiba-tiba dia menangis keras lagi. Aku tidak tahan mendengar tangisannya. Aku melihat ke luar lewat lubang angin-angin, tidak ada orang. Aku sedikit lega. Ia melanjutkan, tapi dia suka sesama jenis. Kok kamu tahu? Saat resepsi pernikahan, kedoknya terbongkar semua, cowok kesayangannya datang dan mereka nampak mesra saling melepas rindu. Aku menahan diri bersikap santun, demi menghormati tamu-tamu yang datang. Tapi sebenarnya, hatiku sudah hancur semenjak hari pertama. Aku hancur demi mengetahui suami adalah laki-laki yang tidak normal. Dan kenapa dia tidak jujur sebelumnya, itu yang membuatku ingin balas dendam.

Hari itu, mungkin kalian sudah menebak, akhirnya aku tidak melakukan penampungan dosa atas pengakuan dosa perempuan itu. Ya, begitulah. Entah apa rencana Tuhan terhadapku waktu itu. Tiba-tiba dia berdiri, lalu mengunci pintu, dan bilang, buatlah aku hamil agar keluarga dan tetangga tahu akhirnya kami adalah keluarga normal yang punya anak dan bahagia. Anaknya akan menjadi anak kami. Sungguh, buatlah aku hamil, katanya.

Setan! Dia berselingkuh dan mengusahakan tidak hamil karenanya. Tapi kepadaku dia minta untuk menghamili demi menjaga keluarganya tetap Katolik dan nampak bahagia. Setan! Setan!

DIA BERGESER KE SAMPING KE TEMPAT DIMANA HANPHONE MILIKNYA DITARUH DAN SELALU CHARGING. IA MENCOPOT KABELNYA, DAN MELIHAT HANDPHONE-NYA SEPERTI MELIHAT BEBERAPA PESAN DAN MEMERIKSA KEMBALI SIAPA SAJA YANG MENELPONNYA.

Hampir tiga jam, dan dia belum datang. Aku juga tidak tahu siapa yang akan datang. Tapi melalui telepon, ia setengah memaksaku untuk menemuinya malam ini.

TIBA-TIBA DIA SEPERTI TERINGAT SESUATU, DAN ITU MEMBUATNYA GUGUP.

Hmm.... (BERKATA KEPADA DIRINYA SENDIRI) Banyak mengetahui sesuatu, mungkin akan membuat kita sedikit terlihat lebih hebat dari yang lain. Tapi sayangnya, pengetahuan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebijaksanaan.

Jangan-jangan dia yang datang... Oh, tidak! Jangan, Tuhan jangan rencanakan pertemuan ini, Sungguh, Tuhan.

TERDENGAR PINTU DIKETUK

Tuhan, siapa yang datang? Anakku?

Ya, aku bisa mencium aroma tubuhnya, seperti tubuhku. Dia anakku.

KEMUDIAN DIA MENGAMBIL OBAT DAN SEGELAS AIR PUTIH DI MEJANYA. SEHARUSNYA IA MINUM SATU BUTIR, TAPI MALAM ITU IA MENELAN SEMUA OBATNYA. HINGGA LIMBUNGLAH IA, LEMAS, DAN PELAN-PELAN ROBOH.

Mea culpa! Mea culpa!

SETELAH REBAH, MASUKLAH KE DALAM KAMAR ITU: SEORANG LELAKI.

BLACKOUT

-TAMAT-

--------------------------
ASA JATMIKO
Art Provocateur