
Mei dan Impiannya yang Tak Seindah Drama Korea
CERPEN
Oleh: Dede Soepriatna
2/1/2026


SESUNGGUHNYA aku tidak pernah berharap untuk punya istri penyuka drama Korea. Aku selalu bermimpi untuk mendapat perlakuan lebih dari seorang istri. Aku ingin menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan bagi dirinya. Menjadi paling dicintai, pusat perhatian sekaligus kekaguman dan menjadi alasan kenapa ia berusaha untuk tetap hidup lebih lama. Mungkin terdengar sedikit berlebihan. Tapi, menjadi prioritas adalah impian setiap lelaki.
“Memang apa salahnya aku suka drama Korea?” tanya istriku suatu waktu.
Tak ada yang salah. Tiap orang berhak mencari sumber kebahagiaan pada diri mereka. Dan setiap orang akan memiliki persepsi berbeda dalam menemukannya. Namun, bukankah tiap tindakan harus diperhitungkan baik buruknya? Jika suatu keadaan hanya mendatangkan banyak mudarat, lebih baik jika ditinggalkan, kan?
Seperti pagi ini, Mei tidak lagi menyiapkan air hangat untukku mandi. Di meja makan pun tidak tersedia menu sarapan. Lantai rumah mulai terasa licin, baju kotor sudah menumpuk dan piring-piring bekas makan tidak lagi mendapat tempat di wastafel. Sejak subuh tadi Mei sudah asik duduk di depan televisi menonton drama dari Negeri Ginseng itu tanpa peduli aku sudah telat untuk pergi bekerja. Mei bilang ia sudah terlewat 2 episode dan harus segera menyelesaikannya.
Kebiasaan Mei menonton drama Korea ini memang baru berjalan sejak lima bulan yang lalu. Entah bagaimana awal mulanya ia bisa begitu tergila-gila dengan drama itu. Awalnya aku tidak begitu peduli karena hampir semua stafku di kantor juga menyukainya. Namun, lambat laun aku merasa ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Aku mulai merasa khawatir.
Maka sejak itu pula aku mulai mencari informasi di internet. Ternyata banyak sekali berita buruk yang seketika membuatku merasa takut. Salah satu gangguan kesehatan fisik yang aku rasa Mei juga sudah rasakan yaitu matanya yang sering merasa lelah. Beberapa kali ia juga mengeluh sakit kepala dan pegal-pegal. Mata bagian bawahnya menghitam seperti panda karena sudah beberapa malam ia susah tidur. Aku takut Mei kesulitan untuk berpikir. Sulit untuk beraktifitas, bertindak dan ah… masih banyak ketakutanku yang lain.
“Kenapa tidak cari hiburan lain saja? Nonton acara masak, pergi ke tempat karaoke, ikut pilates, berenang atau lainnya?”
Mei yang sedang anteng di depan tv tidak tertarik atas apa yang aku ucapkan. Sesekali ia menyeringai sambil mengepalkan kedua tangannya di depan mulut.
“Oh… Oppa!”
Sesekali Mei melaung saat layar televisi di penuhi wajah seorang pria bermata sipit dari negeri antah berantah itu.
Cih! Aku melengos dan langsung saja pergi ke kamar.
Memang lebih mudah menasihati anak kecil ketimbang orang dewasa yang sedang jatuh cinta. Meskipun sesuatu yang ia cintai itu hanya berupa wajah-wajah fiksi di layar tv. Kejadian ini tentu membuatku berpikir lebih banyak dan mencari perspektif lain bahwa seseorang tak mungkin mudah mencintai suatu hal tanpa sebuah alasan.
Jika memang drama Korea itu mampu membuatnya bahagia mestinya aku tidak perlu berpikir curiga. Sebagai suami aku harus menjadi orang pertama yang setuju atas apa yang ia putuskan. Tapi pernahkah ia berpikir bahwa aku juga ingin dicintai seperti ia mencintai drama Korea itu?
Dalam keheningan malam aku selalu berdoa kepada Tuhan agar tetap kuat melewati semua ini. Dalam sebuah hubungan tentu saja ada kerikil-kerikil kecil yang membuat jalan tidak semulus yang diharapkan. Tapi, bagaimana pun Mei tetap istriku. Berapa besar rasa cintanya terhadap drama Korea tentu hanya aku yang bisa memeluknya secara nyata.
Mei hanya bosan. Ya, aku pikir seperti itu! Ia perlu menenangkan diri dan mencari kebahagiaan. Setidaknya begitulah caraku memberi jawaban atas pradugaku sendiri. Dan setelahnya aku juga akan berpikir, apakah selama ini aku tidak bisa memberinya rasa bahagia?
Sebelum Mei menyukai drama Korea itu ia akan terbangun pukul 5 pagi dan menyiapkan air hangat untukku mandi. Dan entah bagaimana caranya ia juga bisa menyediakan sarapan sekaligus bekalku dengan cepat dan tentu saja enak. Setelah aku pamit ke kantor, ia akan mengerjakan pekerjaan rumah seperti ibu rumah tangga pada umunya. Berhadapan dengan tumpukan cucian kotor, debu tebal di lemari tv, rumput di halaman yang meninggi dan ini dan itu. Sampai akhirnya aku pulang, tubuhnya yang sedikit berisi itu akan terkulai lemas di atas sofa.
Rutinitas itu terus berlangsung hingga usia pernikahan kami menginjak tahun ketiga. Dan entah dari mana datangnya, mendadak ia gemar menonton drama Korea. Kesibukan yang sudah berjalan selama ini ia tinggalkan hanya untuk bermalasan di depan televisi. Tak jarang aku bertanya tentang apa yang telah membuatnya seperti orang yang berbeda. Dan hari ini aku telah menemukan jawabannya.
“Sebenarnya aku sudah lama suka drama Korea. Cuma mana sempat untuk menontonnya!” jawab Mei dengan wajah sedikit ketus.
“Tapi kamu tidak pernah bilang, Mei?” aku menimpali.
“Karena kamu tidak pernah bertanya!”
“Maaf!”
“Kamu terlalu sibuk, Mas!”
“Hhmm… maaf!” aku berdengus.
“Apa kamu juga pernah bertanya aku bahagia melewati hari-hariku yang membosankan ini?”
Seketika aku menoleh
“Saat kamu memintaku untuk berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga, aku pikir itu bukan masalah besar karena aku akan punya banyak waktu untuk menjalankan peranku menjadi seorang istri. Seperti di dalam drama, tugasku hanya membuat sarapan, menjaga rumah dan menyambut suami pulang.”
“…Mei!”
“Sampai-sampai aku sendiri lupa untuk menjalankan peran utamaku dalam cerita hidupku sendiri. Sekarang aku cuma ingin banyak belajar. Bagaimana menjadi tokoh seorang istri dalam sebuh drama yang barangkali bisa aku terapkan dalam kehidupan yang membosankan ini. Aku ingin hidupku seperti di drama Korea, Mas!”
Sesuatu yang menjentik seperti api menyengat tubuhku secara cepat. Aku merasakan udara dingin yang tetiba masuk hingga rongga dada.
“Maafkan aku, Mei. Aku begitu bodoh untuk memahamimu. Mulai detik ini dan seterusnya, aku tidak akan membiarkanmu hanya menjadi figuran dalam rumah tangga ini. Kita akan sama-sama menjadi tokoh utama dalam kehidupan yang menyenangkan. Aku yakin hidup kita akan jauh lebih indah dari drama Korea itu!”
Malam ini aku mendekap tubuh Mei dengan perasaan yang campur aduk. Sepintas aku melihat genangan air di sudut matanya. Mei memegang tanganku dan menaruhnya ke atas perutnya. Aku merasa ada sesuatu yang bergerak di sana. Seketika aku berpaling. Ternyata cerita kami baru saja akan di mulai. [*]
--------------------------
DEDE SOEPRIATNA
Lahir di Bogor. Karyanya tersebar di media cetak dan media online. Bergabung di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.
Ilustrasi:
"Survival", karya: Putut Pasopati



