Membaca Cerah Teater Jawa Tengah

ESAI

Oleh: Idham Ardi N.

2/16/2026

Pengantar Redaksi:
Artikel ini sudah diterbitkan dan dibaca di
Mentas.id.
--------------------------------

BISA jadi saya ini adalah anak haram teater pelajar jika merujuk pada pernyataan Yogi, “saya ini adalah anak kandung dari teater pelajar.” dalam sarasehan Parade Teater Terbaik Jawa Tengah (PTTJT) #1 kemarin. Sambil menepuk dada, beliau berkata begitu lantaran bangga semasa SMA dulu adalah anggota teater pelajar. Ia pantas berbangga, teman-teman teater pelajar yang kemarin berpentas di parade tersebut juga mustinya berbangga. Sedang saya, tentu boleh mengiri pada mereka.

Berbeda dengan para remaja yang kemarin menampilkan karya mereka di PTTJT, masa SMA saya sibuk dengan ekstra kenakalan remaja. Kemudian hari, ketika tak remaja lagi, saya jadi agak paham kenapa waktu saya habis di kegiatan-kegiatan konyol tanpa mengasah atau menggali potensi diri.

Dari Pak Joko Bibit (almarhum) saya memperoleh pemahaman bahwa kenakalan tak melulu dikarenakan si remaja punya genetik tak bisa diatur. Bisa dikarenakan remaja (masa gairah begitu membuncah) tak menemukan saluran ekspresi. Sedang kebanyakan orang tua hanya meyakini bahwa yang dibutuhkan anak adalah pendidikan formal dan agama.

Padahal tak semua anak atau remaja gairahnya cukup tertampung dua hal tersebut. Maka beberapa remaja pun tanpa sadar memuarakan gairahnya dengan tanpa arahan dan metode pada gelanggang kenakalan remaja.

Sebagai anak haram teater pelajar, terkadang saya iri dengan keremajaan anak-anak yang diisi dengan teater. Saya mengandai-andai apabila dulu saya sudah ikut teater sejak SMA barang tentu capaian estetika saya tidak begini dan badan saya mungkin lebih bugar.

Bukan tentang bakal lebih bagus atau buruk, tetapi pasti berbeda dengan capaian estetika saya hari ini. Karena berbagai perjumpaan-persinggungan teater yang seandainya bisa kureguk sejak SMA pasti akan mempengaruhi cara berteater saya hari ini.

Pertunjukan dan Perjumpaan
Bentuk atau pilihan estetika teater mengandung proses historis, salah satu variabel pentingnya adalah sebagaimana tema yang diangkat PTTJT ke-1 kemarin, yakni “Pertunjukan dan Perjumpaan”.

Semisal saya, apabila tidak berkesenian di Solo, besar mungkin tidak menonton “Don’t Cry Kumbokarno”-nya Tera, “Mutilasi Purba” oleh Teater Ruang, dan Lampu Plenthong 15 Watt” yang dipentaskan Gidag Gidig. Dan jika saya tidak menyaksikan satu saja dari beberapa pentas bermutu tersebut tidak akan seperti hari ini pemahaman teater saya. Juga apabila kala itu tidak ada kegiatan Mimbar Teater Indonesia, saya tentu tidak akan berjumpa dengan pernyataan Mas Wirawan yang menyatakan, “teater harus menyapa masyarakat!” Maka, besar mungkin saya tidak memulai penjelajahan estetika saya dengan berpentas keliling kampung.

Dari situ saya jadi lebih memahami bergulirnya wacana PTTJT yang sudah kudengar desas-desusnya dari Mas Asa Jatmiko tahun lalu. Dengan memperjumpakan pementasan dari para pemenang festival teater pelajar dari berbagai daerah di Jawa Tengah, barang tentu akan membuka banyak peluang berkembangnya pemahaman serta estetika teater pelajar ke depannya.

Para pelajar jadi sejak jauh-jauh hari, sebelum pikirannya menjadi terlanjur kolot dan getas, dapat melihat bahwa bentuk estetika “terbaik” itu ada berbagai macam rupa, dan kemungkinan jelajahnya terhampar luas melebihi pagar kabupaten. Maka kemenangan estetika mereka dalam festival tahun lalu adalah sebuah versi yang bukan satu-satunya.

Untuk pelatih ekstra seperti saya, PTTJT juga memiliki manfaat referensi yang bermutu. Kebetulan saya sedang mendampingi dua ekstrakurikuler yang baru terbentuk.

Maka kehadiran PTTJT yang kali pertamanya dihelat di Solo, tak saya sia-siakan kesempatan untuk menggiring anak-anak yang baru merintis kelompok teater di sekolahnya itu untuk menonton. Kapan lagi ada parade teater pelajar yang para pesertanya dari berbagai daerah dengan membawa karya yang telah terkurasi sebagai representasi estetika terbaik dari kabupaten atau kotanya?

Usai menonton mereka menyatakan kekagumannya terhadap penampilan rekan-rekan sejawatnya di PTTJT. “Saya menangis, Mas, kami menangis menonton pementasan tadi, ternyata bisa sebagus itu ya, Mas, pentas Teater,” kata salah satu dari mereka usai menonton Argumentasi Sisi dari Teater Patas (Kudus).

Sepulang dari PTTJT, mereka yang selama ini menjalani latihan teater tanpa ada gambaran konkrit dari hasil latihan, menjadi lebih bisa memahami tentang betapa pentingnya proses berlatih.(*)

--------------------------
IDHAM ARDI N.
Sutradara, penullis lakon tinggal di Solo.