Membuka FTP Kudus, Teater Lentera Menghipnotis Penonton Hingga Meneteskan Air Mata

Oleh: Rhobi Shani

12/19/2025

Iniibubudi - Jepara: Suara gemericik dan gelembung air perlahan-lahan terdengar. Kain tipis beraneka warna tergantung di beberapa sudut panggung berlahan-lahan pun mulai tampak. Begitu juga dengan benda berbentuk limas dan kubus dari plastik beraneka warna nampak teronggok di sisi kanan kiri pada bagian depan dan belakang panggung.

Musik bernuansa riang mengiringi para pemain perempuan menari. Kostum yang dikenakan pun beraneka warna. Dipadukan dengan riasan wajah penuh corak, menegaskan gambaran bahwa mereka adalah sekumpulan ikan yang sedang berenang di sela-sela rumput laut dan terumbu karang bersama kura-kura yang bernama Master Celon.

Kemudian disusul kepiting kecil berwarna merah lari ke sana kemari sambil berteriak-teriak memangil kakeknya, Master Celon. “Kek, kakek, kok aku sendirian,” ujar Cupitong, tokoh kepiting kecil yang diperankan Yusuf Ammar Fadhillah, bocah kelas 1 sekolah dasar.

Panggung yang semula tenang, tiba-tiba berubah riuh setelah kampung bawah laut yang indah hancur porak-poranda lantaran aktivitas penambangan pasir. Di tengah kegalaun Silago akan hancurnya kampung halamannya, datanglah para Kroco dengan keganasannya. Silago dan kawan-kawannya sesama ikan kemudian dijerat dengan jaring pukat.

Lantas terumbu karang yang indah tercerai-berai dari induknya. Dunia bawah laut rusak. Ikan berbagai jenis dan ukuran kehilangan tempat tinggal. Kaisar Pom-Pom, penguasa bawah laut memilih mengakhir hidup karena hanya jadi boneka yang dapat dipermainkan siapa saja, termasuk para Kroco anak buahnya pun telah berkhianat.

Setelah semua lenyap, Cupitong kembali muncul. Sendiri, Cupitong berlari ke sana kemari mencari kakeknya. Capek memanggil kakeknya namun tak pernah ada jawaban, Cupitong lantas berteriak lantang, “Kakek…………!” dan seketika lampu panggung padam. Lalu disusul riuh tepuk tangan penonton yang memadati Djarum Arena Kaliputu Kudus.

Ya, pertunjukan Raung Silago yang dibawakan Teater Lentera hasil besutan sutradara Maseko BS di atas menjadi pertunjukan pembuka Festival Teater Pelajar (FTP) Kudus 2025 yang diselenggaran Teater Djarum. Tak hanya disambut dengan tepuk tangan meriah penonton di akhir pertunjukan, Raung Silago pun mampu menghipnotis penonton hingga meneteskan air mata.

“Saya tidak tahu kenapa, setalah anak-anak yang memerankan tokoh kepiting teriak lantang memanggil kakeknya, tiba-tiba saja saya menangis,” ujar Asa Jatmiko, pentolan Teater Djarum.

Menurut Asa, penampilan Teater Lentera cukup memberi warna perteateran di Kudus. Dengan pendekatan pertunjukan teater fantasi, isu lingkungan yang diangkat menjadi penyadaran untuk selalu menjaga kelestarian alam.

“Belum banyak kelompok teater yang mengangkat isu lingkungan, apa lagi dengan bentuk penggarapan seperti itu yang bisa dimainkan semua kalangan usia, mulai dari anak-anak sampai orangtua,” kata Asa.

Sutradara pementasan, Maseko BS, menyampaikan Raung Silago bukan karya pertamanya yang menyoal lingkungan. Sebelumnya, lakon Si Bongkeng yang mengangkat isu mikroplastik lebih dulu lahir dan telah dipentaskan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Proses penciptaan karya ini (Raung Silago, red) hasil diskusi sama teman-teman Teater Lentera, banyak berita-berita soal laut, persoalan lingkungan, alam dan itu sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia saja, terus kami diskusikan,” ungkap Maseko BS.

Sebelum tampil sebagai pembuka FTP Kudus 2025, lakon Raung Silago pada pertengahan tahun ini telah dipentaskan di Kota Semarang, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Banjarnegara.(*/rs)

Penampilan Teater Lentera dengan lakon "Raung Silago" berhasil memikat Kudus, sekaligus membuka pertarungan final Festival Teater Pelajar XV yang berlangsung mulai 19-21 Desember 2025. (Dok: Ist)