Merawat Teater dan Menggugat Kenyamanan

ESAI

Oleh: Imam Khanafi

1/4/2026

Pengantar:
Tanggapan atas tulisan "Dialog Asa Jatmiko dan Perjalanan FTP" yang dimuat di Mentas.id
___________


TULISAN "Dialog Asa Jatmiko dan Perjalanan FTP" yang dimuat di Mentas.id pada dasarnya adalah sebuah kesaksian kultural. Ia tidak lahir dari hasrat pencitraan, melainkan dari pengalaman panjang yang bersentuhan langsung dengan ruang-ruang pendidikan, tubuh-tubuh pelajar, serta denyut teater di Kudus. Di dalamnya, kita menemukan kegelisahan yang jujur dan justru karena itu bernilai.

Kegelisahan tersebut bukan kegelisahan kosong. Ia tumbuh dari keberhasilan. Dari festival yang berulang, dari ekosistem yang relatif mapan, dari jargon yang diperbarui mengikuti zaman. Namun justru di titik keberhasilan itulah pertanyaan penting muncul: setelah mapan, lalu ke mana?

Dalam teori sosial, terutama pada pemikiran Pierre Bourdieu, keberhasilan sebuah praktik kultural sering kali melahirkan apa yang disebut habitus pola yang nyaman, dikenali, dan akhirnya diulang. Habitus tidak salah. Ia bahkan perlu. Tetapi ketika habitus berhenti dipertanyakan, ia berubah menjadi zona nyaman. Tulisan di Mentas.id secara tidak langsung sedang menyentuh batas itu.

Festival Teater Pelajar (FTP) lahir dari kebutuhan riil: menampung gairah, memberi muara, dan membangun ruang temu. Dalam konteks ini, FTP telah menjalankan tugas kulturalnya dengan sangat baik. Ia bukan sekadar lomba, melainkan ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang perjumpaan.

Setiap institusi budaya yang berhasil akan menghadapi paradoks: semakin ia mapan, semakin ia berisiko menjadi rutinitas. Festival, betapapun progresif niat awalnya, cenderung menciptakan standar-standar baru: standar durasi, standar estetika, standar penjurian, bahkan standar keberhasilan. Satir kecilnya adalah ini: ketika festival yang lahir untuk membebaskan justru tanpa sadar membangun pagar-pagar baru.

FTP tentu belum sampai pada tahap itu. Tetapi tanda-tandanya perlu dibaca sejak dini. Kegelisahan yang muncul dalam tulisan tersebut bisa dibaca sebagai alarm kultural—bukan kritik destruktif, melainkan ajakan refleksi.

Teater Djarum dan Zona Nyaman Institusional

Nama Teater Djarum tidak bisa dilepaskan dari sejarah teater di Kudus. Ia adalah penggerak, pelopor, sekaligus penjaga kontinuitas. Justru karena peran historis itulah, Teater Djarum kini berada pada posisi strategis sekaligus riskan.

Komunitas yang telah lama beroperasi cenderung memiliki art worlds sendiri jaringan kerja, selera estetik, dan pola produksi yang stabil. Stabilitas ini memungkinkan keberlanjutan, tetapi juga berpotensi menumpulkan keberanian eksperimentasi.

Di sinilah satir halus perlu disampaikan: barangkali sudah waktunya Teater Djarum keluar dari panggung kenyamanan yang selama ini tanpa disadari dibangunnya sendiri. Keluar dari zona nyaman bukan berarti meninggalkan FTP. Bukan pula membongkar apa yang telah bekerja dengan baik. Melainkan berani membuka kemungkinan lain: bentuk lain, nama lain, pendekatan lain, bahkan risiko gagal.

Tulisan di Mentas.id dengan tegas menempatkan teater sebagai proses, bukan hasil. Jika demikian, maka pendidikan teater tidak semestinya terlalu lama terjebak pada logika festivalistik.

Dalam perspektif pedagogi kritis (Paulo Freire), pendidikan sejati adalah dialogis, bukan demonstratif. Festival, bagaimanapun, masih membawa logika demonstrasi: tampil, dinilai, diapresiasi.

Pendidikan teater bisa melampaui itu. Ia bisa hadir dalam: Laboratorium proses tanpa panggung akhir, residensi pelajar dengan seniman lintas disiplin, pertukaran kelompok tanpa penjurian, dan juga bisa menyentuh arsip, riset, dan penulisan reflektif. Bahkan bisa dalam ranah kerja-kerja teater berbasis komunitas. Semua ini tidak harus bernama festival. Bahkan mungkin akan lebih jujur jika tidak disebut festival sama sekali.

Dari “Keren” ke “Cerdas”: Apakah Cukup?

Perubahan jargon dari berteater itu keren menjadi berteater itu cerdas adalah langkah reflektif yang patut diapresiasi. Ia menunjukkan kesadaran zaman dan kedewasaan berpikir. Namun, dalam teori budaya kritis, jargon selalu berisiko menjadi slogan kosong jika tidak diikuti transformasi praksis. Anak-anak hari ini memang sudah cerdas secara teknologi. Pertanyaannya: apakah ruang-ruang teater yang kita sediakan juga cukup cerdas untuk menantang mereka?

Jika bentuknya masih seragam, polanya masih sama, dan horizon estetiknya masih itu-itu saja, maka kecerdasan yang ditawarkan teater berisiko hanya menjadi repetisi, bukan eksplorasi. Satirnya sederhana: jangan-jangan anak-anak sudah melampaui panggung yang kita siapkan, sementara kita masih sibuk merapikan tirai.

Dalam teori seni kontemporer, seni tidak lagi diukur dari seberapa rapi ia dipentaskan, melainkan seberapa jauh ia mampu mengguncang kesadaran. Maka tantangan baru bagi Teater Djarum dan ekosistem teater pelajar Kudus bukan lagi soal keberlanjutan festival, melainkan keberanian untuk: Membiarkan ketidakpastian, mengizinkan kegagalan, menerima bentuk yang belum selesai dan mendengar bahasa generasi baru tanpa cepat menghakimi.

Pendidikan teater yang sehat bukan hanya melatih aktor, tetapi juga melatih keberanian berpikir dan bersikap. Tulisan di Mentas.id adalah bukti bahwa kegelisahan masih hidup. Dan selama kegelisahan itu dirawat, teater tidak akan mati. Tanggapan ini tidak dimaksudkan sebagai bantahan, melainkan sebagai gema. Sebuah satir santun dari pembaca yang percaya bahwa: FTP telah berjasa besar, Teater Djarum memiliki modal kultural yang kuat dan justru karena itu, tantangan berikutnya harus lebih berani.

Barangkali, masa depan pendidikan teater tidak selalu berada di panggung festival. Ia mungkin tumbuh di ruang-ruang kecil, di proses yang tidak terdokumentasi, di perjumpaan yang tidak dirayakan secara seremoni.

Dan di sanalah, teater kembali setia pada tugas kulturalnya: bukan sekadar mengisi panggung, tetapi ikut menggugat kenyamanan termasuk kenyamanannya sendiri. Semoga bermanfaat.(*)

--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi dan cerita anak.