
Mie Godog Dobel, Kopi Pahit, dan Puisi yang Tak Pernah Pulang
ESAI
Oleh: Imam Khanafi
1/18/2026


PAGI, sekitar pukul tiga dini hari tanggal 18 Januari 2026, kabar datang seperti desir angin yang tak sempat ditahan. Mbah Puji telah meninggal dunia. Penyair dari Pati yang lebih dikenal dengan nama Puji Pistols itu pergi dalam sunyi, sebagaimana ia menjalani hidupnya: pelan, bersahaja, nyaris tak pernah menuntut perhatian lebih. Aku membaca kabar itu dalam keadaan separuh sadar, separuh terjaga, dan sepenuhnya terdiam. Tidak ada tangis yang meledak, hanya jeda panjang di dada dan ruang kosong yang perlahan diisi kenangan.
Sudah lama aku tak berjumpa dengannya. Terakhir kami bertegur sapa pada 2024, di rumah sekaligus warung kopi sederhananya. Sebuah tempat yang lebih mirip ruang singgah kehidupan ketimbang lapak dagang. Di sana, obrolan tentang bacaan, puisi, dan kegelisahan hidup mengalir tanpa perlu ditata. Tidak ada jarak antara penyair dan pedagang, antara sastra dan dapur, antara puisi dan panci mendidih. Saat itu, seperti biasa, Mbah Puji menyuguhkan mie godog dobel dan kopi pahit buatannya, hidangan yang kelak akan terasa jauh lebih dari sekadar makanan.
Puji Pistols merupakan penyair yang tidak memisahkan hidup dan karya. Ia tidak menempatkan sastra di menara gading, melainkan menurunkannya ke meja kayu, ke gelas kopi, ke kepulan asap dapur. Warung kopi kecil yang ia kelola di Pati Wetan bukan sekadar tempat berjualan nasi dan minuman, tetapi ruang perjumpaan, ruang bertukar cerita, sekaligus ruang lahirnya puisi-puisi yang tak selalu dituliskan.
Sebagai penjual kopi, ia hidup dari keuntungan yang nyaris tak pernah berlebih. Sebagai penyair, ia menulis tanpa ambisi pasar. Laku sastranya adalah laku kehidupan: bangun pagi, menanak nasi, menyeduh kopi, melayani pembeli, lalu menuliskan atau mengendapkan apa yang ia lihat dan rasakan. Dalam kesederhanaan itu, Puji Pistols menemukan cara paling jujur untuk hidup sebagai manusia dan sebagai penyair.
Lahir dan menetap di Pati Wetan, Pujianto atau Puji Pistols tumbuh bersama denyut kota kecil yang selayaknya kampung yang apa adanya. Ia akrab disapa warga dengan panggilan “Mbah Puji,” sebuah nama yang terdengar ganjil sekaligus bersahabat. Nama itu bukan sekadar julukan, melainkan penanda kedekatan. Ia bukan seniman yang berjarak dengan lingkungannya; ia adalah bagian dari keseharian warga.
Di kampung itulah ia menjalani hidupnya hingga akhir. Tidak pindah ke kota besar, tidak mengejar pusat-pusat sastra. Baginya, Pati adalah dunia yang cukup luas untuk dijelajahi lewat kata-kata. Dari gang kecil, dari warung kopi, dari obrolan, dan bacaanaya ia meramu imajinasi dan kegelisahan yang kemudian menjelma puisi.
Mie Godog Dobel dan Kopi Pahit
Mie godog dobel dan kopi pahit buatan Mbah Puji untukku waktu itu adalah metafora paling jujur tentang dirinya. Mie godog dobel: sederhana, mengenyangkan, tanpa hiasan berlebih. Kopi pahit: tidak ditutupi gula, tidak disamarkan rasa aslinya. Begitulah puisinya. Tidak dibuat manis untuk menyenangkan semua orang, tidak dipoles agar tampak indah semata. Ia membiarkan kepahitan dan kesederhanaan berbicara apa adanya.
Saat menyantap mie godog dobel di warungnya, obrolan tentang buku dan hidup terasa lebih dekat. Tidak ada kesan sedang berdiskusi sastra, tetapi justru sedang menjalani sastra itu sendiri. Di situlah Puji Pistols memperlihatkan bahwa puisi tidak selalu lahir dari kesunyian meja tulis, melainkan juga dari panci yang mendidih dan gelas kopi yang mengepul.
Pada 2019, buku puisinya Tokoh-tokoh dalam Sepuluh Lompatan diterbitkan oleh Basabasi. Judul itu sendiri sudah memberi isyarat: puisi-puisi Puji Pistols 2012 – 2018 bergerak dengan lompatan-lompatan kecil, tidak linier, tetapi penuh kejutan. Tokoh-tokoh yang hadir di dalamnya bukan pahlawan besar, melainkan figur-figur keseharian yang sering luput dari perhatian.
Puisi-puisinya juga dimuat di berbagai laman seperti Maarif NU Jateng dan Jelata.co. Tema yang ia angkat kerap berangkat dari imajinasi keseharian dan kebudayaan lokal. Ia menulis tentang hal-hal yang dekat, yang ia kenal betul, yang ia jalani setiap hari. Dalam kesetiaan pada yang lokal itu, puisinya justru menjadi universal.
Pada 2012, masih teringat waktu itu sebuah pertemuan penghormatan untuk Puji Pistols digelar di Aula Joyo Kusumo. Kegiatan itu menegaskan posisinya di kalangan seniman lokal dan komunitas Gosek Tontonan. Ia mungkin tidak sering tampil di panggung besar, tetapi kehadirannya diakui dan dihormati oleh mereka yang sungguh-sungguh hidup bersama sastra.
Penghormatan itu bukan puncak, melainkan bagian dari perjalanan panjangnya sebagai penyair kampung. Setelah acara usai, ia kembali ke warungnya, kembali ke panci dan kopi, seolah ingin mengatakan bahwa sastra tidak perlu mengubah cara hidupnya.
Puji Pistols juga hadir di ruang daring. Melalui akun X (Twitter) @mbahpujipistols, ia membagikan karyanya sejak 2011. Tidak banyak, sekitar 77 unggahan tetapi cukup untuk menandai jejak. Ia tidak mengejar viralitas, tidak mengejar jumlah pengikut. Media sosial baginya hanyalah ruang tambahan untuk berbagi, bukan panggung utama.
Beberapa video, seperti “Ngopi di Warungnya Mbah Puji Pistol Pati,” merekam suasana warungnya yang khas dan bersahaja. Video-video itu kini menjadi arsip berharga: potongan kehidupan yang menunjukkan bagaimana sastra bisa tumbuh dari tempat paling sederhana.
Dalam obrolan terakhir kami, Mbah Puji banyak bercerita tentang kegelisahan. Tentang hidup yang tak selalu ramah, tentang dunia sastra yang kadang terasa jauh dari kehidupan nyata. Namun ia tidak mengeluh. Ia hanya bercerita, seolah kegelisahan itu perlu dibagikan agar tidak menumpuk sendirian.
Ia membaca banyak hal, dari yang serius hingga yang remeh. Semua ia cerna dengan caranya sendiri. Tidak tergesa-gesa, tidak ingin terlihat paling tahu. Dari sanalah puisinya mendapatkan kedalaman: bukan dari teori, melainkan dari pengalaman hidup yang sungguh dijalani.
Puisi sebagai Cara Bertahan
Bagi Puji Pistols, yang tak dengar langusng waktu berbincang bisa dismpulakan bahwa menulis baginya adalah cara bertahan hidup, bukan cara mencari nama. Ia menulis agar tetap waras, agar tetap bisa berdamai dengan dunia. Puisi-puisinya adalah jejak bagaimana ia bertahan dalam kesederhanaan, dalam keterbatasan, dalam keheningan yang panjang.
Kini, setelah ia tiada, kita menyadari bahwa tulisan-tulisannya adalah cara ia terus hidup. Puisi menjadi perpanjangan napas, warung kopi menjadi kenangan, mie godog dobel dan kopi pahit yang disajikannya untukku waktu itu menjadi simbol kehadiran yang tak mudah dilupakan.
Kabar duka yang datang pukul tiga pagi itu kini telah menjadi bagian dari sejarah kecil sastra Pati. Tidak ada sirene, tidak ada pengumuman besar. Hanya pesan singkat yang menyebar dari satu gawai ke gawai lain. Namun dampaknya panjang. Ia meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi.
Kita mungkin tidak lagi bisa duduk di warungnya, menyeruput kopi sambil mendengar ceritanya. Tetapi kita masih bisa membaca puisinya, mengenang laku hidupnya, dan belajar dari kesederhanaannya.
Puji Pistols telah pulang, tetapi puisinya tidak pernah benar-benar pulang. Ia akan terus berkeliaran di obrolan larut malam yang setia pada kehidupan sastra. Ia mengajarkan bahwa sastra tidak harus mewah, tidak harus jauh dari dapur.
Selamat jalan, Mbah Puji. Mie godog dobel dan kopi pahitmu akan selalu mengingatkanku bahwa hidup, seperti puisi, paling jujur ketika dijalani dengan sederhana. Semoga. (*)
--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi, cerita anak dan pengarsip.



