
MOZAIK GAGASAN RA KARTINI UNTUK BANGSANYA
Oleh: Iniibubudi


RADEN AJENG KARTINI adalah Pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia. Penghargaan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964 yang ditandatangani oleh Presiden Ir. Soekarno. Penghargaan oleh Negara diberikan mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia di masa silam, yang semasa hidupnya, karena terdorong oleh rasa cinta Tanah Air dan Bangsa, memimpin suatu kegiatan yang teratur guna menentang penjajahan di bumi Indonesia.
Namun Kartini hingga kini lebih dikenal sebagai pahlawan atau pendekar emansipasi wanita yang gigih memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Sehingga setiap kali bangsa ini memperingati hari kelahirannya pada tanggal 21 April, selalu dihubungkan dengan perjuangan perempuan untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia.
Ini terjadi karena selama ini tulisan kesejarahan Kartini lebih banyak menampilkan sisi historis yang repetitif dan terus diulang seperti lahir di Jepara, putri bangsawan yang dipingit, pandai menulis, memperjuangkan persamaan hak perempuan hingga menikah dengan Bupati Rembang, dan kemudian meninggal setelah melahirkan anak semata wayangnya.
Konstruksi narasi sejarah yang dibangun oleh Mr. J.H. Abendanon dalam buku Door Duisternis Tot Licht berhasil menempatkan Kartini sebagai pendekar kaum wanita dan profil seorang perempuan bangsawan Jawa yang berdaya karena budaya Belanda. Kartini juga tampaknya ditempatkan sebagai bagian strategi politik kolonial untuk melawan gerakan politik kelompok etis yang mulai disuarakan sejumlah tokoh Belanda.
Sementara kritik keras Kartini terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh kolonialisme Belanda dan sikap zalim bangsawan Jawa yang ingin rakyatnya tetap bodoh, kurang mendapatkan tempat di buku yang berisi sebagian surat-surat Kartini tahun 1899—1904. Juga nota yang diberi judul ‘Geef de Javaan Opvoeding’ (Berilah Orang – Orang Jawa Pendidikan) yang ditulis Kartini Januari 1903 atas permintaan Mr. M. Slingenberg, seorang pejabat Kementerian Kehakiman Belanda yang sedang menyusun Undang-undang baru tanah jajahan, kurang mendapatkan perhatian. Padahal nota ini berisi gagasan, konsep dan strategi untuk pengembangan pendidikan perempuan dan bangsa Jawa. Juga kritik yang terhadap pemerintah Belanda, pemerintah kolonial dan bahkan kritik terhadap bangsawan Jawa.
Bahkan Nota Pendamping Permohonan Bantuan Pemerintah untuk Belajar tidak disertakan dalam buku Door Duisternis Tot Licht. Padahal dalam nota ini Kartini berbicara tentang hak perempuan untuk memperoleh pendidikan untuk perbaikan diri dan peradaban bangsanya.
Ini mengakibatkan terjadinya penyederhanaan peran Kartini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, hanya untuk kaum wanita. Padahal kalau kita belajar dari gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan maupun yang telah dilakukan, akan tampak keinginannya yang sangat besar untuk membangkitkan bangsanya dari tidurnya yang panjang. Kartini memang tidak memanggul senjata, tidak pula berbicara dalam rapat-rapat perkumpulan kelompok terpelajar, tetapi ia berperang dengan senjata pena di medan gagasan yang sangat visioner. Terbukti tulisan Kartini dalam surat-suratnya mampu menjadi pemantik berkobarnya api nasionalisme di tengah-tengah bangsanya. Bahkan sepeninggal Kartini, tumbuh gerakan kalangan muda terdidik di berbagai wilayah yang terorganisir. Juga menumbuhkan gerakan wanita yang kemudian berhimpun dalam berbagai perkumpulan.
Pengakuan atas peran besar Kartini bukan saja muncul dari dr. Cipto Mangunkusumo. Dalam tulisannya di surat kabar milik Dr. Douwes Dekker, De Express tanggal 24 Mei 1912 ia menulis, “..tiap halaman surat Kartini tertuang keinginan, harapan dan perjuangannya untuk mengajak bangsanya bangun dari tidurnya yang panjang yang telah beratus-ratus tahun.”
Bukan hanya itu, para ahli sejarah asing juga mengakui peran Kartini dalam rangka Kebangkitan Nasional Indonesia. George Mc Turman Kahin dalam bukunya Nationalism and Revolution in Indonesia menulis, “Usaha paling awal yang terpenting dalam bidang pendidikan dalam rangka Kebangkitan Nasional dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini, putri muda seorang bupati Jawa.”
Sementara W.F. Wertheim dalam bukunya yang berjudul Indonesian Society in Transition menulis, “Surat-surat Raden Ajeng Kartini, putri seorang bupati yang berkebudayaan tinggi, seorang wanita muda dengan gagasan-gagasan modern yang meninggal pada usia muda dan yang dipandang sebagai perintis perjuangan nasional, menunjukkan jiwa yang liberal yang berpikir bebas.”
Sedangkan J.S. Furnivall dalam bukunya Netherlands India. A Study of plural Economy menulis, “Meskipun perasaan-perasaan yang menjiwai gerakan nasional dapat dirintis dalam beberapa majalah Jawa kuno sampai pada tahun 1864, namun fajar nasionalisme baru menyingsing dengan munculnya seorang gadis yang luar biasa, putri Bupati Jepara.”
Jauh sebelumnya, Kartini juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan kaum pemuda terpelajar yang sekolah di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Arts).. Mereka berkomunikasi melalui surat untuk membicarakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Juga mimpi dan harapannya. Bahkan Kartini pada tahun 1903 telah menyebut bahwa mereka telah mendirikan Jong Java.
Dalam suratnya kepada Ny. Ovink Soer Kartini menulis, “Kami sudah mendapatkan banyak pengikut. Angkatan muda kita sudah mendukung sepenuhnya. Jong Java persatuan dan sudah tentu kami menggabung. Oh, Bunda harus membaca surat-surat dari pejuang-pejuang kami yang bersemangat itu, orang-orang muda yang kelak akan membangun dan bekerja di tengah-tengah bangsanya. Mereka bersorak-sorak bersama kami. Mereka menamakan saya Ayunda. Saya menjadi kakak mereka, pada siapa mereka setiap waktu butuh bantuan atau pelipur hati.”
Kartini juga mendapatkan tempat dan bahkan dikagumi kalangan pemuda Bumiputera yang kuliah di Belanda. Setelah mereka membaca gagasan dan cita-cita perjuangan Kartini yang ditulis dalam buku Door Duisternis Tot Licht, para pemuda yang tergabung dalam perkumpulan Indische Vereeniging, pada tanggal 24 Desember 1911 langsung menggelar rapat resmi. Secara aklamasi mereka menerima gagasan, pemikiran dan konsep perjuangan Kartini sebagai rechts noer atau pedoman resmi organisasi ini.
Peran dan gagasan Kartini dalam membangkitkan kesadaran berbangsa di kalangan pemuda pergerakan hingga lahirnya Soempah Pemoeda tahun 1928 disampaikan adik Kartini, Kardinah dalam buku Kartini Sebuah Biografi yang ditulis oleh Sitiesoemandari Soeroto, ”Kami adik-adik Kartini dengan sendirinya meneruskan perjuangan mbakyu almarhumah, oleh sebab semangat itu sudah ada dalam darah kami. Kami terutama secara kontinu menghubungi kaum pemuda, seperti Ayunda dahulu, untuk menganjurkan supaya mereka berkumpul dan bersatu, supaya kuat untuk bersama-sama memperjuangkan peningkatan martabat wanita dan bangsa. Sementara itu suasana kebangkitan sudah ada di udara seperti telah dikatakan oleh Mbakyu. Dimana-mana sudah mulai ada percikan api pergerakan nasional. Kami selalu berusaha menghidup-hidupkan api itu sampai beberapa tahun kemudian timbul suatu gerakan yang kemudian dinamakan Gerakan Nasional. Pada tahun 1908 di Batavia lahir perkumpulan nasionalis “Boedi Oetomo” dan kira-kira pada waktu yang bersamaan lahir di Nederland “De Indische Vereeniging”... Mbakyu Kartini memang Perintis segala Kemajuan Nasional.”
Kecintaan Kartini pada bangsa bukan hanya dinyatakan dalam surat-suratnya tetapi dalam tindakan nyata dengan mengembangkan seni ukir, batik, nyanyian, dongeng serta mendirikan sekolah gadis. Juga dalam tulisan-tulisannya yang dimuat di berbagai majalah dan surat kabar serta dalam 184 surat sangat panjang kepada sahabat-sahabatnya. Ada juga dua nota yang ditulis Kartini bersama Rukmini, “Berilah Orang Jawa Pendidikan serta Nota Pendamping Permohonan Bantuan Pemerintah untuk Belajar.”
Raden Ajeng Kartini meski tubuhnya seolah terpenjara, tetapi tidak untuk pemikirannya. Di umurnya yang masih belia, Kartini menyuarakan ketidakadilan dan mengungkapkan banyak gagasan serta sumbangan pemikiran dan gerakan nyata bagi bangsa, sampai dia menghembuskan nafas di Rembang pada 1904, pada usia 25 tahun.
Setidaknya terdapat empat hal penting dari perjuangan yang dilakukan Kartini, yaitu pertama, melakukan kritik pemikiran dan gagasan dalam konteks gerakan emansipasi atau kesetaraan posisi perempuan Indonesia; kedua, memperkuat struktur fundamental masyarakat dengan membangun dan mengembangkan ekonomi kreatif di masa itu, melalui pembinaan, penguatan, dan pemberdayaan seni kerajinan rakyat seperti ukir dan batik; ketiga, menumbuhkan semangat kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan bangsanya serta melakukan kritik terhadap kolonialisme Belanda dan feodalisme bangsawan Jawa; dan keempat, membangun pendidikan perempuan yang cerdas, terampil, berbudi pekerti luhur dan mandiri untuk membangun peradaban baru bagi bangsanya. Ia tahun 1903 membuka sekolah khusus perempuan di Jepara dan tahun 1904 mendirikan sekolah yang sama di Rembang.
Latar belakang di atas yang menjadi pendorong terbitnya buku kompilasi Mozaik Gagasan Kartini untuk Bangsanya yang ditulis oleh 50 orang penulis yang sebagian besar adalah guru perempuan. Harapannya, Kartini dapat dipahami dalam perspektif yang lebih utuh.
Semoga buku yang diterbitkan bersamaan dengan peringatan Haul ke-121 R.A Kartini ini dapat menambah khazanah pustaka tentang Kartini dan sekaligus mampu menyemai tumbuhnya anak-anak muda yang bersedia menjadi anak ideologis Kartini. Sebab senyatanya, banyak gagasan Kartini yang masih relevan dalam berbagai bidang pembangunan hingga saat ini.
Hadi Priyanto,
Yayasan Kartini Indonesia
Judul: Mozaik Gagasan RA Kartini untuk Bangsanya
Penulis: Drs. Hadi Priyanto, M.M., Dra. Aris Puji Astuti, Budi Prihartini, M.Pd., Diyah Uswatun Hasanah, S.Pd., Agus Triyono, M.Pd. [dan 56 lainnya]
Editor: Sulismanto, S.Sos., Ulil Abshor, S.H., Septiana Wibowo
Tebal Hal:
Cetakan Pertama: 2025
Penerbit: Iniibubudi
ISBN: 978-602-70232-9-1
