
Nitisemito Sudah Naik Panggung, Tetapi Sejarah Belum Selesai
ESAI
Oleh: Imam Khanafi
9/1/2026


MENONTON drama musikal Teater Keset, 29 Agustus lalu bagi seorang pengarsip, bukan semata-mata menyaksikan cerita yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan. Panggung adalah ruang tempat tubuh, musik, kata, dan ingatan saling bernegosiasi; sebagaimana perkataan bahwa drama bekerja melalui tindakan, sementara musik memberi tindakan itu denyut emosional yang tak selalu dapat dijelaskan oleh kata-kata. Di sana, musik bukan sekadar pengiring dan aktor bukan sekadar pembawa dialog, melainkan dua kekuatan yang bersama-sama membentuk pengalaman penonton tentang waktu, konflik, dan manusia.
Karena itu, saya ingin membaca pertunjukan ini bukan hanya dari apa yang hendak disampaikannya, tetapi juga dari bagaimana ia memilih bercerita, bagaimana musik bekerja atas tubuh penonton, dan apa yang mungkin tertinggal setelah pertunjukan berakhir. Sebab mengarsipkan seni bukan berarti menyimpannya dari kritik; justru kritik adalah salah satu cara agar sebuah pertunjukan tidak lekas kehilangan makna ketika ia telah meninggalkan panggung.
Dari titik itulah pertunjukan kemudian dapat dibaca melalui beberapa lapisan dramaturgis: pertama, tema dan gagasan utama, yakni persoalan apa yang sesungguhnya hendak dibicarakan dan sejauh mana gagasan itu menemukan bentuknya di atas panggung; kedua, alur, bagaimana peristiwa disusun dan digerakkan dari pengenalan, perkembangan konflik, klimaks, hingga penyelesaian; dan ketiga, konflik, baik yang bersifat personal, sosial, politik, keluarga, maupun kultural.
Dalam drama musikal, ketiga hal tersebut semestinya tidak berdiri sendiri, sebab musik, nyanyian, gerak, dan akting idealnya ikut menggerakkan dramaturgi, bukan sekadar menjadi hiasan di antara adegan. Di sinilah menariknya sebuah pertunjukan diuji: apakah musik benar-benar memperdalam emosi dan konflik, apakah lagu membuat cerita bergerak, dan apakah setiap gerak di panggung memiliki alasan dramaturgis. Sebab ketika unsur-unsur pertunjukan hanya hadir secara bersamaan tanpa saling menghidupkan, drama musikal mudah berubah menjadi sekadar cerita yang diberi musik, bukan sebuah kesatuan artistik yang memiliki napasnya sendiri.
Saya pernah menulis tiga tulisan di mentas.id secara berturut-turut tentang Nitisemito. Tulisan pertama, “Nitisemito dan Dramaturgi Sejarah”, tayang 01 Mei 2026, membaca perjalanan Nitisemito dari pedagang kecil hingga menjadi “Raja Kretek” sebagai sebuah lakon sejarah yang mempertemukan kejayaan, kekuasaan, konflik, dan kejatuhan, sekaligus menjadikan perubahan Kudus dari kota tradisional menuju kota industri sebagai panggung tempat manusia, buruh, industri, dan negara memainkan perannya masing-masing. Sehari kemudian, 02 Mei 2026, saya menulis “Nitisemito dan Monster Tak Terlihat”, yang melihat pajak bukan sekadar persoalan angka dan administrasi, melainkan sebagai simbol kekuasaan struktural yang bekerja perlahan dan tanpa wajah hingga mampu menggerogoti sebuah kejayaan.
Kemudian, 07 Mei 2026, saya menulis “Membaca Nitisemito sebagai Lakon”, sebuah upaya membaca Nitisemito tidak lagi sekadar sebagai biografi pengusaha, tetapi sebagai pertemuan antara manusia, kapital, kekuasaan, dan zaman, dengan mempertemukan gagasan Brecht, Merleau-Ponty, Foucault, Marx, Sartre, serta pertentangan simbolik jeneng dan jenang. Tiga tulisan tersebut kini saya anggap sebagai bagian dari arsip kecil tentang bagaimana seorang Nitisemito dapat dibaca melalui bahasa dramaturgi, bukan semata-mata melalui kronologi sejarah.
Karena itu, ketika kemudian saya mendapat kabar bahwa Teater Keset akan mementaskan kisah Nitisemito dalam bentuk drama musikal, kabar tersebut terasa seperti sebuah percakapan yang tiba-tiba berlanjut dari tulisan ke panggung. Apa yang sebelumnya saya bicarakan melalui kata-kata, sejarah, dan teori dramaturgi kini berhadapan dengan tubuh aktor, suara penyanyi, musik, gerak, cahaya, serta ruang pertunjukan yang hidup di hadapan penonton. Ada semacam rasa ingin tahu: bagaimana sebuah sejarah yang telah saya baca sebagai lakon akan diterjemahkan ketika benar-benar menjadi lakon? Apakah Nitisemito akan kembali hadir sebagai sosok besar yang dielu-elukan, sebagai manusia yang berhadapan dengan keruntuhannya, atau justru sebagai pintu masuk untuk membaca Kudus, kolonialisme, buruh, kapital, dan kekuasaan yang membentuk zamannya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membuat saya datang bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pengarsip yang ingin melihat bagaimana sebuah ingatan sejarah dipindahkan dari halaman ke atas panggung.
Dari posisi itulah saya mencoba membaca pertunjukan ini dengan membawa kembali arsip tulisan-tulisan tersebut, tetapi tentu tanpa memaksakan panggung untuk tunduk kepada tulisan. Sebuah drama musikal memiliki bahasa yang berbeda: ia mengintegrasikan naskah, musik, nyanyian, gerak atau tari, akting, dan visual panggung; yang penting bukan sekadar semua unsur itu hadir, melainkan bagaimana masing-masing bekerja membangun tema, alur, karakter, konflik, dan pengalaman penonton. Maka yang ingin saya lihat bukan hanya apakah kisah Nitisemito tersampaikan, melainkan bagaimana musik menghidupkan konflik, bagaimana lagu menggerakkan cerita, bagaimana tubuh aktor membawa sejarah, dan bagaimana panggung memilih untuk memandang seorang “Raja Kretek”.
Di titik ini, kritik menjadi bagian dari kerja pengarsipan: sebab mengarsipkan pertunjukan bukan berarti mengabadikannya sebagai sesuatu yang selalu benar atau sempurna, melainkan mencatat apa yang berhasil, apa yang terasa janggal, apa yang terlewat, dan kemungkinan-kemungkinan apa yang sebenarnya masih terbuka. Dengan begitu, pertunjukan Teater Keset ini tidak hanya menjadi peristiwa seni yang selesai ketika tirai ditutup, tetapi juga menjadi satu lapisan baru dalam arsip tentang bagaimana Kudus mengingat Nitisemito.
Tulisan “Sejarah Bukan (Hanya) Milik Seni”, yang saya terbitkan di iniibubudi pada 17 Agustus 2026, pada akhirnya merupakan kelanjutan dari tiga tulisan saya sebelumnya di mentas.id: “Nitisemito dan Dramaturgi Sejarah” (01 Mei 2026), “Nitisemito dan Monster Tak Terlihat” (02 Mei 2026), dan “Membaca Nitisemito sebagai Lakon” (07 Mei 2026). Jika tiga tulisan pertama mencoba membaca kehidupan Nitisemito melalui dramaturgi, struktur kekuasaan, pajak, kapital, kolonialisme, hingga ingatan tentang sebuah kota, tulisan keempat bergerak ke pertanyaan yang berbeda: ketika sejarah itu benar-benar hendak dipindahkan ke panggung, sejauh mana seni boleh mengubahnya? Pertanyaan ini muncul setelah saya membaca esai “Kesa(n)daran Literasi” karya Agung Widodo, penulis naskah Nitisemito: De Kretek Koning, yang kemudian dipentaskan Keluarga Segitiga Teater pada 29 Agustus.
Maka tulisan saya 17 Agustus tersebut bukanlah upaya menutup kemungkinan sejarah menjadi seni, melainkan usaha untuk memberi garis batas yang menurut saya penting: antara fakta dan tafsir, antara arsip dan imajinasi, antara dramaturgi dan historiografi. Dengan demikian, rangkaian tulisan ini perlahan bergeser dari pertanyaan “bagaimana Nitisemito dapat dibaca sebagai lakon?” menuju pertanyaan yang lebih mendasar: “ketika Nitisemito dijadikan lakon, sejarah macam apa yang sedang kita tampilkan kepada penonton?”
Dan kini, setelah pementasan berlangsung, pertanyaan itu tidak lagi berhenti sebagai perdebatan di atas tulisan. Panggung memberi kesempatan untuk menguji apakah kegelisahan yang saya catat dalam arsip tersebut menemukan jawabannya di dalam tubuh aktor, musik, nyanyian, gerak, dialog, dan keseluruhan dramaturgi pertunjukan. Di sinilah posisi saya sebagai pengarsip menjadi sedikit berbeda dari sekadar penonton: saya ingin mencatat bukan hanya apa yang dipentaskan, tetapi juga bagaimana sebuah sejarah dipilih, ditafsirkan, disederhanakan, diberi suara, bahkan mungkin diubah ketika masuk ke dalam bahasa teater musikal.
Sebab sejak awal saya percaya bahwa Nitisemito bukan hanya milik sejarah, tetapi juga bukan hanya milik seni; ia berada di antara keduanya, sebagai manusia masa lalu yang jejaknya masih diperebutkan oleh ingatan, penelitian, kebudayaan, dan imajinasi. Karena itu, tulisan ini saya tempatkan sebagai kelanjutan arsip: dari membaca hidup Nitisemito sebagai dramaturgi, membaca kekuasaan sebagai “monster tak terlihat”, membaca sosoknya sebagai lakon, hingga akhirnya membaca bagaimana sebuah lakon memperlakukan sejarah. Kritik di sini bukan untuk menjatuhkan pertunjukan, melainkan untuk memastikan bahwa setelah lampu panggung padam, masih ada sesuatu yang dapat kita bicarakan, perdebatkan, dan arsipkan.
Di antara berbagai bagian pertunjukan, saya justru menikmati ketika tokoh Meneer masuk, bernyanyi, dan hadir sebagai sosok yang membawa wibawa sekaligus kekuasaan, figur yang dalam konteks sejarah kretek menjadi salah satu bayang-bayang penting dalam perjalanan industri ini. Ada sesuatu yang menarik ketika kekuasaan tidak hanya dihadirkan melalui dialog, tetapi melalui tubuh, suara, gestur, dan cara tokoh tersebut menguasai ruang panggung. Dan tentu saja, ciri khas Teater Keset tetap terasa: selalu ada candaan yang muncul di sela-sela ketegangan, kadang sederhana, kadang unik, tetapi berhasil mencairkan suasana dan, saya kira, bukan hanya saya yang menikmatinya karena tawa itu segera menular ke penonton lain. Humor di sini bukan sekadar selingan, tetapi menjadi semacam cara Teater Keset menjaga pertunjukan tetap dekat dengan penontonnya, bahkan ketika yang sedang dibicarakan sebenarnya adalah kekuasaan, industri, dan sejarah yang cukup berat.
Saya juga cukup menikmati keberadaan Asisten Meneer, sebagai tangan kanan yang terus hadir mendampingi, menjalankan berbagai kepentingan sang Meneer, sekaligus menjadi bagian dari cara kekuasaan itu bekerja di atas panggung. Ketika keduanya bernyanyi dan bermain, terasa bahwa mereka sudah cukup matang membawa karakter: tidak sekadar mengucapkan dialog, tetapi memahami bagaimana tubuh dan suara harus bekerja untuk membentuk sosok yang mereka mainkan. Di situlah saya menemukan sesuatu yang khas dari Teater Keset mereka tidak berusaha menjadi teater lain; mereka tetap membawa “Keset”-nya sendiri, dengan humor, kelucuan, gestur, dan cara bermain yang membuat tokoh-tokohnya terasa hidup.
Jika dalam tulisan-tulisan sebelumnya saya banyak berbicara tentang kekuasaan sebagai struktur yang bekerja di balik perjalanan Nitisemito, maka di panggung ini saya justru melihat kekuasaan itu memperoleh tubuh: Meneer hadir sebagai wajahnya, sementara Asisten Meneer menjadi tangan yang menjalankannya. Keduanya membuat bagian pertunjukan ini terasa ringan sekaligus menyimpan lapisan yang menarik untuk dibaca lebih jauh. Mereka serasi saat bernyayi dan berdialog.
Pada akhirnya, setelah melihat keseluruhan pertunjukan aktor, penari, hingga para pemusik, saya harus mengatakan bahwa bagian yang paling menarik perhatian saya justru masih berada pada Meneer dan Asisten Meneer. Bukan berarti bagian lain tidak bekerja, tetapi dua tokoh inilah yang bagi saya paling berhasil meninggalkan kesan, baik melalui permainan karakter, kematangan bernyanyi, maupun cara mereka membangun relasi kuasa di atas panggung. Dari sana saya kemudian membayangkan kemungkinan lain: bagaimana jika Paijan, Jessy, dan Cipo juga hadir dalam pementasan ini? Mereka, dengan pengalaman sebagai aktor dan kemampuan bermain yang saya kenal, mungkin dapat menghadirkan lapisan permainan yang berbeda entah sebagai penguat karakter, penyeimbang ritme, maupun pemberi warna pada bagian-bagian yang terasa belum sepenuhnya menemukan daya gedornya.
Mungkin ini hanya bayangan seorang penonton yang kebetulan juga datang dengan membawa arsip dan tulisan-tulisan sebelumnya tentang Nitisemito. Tetapi justru di situlah menariknya sebuah pertunjukan: ia tidak pernah benar-benar selesai ketika tepuk tangan berakhir. Ada bagian yang kita bawa pulang, ada karakter yang tinggal lebih lama dalam ingatan, dan ada kemungkinan-kemungkinan yang kemudian muncul setelah panggung ditutup.
Jika sebelumnya saya menulis Nitisemito sebagai dramaturgi sejarah, sebagai manusia yang berhadapan dengan “monster tak terlihat”, lalu mempertanyakan batas antara sejarah dan seni, maka pementasan ini menjadi bab berikutnya dari percakapan tersebut. Saya menikmati bagian-bagian yang menurut saya berhasil, mencatat bagian yang masih menyisakan pertanyaan, dan membayangkan apa yang mungkin terjadi jika energi para pemain dipertemukan dengan komposisi yang berbeda. Barangkali begitulah cara seorang pengarsip bekerja: bukan hanya menyimpan apa yang telah terjadi, tetapi juga mencatat kemungkinan tentang apa yang seharusnya bisa terjadi.
Semoga bermanfaat.(*)
Pertunjukan "Nitisemito, De Kretek Koning" yang dimainkan di Taman Budaya Kudus (29/8). Dok: IST.






--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, penonton pertunjukan dan kebetulan sebagai pengarsip di Pojok Kliping, dan aktif di Cerita Kudus Tuwa.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






