"Nyanyian Pesisir", Visi Sang Penyair

BUKU

INIIBUBUDI sangat bersyukur telah dilibatkan dalam penerbitan buku “Nyanyian Pesisir” Kumpulan Puisi Aloeth Pathi ini. Sebuah buku yang memuat puisi-puisi seorang penyair dari pesisir, Pati, secara lengkap semasa kepenyairannya. Kita memerlukan sebuah buku kumpulan puisi yang memuat selengkap mungkin karya-karya puisi dari seorang penyair. Oleh karena dengan demikian kita akan memiliki gambaran yang juga semakin lengkap bagaimana visi, gagasan dan perjuangan nilai dari seorang seniman melalui karyanya (puisi).

Aloeth Pathi sudah mulai menulis puisi semenjak remaja, dan terus menulis puisi hingga akhir. Puisi-puisi yang ditulisnya pun bertema banyak hal, tentang dunia anak-anak hingga persoalan sosial politik, kepeduliannya kepada nilai-nilai tradisi yang dipelihara orang-orang kecil dan terpinggir. Dia menulis tentang kota kelahirannya, juga gagahnya seseorang yang memiliki cinta dan mampu mencintai.

Namun sangat jarang ia menulis tentang dirinya yang lebih menyukai sunyi di tengah keramaian. Baginya ini adalah sebuah prinsip yang meneguhkan nilai. Merealisasikan gagasan-gagasan ke dalam aksi-aksi nyata, namun tidak kemudian menempatkan dirinya menjadi pusat perhatian. Aloeth Pathi memilih bersijingkat menepi, dan menyaksikan peristiwa-peristiwa kesastraan dan kesenian berlangsung dengan baik. Dia menepi, di sudut sunyi bersama secangkir kopi hitam dan kretek, membaca keadaan, mempertimbangkan sejarah, dan berbicara hal lain lagi bersama sahabat karibnya.

Lihat saja jejak aktivitasnya untuk menggerakkan kegiatan sastra dan kesenian pada umumnya di kampung kelahirannya di Sekarjalak, menjadi peristiwa-peristiwa sederhana namun penuh kesan. Aloeth Pathi sepertinya lebih memilih untuk menjadi teman daripada seorang penyair di depan teman-teman. Dan oleh karena sikapnya itulah, Aloeth Pathi selalu bisa diterima oleh semua teman-temannya. Ia tidak hanya baik, juga menjadi medan magnet (perekat, membawa orang mendekat) yang membuat seseorang merasa nyaman untuk berkumpul dan berekspresi dengan bebas. Tak tergantikan sampai kapan jua bagi teman-teman. Teman-temannya tidak rela ia sakit. Teman-temannya tidak tega ia berjalan sendirian. Teman-temannya menyayanginya, sebagai spirit dalam setiap peristiwa kesastraan dan kesenian di Pati.

Aloeth Pathi memiliki visi kesenimanan yang otentik dan kuat mengajak orang untuk memiliki kerinduan. Dia adalah penyair yang menuliskan puisi-puisinya selembut simponi namun apabila kita masuk lebih dalam, larik-larik itu terdengar lebih kuat dari angin pesisir. Rindu untuk kembali ke rumah. Rindu untuk pergi ke medan juang. Rindu untuk hidup yang harus berubah; menjadi lebih baik.

Dalam beberapa kegiatan sastra, Aloeth Pathi bersama Arif Khilwa -karibnya- dan beberapa penyair lainnya, bekerjasama dengan Iniibubudi berkeliling ke sekolah-sekolah yang ada di wilayah Muria. Mereka menyebutnya penyair Lereng Muria, dengan menerbitkan kumpulan puisi bersama yang berjudul “Sajak-sajak Lereng Muria”. Juga dalam beberapa kegiatan lainnya. Aloeth Pathi hadir dengan sosoknya yang sederhana, membacakan puisi-puisinya. Ia juga aktif dalam forum Buku Puisi Anti Korupsi yang digagas Sosiawan Leak, hadir di berbagai kota besar di Jawa. Dan masih banyak lagi peristiwa sastra di luar Pati yang diikuti. Sementara Sekarjalak, tetap setia dan konsisten menunggunya, memberinya banyak inspirasi untuknya, menuliskan karya-karya puisi dan gagasan-gagasan kesenian.

***

Demikianlah secuil kecil Aloeth Pathi, dari sekian banyak apa yang telah diberikannya kepada dunia sastra dan seni, terutama di Pati. Saya datang menemuinya, dan saya kemudian baru menyadari sesudahnya, bahwa saat itu merupakan pertemuan kami yang terakhir. “Aku tidak sakit. Sebentar lagi juga akan beraktivitas seperti sediakala,” ucapnya.

Dan buku kumpulan puisi ini, dapat mengingatkan kembali tentang karya-karya puisi Aloeth Pathi, karena kami semua mencintai. Puisi-puisi yang memberi banyak pelajaran dan makna berharga bagi kami semua. Maka, “di Sana tetaplah menulis puisi, karena dirimu tetap menjadi inspirasi”. Saya ingin menutup prakata ini dengan mengutip dua larik puisi “Kulempar Batu di Tengah Samudra”:

kulempar batu kecil di tengah samudra

kulempar rinduku di tengah samudra

Salam,
Iniibubudi, Penerbit

Judul: Nyanyian Pesisir
Penulis: Aloeth Pathi
Kata Pengantar: Sosiawan Leak

Editor: Haikal Aslikh Rosyada dan Arif Khilwa
Tebal Hal: xxiii + 194 Hal
Cetakan Pertama:
Agustus 2026
Penerbit: Iniibubudi
ISBN:
978-©©©-©©©©-©-©

"Nyanyian Pesisir", Visi Sang Penyair

INIIBUBUDI
Sejak 17 Februari 2016

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

© 2026 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang