"Nyanyian Pesisir" Aloeth Pathi Diluncurkan

BERITA

Oleh: Iniibubudi

DI halaman rumah Gandrung Sastra, Desa Sekarjalak, Kecamatan Margoyoso, Pati, kata-kata yang pernah ditulis sang penyair seolah kembali hidup. Kali ini bukan dari suara Aloeth Pati, melainkan dari sahabat-sahabat yang datang membawa doa, kenangan, musik, dan puisi. Seratus hari setelah kepergian Aloeth Pati, Gandrung Sastra menggelar doa bersama sekaligus meluncurkan buku kumpulan puisi karya almarhum berjudul Nyanyian Pesisir pada Sabtu (13/9) malam.

Rumah yang selama ini menjadi ruang perjumpaan para pegiat seni itu berubah menjadi ruang untuk mengenang seorang penyair yang telah menjadi bagian dari perjalanan sastra Pati. Keluarga, sahabat, penyair, seniman, dan komunitas sastra dari berbagai daerah datang. Mereka tidak sekadar berkumpul untuk mengingat seseorang yang telah tiada. Mereka juga membawa pulang kembali sebagian dari jejak Aloeth yang terserak dalam ratusan puisinya.

Malam itu dibuka dengan doa dan tahlil yang dipimpin M. A’an Wahid Masyhuri atau Gus A’an. Penyair sekaligus pengasuh pondok pesantren di Sedan, Rembang, yang juga merupakan sahabat almarhum, memimpin doa untuk Aloeth. Usai tahlil, sambutan disampaikan perwakilan keluarga, Kepala Desa Sekarjalak, dan Ketua Gandrung Sastra Pati. Suasana kemudian berubah ketika sebuah buku dihadirkan ke tengah acara.

Buku yang diterbitkan Iniibubudi, Kudus, itu diluncurkan langsung oleh Asa Jatmiko dengan simbolis penyerahan kepada keluarga Aloeth. Sebanyak 194 puisi Aloeth dihimpun dalam buku itu. Karya-karya tersebut ditemukan dari berbagai sumber, mulai dari file pribadi yang tersimpan di flashdisk hingga puisi-puisi yang pernah diterbitkan dalam sejumlah buku antologi.

Namun, 194 puisi itu ternyata belum seluruhnya. Masih ada kemungkinan banyak karya Aloeth yang belum ditemukan dan terdokumentasikan. Mengingat karya almarhum begitu banyak bahkan diperkirakan hingga seribu karya sastra. Jumlah itu seperti menunjukkan betapa panjang perjalanan kreatif seorang Aloeth Pathi.

Puisi-puisinya tidak hanya menjadi catatan tentang apa yang pernah dilihat dan dirasakan, tetapi juga menjadi bagian dari ingatan sebuah generasi kesenian di Pati dan sekitarnya. Malam semakin hidup ketika para penyair

bergantian membacakan puisi. Bontot Sukandar dari Tegal, Ani Faiqoh dan Slamet Priyatin dari Kendal, Gus A’an dari Rembang, serta Rama Dinta, Den Hasan, Bayu Andara, dan Nur Qomar Samsara dari Jepara hadir membawa suara mereka. Dari Kudus, Asa Jatmiko, Bambang, dan Nong Bonham turut membacakan karya.

Puisi kemudian bersanding dengan musik dan pertunjukan seni. Krocong Sholawat dari Lesbumi, Teater Minatani, Sedulur Pucakwangi, hingga GaGeGo Musik Kampung dari Gabus ikut mengisi malam penghormatan tersebut.

Ada pula sebuah kenangan yang datang dalam bentuk berbeda. Farid Kumbara menyerahkan sebuah lukisan kepada keluarga Aloeth. Lukisan itu dibuatnya sendiri. Farid mengatakan, sekitar enam tahun lalu dirinya pernah menjadi murid sang penyair. Bagi orang-orang yang hadir malam itu, Aloeth tidak berhenti pada sosok yang dikenang karena kepergiannya. Ia justru hadir melalui karya dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.

“Acara ini memang khusus digagas oleh teman-teman Gandrung Sastra untuk mengajak semua teman-teman almarhum berdoa bersama dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya Aloeth,” tuturnya. Aloeth Pathi bukan sekadar penyair bagi Gandrung Sastra. Ia merupakan bagian dari perjalanan komunitas tersebut. Karena itu, menerbitkan Nyanyian Pesisir bukan hanya perkara menghadirkan sebuah buku, melainkan juga usaha menyelamatkan ingatan agar tidak hilang bersama waktu.

Proses penerbitan buku tersebut melibatkan sejumlah sahabat dan keluarga. Iniibubudi Kudus menerbitkannya, sementara kata pengantar ditulis Sosiawan Leak. Penyuntingan dilakukan Arif Khilwa dan Haikal. Lukisan sampul dibuat D.O.M. Fatoni, cucu dari kakak almarhum. Adapun tata letak dan desain sampul dikerjakan Ocheng Pati. Arif berharap Nyanyian Pesisir tidak hanya menjadi arsip bagi keluarga dan sahabat.

Lebih dari itu, buku tersebut diharapkan menjadi jalan bagi generasi berikutnya untuk mengenal pemikiran dan perjalanan kepenyairan Aloeth Pathi. Sebab kehilangan memang membuat seseorang tidak lagi dapat ditemui secara fisik. Tetapi bagi seorang penyair, kata-kata sering kali memiliki umur yang lebih panjang daripada tubuhnya. Dan malam itu, di Rumah Gandrung Sastra, Aloeth kembali hadir melalui kata-kata yang pernah ditulisnya.

“Bagi kami, kehilangan memang tidak pernah mudah. Namun, kami percaya mengenang adalah cara paling indah untuk menjaga sosok Aloeth tetap hidup. Aloeth tidak hanya salah satu pendiri Gandrung Sastra, tetapi juga bapak dan guru bagi kita semua,” pungkas Arif.(*)

Sekarjalak, Margoyoso, 12 September 2026
"Nyanyian Pesisir" Aloeth Pathi Diluncurkan
Oleh. Iniibubudi

--------------------------
ASA JATMIKO
Pimpinan Penerbit Iniibubudi.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: