O We Yaa, Hauya, Heyaa: Ratapan Pesisir untuk Aloeth Pathi

OBITUARI

Oleh: Imam Khanafi

5/25/2026

O we yaa… hauya… heyaa…

BARANGKALI begitulah suara pertama yang layak dilepaskan untuk kepergian Aloeth Pathi. Bukan suara pidato panjang, bukan pula ratapan megah dari pusat kebudayaan, melainkan bunyi lirih yang menyerupai nyanyian nelayan ketika pagi masih basah oleh angin laut. Sebuah mantra pesisir yang dahulu ia tulis sendiri dalam puisinya, kini terdengar seperti tembang pelepasan. Suara itu datang dari gladak kapal, dari jaring yang ditebar ke laut, dari kopi pahit dan ketela rebus yang mengepul di antara tubuh-tubuh pekerja pesisir. Kini suara itu berubah menjadi nyanyian duka.

O we yaa… hauya… heyaa…

Pagi ini, kabar itu berseliweran pelan namun menghantam banyak ingatan: Aloeth Pathi telah pergi. Seorang penyair dari pesisir utara Jawa, penghuni Jendela Kopi, pengelola Gandrung Sastra Pati, dan seseorang yang selama hidupnya tampak memilih jalan sunyi sastra. Kepergian seorang penyair selalu terasa berbeda, sebab yang hilang bukan hanya tubuh, melainkan juga cara memandang dunia. Puisi-puisinya akan tetap tinggal, tetapi suara yang selama ini meniupkan napas ke dalam kata-kata itu kini telah diam.

Saya sendiri tidak terlalu dekat dengannya. Kami jarang berkomunikasi dan hanya beberapa kali bertemu dalam perlintasan kecil dunia sastra pantura. Namun justru dari jarak itulah, saya merasa mengenal Aloeth sebagai sosok yang tekun menjaga nyala sastra dari pinggir. Ia bukan penyair yang hidup dari sorot besar pusat kebudayaan. Ia tumbuh dari ruang-ruang sederhana: warung kopi, obrolan malam, diskusi kecil, dan pertemuan komunitas yang mungkin tak pernah dicatat sejarah resmi. Di tempat-tempat seperti itulah sastra sering kali justru bertahan paling lama. Aloeth tampaknya memahami bahwa puisi bukan semata karya estetika, tetapi cara menjaga keberadaan manusia kecil agar tidak hilang dari dunia. Dalam banyak hal, ia tampak seperti penyair yang tidak sibuk membangun nama, melainkan membangun ruang.

Kontak terakhir saya dengannya terjadi pada 4 Januari. Saat itu ia membuat story WhatsApp tentang puisinya yang termuat dalam salah satu antologi. Saya hanya sempat mengirim pesan singkat dan mengucapkan selamat. Percakapan pendek itu kini terasa seperti fragmen kecil yang mendadak menjadi penting setelah kematian datang. Kadang manusia tidak sadar bahwa sapaan biasa dapat berubah menjadi perjumpaan terakhir. Dalam pengalaman antropologi keseharian, momen-momen kecil seperti ini justru menjadi arsip emosional yang paling kuat. Ia hidup dalam ingatan bukan karena besar, tetapi karena tak sempat diulang kembali.

Kenangan terakhir yang benar-benar tertinggal adalah ketika Aloeth mengirim dua puisi untuk acara Tadarus Puisi pada 19 Maret 2025. Dua puisi itu berjudul “Anak Pesisir” dan “Nyanyian Pesisir”. Dari dua teks sederhana itu, saya merasa dapat membaca cara Aloeth memandang kehidupan. Ia tidak menulis kota besar, gedung tinggi, atau percintaan urban. Ia menulis laut, nelayan, limbah, anak kecil, dermaga, jala, dan ombak. Dunia puisinya adalah dunia masyarakat pesisir yang hidup di antara harapan dan ancaman. Di sanalah puisi menjadi kesaksian sosial sekaligus doa.

Dalam “Nyanyian Pesisir”, repetisi “o we yaa... hauya...heyaa” terdengar seperti nyanyian kerja kolektif nelayan. Tetapi hari ini, setelah kematiannya, bunyi itu terasa berubah. Ia menjadi semacam kidung pelepasan dari pantura. Seolah para nelayan sedang melepas salah satu penyair mereka kembali menuju laut yang selama ini ia tulis. Dalam tradisi masyarakat maritim, laut bukan hanya ruang mencari nafkah, melainkan juga ruang pulang. Semua yang datang dari laut pada akhirnya akan kembali kepada laut.

Puisi pertama berbunyi demikian.

ANAK PESISIR

Nenek moyangku pelaut berlabuh arungi samudra
laut adalah sahabat nelayan yang mesti dijaga
jangan sampai melanggar pantangan dewi laut
lihatlah !!
Banyak kapal serakah tenggelam karna angkara murka
Begitu si bapak bercerita pada anak semata wayang
Pesisir tercemari sampah menumpuk berbau busuk
Satwa laut mati keracunan kimia plastik mematikan
jangan sampai merusak ekosistem pantai
Lihatlah!!!
Banyak penyakit akibat pembuangan limbah pabrik
Begitu media kubaca hari ini
Seorang anak kecil memanggul keranjang
Kumpulkan sisa muatan kapal bersandar
menunggu musim panen ikan di ujung dermaga
lihatlah !!
Ketika ombak besar bergulung ketepian
ia selalu berteriak ‘Bapak..bapak pulanglah’

Juana, 22 November 2021

Sedangkan puisi kedua berbunyi demikian.

NYANYIAN PESISIR

o we yaa... hauya...heyaa
Pagi ku duduk di gladak kapal
secangkir kopi dan sepiring ketela rebus
membersihkan tiang pancang kapal
menggelar jaring kehidupan
memekarkan jala nasib
para nelayan berangkat mencari ikan
o we yaa... hauya...heyaa
siang ku membentang angkasa
menyebar luas bahari
Kulihat merah putih berkibar di atas perahu
dengar gemuruh ombak menderu
lautan bersenandung puja puji
melimpahlah kekayaan negeri
O we yaa. hauya.heyaa
meloncat loncat ikan dijala nelayan
anak anak bersorak melambaikan tangan
o we yaa... hauya..heyaa
bergembira panen tlah tiba
hasil tangkapan melimpah

Jepara, 15 Oktober 2020

Dua puisi ini memperlihatkan kecenderungan kuat Aloeth sebagai penyair sosial-pesisir. Ia tidak menempatkan laut sekadar latar geografis, melainkan ruang kebudayaan. Dalam antropologi maritim, laut dipahami bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang spiritual, ruang mitologi, dan ruang identitas kolektif. Ketika Aloeth menulis “laut adalah sahabat nelayan yang mesti dijaga”, ia sebenarnya sedang mengucapkan etika ekologis masyarakat pesisir. Laut bukan benda mati yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Laut adalah partner hidup yang memiliki kehendak simbolik.

Penyebutan “pantangan dewi laut” menarik dibaca melalui pendekatan antropologi simbolik Clifford Geertz. Dalam masyarakat Jawa pesisir, mitos bukan sekadar tahayul, melainkan mekanisme budaya untuk menjaga keseimbangan relasi manusia dengan alam. Dewi laut menjadi simbol moral yang mengatur perilaku manusia terhadap samudra. Ketika manusia serakah, kapal akan tenggelam “karna angkara murka”. Kalimat ini bukan sekadar metafora religius. Ia adalah kritik ekologis terhadap kapitalisme laut yang merusak keseimbangan hidup masyarakat pesisir.

Aloeth tampaknya sadar bahwa modernitas telah mengubah laut menjadi ruang perebutan modal. Dalam bait tentang limbah pabrik, ia memperlihatkan wajah lain pembangunan. Pesisir tercemar, satwa laut mati, dan penyakit menyebar akibat sampah industri. Di sini puisi berubah menjadi dokumen sosial. Ia mencatat penderitaan yang sering kali tidak masuk laporan resmi pembangunan. Puisi Aloeth bekerja seperti arsip penderitaan masyarakat kecil.

Jika memakai pendekatan ekokritik sastra, “Anak Pesisir” merupakan puisi yang menempatkan krisis lingkungan sebagai inti narasi. Ekokritik melihat bagaimana sastra membangun relasi manusia dan alam. Dalam puisi ini, alam bukan objek pasif. Laut menjadi ruang yang terluka akibat kerakusan manusia. Bahkan anak kecil di ujung puisi tampil sebagai korban ekologis yang paling rapuh. Ia menunggu bapaknya pulang di tengah ancaman ombak dan ketidakpastian hidup nelayan.

Adegan anak kecil memanggul keranjang adalah gambaran antropologis yang sangat kuat. Anak pesisir sejak kecil sudah akrab dengan kerja dan risiko hidup laut. Mereka tumbuh bukan melalui masa kanak-kanak yang romantis, melainkan melalui kerja kolektif keluarga nelayan. Dalam antropologi ekonomi, kondisi ini menunjukkan bagaimana kemiskinan diwariskan melalui struktur sosial pesisir. Anak-anak belajar bertahan hidup bahkan sebelum memahami dunia sepenuhnya. Aloeth menangkap itu dengan bahasa yang sederhana namun tajam.

Seruan “Bapak..bapak pulanglah” menjadi klimaks emosional puisi tersebut. Laut di sini bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ancaman kehilangan. Setiap nelayan yang berangkat melaut membawa kemungkinan tidak kembali. Dalam masyarakat pesisir, kecemasan terhadap laut menjadi bagian dari ritus kehidupan sehari-hari. Karena itu banyak tradisi sedekah laut, larung sesaji, atau ritual tolak bala berkembang di wilayah pantura. Aloeth tampaknya memahami betul dimensi batin masyarakat semacam ini.

Sementara itu, “Nyanyian Pesisir” menghadirkan wajah laut yang berbeda. Jika “Anak Pesisir” penuh kecemasan ekologis, maka “Nyanyian Pesisir” adalah puisi perayaan hidup. Repetisi “o we yaa... hauya...heyaa” menyerupai mantra kerja kolektif nelayan. Dalam antropologi musik dan folklor, bunyi repetitif seperti itu biasanya muncul sebagai ritme kerja komunitas. Ia menjaga semangat, solidaritas, dan ritme tubuh saat bekerja bersama. Aloeth memasukkan unsur oralitas ini ke dalam puisi modern. Kini, setelah kematiannya, repetisi itu terasa seperti gema yang terus dipantulkan ombak: nyanyian yang tetap hidup meski penyairnya telah tiada.

Kehadiran kopi dan ketela rebus memperlihatkan detail keseharian masyarakat pesisir. Benda-benda kecil ini penting dalam pendekatan antropologi material. Kehidupan manusia sering kali justru terbaca dari objek sederhana yang menemani aktivitas sehari-hari. Ketela rebus bukan hanya makanan, tetapi penanda kelas sosial masyarakat pekerja. Kopi bukan hanya minuman, tetapi ruang percakapan dan solidaritas. Aloeth menulisnya tanpa pretensi besar, sehingga terasa sangat hidup.

“Memekarkan jala nasib” adalah metafora yang indah sekaligus getir. Nelayan selalu hidup dalam ketidakpastian. Jala yang ditebar bukan hanya untuk menangkap ikan, tetapi juga menebar harapan hidup. Dalam filsafat eksistensial, manusia selalu hidup dalam ketidakpastian nasib. Nelayan pesisir memahami hal itu secara konkret setiap hari. Mereka berangkat melaut tanpa jaminan hasil.

Ketika Aloeth menulis “merah putih berkibar di atas perahu”, ia sedang menunjukkan nasionalisme dari pinggir. Negara sering hadir dalam simbol, tetapi absen dalam perlindungan nyata bagi nelayan kecil. Laut Indonesia kaya, tetapi masyarakat pesisir justru sering hidup miskin. Kontradiksi ini terasa dalam banyak wilayah pantura Jawa. Puisi Aloeth seolah ingin mengatakan bahwa negeri ini berdiri di atas kerja orang-orang kecil yang jarang dipuji. Mereka menjaga laut, tetapi sering dilupakan.

Dari sisi struktur bahasa, puisi Aloeth tidak rumit. Ia memakai diksi yang langsung dan komunikatif. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat puisinya terasa jujur. Dalam teori sastra realisme sosial, bahasa sederhana sering digunakan untuk mendekatkan teks kepada pengalaman rakyat biasa. Aloeth tampaknya tidak tertarik menjadi penyair yang gelap dan elitis. Ia memilih menjadi penyair yang dapat dipahami masyarakatnya sendiri.

Pilihan tema pesisir juga memperlihatkan kedekatan Aloeth dengan ruang hidup pantura. Pati, Juana, dan Jepara bukan sekadar lokasi geografis. Kawasan ini sejak lama membentuk kebudayaan maritim Jawa. Tradisi perdagangan, pelayaran, hingga migrasi tumbuh dari wilayah pesisir utara ini. Dalam sejarah panjang Jawa, pantura adalah ruang pertemuan berbagai budaya. Aloeth lahir dari ruang silang budaya tersebut.

Sebagai pengelola Gandrung Sastra Pati, Aloeth tampaknya memahami sastra sebagai praktik kolektif. Ia bukan hanya menulis puisi untuk dirinya sendiri. Ia juga merawat ruang bagi orang lain untuk menulis, membaca, dan bertemu. Dalam antropologi komunitas, tindakan semacam ini penting karena kebudayaan tidak hidup sendirian. Kebudayaan bertahan karena ada orang-orang yang menjaga ruang perjumpaan. Gandrung Sastra menjadi salah satu bentuk penjagaan itu.

Jendela Kopi yang sering disebut sebagai ruang berkumpulnya juga penting dibaca secara kultural. Di banyak kota kecil Jawa, warung kopi menjadi ruang intelektual alternatif. Diskusi sastra, politik, musik, hingga keresahan hidup sering tumbuh dari meja-meja sederhana semacam itu. Di tempat seperti itulah penyair lahir tanpa panggung besar. Aloeth tampaknya menjadi bagian dari tradisi kebudayaan warung kopi tersebut. Ia hidup bersama percakapan-percakapan kecil yang diam-diam membentuk ingatan kota.

Sebagai arsipolog, saya melihat puisi Aloeth sebagai bentuk arsip hidup masyarakat pesisir. Arsip bukan hanya dokumen resmi negara. Arsip juga dapat berupa puisi, lagu rakyat, cerita lisan, atau percakapan sehari-hari. Dalam puisi Aloeth, kita menemukan jejak kehidupan nelayan, krisis lingkungan, makanan rakyat, dan kecemasan keluarga pesisir. Semua itu mungkin hilang jika tidak dicatat sastra. Karena itu puisi menjadi bentuk penyelamatan ingatan.

Jacques Derrida pernah mengatakan bahwa arsip selalu berkaitan dengan hasrat melawan kepunahan. Saya merasa Aloeth melakukan itu melalui puisinya. Ia mencatat apa yang mungkin dianggap kecil oleh dunia besar. Anak kecil di dermaga, kapal nelayan, ketela rebus, limbah pabrik, semua masuk ke dalam puisinya. Ia seolah ingin mengatakan bahwa kehidupan orang kecil juga layak diabadikan. Sastra baginya adalah cara melawan lupa.

Kepergian Aloeth juga mengingatkan bahwa banyak pekerja kebudayaan di daerah hidup tanpa sorotan besar. Mereka menghidupi sastra dengan tenaga sendiri. Mereka membuat komunitas, menerbitkan antologi, mengadakan acara baca puisi, dan menjaga ruang diskusi. Semua dilakukan dengan keterbatasan ekonomi dan fasilitas. Namun justru dari keterbatasan itulah lahir ketulusan kebudayaan. Aloeth tampaknya menjalani jalan itu sampai akhir hidupnya.

Martin Heidegger menyebut manusia sejati adalah manusia yang “mengada” bersama dunianya. Aloeth mengada bersama pesisirnya. Ia tidak tercerabut dari ruang sosial tempat ia tumbuh. Puisinya lahir dari pengalaman konkret masyarakat pantura. Karena itu puisinya terasa membumi. Ia tidak melayang sebagai abstraksi kosong.

Ada kesedihan tertentu ketika penyair daerah meninggal. Kematian mereka sering sunyi dan cepat berlalu dari perhatian publik. Padahal mereka adalah penjaga denyut kebudayaan lokal. Mereka menyimpan bahasa, ingatan, dan pengalaman kolektif masyarakatnya. Kehilangan mereka berarti hilangnya satu cara membaca dunia. Aloeth kini menjadi bagian dari kehilangan semacam itu.

Namun puisi memiliki cara aneh untuk melawan kematian. Tubuh penyair memang berhenti, tetapi kata-kata terus berjalan. Suara “o we yaa... hauya...heyaa” mungkin akan tetap terdengar di kepala orang-orang yang pernah membaca puisinya. Anak kecil di dermaga akan terus memanggil bapaknya pulang. Laut dalam puisinya akan tetap bergelombang. Sastra membuat manusia tetap hadir setelah tubuhnya tiada.

Saya membayangkan Aloeth sebagai penyair yang tidak sibuk mengejar pusat. Ia memilih tinggal di ruang pinggir bersama komunitas kecilnya. Dalam sejarah sastra Indonesia, justru banyak energi penting lahir dari pinggiran seperti itu. Kota kecil melahirkan penyair yang menjaga kejujuran pengalaman hidup. Mereka tidak selalu terkenal, tetapi karya mereka menyimpan napas zaman. Aloeth termasuk dalam jejak panjang itu.

Kematian sering membuat kita membaca ulang orang-orang yang sebelumnya terasa jauh. Namun mungkin memang demikian cara hidup bekerja. Tidak semua hubungan harus panjang untuk meninggalkan kesan mendalam. Kadang satu pesan singkat dan dua puisi cukup untuk membuat seseorang tinggal dalam ingatan. Aloeth kini tinggal melalui puisinya.

Di tengah dunia yang semakin bising, Aloeth memilih suara rakyat kecil. Ia menulis nelayan ketika banyak orang sibuk menulis pusat kota. Ia menulis limbah pabrik ketika banyak orang sibuk memuja pembangunan. Ia menulis anak pesisir ketika banyak orang melupakan mereka. Pilihan semacam ini menunjukkan keberpihakan moral seorang penyair. Sastra baginya adalah ruang empati.

Puisi-puisi Aloeth juga menunjukkan bahwa kebudayaan pesisir tidak pernah benar-benar miskin. Mereka kaya simbol, ritme, cerita, dan solidaritas sosial. Laut mengajarkan kerja kolektif dan keberanian menghadapi ketidakpastian. Kehidupan pesisir melahirkan manusia-manusia tangguh yang akrab dengan kehilangan. Aloeth menangkap semua itu melalui puisi yang sederhana. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya.

Kini ia telah pergi. Tetapi laut yang ditulisnya masih ada. Ombak yang dipuisikannya masih bergerak ke tepian. Anak-anak pesisir masih memanggul keranjang di dermaga. Nelayan masih menebar jala nasib setiap pagi. Dan orang-orang akan terus membaca puisinya sebagai bagian dari ingatan pantura.

Mungkin itu yang paling penting dari seorang penyair. Bukan seberapa terkenal namanya, melainkan seberapa lama ia tinggal dalam kehidupan orang lain. Aloeth mungkin telah tiada secara fisik, tetapi puisinya telah menjadi bagian dari arsip batin banyak orang. Ia kini hidup dalam kalimat-kalimat yang pernah ia tulis sendiri. Kata-kata itu akan terus bergerak dari satu pembaca ke pembaca lain. Seperti laut, puisi tidak pernah benar-benar berhenti bergelombang.

Aloeth adalah suara yang tekun menyala di ruang ruang sunyi. Dari Margoyoso hingga forum forum kecil sastra, ia hadir sebagai penyair yang percaya bahwa puisi tidak harus hidup di gedung megah untuk tetap bermakna. Puisinya lahir dari keseharian yang sederhana, dari jalan kampung, kopi, obrolan malam, dan keresahan sosial yang dekat dengan hidup rakyat biasa. Kini, setelah kabar kepergiannya berseliweran pelan pagi ini, banyak orang seperti mendadak kehilangan satu ruang teduh untuk mendengar kehidupan berbicara lewat puisi.

Sebagai penyair, Aloeth Pathi tidak menempatkan dirinya di menara tinggi kesusastraan. Ia lebih sering berjalan di jalur jalur kecil: membaca puisi di forum sederhana, terlibat dalam komunitas, dan menjaga percakapan sastra tetap hidup di daerah. Dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan dari popularitas dan sorotan media, ia memilih bertahan sebagai pekerja sunyi kebudayaan. Ia menulis puisi reflektif, kritik sosial, sekaligus puisi keseharian yang terasa dekat dengan denyut hidup masyarakat pesisir. Kesederhanaan itulah yang justru membuat namanya melekat di ingatan banyak kawan sastra.

Rumah dan lingkungannya di Margoyoso bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang singgah bagi percakapan sastra dan kesenian. Di tempat tempat kecil seperti itulah kebudayaan sebenarnya hidup: bukan di ruang yang gemerlap, melainkan di halaman rumah, di kopi yang mengepul, dan di suara pembacaan puisi yang bergantian hingga larut malam. Aloeth seperti memahami bahwa sastra bukan hanya soal teks, tetapi juga soal merawat pertemuan antarmanusia. Ia ikut menjaga nyala forum forum kecil, diskusi, musikalisasi puisi, hingga pementasan sederhana yang mungkin tidak tercatat sejarah besar, tetapi hidup di ingatan banyak orang. Kini ruang itu terasa lebih lengang karena salah satu suaranya telah pergi.

Karya karya Aloeth Pathi tersebar di banyak antologi bersama dan media sastra daring. Namanya muncul di berbagai jejak sastra seperti Puisi Menolak Korupsi, Solo Dalam Puisi, hingga Lumbung Puisi Sastrawan 2014. Namun mungkin warisan terbesarnya bukan semata daftar karya, melainkan semangat untuk terus menulis dan hadir di tengah komunitas. Ia menunjukkan bahwa sastra tidak harus menunggu pengakuan besar untuk memiliki arti. Selama masih ada orang yang membaca puisi dengan tulus dan mendengarkan manusia lewat kata kata, maka kerja kebudayaan seperti yang ia lakukan akan terus hidup.

Kepergian Aloeth juga mengingatkan bahwa banyak penyair daerah bekerja dalam kesunyian yang panjang. Mereka menjaga api kebudayaan tanpa sorotan besar, tanpa fasilitas memadai, dan sering kali tanpa penghargaan yang layak. Tetapi justru dari tangan tangan sederhana seperti merekalah ekosistem sastra tetap bertahan di kota kota kecil. Mereka merawat bahasa agar tidak kehilangan rasa kemanusiaannya. Aloeth Pathi adalah salah satu dari generasi itu: generasi yang percaya bahwa puisi masih penting untuk menjaga hati manusia tetap peka.

Hari ini, banyak orang mungkin mengenangnya lewat potongan puisi, foto pembacaan sastra, atau obrolan lama di warung kopi yang pernah dibagikan bersama. Ada yang mengingat tawanya, ada yang mengingat diskusinya, ada pula yang hanya mengingat sosoknya yang diam namun hangat di sudut forum sastra. Semua kenangan itu kini berubah menjadi semacam ratapan kecil dari pesisir utara Jawa. Seolah angin laut membawa kabar bahwa seorang penyair telah selesai berjalan, tetapi kata katanya masih tertinggal di udara. Selamat jalan, Aloeth Pathi, semoga puisimu tetap hidup di kepala dan hati orang orang yang pernah mengenalmu.

Kini bunyi itu terdengar seperti suara dayung yang perlahan menjauh ke cakrawala. Seperti nyanyian nelayan yang hilang ditelan kabut laut pagi. Aloeth Pathi telah berangkat menuju pelayaran terakhirnya. Tetapi sebagaimana ombak yang tak pernah benar-benar selesai menghantam pantai, puisinya akan terus kembali ke ingatan kita.

Selamat jalan, Aloeth Pathi. Penyair pesisir yang menjaga nyala kecil sastra dari utara Jawa. Penghuni Jendela Kopi yang setia menemani percakapan-percakapan sunyi kebudayaan. Pengelola Gandrung Sastra yang merawat ruang hidup bagi kata-kata.

O we yaa… hauya… heyaa… Semoga laut yang selama ini kau cintai menerima kepulanganmu dengan tenang. (*)

--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi, cerita anak dan pengarsip.

INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14

Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com

Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI

Mitra Kerja: