
Orkestra Parau dari Bangsal Kaca
CERPEN
Oleh: Tegsa Teguh Satriyo
9/1/2026


HAKIM KALINGGA mengetukkan palu untuk ketiga kalinya. Para terdakwa berpesta tawa. Tawa itu memadat, mengkristal menjadi jelaga berwarna keemasan yang melayang pelan, melintasi celah ventilasi gedung pengadilan. Lalu mengendap halus di atas piring berisi kenikir makan malam keluarga Pramana Lengkara.
Pramana atau lebih akrab disapa Pram, mengusap serbuk emas dari tepian piring sengnya dengan ujung telunjuk. Pada tahun 2025, Republik Huhuhaha tidak lagi membutuhkan lembaga hukum. Negeri itu hanya membutuhkan panggung pertunjukan terbuka yang memerlukan tepuk tangan membahana.
Pram lahir di tahun ketika kata keadilan resmi dihapus dari Kamus Besar Bahasa Huhuhaha dan digantikan fungsinya sebagai sinonim dari kesalahan teknis birokrasi saja. Di rumahnya yang condong ke celah drainase berbau tembaga busuk, kabar tentang slogan Generasi Emas 2045 digaungkan setiap dua puluh menit sekali melalui pengeras suara pos kelurahan. Ayahnya, seorang mantan juru ketik di Kementerian Perpajakan yang separuh paru-parunya telah diganti dengan selang plastik elastis. Ia selalu tertawa tiap kali slogan itu berkumandang dari toa. Tawa ayahnya kering, berderak seperti kerupuk remuk di dalam toples.
"Emas itu bukan untuk generasimu, Pram," ujar ayahnya malam itu, mata kaburnya menatap layar televisi langganan yang menampilkan wajah senyum Baskarabar. "Emas itu adalah warna dahak para bangsat yang kemaruk."
Baskarabar baru saja divonis bebas oleh Hakim Kalingga. Tuduhannya tidak main-main. Yaitu menguapkan anggaran pembangunan ratusan ribu sekolah dasar menjadi deretan vila pribadi di Kepulauan Bah. Di depan kamera wartawan, Baskarabar tidak menyembunyikan wajahnya. Ia tidak menggeledah saku jasnya untuk mencari saputangan peneduh rasa malu. Ia justru merapikan dasi merah jingganya, mengedipkan sebelah mata, lalu melontarkan lelucon tentang alokasi dana pakan badak yang ia sebut sebagai biaya administrasi tawa.
Hakim mengangguk anggun. Jaksa Agung tersenyum simpul. Di sudut belakang ruangan pengadilan, dua orang saksi kunci kasus tersebut, seorang auditor muda bernama Samudra Alur dan rekannya Luh Wani, sudah berubah menjadi dua patung kaca bening.
Di Republik Huhuhaha, membunuh orang jujur tidak lagi membutuhkan peluru karabiner atau racun arsenik. Sistem peradilan nasional telah melahirkan teknologi birokrasi paling efisien, yaitu mesin pengkristalan logika. Siapa pun yang berani menyerahkan lembar catatan keuangan negara yang asli akan mengalami pengerasan jaringan tubuh secara mendadak. Sel-sel mereka mengkristal dari dalam, mengubah daging, urat, dan selaput suara menjadi kaca silika cair yang membeku dalam hitungan detik.
Pram tahu betul wujud kaca itu. Sejak genap berusia tujuh belas tahun, Pram bekerja paruh waktu di bangsal pemusnahan beling. Itu merupakan sebuah fasilitas rahasia di pinggiran kota tempat tubuh-tubuh kaca orang jujur dihancurkan menjadi pasir halus. Pasir itu kemudian dicampur dengan semen standar nasional untuk membangun fondasi jalan tol atau tiang pancang monumen Generasi Emas 2045.
Pram adalah pencatat pecahan. Tugasnya menimbang bobot kaca setiap jenazah, sebelum mesin gilas besi menghancurkannya menjadi serbuk manusia. Tentu ini pekerjaan yang sungguh istimewa.
Hari itu, truk pendingin dari ruang pengadilan tiba membawa dua spesimen baru, Samudra Alur dan Luh Wani. Saat Pram mengangkat telapak tangan kaca Samudra Alur ke atas timbangan digital, ia melihat sesuatu yang tak lazim. Di dalam rongga dada kaca yang bening tembus pandang itu, jantung Samudra tidak berhenti. Jantung itu terus berdetak. Meski telah membeku menjadi kristal merah tua, tetapi di dalamnya, huruf-huruf latin dari Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan Negara Nomor 404 masih tercetak jelas, bergerak meliuk-liuk seperti cacing cahaya.
"Mereka tidak bisa menghapusnya, Pram," desis sebuah suara di balik bayang-bayang mesin gilas.
Pram menoleh. Nirbita Swara, seorang gadis berusia delapan belas tahun yang lehernya memiliki bekas jahitan memanjang akibat mencoba menyuarakan duka petani garam, berdiri memegang palu pemukul beling berkepala baja.
"Setiap kali mereka membunuh satu orang jujur, kacanya menjadi makin keras," kata Nirbita. "Palu ini sudah patah tiga kali hari ini."
Di luar jendela bangsal, langit sore berwarna keunguan seperti lebam pada tengkuk mayat. Dari televisi gantung yang tak pernah dimatikan di sudut ruangan, Presiden Republik Huhuhaha sedang meresmikan Prakarsa Karpet Merah 2045. Ia didampingi oleh seorang pemuda bertubuh ringkih dengan pandangan mata kosong seperti boneka kayu. Pemuda itu adalah seorang pangeran instan yang melompat ke panggung kekuasaan berkat tangan-tangan sakti dan menerabas jalan pantangan.
"Rakyat Huhuhaha yang tercinta!" suara Presiden terdengar menggema. "Jangan biarkan narasi keputusasaan mengganggu langkah kita menuju kejayaan! Kita adalah bangsa yang besar! Bangsa yang tidak akan kalah oleh omong-omong kosong!"
Di layar, Baskarabar berdiri tepat di belakang Wakil Presiden muda itu. Ia tertawa lagi. Dari mulutnyayang terbuka lebar, jelaga emas kembali menyembur keluar, membentuk awan kecil yang menutupi lensa kamera. Pram memandangi patung kaca Samudra Alur. Lalu ia memandangi Nirbita.
"Pernahkah kau berpikir mengapa mereka tak pernah takut pada hukum?" tanya Pram pelan.
"Karena hukum adalah anjing yang mereka beri makan daging segar," jawab Nirbita dingin.
"Bukan," ujar Pram. Tangannya meraba permukaan dada kaca Samudra Alur yang terasa dingin. "Mereka tidak takut karena mereka tidak lagi memiliki telinga. Mereka telah menukar pendengaran mereka dengan derak mesin pencetak uang."
Malam itu, Pram tidak memasukkan tubuh kaca Samudra Alur dan Luh Wani ke dalam corong mesin penghancur. Bersama Nirbita, ia menumbuk kaca-kaca kejujuran itu secara manual menggunakan lumpang batu peninggalan nenek moyangnya. Mereka menumbuknya bukan sekadar menjadi pasir kasar, melainkan menjadi mikro-debu yang begitu halus. Lebih halus dari spora jamur, begitu tak kasat mata hingga sanggup melayang pada kelembapan udara terendah sekalipun.
Dua hari kemudian, Perayaan Malam Puncak Menuju 2045 digelar di Gedung Agung Republik Huhuhaha. Seluruh kabinet kibul, para hakim penjual hukum, para jaksa pembuat lelucon, dan para koruptor bermuka badut berkumpul di bawah kubah kaca raksasa bertabur lampu kristal.
Pram, dengan seragam petugas pendingin ruangan yang ia curi dari bangsal pemusnahan, berdiri di ruang kendali sirkulasi udara utama gedung. Di sampingnya, dua tabung gas bertekanan tinggi berisi mikro-debu kaca kejujuran telah tersambung langsung ke saluran pendingin aula utama.
"Apakah ini akan mematikan mereka, Pram?" bisik Nirbita melalui pemancar radio saku. "Mati terlalu sederhana bagi mereka, Nir," sahut Pram. "Aku ingin memberi mereka hadiah kecil di tengah pesta." Pram memutar katup baja.
Berjuta-juta mikro-debu kaca meluncur tanpa suara, terisap oleh kipas raksasa, lalu berembus lembut memenuhi ruangan banquet yang hangat dan beraroma anggur mahal. Di bawah sana, Presiden sedang mengangkat gelas kristal. Baskarabar memegang mikrofon emas, siap menyampaikan pidato mewakili para konglomerat kelas kakap.
"Saudara-saudara!" seru Baskarabar dengan suara yang dibuat-buat berat. "Masa depan ada di tangan kita! Generasi Emas bukan lagi mimpi, melainkan," Baskarabar terhenti. Ia terbatuk kecil. Satu partikel debu kaca tak kasat mata telah tersedot masuk ke dalam pita suaranya, melekat pada membran mukosanya, lalu bereaksi dengan sisa-sisa air suwuk kepicikan yang mengalir di darahnya. Ia mencoba melanjutkan kalimatnya. Namun, suara yang keluar dari mulutnya bukan lagi suaranya sendiri.
"...melainkan perampokan atas dana bantuan anak stunting sebesar empat triliun rupiah yang saya transfer ke rekening bank Mahakaya pada tanggal 14 April!" Ruangan hening seketika. Gelas anggur di tangan Presiden terhenti di udara.
Baskarabar membelalakkan mata. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Wajahnya pucatpasi. Ia mencoba memekik meminta maaf. Namun, ketika ia membuka mulutnya kembali, yang keluar dari tenggorokannya adalah suara wanita yang melengking jernih, suara Luh Wani, saksi yang telah dibunuh menjadi patung kaca.
"Nota pembelian sepuluh hektar tanah di perbatasan ibu kota baru, disembunyikan di bawah kasur kamar nomor tiga vila pribadi Menteri Keuangan!"
Hakim Kalingga melompat dari kursinya, berteriak menyuruh pengawal mematikan mikrofon. Tetapi saat Hakim Kalingga membuka mulutnya untuk memberi perintah, tenggorokannya sendiri berguncang dahsyat. Dari mulut sang hakim, keluar suara Samudra Alur yang tenang.
"Saya menerima suap sebesar dua puluh kilogram batangan emas murni untuk membebaskan Baskarabar dari semua tuntutan pidana pencucian uang!"
Kepanikan luar biasa meledak di dalam aula. Seluruh anggota kabinet, para menteri, para jenderal, dan para pengusaha yang menghirup udara sirkulasi gedung itu mulai menjerit. Namun, semakin keras mereka mencoba menjerit untuk berkelit, semakin kencang debu kaca kejujuran beresonansi dengan pita suara mereka.
Malam itu, Gedung Agung tidak diisi oleh pidato manis atau tawa kebal hukum. Aula itu berubah menjadi paduan suara raksasa dari para pembohong yang secara otomatis membacakan seluruh rincian kejahatan. Ada nomor rekening rahasia, nama-nama korban yang mereka kubur, dan jumlah uang rakyat yang mereka lahap, dengan warna suara asli dari para korban yang telah mereka matikan.
Pram berjalan keluar dari ruangan sirkulasi udara, melintasi halaman gedung yang sepi. Di balik dindingkaca aula, ia bisa melihat para pejabat itu saling cakar, saling bekap, dan saling cekik. Tubuh-tubuh penuh luka cakar itu merangkak di lantai marmer sambil terus melontarkan pengakuan-pengakuan dosa paling kotor. Mereka tidak bisa berhenti berbicara. Kejujuran telah menjadi parasit mekanis yang menggerogoti tenggorokannya.(*)
Agustus 2026


--------------------------
TEGSA TEGUH SATRIYO
Penulis merupakan seorang pendidik yang tinggal di Semarang. Ia gemar menulis sastra dan berteater. Banyak karyanya terbukukan di berbagai antologi bersama, banyak pula yang terbit di berbagai media. Sedangkan buku karya tunggalnya meliputi Jejak Tubuh dan Laut dan Kapal yang Pernah Karam (kumpulan puisi: 2018 & 2024), Kutukan Naga Jati (kumpulan cerpen: 2025), dan Panggung dan Cermin Laku (kumpulan esai: 2026). Penulis naskah drama Klop!

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






