Parade Teater Pelajar se-Jawa Tengah: Datang dengan Tubuh dan Pikiran yang Belum Fasih

ESAI

Oleh: S. Metron Masdison

2/25/2026

Pengantar Redaksi:
Artikel ini sudah diterbitkan di
Cagak.id
--------------------------------

UNGGAHAN Instagram @kalabuku mengenai teater pelajar dan teater mahasiswa tentu tak tiba-tiba. Saya sempat bertanya, apakah karena akan ada buku baru? Ternyata tidak. 16 salindia, murni ingin mengatakan betapa pentingnya dua partisi yang sering ‘lolos’ dari tatapan sejarah. Saya berbaik sangka saja. Postingan itu pasti ada kaitannya dengan Parade Teater Terbaik (Pelajar) se-Jawa Tengah yang baru saja berlangsung 11-12 Februari 2026 lalu.

Lihat saja, dari halaman pertama provokasi dimulai. “Masa depan teater Indonesia ada di teater sekolah & teater kampus!” Di halaman selanjutnya, masa depan itu juga bicara tentang generasi, ruang tumbuh, fungsi dan tujuan. “Teater sekolah jadi ruang pertama untuk belajar …,” itu tertera di halaman 4.

Halaman berikut bicara tentang hambatan. Mulai dari birokrasi, sistemasi kelompok, dan pada intinya tidak ada ekosistem yang mendukung. Namun, sampai halaman terakhir, kiriman itu terus mendera kepala dengan ungkapan masa depan teater Indonesia terletak pada dua bagian itu; sekolah dan kampus.

Mengesampingkan kampus, acara parade teater di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah itu memantulkan apa yang ditulis unggahan pada 19 Februari itu. Cerah tidak, berawan pun tidak selalu. Hujan selalu hadir, tapi tidak mengurangi kedatangan penonton. Setidaknya, pendukung dari Teater Kelana (SMKN 3 Surakarta), Teater Bosas (SMKN 3 Jepara), Teater Emas (MAN 1 Tegal), Teater Zigot (SMAN 1 Batang), Teater Prada (SMA Batik 1 Surakarta), dan Teater Patas (SMAN 1 Bae Kudus).

Enam pertunjukan, satu sarasehan, masing-masing memegang satu cermin. Tidak hanya menampakkan wajah, tapi apa yang ada di belakang. Kadang terang, juga buram. Sebagai awal, tentu tak terperikan mesti mengemban beban ‘lepas-tangkap’ problematik Teater Indonesia yang belum terurai.

“Ini trial, Bang,“ ujar shahibul bait, Asa Jatmiko saat berbincang di depan kamar. Saya mengangguk. “Dan tentu akan banyak error, Mas.” tambah saya. Kami tertawa bersama.

Tema yang diangkat, ‘pertunjukan dan perjumpaan’, seperti memberi panorama, teater pelajar berusaha untuk tidak monokrom dalam hal pelaksanaan.

***

“Thohir,” ujarnya memperkenalkan diri. Si Mbah merupakan teman sekamar saya di Kamar VIP 8 Wisma Seni. Ia personel awal Srimulat. “Tahun 68, saya sudah menyutradarai,” katanya, “Kalau pernah nonton pertunjukan Srimulat yang ada hantunya, itu saya,” tambahnya.

Sekarang, ia berpantomim. Kemana-mana. Keliling dari satu daerah ke daerah lain. Honor berdasarkan ‘ada dan tiada’. Dikasih alhamdulillah, tidak, ya, tidak apa-apa. “Saya mau main ke Padang,” ucapnya sembari menyebut beberapa nama dosen ISI Padangpanjang. “Saya tunggu,” balas saya bersemangat.

Meski tak selalu bersama, ia selalu memberikan komentar setelah pertunjukan apabila bertemu di lobi atau kamar. Namun, kebanyakan mengenai karakter. Baginya, karakter itu penting. Apalagi bagi siswa. Tidak hanya sebagai gerbang, juga kedalaman. Ia tak banyak melihat ‘karakter’ di dalam enam pertunjukan tersebut.

Jika diurut, Teater Kelana dari SMKN 3 Surakarta membuka parade dengan “Menanti Senja”, adaptasi dari naskah “Janji Senja” karya Taofan Nalisaputra. Pertunjukan ini membawa penonton pada ruang realis yang melankolis. Seorang istri menghabiskan bertahun-tahun di ladang kering hanya untuk menanti suaminya. Mengapa Senja? Karena bagi Sang Tokoh, Senja bukanlah akhir, melainkan awal.

Siangnya, melalui lakon “Warisan Bapak” karya Reza Agnes Sindy Lorensa, Teater Bosas memotret konflik generasi. Lestari, seorang mahasiswi, dengan keras menolak meneruskan apa yang telah dibangun ayahnya. Kalimatnya tajam: “Perjuangan mengorbankan diri sendiri demi orang lain? Untuk apa buk?”. Di sini, teater menjadi ruang diskusi tentang pilihan hidup antara pengabdian keluarga dan ambisi pribadi. Bosas berhasil menampilkan dinamika emosional antara ibu dan anak yang terjebak dalam pusaran ekspektasi sosial.

Teater Emas membawakan “Kamit” karya Gusmel Riyadh dengan warna lokal yang kuat. Mengusung jargon “Gengsi Luwih Larang seka Harga Diri” (Gengsi lebih mahal dari harga diri), mereka memotret jeratan budaya ‘nyumbang’ atau kondangan di pedesaan. Suli, istri Kamit, nekat menggadaikan perabotan hingga dituduh mencuri kambing demi menjaga martabat semu di mata tetangga. Lakon ini adalah kritik sosial yang tajam namun dibalut dengan banyolan yang mengundang tawa sekaligus renungan bagi penontonnya.

Menutup hari pertama, “Daster Bolong Simak” menjadi sajian yang paling emosional dan berani dari Teater Zigot. Mereka mengeksplorasi trauma domestik: kemiskinan, ayah yang kasar, dan rentenir yang menghina. Sinar, tokoh utama, menemukan perlindungan pada daster bolong ibunya sebagai simbol kehangatan di tengah badai kekerasan. Pertunjukan ini mencapai puncaknya pada pergulatan identitas Sinar dan kerinduannya pada sosok ibu yang penuh kasih. Ini adalah bukti bahwa teater pelajar mampu menyentuh isu-isu psikologis yang dalam dan kompleks.

Berbeda dengan yang lain, Teater Prada melalui “Sebentang Cengkar untuk Diorama” karya Idham Ardi N. memilih jalan berpikir mistis. Sinopsisnya menceritakan keputusasaan sebuah kelompok teater yang belum memiliki garapan padahal festival tinggal 7 hari lagi.

Dalam kondisi terjepit, mereka bekerja sama dengan kelompok “Jelangkung Study Club” dan bertemu arwah Dewata Cengkar. Ini adalah metafora menarik tentang tekanan kompetisi di dunia pelajar yang terkadang menuntut hasil instan hingga keluar dari nalar logika.

Pertunjukan terakhir parade ada pada “Argumentasi Sisi” dari Teater Patas. Panggung menggambarkan dominasi Ibu Sastro terhadap empat anak perempuannya. Akibat perlakuan kasar mendiang suaminya di masa lalu, Ibu Sastro menjadi sangat keras dan mengekang anak-anaknya agar tidak disakiti laki-laki.

Keenam pertunjukan itu membuat saya bertanya, mana pertunjukan yang benar- benar untuk pelajar? Jawabnya cuma satu, Teater Prada, kata Mbah Thohir. Karena pada pertunjukan itulah keseluruhan problema remaja tumpah ruah dan tidak beririsan dengan masalah domestik rumah tangga. Ia juga menunjuk beberapa aktor yang dianggapnya menjalankan istilah karakter.

Apakah tidak ada sayembara atau residensi khusus usia atau tema pelajar? Saya menanyakan itu pada saat sarasehan. Sebab dari riset awal, baik di FLS2N atau FLS3N atau festival yang ada mulai dari Aceh, Sumut, Riau, Sumsel, Kalimantan, Sulawesi dan Lombok, naskah yang ditampilkan terlalu umum. Semisal pada juknis FLS3N untuk monolog atau tahun sebelumnya menjadikan naskah Iswadi Pratama sebagai acuan.

***

“Dari kemarin saya mau menyapa,” ujar Luna Kharisma, moderator sarasehan, sepuluh menit sebelum acara. Tentu saja kami pernah bertemu. Entah selintas. Sebentar, kami membincang taklimat sarasehan. Pendiri Mirat Kolektif ini meminta saya jadi pengulik ketiga setelah Widyo Babahe Laksono dan Yogi Swara Manitis Aji. Saya mengangguk. Kemudian, kami menggosip perkembangan teater mutakhir sebelum acara dimulai.

Luna meminta Babahe menjabarkan tatapannya selama dua hari parade. Bagi Babahe, nama ‘parade’ dianggap tepat karena itu mengelak dari kompetisi atau lomba. Kegiatan ini memang memberi apresiasi pada pemenang festival teater pelajar.

“Pentas di Teater Arena Solo ini, bagi seniman dulu sudah menjadi kebanggaan. Kalian mendapatkan kebanggaan itu,” katanya disambut tepuk tangan.

Babahe menekankan bahwa festival teater seharusnya menjadi wadah apresiasi dan ruang bagi pelajar untuk memahami kelompok lain. Seringkali, orientasi pada “juara” membunuh semangat kolaborasi. Ekosistem teater membutuhkan kebijakan, infrastruktur, dan jaringan yang konsisten, bukan hanya acara tahunan yang bersifat seremonial.

Seniman asal Semarang ini juga menyebut soal pemetaan dan pendataan. Dari enam penampil, mayoritas dari pantura. Bahkan beberapa finalis dari festival berada di wilayah berpantai.

“Apakah teater di pantura bermekaran?” tanyanya.

Ia bahkan mengklaim ada seratus lebih teater pelajar ikut dalam festival teater pelajar. Sebuah angka yang menggembirakan. Sekaligus secara pengorbanan tidak bisa disamakan dengan seniman dahulu. “Konteksnya berbeda,” katanya.

Beliau tidak menutup kemungkinan-kemungkinan baru dalam dramaturgi dan metode. Dan ini yang perlu diamati lebih dalam.

Yogi memulai perbincangan dengan mengajak teater pelajar agar, “Cari banyak teman, bersahabatlah dengan baik, hidupi hal yang kamu cintai dengan jujur.”

Kalimat itu juga bagian awal tulisannya yang sudah beredar di laman Facebook-nya, 3 Februari. Ia mengatakan tulisan itu dibuatnya bukan untuk gagah-gagahan tapi untuk melihat realitas.

Ia memahami sekali bahwa Teater Pelajar datang dengan tubuh yang belum fasih, pikiran yang belum mapan dan kegelisahan yang murni. Mereka kritis, bertanya terlalu banyak dan sering tak sabar. Justru disanalah teater menemukan daya hidupnya. Pada keberanian untuk tidak segera selesai.

Baginya, Teater Pelajar tak usah dikotak-kotakkan. “Ya sudah, teater pelajar memiliki artikulasi. Tak usah diremehkan,” katanya. Menariknya dalam tulisan di laman FB itu, ia memberi alarm, “Namun harus disadari di sekeliling proses itu, berdiri para pelatih dan institusi dinas, sekolah, birokrasi kebudayaan yang kerap terjebak pada cara pandang pragmatis. Teater direduksi menjadi target lomba, durasi dinilai seperti jadwal ujian, estetika disederhanakan menjadi “yang penting rapi dan menang”.

Saat diberi kesempatan, saya tentu membawa konsep Penastri (yang saya wakili), seperti tertera dalam mukadimah AD/ART perkumpulan yang berdiri sejak 2020 itu: mewujudkan ekosistem teater Indonesia.

Saya juga sudah membawa salindia tapi gagal ditayangkan. Halaman pertama, “Gagalnya Ekosistem Teater Pelajar di Indonesia”. Bagi saya, ekosistem itu utuh. Ia sudah disediakan dan jadi. Kalau dalam proses atau misalnya ekosistem bagian ini sedang tumbuh, bagi saya masih gagal.

Ekosistem ya ujung. Kalau melihat sistem kebudayaan Indonesia, setidaknya ada lima partisi yang bertindak sebagai ‘makhluk dan a-makhluk’ dalam tegak berdirinya ekosistem; kebijakan, infrastruktur, pelaku, jejaring dan habitus. Itu maksud saya tadi, jika salah satu belum ada atau lagi proses, maka yang namanya eksositem tidak ada.

“Soal pelaku misalnya, berapa honor pelatih? Yogi menyebut tadi ada guru yang sekian lama tidak dibayar. Bagus. Tapi dari pertunjukan Teater Prada, kita bisa tahu, dalam realitasnya banyak guru seni, khususnya teater, tidak dibayar dengan layak. Ini kembali menyangkut kebijakan. Berapa persen, misalnya dalam Kurikulum Merdeka, teater dibahas? Hanya satu partisi dan kecil,” ujar saya.

Selain itu, saya juga membahas ulang-alik pengetahuan. Bagi saya, apakah penyaji tahun depan bisa menaklukkan Teater Arena, tergantung pengetahuan tentang Teater Arena tersebar dari penyaji tahun ini. Hampir seluruh pertunjukan memainkan gaya prosenium. Juga, tidak adanya diskusi antarsiswa ikut menjadi perhatian.

Tentu saja, di bagian akhir saya menanyakan tentang modus bersama yang digagas panitia. Meski itu berat, tapi bagi saya, penting untuk menentukan tona parade di tahun depan.

Toh, meski sudah dijelaskan berkali-kali, seorang guru masih bertanya, “Kami butuh peringkat dalam parade ini.”

***

Usai sarasehan, saya ngobrol dengan Turah Hananto, pendiri Omah Kreatif Arturah dan Khothibul Umam, S.S., M.Hum, dosen Fakultas Universitas Diponegoro Semarang. Turah minta kepastian saya untuk datang di Hatedu (Hari Teater Dunia-program yang sudah tahun ke-13 dilaksanakannya) November 2026. Saya ketawa. Karena tahun lalu hampir datang.

Ia juga mengingatkan saya untuk menyebar info, agar ada teater pelajar di luar Jawa Tengah yang ikut parade tahun depan. Saya udah kasih bocoran, “Kayaknya Pekanbaru bersedia, Mas,” ujar saya.(*)

--------------------------
S. METRON MASDISON
S Metron Masdison menjadi sutradara di Ranah Performing Arts Company sejak didirikan 2007. Sudah mementaskan 40 pertunjukan di Padang, Padangpanjang, Payakumbuh, Medan, Pekanbaru, Jakarta, Solo dan Singapura baik sebagai pemain, penulis naskah dan direktur artistik. Enam tahun belakangan fokus menggarap bunyi dalam teater terutama untuk karya “Sandiwara Pekaba (Kisah Pembunuhan Tuanku Imam)” dan “Mite Kudeta”. Tiga skenario film memanangkan lomba yang diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2005, 2006 dan 2011). Ikut aktif dalam kegiatan kebudayan seperti kurator, direktur artistik, periset, kritikus seni, dalam berbagai festival dan kegiatan.