Pasar Xenomorph

PUISI

Karya: Rakha Swastara

3/1/2026

Ratu Kecil

karenamu
angin membuka
sekantong penuh tuhan
dan satu patung ayah
dengan jari telunjuk kasar
memerintahmu lepas
pantai selatan

di dadamu
ombak cukup dingin
tidak kejam, sedikit jujur
pelan-pelan melemparkan
kita berulang kali

biarlah
dari kedalaman matamu
aku menjelma ikan sarden
menuangkan badai lembut
tanpa mengurangi sifat asalmu

kau dan aku
kembali menjadi pasir
merawat kedamaian batin
yang ditinggalkan ombak

Necromancy

bangkitlah
bangkai hujan
di tubuhku

berubahlah menjadi
pedang, kapak,
baut, atau petir
yang melindungi
anakku
dari pikiran
terburuk
di tengah peperangan ini

hentikan
menjilati
haluan onomastikku

sebab butuh
puluhan tahun
untuk membangun
rumah-rumah darurat
tempat di mana
setiap kemiskinanku
diasingkan
oleh dunia
dalam keadaan
mentah-mentah

melelehlah
batu kehancuran
di penghalang otakku
hanyutlah
bersama lagu-lagu cairmu

kuharap ada pintu belakang
tanpa peringatan guntur
atau tembok-tembok kasar
yang menghalangi langkahku

Kembang Anxiety

antarkan ruhku
ke sebuah pulau berdaun
aku ingin buah beri
dan anggur merah curian

siapapun tolong
angkat jasadku yang hancur
dari baris-baris sajak ini
untuk kau letakan
bersama orang-orang mati

suaraku terlalu pelan
untuk menghentikan
pohon yew
yang mencengkram batu

sekali lagi
dengarkan aku
di kepalamu yang tak bermimpi
ikuti kebaikan alamiahku

jangan sampai
di senja hari
jam mengalahkan
kesedihan kita

Pasar Xenomorph

setelah mataku
yang hitam dan berduri
seperti noda
di serat celana dalammu

bahwa kian kecillah hidup ini
di antara bintik-bintik jerawatmu
yang menawarkan lumpur pasar

maka biarlah kau pasang tubuhku
di rak plastik
dengan sederet gelas sampanye

atau kau jadikan gelembung
agar dilepas ke dalam langitmu

pada kenyataan inilah
potongan nyawaku
menjadi barang konsumen
yang diawetkan

sebelum pergi
lihat kembali kuburanmu
di keranjang cucian
atau di toilet
tempat kita kembali
sebagai kotoran bumi

Dunia Kecil
(Untuk anakku Benazir)

ajarilah aku
menjadi bunga kecil
di sekitar dahimu
agar tak seorang pun
menyerahkan aku
pada angin

jika berkenan
meniupku ke sungai
yang penuh kejahatan
maka biarlah
sore dengan rambut merahnya
akan kupadamkan

Hikayat Raksasa Hijau

sungguh ayahku
bisa bernyanyi
dalam bahasa daun

pertama kali ia diundang
di rumah-rumah
ber AC dan mahal

seandainya dunia
tak menjauh
dari kepala hijaunya

mungkin rumahku
akan dipenuhi
ribuan jenis tanaman
seperti planet yang bernapas
dalam kemegahan panjang

ketika pohon-pohon tumbang
tak mengenal kuburan

kerinduan jendela kamarku
menyimpan sungai
menuntun burung merpati

keluar di antara mulut
malaikat jahat yang meraung
ditelan kebinasaan

apalagi para dewa
di zaman ini telah meninggal
kembali ke sarang tikus
sebagai spesies lalat

inikah penduduk boneka
yang mengalami kiamat
melawan anarki cuaca

hei, hujan! akulah nafas
tak nyata, dari mimpi ini

Kitab Ad Fontes

pergilah lewat darahku
agar kau sampai
ke fantasi renaisans,
di mana akan ku hadiahi kau
peti mati machiavelli

sebuah hantu panjang
dari abad ke-17
berlari tanpa henti,
menginfeksimu

hingga kau tersasar
di kerajaan kulit cokelat
yang dulu menyimpan
mayat-mayat api,

dengan geraman liar
dan tembakan senjata murah

betapa miskinnya dinastimu
sedang di kepala kaisarmu
mahkota imitasi
menyimpan kenikmatan duniawi

masih di tanahmu
tumbuhan dan manusia
dimainkan oleh pasar
atau dilumat traktor ulat,

dan kita para kera berduka
di antara mesin pencarian
belanja ke dimensi lain

kini hamparan semesta
berkembang: bulan, hujan,
semua hasil genetik:
leher, tubuh kekasih,
kebenaran, meja, batu,
ruang di antara tempat
kita bersenandung
pada kehampaan hidup,

gitar, seruling, ratu malam,
raja jalanan, atau para dalang

datanglah kembali padaku
aku ingin dunia,
hasil tanganku sendiri

Wahyu Pertama

biarlah sajakku
hanyut di sungaimu
ke utara
mengikuti arah ikan
berkumpul dalam
kebingungan yang riuh

sebagai penyair
aku tak tumbuh
di bawah
aku dilahirkan
darah bintang
maka setengah dunia ini
adalah dari kabutku
yang menetes
ke tepian

jangan bayangkan
aku turun
seperti alien
yang meninggalkan
piring terbang
atau apalah
arti omong kosong
dan kebijaksanaan
bagiku

tak akan lebih besar
berdiri
di bawah sabdaku

ambilah cangkir anggur
siapa tahu
para dewa
menemukanmu
dalam sajakku

Ikhtisar Perisai

siapa mengharapkan
sebuah mitos?
yang sekarang mengepak
di kota-kota marmer

dengarlah
melalui telanjang pikirmu
izinkan bunga lilac
dari tanah mati
tumbuh di jantungmu

sebab kesadaran
tak akan pernah sampai
tanpa sebentang tali khayali
maka halaman suram pun
kau bengkokan
menjadi kalung di lehermu

karena itu perkenankan
skeptisisme bertanduk
atau berkepala dua
melangkahimu
sebelum seutuhnya
setengah manusia
hadir di satu tepian

(*)

--------------------------
RAKHA SWASTARA
Rakha Swastara lahir di Sukabumi, 16 Agustus. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Selain menulis puisi, ia juga berminat pada teater. Pernah menempuh pendidikan di Jurusan Akidah dan Filsafat, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini tinggal di Jakarta Selatan.


Ilustrasi:
"Tempat Sampah Dunia", karya: Putut Pasopati