
Pencuri Senja
PUISI
Karya: Joe Hasan
Panggilan
panggil nama saja
supaya tidak berjarak panggilan
kedekatan kita berawal dari panggilan, bukan?
bukan, sungguh ini bukan sok
kau tahu persis bagaimana keakraban itu bermula
besok-besok kita tahu bagaimana bertatap muka
aku bertutur dengan kekurangajaran sekaligus
asu, anjrit, anjir...
atau apalah plesetannya
lalu bisa saling terbahak di pinggir laut
menikmati angin senja
abaikan dulu bibir gunung yang menawan
panggil nama saja
kemudian bertelanjang puisi dengan pasrah
tertawa sengit
menghitung berapa kali sudah saling menghormati
tapi itu hanya di awal
jangan lagi buat panggilan jadi jarak
kita sama beraib
tunduk pada yang mencipta
(Baubau, 2021)
Membaca Joko Pinurbo
pada suatu malam
yang rintik dengan air mata
aku membaca joko pinurbo
ia pergi ke bulan tanpa baju
kupikir sesaat seperti layang-layang
tapi bukan
aku kembali pada kesadaran senja
ia pandai meracik bayi
yang berdiam dalam kulkas
menyapa banyak sisa batuk mantan kekasihnya
masih ada juga sisa sedih
malam masih merintik dengan air mata perempuan
ia memanggil dirinya mama
lelakinya lupa menyampohi kepala
hari-hari telah jadi minggu
kamar mandi dibiarkannya nganggur
aku terus membaca joko pinurbo
di gawaiku yang sekarat
hanya ada baju bulan
tiada warna lagi
dan di sisa waktu petang ini
aku ingin meminjam bajunya
yang berbulan bening
bolehkah?
semoga
(Wanci, 2022)
Bolehkah, di Punggungmu Kubangun...?
bolehkah,
di punggungmu kubangun sebuah mimpi
pada tengah malam ini
aku juga merindukan sesuatu
puisi dari bibirmu
aku melihat manuskrip
pada susunan paling bawah
itu kenangan yang belum selesai
yang lahir sebelum zaman covid-19
aku menemukannya lagi
masih utuh kenangan di sana
ada sedikit bercak kuning di sisinya
tapi utuh
bolehkah, di punggungmu, kubangun kenangan itu
(lagi)
aku sedang ingin
obati rindu
dini hari ini
(Surabaya, 2025)
Pencuri Senja
lelaki itu santai saja mencuri senja
dari para penikmat
dan pantai tiba-tiba gulita hingga beberapa kali
apakah kau masih setia menanti?
kurir itu melanggar sumpah
apakah kau masih menyebut lelakimu setia?
dia kehilangan cara mengirimimu sesuatu
aku melihat kejadian itu
pengejaran terjadi di mana-mana
hanya di saku celananya siluet merah sempurna
sepuluh tahun kemudian senja itu masih sangat utuh
tapi kau beranak pinak
pohon samping rumah tunas berkali-kali
waktu dan keriput telah berubah
tapi rasamu tak pernah berubah
kau buka senja itu pelan dengan tidak ada tetes air mata
mengembalikannya pada penikmat
lalu dia menunggu balasan kirimanmu
hanya selembar amplop
untuk kembali mencuri senja-senja
sebelum dijadikan artefak museum
(Baubau, 2021)
Pengantin Baru
hai lelaki,
lihatlah mata tua itu
setiap malam menunggu suaramu
setiap membuka pintu kamarmu
ia berharap melihatmu berbaring
dan saat itu kulit keritingnya gugur
mendapati tubuhmu tidak ada
hai wanita,
ingatlah pada nasihat-nasihat tua
kelak jika kau kawin,
kau utuh milik suamimu
bukan orang tuamu lagi
tapi kenapa kau selalu pulang?
menarik lelakimu sejak jadi budak
acara penyambutanmu bukan main-main
tapi hanya kau jadikan persinggahan
dapatkah kau luluh sebentar?
janganlah bertingkah seperti imam
sebab kau yang mencium tangan
selepas akad pagi itu
(Baubau, 2022)
--------------------------
JOE HASAN
lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya dimuat di media cetak dan online. Buku Puisinya, Dosa Termanis (Penerbit Komentar, 2024).


