
Penyair Abad Ini
PUISI
Oleh: Ilham Wahyudi
6/1/2026


Penyair Abad Ini
(Senin 22.03)
Aku bercita-cita menjadi penyair abad ini meski surat kabar bertumbangan layaknya pohon pisang di Binjai, Sumatra.
(01.25 tapi Bukan Senin; Bukan Selasa)
Tanganku sememang mungil, tapi sumpah, tak kubiarkan gentar mendapatkan ruang walau hanya secuil. Sebab itu, aku pun rajin belaka berkirim surat elektronik ke media yang masih berlimpah sabar merawat ruang sastra; yang konon katanya selalu menghadiahkan buntung ketimbang untung.
(2014)
Kata Ibu, dulu Ayahku juga menulis dan membacakan puisi saat menerangkan perasaannya. “Tapi aku nggak ngerti apa maksud puisi ayahmu. Yang aku tahu, matanya menguarkan embun kejujuran. Bagiku itu puisi; puisi yang mudah aku pahami.”
(Satu Jam Sebelum Pengumuman Hasil Pemilu 2024)
Pada saat usahaku berbuah mangga harum manis, teman-temanku yang sudah lebih dulu disebut penyair (entah lembaga apa pula yang layak memberikan embel-embel itu), senang semata menjulurkan selamat. Di grup-grup WA sastra, namaku mulai disebut-sebut: calon penyair masa depan.
(15 Ramadan 1446)
Aku mulai sering berbincang melalui chat dengan penyair-penyair yang namanya sudah lebih dulu sering kulihat di media (kala itu honor media cetak untuk sebuah pemuatan puisi bisa sampai setengah juta lebih), yang setiap kali membalas chatku selalu saja menyelipkan kata ‘hehehe’.
(Ahad, Seminggu Sebelum Gubernur Ibu Kota yang Baru Menjabat)
Suatu malam setelah Ayahku mati, Ibuku mendadak ngomong, “Ibu membebaskan kamu ingin jadi apa pun, tapi kalau kamu bercita-cita jadi penyair, ibu mohon jangan seperti ayahmu yang hanya pandai menulis puisi untuk ibu semata. Tulislah suara-suara yang selalu berhenti di langit-langit mulut orang susah, pun orang yang disusahkan!”
(2025)
Penyair di negeriku tak punya banyak penggemar. Sehingga mereka (termasuk dewa-dewa sastra tanah air lainnya) acap menjual buku-buku puisi mereka ke sesama penyair. Namun tentu saja penyair sepertiku (maksudku penyair yang masih pemalu dan mudah ditipu) porsinya tentu lebih banyak menjadi target pasar ketimbang yang sudah menjadi suhu.
(Antara 2024-2025)
Megalomania. Suatu hari, aku mendengar seseorang berkata, katanya, Arif Budiman pernah bilang, banyak seniman megalomania termasuk sastrawan. Itu tahun 1984. Namun` pikirku, tak mungkinlah hal semacam itu masih ada.
(Agustus Minggu Pertama)
Namaku semakin menyerupai kopi yang baru dikawinkan dengan didih air. Banyak penerbit yang menawarkan untuk menerbitkan buku puisiku. Aku senang bukan kepalang. Akan tetapi, ketika mereka memintaku untuk turut pula menjual bukuku sendiri, aku terdiam. Dan sampai kini tawaran itu belum aku balas.
(Jumat)
Subuh-subuh Ibuku masuk ruang ICU. Kondisinya kritis. Namun kondisi uangku juga tak kalah kritis, meskipun aku baru saja menang lomba yang hadiahnya 10 juta, tapi hadiahnya belum tahu kapan cair.
(Pukul 08.08)
“Halo, penerbit Anu, saya mau menerbitkan buku dan siap dengan semua syarat yang pernah Anda sampaikan. Tapi boleh tidak uang royaltinya dibayar di muka?”
Gubeng, 2025
Sebelum Ibu Mati dan Sebelum Ayah Menyusul Ibu
Senin
Setiap Senin, ya setiap pagi di hari Senin—mau awal bulan atau akhir bulan Senin-nya—aku acap ke kuburan Ibu, sekadar bertanya kabarnya.
Selasa
Ayah masih hidup. Masih sehat. Tapi perangainya tampak ingin sekali menyusul Ibu. Dan setiap Selasa, ya Selasa malam, dia pasti akan meraung-raung menangis memanggil nama Ibu.
Rabu
Waktu aku lahir, tepat saat aku lahir, Ayah sedang giat-giatnya mengayuh becak. Dia sedang dapat job membawa durian ke beberapa pedagang durian eceran. Namun nahas, saat mengantarkan pesanan pada pedagang terakhir (setelah lebih 15 kali bolak-balik) becaknya terbalik dan kakinya patah tertimpa becak dan durian. Dan kata Ibu, saat kaki Ayah patah itulah aku lahir—Rabu malam Kamis pukul 21.21 waktu rumah sakit umum.
Kamis
Walau bapaknya Ayah orang batak, beliau tidak gentar memberi nama Ayah dengan nama Respati. Sebab Ayah lahir hari Kamis. Dan Ayah sering bercerita kalau hari Kamis, Yesus menjamu murid-muridnya dengan roti dan anggur dari surga. Bahkan kata Ayah juga, di hari Kamis itu juga Sang Gembala membasuh kaki-kaki muridnya. “Pahamkah kau maksudnya, Mahli Rumi?”
Jumat
Setiap Jumat, Ayah selalu mengantarkanku ke mesjid. Aku tidak pernah bertanya mengapa dia tidak ikut masuk. Mungkin karena dia belum mandi, pikirku. Atau uang infaknya sudah dia berikan kepadaku. Sekarang, Ayah tidak pernah lagi mengantarkan aku ke masjid setiap Jumat—setelah Ibu mati dibunuh kanker payudara.
Sabtu
Hari Sabtu adalah hari bagi Ibu, Ayah, dan aku untuk rehat, santai, dan tidur-tiduran. Kami juga sering makan-makan enak setiap Sabtu. Awalnya aku tidak tahu kenapa mesti hari Sabtu, kemudian aku sadar, mungkin kalau Jumat aku pergi ke mesjid, sedangkan Minggu, Ayah datang ke gereja. Tetapi itu dulu; dulu sebelum Ibu mati dan sebelum Ayah menyusul Ibu.
Minggu
Kalau Minggu tiba, Ibu sering menemani Ayah ke gereja. Tapi Ibu tidak pernah mau membawaku. Aku sering menangis minta ikut, dan setiap aku menangis Ayah akan berkata, “Kau cukup ke mesjid, tidak perlu ikut Ayah juga ke gereja. Lagi pula Tuhan yang mau Ayah temui adalah Tuhan yang setiap Jumat, Mahli temui.”
Gubeng, 2025
Salim Kancil
1/ Kelak negeri ini akan menulis namanya dalam buku pelajaran, sebab koran hanya akan berakhir di tong sampah tukang nasi uduk. Anak-anak sekolah akan menyalin kisahnya seraya berkata, sekecil apa pun tubuh pantang tunduk pada tanduk penguasa yang menyeruduk.
2/ Sepuluh tahun sudah, tapi orang-orang masih menulis namanya di spanduk demo, di status Facebook, di puisi-puisi murahan, bahkan di meme WhatsApp grup keluarga. Tetapi para penambang masih bekerja, pemerintah masih sibuk konferensi pers, dan tanah-tanah masih luka.
3/ Malam-malam yang aku lupa kapan, Ibu pernah berbisik, “Salim itu artinya selamat, Nak. Semoga kelak kau selalu selamat." Aku pandangi wajah Ibu yang mulai retak-retak memikirkan nasib Ayah yang tak kunjung pulang.
4/ Kota-kota menyelenggarakan seminar. Orang-orang bersorak di ruang-ruang ber-AC, membicarakan agraria, tambang, keadilan, dan rakyat kecil. Tapi di luar gedung, para sopir truk pengangkut pasir masih terus berderu, menghitung tonase lebih rajin daripada jumlah doa yang mereka lafalkan.
5/ Namaku Salim. Salim Kecil. Sebenarnya hanya Salim, tapi karena Ayah tak pulang-pulang dan Ibu tak begitu pandai menjaring rejeki, tubuhku kurang gizi; badanku pun kecil. Maka, orang-orang (pun Ibu pada akhirnya) memanggilku: Salim Kecil.
6/ Poster-poster bertuliskan: "Kami semua adalah Salim Kancil" menjamur di kampus-kampus. Dan polisi mestilah menangkap seseorang yang patut disebut penghasut. Aku bertanya-tanya, sejak kapan menyalin nama orang mati menjadi kejahatan?
7/ Janji-janji mengalir. Para calon wakil rakyat bicara tentang ‘keadilan lingkungan’ di televisi. Tetapi hutan di selatan semakin kopong. Sungai-sungai keruh. Suara jangkrik lenyap, diganti deru mesin gergaji. Aku membayangkan, mungkin Salim sedang tersenyum getir dari liang tanah.
8/ Aku ikut tahlilan di desa. Anak-anak menyalakan lilin kecil di musholla. Seorang ustaz bilang, “Kematian Salim Kancil adalah syahid.” Lalu beberapa orang berdeham—tenggorokannya mungkin gatal mendengar kata itu. Aku bingung: kenapa kata syahid dapat membuat tenggorokan gatal?
9/ Aku membaca ulang berita lama, menyalin namanya ke buku catatan: Salim Kancil. Namanya mirip dengan namaku: Salim Kecil. Apakah Ibu dulu juga berdoa agar aku menjadi pemberani sepertinya?
10/ Sebuah koran yang terlipat dua di meja warung kopi melirikku, dan kemudian berbisik, seorang petani kecil di Lumajang dipukul sampai nyawanya kabur karena belaka menolak tambang pasir. Namanya ditulis miring—seolah yang tengah ia perjuangkan melompat dari logika.
Gubeng, 2025
Enam Lima
(30 September 1965)
Malam tiba tanpa bulan, daun-daun gugur dari pohon randu—terbakar tanpa api. Seribu, dua ribu, entah bilangan berapa yang rebah ke tanah, disapu angin yang tak paham alamat pulang. Sungai-sungai menerima tubuh-tubuh, dan air itu tak jua menyebut sekata nama. Hujan turun—tak membersihkan, melainkan mengekalkan beku bau yang dilumuri darah. Dan malam, betapa tak pernah benar-benar selesai.
(1 Oktober 1965)
Bisik-bisik terjulur ke sawah, ke pasar, ke gang-gang sempit, “Mereka telah diangkut... Sudah diangkut.” Sungguh tak seorang pun pernah mengira siapa yang diangkut—ke mana diturunkan. Daun-daun menjadi kering, berlari memburu akar, tanah dipagari lars ketat, dipakukan keheningan. Dan semua yang berwarna dan berbau merah mendadak menjelma hantu; menjelma kutukkan.
(1966)
Pada jalan panjang menuju matahari terbit, hijau yang semula teduh berubah menjadi hijau tua, hijau pekat yang memukul dada-dada remaja yang bahkan belum sempat tumbuh dewasa. Mereka, yang seharusnya belajar membaca huruf, justru membaca maut yang ditulis tergesa di papan tubuh para tetua. Laron-laron muda berhamburan menuju cahaya, tak tahu cahaya itu api. Dan api, sekali lagi, adalah kesenyapan yang dipaksa abadi.
(2025)
Hari-hari belakangan, ia masih berdiri: 65. Ia bergetar serupa nyanyian yang tercekat di tenggorokan. Ia menunggu mulut siapa yang kan utuh meutirakan, tanpa potongan kepentingan, tanpa sisip keyakinan, tanpa menganti pahlawan pun musuh. Sementara daun-daun kering terus gugur tiap musim, layaknya nama-nama yang tak pernah bisa kembali diucapkan.
2025
Wiji Thukul
Serupa bara kau berdiam dalam rongga kami—bara yang tak jinak oleh ludah atau hujan, yang sekali menyala tak kenal padam. Semata kecil tubuhmu, betapa ringan suaramu, namun itu pula pembedamu: kata-katamu menjelma palu yang menghantam, membelah kepala-kepala batu, menggedor jendela kaca yang selama ini butakan kami. Dari hantaman itu, kami tahu: ada dunia lain di balik dinding bisu, ada cahaya lain selain lampu-lampu yang mereka gantung di ruang-ruang istana.
Lidahmu tajam-runcing, Wiji, tetapi bukan untuk melukai, melainkan membelah jalan bagi kami—jalan setapak yang semula sempit, nan lambat laun ramai belaka dijejaki kaki-kaki lapar, kaki-kaki berdebu, kaki-kaki yang lama menunggu. Dan ketika jalan itu semakin terang, engkau pun digelapkan: disembunyikan, dihapus, dicerabut dari halaman kitab-kitab sejarah. Namun siapa orang mampu menutup jalan yang telah dibuka? Siapa orang sanggup memadamkan nyala yang sudah sempat menghangatkan dada?
O, betapa rapuh tubuhmu, tapi kata-katamu tegak berdiri; betapa fana engkau, tapi suara itu abadi. Engkau bukan sekadar penyaksi—engkau sumur tempat menimba keberanian, adalah pintu tempat keluar dari labirin kebisuan, adalah gendang yang tetap bergetar meski dipukul oleh keheningan. Kau lenyap, tapi keberanian terus mekar di mana-mana: di sawah, di pabrik, di pasar, di lorong-lorong sempit kota yang terus membesi.
Dan, Wiji, semua tak bisa lagi berpaling: semua adalah murid-murid yang selalu mengulang baitmu, semua adalah tubuh-tubuh yang membawa gaungmu ke segala penjuru. Maka rahmat Tuhan atas dirimu, atas istrimu yang tabah, atas anak-anakmu yang mewarisi cahaya. Rahmat Tuhan atas suara kecilmu yang tak pernah kecil, atas bisikmu yang lebih keras dari gelegar meriam. Hingga tegaklah keberanian di dada semua, hingga lantanglah mulut-mulut yang dulu terbungkam.
Di manakah tubuhmu bersemayam?
Surabaya, 2025
Munir
(Penerbangan)
September yang teduh
Seharusnya melahirkan aroma padi
Di kampung, di sawah-sawah
Tempat kita biasa menanam harapan.
Namun, di ketinggian ribuan kaki;
Sendiri membawa secarik mimpi:
Tentang negeri yang adil
Tentang hukum yang tidak tunduk
Pada kantong uang, pada kuasa bayangan.
Kopi pahit jadi saksi
Bahwa perjalanan menuju tanah penjajah
Bukan sekadar perjalanan,
Tapi garis akhir yang tengah disiapkan
Oleh tangan-tangan pengecut.
(Suara yang Jernih)
Suara itu jernih; luhur,
bagai air yang menjulur dari gunung.
Ia bicara tentang penculikan,
Tentang harapan-harapan masa depan yang hilang,
Tentang rumah-rumah yang hanya tinggal nama.
Lantang ia bicara di depan sorot kamera,
Di ruang sidang,
Di jalan-jalan penuh gas air mata.
Namun suara-suara itu
Tak ubahnya raung nyamuk
Yang ingin ditampik,
Dipukul, dihabisi.
(Pilihan)
Mungkin ia bisa memilih diam,
Membiarkan segalanya tampak tenang
Lalu di balik meja, di ruang sejuk,
Ia menjelma pengacara korporasi
Yang makmur-sejahtera.
Tetapi jalan terjal menggodanya,
Jalan berkerikil darah memanggilnya,
Hingga di kursi pesawat ia mesti berakhir
Bersama racun yang perlahan menyusuri tubuhnya.
(7 September 2004)
Pada malam yang dingin,
Lampu-lampu Schiphol menyala
Menyambut tetamu yang turun.
Tapi ia tak pernah sampai pada tiba.
Tubuhnya patung tenang terbaring,
Pucat wajahnya;
Berhenti jantungnya.
Arsenik merajalela
Melaju melampaui doa-doa yang dikirimkan.
Duh, betapa licik tangan-tangan
Yang menukar keadilan
Dengan secangkir kopi!
(Abadi)
Namun suara itu
Tak pernah mati.
Ia terus berjalan di lorong-lorong kampus,
Di poster-poster yang ditempel mahasiswa,
Di rapat-rapat serikat buruh,
Di doa-doa keluarga serupa Marsinah.
Dan ia bukan sekadar nama
Melaikan adalah mimpi,
Adalah keberanian,
Adalah nyala kecil
Yang tak mungkin dipadamkan.
Hingga kini; sampai esok
Tiba sangkakala.
2025


--------------------------
ILHAM WAHYUDI
Penulis lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang pemabuk berat, juru antar makanan di DapurIBU, seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur, dan anggota baru di Kede Sastra, sebuah komunitas yang bergerak di bidang sastra yang didirikan oleh lima sastrawan dengan semangat untuk mengembangkan dan membentuk identitas sastra Indonesia.
INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14
Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com
Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI
Mitra Kerja:




