Perempuan yang Memelihara Dendam

CERPEN

Karya: Fery Yanni

10/1/2026

“ADA apa, Mbak? Kok, ramai sekali,” aku langsung berlari keluar mendengar suara ribut-ribut tak jauh dari rumahku. Ada beberapa orang yang juga berlari, tapi tidak banyak. Justru kebanyakan hanya keluar rumah sebentar, kemudian masuk lagi.

“Yu Sumi dan Yu Eli ribut lagi,” sahut beberapa orang yang masih berlari menuju ke rumah Mbah Mijah, orang tua Yu Sumi dan Yu Eli. Entah sekedar ingin menonton, atau memang bermaksud ingin melerai mereka. Entahlah.

“Halah! Sudah biasa. Paling juga masalahnya itu-itu saja,” sahut yang lain yang memilih kembali masuk rumah.

Sebagai orang baru, aku masih belum paham akan apa yang terjadi di sini. Keributan yang diciptakan Yu Sumi dan Yu Eli, yang terdengar begitu menggemparkan seisi kampung, kata orang-orang sudah menjadi makanan sehari-hari.

“Kamu orang baru, belum paham apa-apa. Tapi nanti lama-kelamaan kamu akan mengerti dan melihat siapa yang seharusnya kau anggap salah dan benar,” tetangga sebelah rumah mengatakan seolah penuh teka-teki. Dan tentu saja ini membuat aku semakin penasaran, sehingga langkah kakiku membawaku mengikuti beberapa orang yang gegas menuju ke rumah Mbah Mijah.

Suara ribut dari rumah Mbah Mijah seakan memenuhi seantero kampung. Suara Yu Sumi terdengar menggelegar. Teriakan, makian, jeritan, terus bergantian. Dan semua adalah suara Yu Sumi. Sedangkan Yu Eli tak banyak bicara. Dia lebih banyak diam. Sesekali tampak dia ingin menjawab setiap teriakan, tuduhan dan makian dari Yu Sumi, tapi entah mengapa selalu saja dia mengurungkan niatnya. Dia lebih memilih diam. Dapat kulihat Yu eli berusaha menahan emosi dan amarahnya. Dia berusaha terlihat tenang dan tegar, meski aku mungkin tahu tidak mudah baginya untuk terus bertahan. Jika aku berada pada posisinya, entah apa yang akan kulakukan. Yang pasti aku tidak akan sekuat Yu Eli.

“Apa! Mau jawab apa? Aku tahu, semua ini rencana kamu! Kamu ingin menguasai semua harta orang tua. Kamu selalu koar-koar kalau kamu yang sudah dipasrahi semua. Mana buktinya? Mimpi? Siapa yang akan percaya dengan mimpimu?” Yu Sumi berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk muka Yu Eli. “Aku tahu kamu dendam sama aku. Aku tahu kamu yang sudah koar-koar ke orang-orang kalau aku yang selalu menyerangmu. Aku tahu kamu yang mempengaruhi orang-orang supaya membenciku. Aku tahu kamu yang menyebarkan semua fitnah. Aku tahu tujuanmu. Aku tahu kamu ingin menguasai semua. Jangan pikir kamu akan bisa menguasai semua!”

Tak ingin menjawab semua serangan kakaknya, Yu Eli berbalik bermaksud masuk ke rumah. Aku tahu dia malu karena banyak orang yang datang, baik sekedar menonton maupun berusaha menenangkan kakaknya yang tampak kesetanan. Tapi tiba-tiba…

Plaaakkk!!!

Semua kaget bukan kepalang ketika Yu Sumi tiba-tiba memukul kepala Yu Eli dengan kepalan tangannya. Sesaat Yu Eli limbung, tapi dengan sigap orang-orang yang ada di dekatnya langsung menangkap tubuh lemahnya. Sementara yang lain berusaha menahan Yu Sumi. Memegangi dan berusaha meringkus tangannya supaya tidak bisa lagi menyerang Yu Eli. Tapi tenaga Yu Sumi tampaknya lebih kuat berlipat-lipat sehingga tiga orang yang berusaha menahannya tetap tidak kuat. Dengan sekali ayunan, kepala Yu Eli kembali menjadi sasaran kepalan tangannya. Bahkan Yu Sumi juga menendang Yu Eli berkali-kali. Tampak Yu Eli ingin membalas, tapi entah mengapa tangan yang sudah sempat terangkat hanya berhenti di udara sesaat, dan kemudian turun kembali. Wajah Yu Sumi yang tampak memerah begitu tegang, seakan urat-urat ingin keluar dari seluruh tubuhnya. Yu Sumi tampak semakin emosi melihat adiknya, Yu Eli lebih tenang, tidak terpancing sama sekali.

“Ayo! Balas kalau berani!” teriak Yu Sumi ngotot.

“Tak perlu kubalas. Cukup kubawa ke kantor polisi saja,” sahut Yu Eli tenang yang justru membuat Yu Sumi semakin terbawa emosi.

Yu Sumi dan Yu Eli adalah dua saudara kandung dari Mbah Mijah. Suami Mbah Mijah sudah meninggal. Mbah Mijah hanya mempunyai dua anak perempuan, Yu Sumi dan Yu Eli. Namun sejak masih ada ayahnya, Yu Sumi sudah terlihat betapa garangnya dia. Sedangkan Yu Eli lebih tenang. Dan setelah kematian ayahnya, Yu Sumi semakin garang, bahkan dia semakin terang-terangan menyerang dan menyebar fitnah tentang Yu Eli. Tak ada yang tahu asal-muasal kebenciannya. Bahkan, suami Yu Sumi yang sebenarnya tidak tahu-menahu pun ikut-ikutan memusuhi Yu Eli. Tak jarang Yu Sumi dan suaminya mengeroyok Yu Eli yang saat itu hanya seorang diri. Yu Eli sudah berumur, tapi dia tak kunjung menikah. Konon, penyebab Yu Eli menjadi perawan tua adalah Yu Sumi. Dia selalu menghalang-halangi siapa pun yang berusaha mendekati Yu Eli, sehingga setiap berencana menikah, selalu saja gagal di tengah jalan.

“Sumi itu dendamnya terhadap Eli sudah sampai ubun-ubun, jadi walau Eli meminta maaf sampai menjilati kakinya pun, Sumi tidak akan pernah bisa memaafkannya. Jadi, Eli lah yang harusnya memahami dan mengalah pada Sumi. Ikuti semua maunya Sumi. Biarkan dia mau ngapain, jangan dilawan,” kata suami Yu Sumi suatu ketika pada beberapa orang yang sempat bertanya tentang permusuhan Yu Sumi dan Yu Eli.

“Memangnya dendam karena apa, sampai kebenciannya tak terbandung lagi?” sempat ada yang menanyakannya. Karena memang mereka juga tidak habis pikir melihat kebencian Yu Sumi yang tampak berlebihan dan tidak masuk akal terhadap adik satu-satunya itu.

“Banyak dendamnya. Dan dendam itu tidak akan pernah bisa hilang,” suami Yu Sumi tampak bangga ketika menceritakan tentang istrinya yang memelihara dendam itu.

Semua sudah tahu betapa besar kebencian Yu Sumi terhadap Yu Eli. Semua tahu kebencian itu tidak akan pernah padam. Siapa pun pasti bertanya-tanya mengapa sampai ada seorang kakak yang sebegitu dendam dan bencinya terhadap adik satu-satunya, sama-sama perempuan pula. Semua heran, hanya dua bersaudara mengapa sampai timbul kebencian yang tak bisa dilunakkan sama sekali.

“Sumi itu sudah dendam lama sama Eli,” itu alasan yang selalu digunakan oleh suami Yu Sumi untuk mendukung kebencian istrinya. Dan katanya dendam itu muncul sekitar dua belas tahun yang lalu. Dengan kata lain Yu Sumi memelihara dendamnya selama sekitar dua belas tahun.

Semenjak pernyataan suami Yu Sumi tentang Yu Sumi yang memiliki dendam terhadap Yu Eli selama lebih dari dua belas tahun, katanya tak bisa terobati lagi, tak ada usaha memperbaiki, justru memperparah keadaan, sekarang semua warga menjuluki Yu Sumi sebagai perempuan yang memelihara dendam. Dendamnya yang sangat tidak masuk akal membuat seluruh warga mulai menilai seperti apa Yu Sumi dan seperti apa Yu Eli.

Suatu malam terjadi keribuatan hebat di rumah Mbah Mijah. Sebenarnya bukan keributan yang biasa, karena keributan ini hanya berisi suara Yu Sumi.

“Dasar otak kebungkus tai. Kamu mau membeli orang tua? Gayamu membelikan baju dan makanan buat orang tua. Padahal kamu cuma mau mengakalinya. Keterlaluan! Gara-gara pengin harta trus cari perkara, orang tua dibeli. Kamu pengin semua harta orang tuaku, kan? Dasar munafik!” suara Yu Sumi menggelegar memecah keheningan malam.

“Gila! Perempuan yang memelihara dendam itu tak akan pernah puas menyakiti orang yang dibencinya. Sebaik apa pun orang itu, baginya dia tetap target yang harus dihancurkannya,” kata Mbok Kar yang tinggal di rumahku untuk merawat rumahku.

Selang beberapa hari, terdengar kabar Yu Eli pergi meninggalkan kampung ini. Menurut kabar yang beredar, kepergiannya karena dia ingin mencari ketenangan dan terlepas dari serangan Yu Sumi. Namun, ternyata kepergiannya tak menyurutkan kebencian Yu Sumi. Ya, bagaimana pun, perempuan yang memelihara dendam tak akan pernah puas sebelum targetnya hancur sehancur-hancurnya. Dan perempuan itu akan terus memelihara dendam yang mungkin nantinya akan membakarnya sendiri.(*)

PEREMPUAN YANG MEMELIHARA DENDAM
Cerpen: Fery Yanni

--------------------------
FERY YANNI
Seorang penulis cerita anak, yang juga mulai mencoba berbagai genre. Beberapa buku anak telah terbit di beberapa penerbit mayor. Karya-karyanya juga sering muncul di beberapa koran, baik cerita anak, cerita remaja, cerpen, cerita misteri hingga cerita komedi. Selain menulis dan mengilustrasi, penulis juga aktif menjadi mentor kelas menulis online di beberapa komunitas menulis. Penulis tinggal di Jatinom, Klaten.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: