Ranjau Lapuk

NASKAH LAKON

Oleh: M. Arif Al Husein

10/1/2026

RANJAU LAPUK

Karya: M. Arif Al Husein

Pelakon:

1. Batin Ulung

- Ketua Adat 1 Kampung Tuah

- Perkiraan 50-55 tahun

2. Batin Angah

- Ketua Adat 2 Kampung Tuah

- Perkiraan 45-50 tahun

3. Batin Alang

- Ketua Adat 3 Kampung Tuah

- Perkiraan 35-40 tahun

4. Datuk Dang

- Ketua Adat tertinggi Kampung Tuah

- Perkiraan 50-55 tahun

5. Cik Puan Nora

- Anak perempuan tunggal Datuk Dang

- Perkiraan 25-27 tahun

6. Syaipul

- Anak laki-laki tunggal Batin Ulung

- Perkiraan 27-30 tahun

7. Mak Midah

- Istri Batin Ulung

- Perkiraan 46-50 tahun

8. Cik Nun

- Istri Batin Angah

- Perkiraan 32-35 tahun

9. Lelaki 1, Lelaki 2, dan Perempuan

- Pelakon dalam siluet

Sinopsis:

Batin Ulung, Batin Angah, dan Batin Alang kerap bersitegang dengan Datuk Dang, seorang ketua adat tertinggi di Kampung Tuah, karena perencanaan pembangunan pabrik di tanah adat hak ulayat makam para leluhur di bantaran sungai Jantan yang dinilai tidak beradat. Para Batin itu tidak sependapat jika makam-makam keramat para leluhur digusur atau dipindahkan. Bagi mereka makam-makam para pendiri negeri tersebut adalah kehormatan dan identitas dari Kampung Tuah tersebut.

Di sisi lain, Cik Puan Nora khawatir pernikahannya dengan Syaipul batal karena Ayah mereka kerap berselisih paham mengenai tanah ulayat kampung itu. Padahal Cik Puan Nora dan Syaipul sedang melaksanakan satu tahapan adat daerah untuk perkawinan, yang disebut temu inai. Dan Syaipul tetap bersiteguh bahwa pernikahan pasti digelar sebab persiapan sudah begitu matang.

Mak Midah telah mencium bau-bau pengkhianatan seseorang terhadap Kampung Tuah sejak tamu asing kerap bertandang ke kampung itu.

ADEGAN I

SET PANGGUNG AWAL: LAMPU DISOROT DARI PANGGUNG BAGIAN BELAKANG, DALAM BENTUK SILUET MENAMPILKAN TIGA ORANG SALING BERHADAPAN. SUASANA MENGAMBARKAN SUATU MALAM. PERCAKAPAN DUA ORANG LELAKI DAN SEORANG PEREMPUAN PUN DIMULAI.

LELAKI 1

(Menghisap cerutu dalam-dalam, kemudian menuding-nuding ke arah lawan bicara) Saya tak mau tahu! Saya sudah membayar lebih dari setengah harga yang kita disepakati. Sebaiknya kalian segera mengurus orang-orang kolot itu untuk secepatnya menandatangani surat ini, sebelum saya yang mengutus orang-orang saya!

LELAKI 2

Sabar, Tuan! Ini akan memakan waktu sedikit lebih lama dari perkiraan. Mereka itu orang-orang kampung yang terpilih. Sebagian besar masyarakat kampung ini, berada dipihak mereka. Rencana kita bisa gagal kalau tidak dengan hati-hati.

LELAKI 1

Kalau begitu, biar orang-orang saya yang akan turun tangan.

PEREMPUAN

Sebaiknya jangan, Tuan! Kalau orang-orang tuan yang turun tangan, itu akan terlihat mencolok dan menimbulkan kecurigaan dari masyarakat kampung ini. Cukuplah waktu dulu ketika orang-orang tuan menggagalkan Batin Negeri menjadi Pemangku Adat tertinggi di kampung ini, menjadi kecurigaan panjang orang-orang. Tuan, jangan khawatir, kami akan segera mengatur siasat kembali agar rencana kita berjalan dengan mulus.

LELAKI 1

Ehm..., baiklah kalau begitu. Kalau rencana ini secepatnya dapat diselesaikan, maka semakin cepat pula saham-saham perusahaan nantinya akan saya bagi sesuai dengan kesepakatan. Ini di luar dari uang penjualan tanah itu. Tapi, ingat! Jangan sampai kesabaran saya habis. (Tertawa, sembari menghisap cerutunya lagi).

LELAKI 2 DAN PEREMPUAN

Baik, Tuan!

LAMPU SILUET PERLAHAN REDUP. FADE OUT. MUSIK BERGANTI DENGAN IRAMA YANG SEDIKIT MENCEKAM. PERGANTIAN ADEGAN.

ADEGAN II

SET PANGGUNG AWAL: DI SEBUAH RUMAH PANGGUNG ADAT SIAK LIPAT KAJANG MILIK DATUK DANG, DI RUANG TAMUNYA DIBENTANG PERMADANI COKLAT BERMOTIF BUNGA-BUNGA PUCUK REBUNG. SAJIAN-SAJIAN MAKANAN DAN MINUMAN TRADISIONAL NEGERI SIAK PUN TURUT MENGHIASI MEJA-MEJA TAMU. BATIN ULUNG, BATIN ANGAH, BATIN ALANG, DAN DATUK DANG DUDUK MELINGKAR DI LAPIK ITU. KEPULAN ASAP TEMBAKAU MEREBAK KE SEISI RUANGAN.

DATUK DANG

(Mempersilahkan) Sembari menyantap makanan yang telah disajikan, kita mulai saja mufakat kita. Begini para Batin negeri, menurut pandangan saya, kita jual saja tanah itu. Dari pada jadi sarang orang-orang biadab. Lagi pula, tanah di bantaran sungai itu semakin gerus dan tidak terurus.

BATIN ULUNG

Maaf, Datuk. Menurut saya, tak bisa begitu. Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung. Tanah tersebut bukanlah sembarang tanah. Tanah itu adalah tanah keramat dan letaknya berdampingan dengan Bandar Sungai Jantan. Tanah ulayat adat, tempat para leluhur kita dimakamkan. Saya rasa, saya tidak perlu menjelaskan hal tersebut kepada, Datuk, sebagai pemangku adat tertinggi di Kampung Tuah ini.

BATIN ANGAH

Kalau mau dijual pun, menurut saya boleh-boleh saja. Asalkan dapat menyisahkan sepetak tanah bagian makam itu, dan Sungai Jantan di sebelahnya jangan pula diusik. Asal ada, kecilpun pada. Tanah ulayat itu kan sangat luas, masih banyak lahan untuk mereka bangun pabrik-pabrik tu. Langsung saja kita sepakati.

BATIN ALANG

Alahmak! Lamo-lamo habislah tanah adat kito keno gadai semuo. Dulu oghang-oghang tuo awak menggadai hutan sialang, hutan adat hak ulayat. Apo yang kini awak dapat? Bagai membandarkan air ke atas bukit. Tak ado dapat apo-apo pun. Sekaghang ni, kito pulak bermaksud menjual tanah yang di dalamnyo ado makam-makam para leluhur? Haa, macam mano pulak dengan ghencano pembangunan wisata di kampung kito ni?

DATUK DANG

Itu kan belum pasti ada hasil. Memangnya Batin Alang bisa menjamin taman wisata itu bisa sukses? Bisa menghasilkan pemasukan buat masyarakat kita?

BATIN ULUNG

Ini bukan sekadar permasalahan uang, Datuk. Di tanah tersebut terdapat makam pendiri negeri pusaka ini. Sungai Jantan di sampingnya menjadi suaka tapak lapan; tempat mencari makan masyarakat sekampung-kampung. Masa kita ingin menjual tanah dan sungai para pendiri kita? Kita mesti menjaga warisan ini demi anak cucu kita kelak.

DATUK DANG

Zaman telah berubah, Batin. Coba kita berpikir lebih maju. Kalaulah kita jual tanah tu, ke depan kita tidak pusing lagi kalau ingin perbaikan atau pembangunan kampung kita ni, karena kita sudah punya dana. Lagi pula, masyarakat di negeri kita ni sudah tidak berpenghasilan lagi. Sungai-sungai pun tak ber-ikan juaro lagi.

BATIN ULUNG

Berpikir maju boleh-boleh saja dan saya sangat setuju itu, tapi kita jangan pula sampai lupa adab.

DATUK DANG

Maksud Batin, saya ini tidak beradab?

BATIN ULUNG

Maaf, Datuk. Saya tidak pernah menyebut Datuk tidak beradab.

DATUK DANG

Lantas, barusan?

BATIN ANGAH

(Batin Angah menengahi perdebatan) Sudahlah tu, sudah....! jangan sampai terdengar oleh orang lain kita berdebat seperti ini. Lagi pula, Datuk Dang dan Batin Ulung ini kan sebentar lagi akan menjadi kesatuan keluarga. Menjadi besan. Tak elok berdebat macam ini. Masalah tanah-tanah dan bandar sungai ini jangan pula sampai merusak hubungan kekeluargaan. Apa lagi, baju dan riasan pengantin sudah dipesan kepada istri saya, (terkekeh). Dalam hal ini, saya hampir sepaham dengan Datuk Dang. Zaman telah berubah, kita mesti dapat menyesuaikan. Pepandailah membawa diri. Sudahlah tu, sebaiknya langsung disepakati saja penjualan tanah itu.

BATIN ALANG

Haiishh....! Oghang tuo satu ni, malah bebahas baju dan ghiasan, agham!

Bagini sajolah Datuk dan pagha Batin Negeghi yang awak tuokan. Kito bangun saja objek wisata dekat wilayah tu. Seperti mufakat kito bebeghapo waktu lalu. Pekagho sukses atau tidak, kito ghancang elok-elok strateginyo. Awak tak hendak jadi cucu kualat kaghono menjual tanah keghamat. Agham!

DATUK DANG

Modalnya dari mana? Kalaupun ada, habis saja uang kita membangun objek wisata itu, tapi tak dapat menjamin modal akan kembali. Untuk apa?

BATIN ULUNG

Sudah saya katakan, ini bukan perkara uang, Datuk. Adab kita sedang diuji. Dengan tanah dan sungai tu, jangan seperti hendak air pancuran terbit, hendak ulam pucuk menjulai. Kita sudah sangat intim dengan tanah dan sungai tu bertahun-tahun.

DATUK DANG

Kita kembali lagi kepembahasan semula. Menurut saya, tanah di bantaran Sungai Jantan itu dijual saja. Lebih jelas hasilnya.

BATIN ULUNG

Dari tadi kita memang membahas tentang tanah keramat dan bandar sungai itu. Dan jawaban saya masih sama, tidak setuju.

BATIN ALANG

Haaaaa...!! sayo suko ni. Beteguh pada pendighian. Tak air talang dipancung. Kini lah saatnyo kampung kito ni tetengok oghang-oghang. Objek wisata tulah yang paling tepat. Esok, dapat pulo anak bini awak buko kedai-kedai di tepian sungainyo.

BATIN ANGAH

Apa yang hendak dijual, Batin?

BATIN ALANG

Haiissh...! Banyaklah. Kedai kemojo ke, kue jalo ke, kue asidah, kue bangkit, cencaluk. Ikan-ikan pun ado, gulai ikan juagho, selais asap. Pucuk sekali lempok dughian. Mak eh, sedap betol tu. (Mengacungkan dua ibu jari tangan kepada Batin Angah)

BATIN ULUNG

Apapun itu, satu pesan saya, jangan sampai hilang adab kita. Kita ini para pemangku adat, sepatutnya kita tunjukkan cara yang tepat dalam mengelola negeri kita yang beradat. Kita mesti amanah, bak embun di hujung rumput.

BATIN ALANG

Mak eh, bedelau tu. Awak jadi teghingat apo-apo yang disampaikan oleh Datuk Sri Budayo Junjungan Negoghi. “Manusia hidup memegang adat, tahu menjaga laut, sungai, dan selat. Tahu menjaga rimba yang lebat. Tahu menjaga tanah ulayat. Tahu menjaga semut dan ulat. Tahu menjaga togok dan belat. Berumah tidak merusak tanah. Berkebun tidak merusak dusun. Berkampung tidak merusak gunung. Berladang tidak merusak pedang. Adat hidup memegang amanah. Tahu menjaga hutan dan tanah. Menjaga bukit dan lembah. Beladang tidak merusak tanah. Berkebun tidak merusak rimba.”

BATIN ANGAH

Seperti yang telah dikatakan Datuk Dang di awal tadi, zaman telah berubah. Sebagai pembuka pandangan kita, lihat kampung-kampung sebelah kita, hampir seratus persen masyarakatnya memiliki penghasilan tetap. Bahkan istri dan anak-anak saya saat ini ikut bekerja di perusahaan-perusahaan yang mereka bangun.

BATIN ULUNG

Tapi, mereka-mereka itu tidak menjual tanah pusaka, yang di dalamnya terdapat makam para leluhur.

BATIN ANGAH

Bukankah nantinya kita bisa pindahkan makam-makam itu? Bukan begitu, Datuk Dang?

DATUK DANG

Sulit menjelaskan kepada tetua adat yang kolot.

BATIN ALANG

Ahooii...!! Sebaiknya, Datuk Dang berhati-hati dalam berucap kata. Jangan sampai melukai hati sesama Batin negeri.

BATIN ANGAH

Eeh, Batin Alang, lihai betul bahasa nasional?

BATIN ALANG

Eh! Itu tu bahaso Melayu jugolah.

DATUK DANG

Bertambah kacau (Datuk Dang tampak kesal. Ia tetap bersikukuh ingin menjual tanah ulayat di bantaran Sungai Jantan tersebut)

BATIN ULUNG

Intinya, jangan sampai dijual. Negeri ini dah lama menjadi negeri berair jernih dan berikan jinak.

DATUK DANG

Ciss....! Atas dasar apa, Batin Ulung? Para roh nenek moyang? Kita ini harus realistis. Tak perlu ambil pusing. Hasil jual akan saya bagi rata.

BATIN ULUNG

(Tersenyum sinis) Telah tampak, yang ada di kepala Datuk hanyalah uang. Datuk Dang barangkali lupa, bahwa ari-ari kita tertanam di kampung ini. Kita berdua adalah saksi hidup dan mati para pendahulu negeri. Semasa kanak-kanak, saban sore kita terjun dari daratan ke sungai jantan itu. Kini, Datuk ingin menjual kenangan itu? Demi apa, Datuk?

DATUK DANG

Hujan bersebab, panas berasal. Barang tentu hal ini demi kemaslahatan masyarakat. Hutan-hutan telah diterabas, para nelayan kehilangan lubuk-lubuk ikan, getah-getah dah berganti kelapa sawit. Masyarakat kita dah tak ada pekerjaan. Kita mesti bertindak.

BATIN ANGAH

Betul tuh..., ikan sepat – ikan gabus, semakin cepat − semakin bagus.

BATIN ULUNG

Tapi tidak dengan cara menjual tanah ulayat. Hah! Sepertinya negeri ini akan menjadi anak ayam kehilangan induk. Para tetua adat telah membelot menggadai tanah pusaka. Lagi pula, hutan, sungai, dan lainnya yang Datuk sebutkan tadi, telah terimbas dari pembangunan-pembangunan pabrik di negeri ini. Pabrik berdiri, hutan dan sungai mati. Pipa angguk tercagak, orang-orang hanya mendapat berak.

DATUK DANG

Batin Ulung ingin menguji saya?

SUASANA SEMAKIN MEMANAS. DATUK DANG DAN BATIN ULUNG SAMA-SAMA MEMEGANG GAGANG KERISNYA. TETAPI BATIN ANGAH BERHASIL MENENGAHI.

BATIN ANGAH

(Sembari menahan tangan Batin Ulung) Awas kualat, batin!

BATIN ALANG

Awak punyo keyakinan, pabrik oghang-oghang tu jugo tak akan sukses. Kalaupun sukses, hanya segelintir masyaghakat setempat yang dapat tempiasan. Selebihnya, kembali meghambah hutan ghimba untuk pemukiman baghu.

DATUK DANG

Orang kampung berpikiran buntu!

BATIN ANGAH

Maaf Batin Alang, sejauh pengamatan saya, pabrik dan perusahaan-perusahaan di negeri Siak tidak ada yang tak sukses.

BATIN ULUNG

Pokoknya tidak dijual.

BATIN ALANG

Titik.

SUASANA BERUBAH. LAMPU DISOROT DARI SAMPING DAN BELAKANG PANGUNG, MEMBENTUK SILUET PERCAKAPAN-PERCAKAPAN DATUK DENGAN PARA BATIN. PERDEBATAN DEMI PERDEBATAN TERUS BERLANJUT. HINGGA ADZAN MAGHRIB BERKUMANDANG, MEREKA BARU BERHENTI.

KEMUDIAN, LAMPU PERLAHAN MEREDUP, MUSIK MENCEKAM.

FADE OUT

ADEGAN III

GAMBARAN SET AWAL: SUASANA LAMPU TEMARAM (TIDAK BEGITU GELAP, TIDAK PULA BEGITU TERANG). MUSIK SUASANA MEMPERDENGARKAN NYANYIAN-NYANYIAN PENDODOI ANAK BERNADA KEMURUNGAN. KEMUDIAN LAMPU PERLAHAN MENYALA TERANG. SUASANA MENGGAMBARKAN MALAM HARI SAGA, DI BERANDA RUMAH PANGGUNG BATIN ULUNG, CIK PUAN NORA DAN SYAIPUL DUDUK BERSEBELAHAN DI ANAK TANGGA RUMAH.

CIK PUAN NORA

Bang Ipul! Sebentar lagi kita akan menikah, tapi Batin dan Abah malah bertambah sering berdebat. Nora dengar tadi Abah meleceh-leceh ngomongin Batin ke Emak.

SYAIPUL

Iya, abang tau itu. Tapi sebaiknya kita tidak ikut campuri urusan mereka. Cukup fokus pada pernikahan kita saja yang tinggal menghitung hari.

CIK PUAN NORA

Kalau mereka terus-terusan berdebat, apa nasib kita akan baik-baik saja?

SYAIPUL

Kamu jangan terlalu mencemaskan hal itu. Mereka yang berdebat, ya biarkan saja. Kita bisa apa? Lagi pula kan yang akan menikah kita, yang berkeluarga kita, yang hidup bersama juga kita. Orang-orang tua memang selalu begitu. Nanti juga akan kembali seperti semula. Biarkan mereka mengurusi urusan mereka dahulu.

CIK PUAN NORA

Apa Abang pikir Abah akan menerima begitu saja? Beliau adalah orang yang ketika menghadapi masalah, akan sampai pada akarnya.

SYAIPUL

Menurut abang, sebagai Datuk pemangku adat tertinggi di kampung ini, tentu abah kamu harus bisa membedakan urusan pribadi dan urusan adat.

CIK PUAN NORA

Abang dan Batin Ulung sama saja. Sama-sama tidak berpikir maju.

SYAIPUL

Loh! Kamu kok malah mencemooh saya dan Batin?

CIK PUAN NORA

Ya, abang sih bikin kesal saja.

SYAIPUL

Nor! yang terpenting, kita berdua saling mencintai. Beres!

CIK PUAN NORA

Kalau saya tak cinta. Tentu saya tidak akan mau menjalani ritual adat seperti ini.

SYAIPUL

Ya, sudah. Berarti beres. Tidak perlu saling menyalahkan. Masalah tanah itu masalah para tetua adat. Masalah pernikahan kita adalah masalah pribadi kita.

CIK PUAN NORA

Saya tidak mau kalau kita sampai tak jadi menikah. Bikin malu saja.

SYAIPUL

Apa? bikin malu saja? bukan karena kamu mencintai saya?

CIK PUAN NORA

Ya, tentu saja Nora cinta kepada abang. Tapi kalau sampai kita batal menikah, mau ditaruh mana muka saya, bang? Saya ini wanita bergelar dan anak semata jolong dari batin tertinggi di kampung ini. Bukan hanya gelar adat, pendidikan saya juga tinggi.

SYAIPUL

Kamu jangan terkesan sombong dan berlagak sok begitu, Nora. Gelar kamu itu juga tidak kamu bawa ke dapur, kan? Meskipun pendidikan saya tak sebaik kamu, tapi saya sudah bekerja dan berpenghasilan tetap. Telah cukup bagi saya untuk menikahi perempuan.

CIK PUAN NORA

Jangan abang pikir saya ini tidak punya apa-apa selain gelar. Orang-orang bisa melihatnya sendiri. Datuk Dang juga sangat dekat dengan para pejabat. Kalau saya mau, saya bisa dengan mudah mendapat pekerjaan. Saya juga telah cukup untuk dinikahkan dengan lelaki manapun.

SYAIPUL

Maksud kamu si Leman, anak sulung Batin Angah?

CIK PUAN NORA

Sebaiknya jangan bawa-bawa bang Leman dalam urusan kita. Lagi pula, Batin Angah adalah orang berjasa yang membuat kita berdua bersatu. Bukan dengan bang Leman, anaknya itu. Meskipun beliau masih berharap dengan saya.

SYAIPUL

Selama air hilir, selama gagak hitam, Nor!

DARI SEBALIK PINTU, TIBA-TIBA MAK MIDAH MUNCUL MEMBAWA TEPAK BERISI PERLENGKAPAN INAI CALON PENGANTIN.

MAK MIDAH

Kenapa sudah ribut-ribut ni? Kemarin Datuk dan para Batin ribut. Sekarang kalian berdua pula yang ribut. Apa bulan ini sudah tiba perayaan hari ribut sedunia?

CIK PUAN NORA

Ini, mak. Bang Ipul marahin Nora.

SYAIPUL

Syaipul, bukan Ipul!

CIK PUAN NORA

Tu kan, mak. Bang Syaipul bedegong gitu ngomongnya. Bang Syaipul juga telah menuduh Nora yang bukan-bukan, mak!

MAK MIDAH

Ipul, apa Mak cakap? Kalau dengan perempuan tu berlakulah dengan lembut. Apa pernah ayahmu berbuat kasar kepada mak? Lagi pula, si Leman anak Batin Angah itu kan sudah menjadi masa lalu nak Nora. Tidak elok kalau terus diungkit-ungkit.

SYAIPUL

sepatutnya itu nasihat tertuju pada Nora, bukan Syaipul, mak!

MAK MIDAH

Sudah...sudah, kalian berdua lekaslah masuk. Persiapkan segala keperluan untuk pernikahan kalian. Malam ini kalian akan mempersiapkan segala hal untuk prosesi curi inai. Ayo, lekas masuk! Bawa tepak ini sekali.

SYAIPUL

Ayo, masuk!

CIK PUAN NORA

Tapi, bang....

SYAIPUL

Jangan terlalu dipikirkan betul orang-orang tua tu. Esok juga akan berdamai lagi. Persiapan pernikahan kita sudah matang. Tak mungkin batal, kan? Kalau batal, kamu juga yang malu. Putri dari tetua adat tersohor yang berpendidikan tinggi telah batal berkawin dengan pemuda biasa.

SYAIPUL MASUK KE DALAM RUMAH, DIIKUTI CIK PUAN NORA. LAMPU PERLAHAN MEREDUP. FADE OUT.

ADEGAN IV

LAMPU PANGGUNG PERLAHAN NYALA KEMBALI. SUASANA MENGGAMBARKAN KEJADIAN SEPENGGALAH MATAHARI NAIK, SEKITAR PUKUL SEMBILAN. DI RUMAH BATIN ULUNG.

BATIN ULUNG

Bagaimana para Batin? Apakah dapat disepakati tanah ulayat adat dekat tepian sungai jantan itu tidak dijual?

BATIN ALANG

Sepakat. Awak menilik, menimbang, dan awak ambil pulo kesimpulan, sepertinyo ado ayam hitam terbang malam, hinggap di ghimba dalam, betali ijuk, bertambang tanduk. Ado kejahatan yang tersembunyi. Ado penghianat terhadap kampung.

BATIN ULUNG

Ranjau lapuk!

BATIN ANGAH

Tapi menurut saya, kalau ingin dijual setengahnya juga sangat bagus. Setengahnya lagi kita bangun objek wisata. Ini akan meringankan polemik diantara kita para Batin kampung ni.

BATIN ULUNG

Makam-makam itu ada penjaganya, batin. Barang untuk ziarah berkirim doa, tak sembarang orang dapat masuk. Cerita ini juga telah disampaikan secara turun-temurun oleh pendahulu kita. Bisa-bisa kena sumpah kita.

BATIN ALANG

Oghang tuo satu tu takkan teghimo kalau kito cakap ado penjago di makam tu. Dio pasti langsung berkilah. Mesti gelarnyo Datuk, tapi dio tak pernah andil mengughusi adat kampung. Bahkan dapat dihitung jaghi saat-saat dio bemalam dalam kampung kito ni. Batin Angah seeloknyo tak tehasut dengan beliau tu.

BATIN ULUNG

Maka dari itulah, kita cari cara untuk membimbing Datuk tu. Kita selesaikan sampai tuntas. Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit.

BATIN ANGAH

(Tertawa) Batin Ulung ni seperti telah gaharu cendana pula. Manalah bisa kita membimbing Datuk Dang tu. Dia lebih hebat, dekat dengan pejabat tinggi, dan sudah barang tentu lebih berilmu. Haisshh... bisa habis kita.

BATIN ULUNG

Batin Angah takut? (Melirik ke Batin Angah. Kemudian melanjutkan perkatannya). Ini bukan perkara kaya, dikenal pejabat, atau ilmu dunia semata. Ini masalah ilmu turunan dari leluhur. Adab terhadap nenek moyang. Asal ayam hendak ke lesung, asal itik hendak ke pelimbahan. Dahulukan adab sebelum ilmu.

MUNCUL MAK MIDAH. MEMBAWA BOLU KEMOJO/ SEMACAMNYA DAN AIR MINUM KHAS MELAYU DAERAH SIAK SEBAGAI BERMASUH MULUT.

MAK MIDAH

Seadanya saja ya, Batin (Melirik Batin Angah dan Batin Alang). Maklum, persediaan untuk bekal si Syaipul.

BATIN ANGAH

Haikk,! Apa perlu irit begitu, Mak?

BATIN ALANG

(Kepada Batin Angah) Hussh....Bolu Kemojo ni, Mak! Mantaplah ni. Alhamdulillah.

BATIN ANGAH

Dalam sepengamatan saya, pendapatan Syaipul juga bagus dan lancar.

BATIN ALANG

(Kepada Batin Angah lagi) Hussh.... oghang tuo soghang ni, lamo-lamo kang keno pleseng ghaso lah! Dahulukan adab sebelum ilmu. Baghu dicakap, dah telupo.

MAK MIDAH

Syaipul khawatir Bak mandi dalam cupak, Batin Angah. Akhir-akhir ini memang banyak pengeluaran si Syaipul tu. Lagi pula uang tidak akan basi, kalaupun disimpan tidak akan ada ruginya. Jika diperlukan saat-saat mendesak, tidak bersusah payah.

BATIN ALANG

Hah, betul tu, mak.

BATIN ULUNG

Sudahlah tu mengurus kemojo. Sekarang bagaimana cara kita membimbing Datuk Dang agar beralih pikiran dengan niatannya menjual tanah sungai tu?

MAK MIDAH

Maaf para batin. Masalah, Datuk Dang, saya yakin, Datuk tu sudah terhasut oleh toke-toke pengusaha tu.

BATIN ULUNG

Kenapa bisa begitu?

MAK MIDAH

Midah kan sudah pernah sampaikan kepada Abang, Midah pernah melihat orang-orang dengan pakaian rapi lengkap jas dan dasi turun dari mobil mewah di depan rumah Datuk Dang.

BATIN ALANG

Dah biaso tu dah, mak! Haishhh, itupun tak faham.

BATIN ANGAH

Is...is...iisss...!!! dengarlah dulu.

MAK MIDAH

Bukan air muara yang ditimba, sudah disauk dari hulunya. Kali ini beda. Datuk dan Andung menyambut orang-orang tu di halaman. Mereka tampak tunduk, seperti bicara dengan pejabat tinggi. Bukannya saya mengada-ada, tapi saya sangat yakin orang-orang tu adalah para toke pengusaha yang akan membeli tanah ulayat adat di bantaran sungai jantan kampung kita.

BATIN ULUNG

Wajar saja kalau mereka bertemu. Namanya juga nak beli tanah. Pasti bertemu dengan Batin tertinggi kampung. Tapi permasalahannya, tanah tu adalah tanah adat kampung, mestinya dimusyawarahkan dahulu oleh semua Batin. Hah! Kita jangan sampai terkecoh. Tunggu kau, Datuk. Mana busuk yang tidak berbau.

MAK MIDAH

Dan sejak saat itu. Andung kerap terlihat dan memamerkan baju baru yang tampak mewah. Seumur-umur saya disini, baru kali itu Andung berlaku demikian.

BATIN ANGAH

Mak Midah janganlah pula iri begitu, kalau mak mau bisa pesan dengan orang rumah saya. Baju-baju Andung Dang yang mak sebutkan tu pesan dari istri saya. Jahitannya rapi. Itu sebab, perusahaan tempat istri saya bekerja telah menghadiahkan mesin jahit modern kekinian. Bukan macam alat tenun kayu yang Mak Midah punya tu.

MAK MIDAH

Itu pun dah tak bisa terpakai lagi (melirik kepada suaminya, sembari keluar ruangan)

BATIN ULUNG

Eloklah kita menjaga adat-istiadat dan tradisi dari leluhur kita. Sudahlah tu. Lebih baik kita pikirkan bagaimana cara membimbing Datuk Dang yang mulai kehilangan jati dirinya.

BATIN ALANG

Alangkah elok langsung kito temui Datuk Dang tu. Tak perlu pakai basa-basi lagi. Dah gatal tangan awak dah!

BATIN ANGAH

Sabar, Batin. Datuk Dang bukan orang sembarang. Setidaknya, ia sudah terpilih menjadi Batin tertinggi di kampung kita ni. Beliau tu sudah pernah mempercundangi dengan telak Batin Ulung dalam penentuan Batin tinggi kampung Tuah ni. Kali ini, jangan sampai kalah lagi.

BATIN ALANG

Batin Ulung, tak kan kalah, semisal oghang-oghang suruhan toke-toke pabrik tu tidak mengacau.

BATIN ULUNG

Sebaiknya, jangan terbawa dendam di masa lalu. (mengalihkan pembicaraan) Baiklah, para batin! Berarti dengan ini, Batin Angah dan Batin Alang telah bersepakat dengan saya?

BATIN ALANG

Nasib adat, ada di tangan kita.

BATIN ANGAH

Ada baiknya, pertemuan esok kita adakan di rumah saya. Ini dimaksudkan agar orang tua itu tidak leluasa. Lagi pula, saya tidak yakin dapat hadir seandainya bukan di rumah saya.

BATIN ULUNG

Betul, Batin. Saya sependapat. Bagaimana Batin Alang?

BATIN ALANG

Awak menughut suagho terbanyak. Lagi pula, kalaulah Batin Angah tak ikut, begharti suagho kito bekughang.

BATIN ULUNG

Tapi bagaimana kita memberitahukan Datuk Dang, tempo lalu kita telah bersepakat bertemu di rumah beliau?

BATIN ANGAH

Biar saya yang memberitahukan, Datuk Dang. Sepulangnya saya dari sini.

(LAMPU PERLAHAN REDUP. FADE OUT. SUASANA BERGANTI MALAM HARI. LATAR KEJADIAN DI RUMAH BATIN ANGAH. LAMPU PANGGUNG KEMBALI MENYALA).

ADEGAN V

BATIN ANGAH YANG SEDANG BERBINCANG-BINCANG DIPONSEL, TERHENTI KETIKA MENDENGAR PINTU RUMAHNYA DIKETUK. SETELAH MEMBUKAKAN PINTU, BATIN ULUNG, BATIN ALANG, DAN DATUK DANG PUN MASUK. DUDUK DI SOFA MEWAH. DI ATAS MEJA SUDAH TERSEDIA BERBAGAI MAKANAN MODERN KEKINIAN.

BATIN ALANG

Awak tak menyangko, ghumah Batin Angah semegah ini. Baghusan kek luo tampak biaso.

BATIN ANGAH

Ah, jangan memuji berlebihan begitu, Batin Alang. Ini tak seberapa jika disandingkan dengan rumah, Datuk Dang. Lagi pula, semua ini merupakan bantuan dari pabrik-pabrik tempat anak saya bekerja.

DATUK DANG

Semacam beginilah yang telah dijanjikan oleh pengusaha-pengusaha itu untuk tetua adat jika mau menjual tanah ulayat itu. (Tertawa) Bagaimana para Batin? Sudah dipikirkan masak-masak perihal tempo lalu?

BATIN ULUNG

Sudah, Datuk. Datuk jangan senang dulu, kami tetap pada keputusan pertama. Tanah ulayat dan bantaran sungai jantan itu tidak dijual barang sejengkalpun.

DATUK DANG

(Tampak marah) Cissh...! sudah saya katakan, berpikirlah matang-matang dan realistis. Berpikir maju.

BATIN ALANG

Haishh...! Kami ghaso, kami dah maju dah ni.

BATIN ANGAH

Sabar, Datuk Dang. Menurut saya, tak ada salahnya kita coba membuat objek wisata di kampung ni. Lagi pula tanah itu tetap menjadi milik adat.

BATIN ULUNG

Bagini, Datuk Dang. Bukannya kami ini kolot atau apapun istilah serupanya yang Datuk katakan. Kalau tidak ada kita para tetua adat, lantas siapa lagi yang akan menjaga nilai-nilai luhur kampung kita ni?

DATUK DANG

Memang sulit menjelaskan perihal begini dengan orang-orang terbelakang. Sedari awal saya katakan, sudah saatnya kita ni para tokoh adat berpikir maju.

BATIN ALANG

Haishh...! Kami ghaso, kami dah maju dah ni. Kalaulah kito saja tak hendak mengabdikan nilai keghamat pagha leluhur kito, macam mano pulak dengan toke-toke tu yang sudah jelas asal usulnyo tidak daghi negeghi ini?

BATIN ANGAH

Betul kata Batin Alang ni (sambil menunjuk Batin Alang)

BATIN ALANG

Manolah pernah awak salah dalam becakap.

BATIN ANGAH

Halah, baru kali ini saya dengar Batin Alang benar. (Kepada Datuk Dang) Bagini Datuk Dang! para warga kampung ni juga tak akan suka dengan pembangunan pabrik-pabrik yang didengungkan itu. Apa lagi tanah yang diminta adalah tanah makam para leluhur dan berdekatan dengan bandar sungai jantan. Bukankah itu dapat mengganggu pekerjaan para nelayan tradisional kampung ni?

DATUK DANG

Mengganggu bagaimana? Pengusaha-pengusaha itu nantinya bukan sekadar membangun pabrik. Mereka juga berjanji akan mengadakan bakti sosial, klinik berobat gratis, dan pembangunan keramba-keramba ikan untuk para nelayan kampung ni. Sudah barang tentu warga-warga akan senang.

BATIN ALANG

Ah, macam betul!

BATIN ANGAH

Ya, saya rasa memang betul. Saya sendiri contohnya, segala keperluan saya telah ditanggung oleh mereka.

BATIN ULUNG

Walaupun demikian, tidak seharusnya kita menjual martabat kampung. Bisa-bisa kampung kita ni jadi bahan cemoohan kampung lain.

BATIN ALANG

Betul tu. Meskipun tawaghan toke-toke tu menggiurkan, tetap sajo tak wajar kalau menjual harga dighi kampung adat ni. Masih banyak tanah lain.

DATUK DANG

Cissh....! Hei para Batin, zaman sekarang tak akan ada lagi yang mengurusi hal-hal semacam itu. Kalau pun ada, sudah sejak lama makam-makam itu ramai dikunjungi orang. Bahkan warga kampung ini hanya satu kali dalam setahun berziarah ke makam-makam itu. Itupun karena suatu tradisi adat yang dijalankan.

BATIN ULUNG

Justru itu, Datuk Dang. Justru demikian, kitalah yang harus mempertahankan hal-hal keramat begini. Sangat realistis membuat objek wisata di tanah ulayat dan sungai itu, agar orang-orang ramai berkunjung dan berziarah ke makam leluhur.

BATIN ANGAH

Sudah, sudah....! Begini saja, kita jual sajalah tanah itu tapi disisakan barang sepetak, bagian makam leluhur dan terusan tanah tersebut sampai sebagian tepian sungai jantan. Saya kira tanah tu sudah cukup luas untuk membangun pabrik.

DATUK DANG

Mereka tidak setuju (menunjuk Batin Ulung dan Batin Alang)

BATIN ALANG

Ehm... awak tetap menolak.

BATIN ANGAH

Harus mau.

BATIN ALANG

Cissh...!! Seperti talam muko duo. Batin Angah, awak ghaso Batin telah kehilangan keseimbangan.

BATIN ULUNG

Keputusan kami tetap sama. Tanah ulayat adat dan tepian bandar sungai jantan tidak dijual.

BATIN ALANG

Titik.

DI TENGAH PERDEBATAN ITU. MUNCUL CIK NUN, ISTRI BATIN ANGAH MEMBAWA MINUMAN UNTUK PARA TAMU.

CIK NUN

Silahkan diminum, Datuk, Batin. Seadanya saja. (setelah melirik suaminya, Cik Nun pun keluar ruangan kembali)

BATIN ANGAH

Sebaiknya kita betenang terlebih dahulu, mari silahkan diminum. (mempersilahkan minum para tetua adat).

DATUK DANG

Keputusan akhir ada di tangan saya, pemegang kuasa adat istiadat Kampung Tuah ini adalah saya. Saya pun telah setuju untuk menjual tanah itu. Esok pagi saya akan bertemu dengan para pengusaha itu, dan menandatangani berkas-berkas dari mereka.

BATIN ULUNG

Tanah adat di kampung Tuah ni, mesti ada persetujuan empat batin.

BATIN ALANG

Betul tu! Semuo perihal tanah, sungai, hutan, di Kampung Tuah ni ado adatnyo, dan haghus daghi persetujuan semuo Batin. Datuk tak dapat semena-mena!

DATUK DANG

Hal apa yang tidak bisa saya lakukan, Batin?

BATIN ANGAH

Lalu bagaimana dengan makam-makam itu, Datuk?

DATUK DANG

Saya akan suruh orang untuk memindahkan nisannya. Itu tidak akan sulit.

BATIN ULUNG

Lancang! (Batin Ulung menarik keris pusaka dari songketnya). Zalim! Bagaimana kalau kelak satu kampung ni terkena serapah seperti dahulu?

DATUK DANG

Cissh....! itu hanya dongeng belaka yang dituturkan oleh orang-orang kolot (Datuk Dang juga mengeluarkan bangkungnya dari sebalik sarung pinggangnya. Batin Angah dan Batin Alang saling berpandangan. Tampaknya bersiap-sedia). Kalau masih ingin berbesan dengan saya, sebaiknya tidak ikut campuri urusan tanah itu lagi.

BATIN ULUNG

Ancaman Datuk tidak berarti bagi kami ditimbang pemindahan makam para leluhur. Malam ini, kita tentukan hitam dan putihnya.

BATIN ALANG

(Berbisik kepada Batin Ulung) Besabar, Batin. Setiap masalah pasti ado jalan keluonyo.

BATIN ULUNG

Saya tidak sudi berbesan dengan orang yang tak beradab!

DATUK DANG

Batin pikir saya mau berbesan dengan orang kolot? Pikirannya sempit, percaya dengan takhayul. Musrik!

BATIN ALANG

Cissh...! Jangan sembaghang dalam bicagha, Datuk! Tak payah mencemoohkan kita sesama tetua adat. Sedaghi semula penobatan Datuk, awak dah cughiga. Datuk seperti kerbau dicucuk hidung.

DATUK DANG

(Tertawa) Batin muda. Tahu apa tentang penobatan?

BATIN ULUNG

Hati-hati betulah, Datuk! Segera batalkan penjualan tanah ulayat dan Bandar Sungai Jantan itu, sebelum roh leluhur mengamuk!

DATUK DANG

Itu semua hanya mitos! (Tertawa).

BATIN ULUNG

(Bangkit dari duduknya) Kalau begitu, terimalah padahnya!

PERKELAHIAN PUN TIDAK TERELAKKAN. SUASANA BERUBAH. SOROTAN LAMPU RUANGAN MENJADI MERAH. SUARA-SUARA ANGIN MENGHEMBUS TERAMAT KENCANG DAN GEMURUH. SUARA-SUARA BURUNG RIUH BERTERBANGAN. DALAM PERSETERUAN ITU, DATUK DANG BERHASIL MENUSUKKAN MATA BANGKUNGNYA KE ULU HATI BATIN ULUNG. SEKETIKA BATIN ULUNG PUN ROBOH. KARENA MELIHAT DATUK DANG SUDAH KELELAHAN, BATIN ALANG PUN MEMANFAATKAN KESEMPATAN ITU UNTUK MENYERANG DATUK DANG. DAN BERHASIL MEMBUAT DATUK DANG TEWAS BERSIMBAH DARAH.

MELIHAT SEMUA KEJADIAN ITU, BATIN ANGAH HANYA DUDUK DIAM DI SOFA MEWAH RUMAHNYA. BATIN ALANG MEMANDANGI DENGAN SAKSAMA WAJAH BATIN ANGAH. MEREKA SALING BERTATAPAN. TAK LAMA KEMUDIAN, BATIN ALANG ROBOH DAN MUNTAH DARAH DI LANTAI. DENGAN SEKUAT TENAGA BATIN ALANG MENCOBA BANGKIT.

BATIN ALANG

Kau! Rupanya. Ranjau Lapuk.

BATIN ANGAH

Ya, aku Alang. Akulah bara dalam sekam selama ini, Akulah yang menjual tanah-tanah di negeri Siak ini kepada para pengusaha-pengusaha itu. Setelah Kampung Tuah ini aku gadaikan, maka aku akan meninggalkan negeri Siak ini untuk selama-lamanya.

BATIN ALANG

(Sekuat tenaga merangkak menuju Batin Angah) Kau akan menanggung padahnya!

TEPAT DI BAWAH KAKI BATIN ANGAH. BATIN ALANG MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA. MUSIK DAN SUASANA MENCEKAM BERUBAH MENJADI MUSIK DODOI BERNUANSA KESEDIHAN. LAMPU PERLAHAN REDUP. FADE OUT.

ADEGAN VI

LAMPU MENYALA KEMBALI, MEMBENTUK SILUET SUATU TEMPAT. LAMPU DISOROT DARI PANGGUNG BAGIAN BELAKANG, MENAMPILKAN TIGA ORANG SALING BERHADAPAN.

LELAKI 1

Bagaimana. Sepertinya raut wajah kalian mengindikasikan kabar kebahagiaan?

LELAKI 2

(Tertawa). Ini, semua berkas telah bercap tangan seluruh batin Kampung Tuah ini.

LELAKI 1

(Menjabat tangan). Amajing! kalau begitu selamat. Kerja yang sangat bagus. Ini (menyerahkan sebuah koper). Setelah pabrik-pabrik berdiri, saya akan memberikan sebagian sahamnya kepada kalian seperti perjanjian.

BARU AKAN MEMBUKA KUNCI KOPER, TIBA-TIBA ‘DOR’, LELAKI 1 MENEMBAK MATI LELAKI 2. SEKETIKA SASARANNYA ITU TERSUNGKUR MENCIUM LANTAI.

LELAKI 1

(Mendekati si perempuan) Kamu memang perempuan yang dapat diandalkan.

SUARA-SUARA MUSIK DAN SYAIR PENDODOI ANAK DIPUTAR/ DIMAINKAN. LAMPU PERLAHAN FADE OUT BERSAMAAN DENGAN GELAK TAWA ORANG-ORANG DALAM SILUET TERSEBUT.

SELESAI

Catatan:

Nama seseorang, tempat ataupun daerah di dalam naskah ini hanyalah rekaan penulis semata. Jika terdapat kesamaan penulisan, maka tiada unsur kesengajaan dan penulis mohon maaf sedalam-dalamnya.

* Harap menghubungi penulis, saat akan menggarap naskah ini (081310440782)

** Set Panggung Awal dari penulis, dengan bebas dapat diganti dan disesuaikan dengan selera sutradara (penggarap naskah).

Siak, 17 Agustus 2023

--------------------------
M. ARIF AL HUSEIN

Kelahi
ran Aek Pamingke, berdomisili di Siak Sri Indrapura. Seorang pengajar, penggiat literasi, seni dan sastra ini aktif sebagai Dewan Kehormatan Unit Kegiatan Seni Batra Universitas Riau. Terlibat dalam puluhan naskah teater yang mentas di beberapa kota di Indonesia, diantaranya; Prahara Cik Apung (Jakarta: 2013), Opera Melayu Bulang Cahaya (Batam: 2013), Malam Botak (Palu: 2014), Kura-Kura dan Bekicot (Palembang: 2014),Raja Minyak (Banjarmasin: 2015), Wanci (Malang: 2017), dan puluhan peran lainnya. Karya tunggal yangtelah dibukukan; Fragmen Hitam (Novel: Nulisbuku Publishing 2015) dan puluhan karya lain yang terbit dalam bunga rampai. Penerima penghargaan beberapa kategori cipta karya sastra Festival Sastra Sungai Jantan-FSSJ (Dinas Kebudayaan Kabupaten Siak; 2019, 2021, 2023, 2024), Penerima Penghargaan Cerpen Terbaik 1 Laman Cipta Sastra (Dewan Kesenian Provinsi Riau; 2023 dan 2024), Menerima Penghargaan Cerpen Terbaik 1 Riau Writers & Cultural Festival-RWCF (Dinas Kebudayaan Provinsi Riau dan Komunitas Riau Sastra; 2022, 2023, 2024), Karya Cerpen Pilihan Taman Budaya Sumatera Barat (2025), dan menerima beberapa penghargaan lainnya.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: