Rawa-rawa di Matamu

PUISI

Karya: Iman Sembada

5/1/2026

RAWA-RAWA DI MATAMU

Sore itu, aku memelukmu. Aku melihat
Rawa-rawa di sepasang matamu. Alismu
Seperti rumpun lingi tempat seekor ular
Dan biawak bertapa. Aku adalah tubuh
Yang berjalan seusai pesta kemerdekaan


Sebuah kanal mengalirkan kisah-kisah
Kolonial. Tubuhmu adalah melankolia
Yang panjang. Bertahun-tahun sudah
Aku tersesat dalam arus jalanan. Apakah
Puisi bisa jadi sepiring nasi di meja makan?


Aku kembali memelukmu di sebuah malam
Minggu. Sebuah pelukan yang kelak menjelma
Sedentang kenang. Hati yang diselubungi sunyi
Tentu saja mengerti: demi apa mendamba cinta


Tubuhku berjalan di antara badai suara sirine
Ambulans dan potret-potret kemiskinan tanpa
Kamera-kamera pengawas. Detik dan kata-kata
Berlompatan melintasi rawa-rawa itu -- lalu
Lesap ke dalam biografimu yang singkat

Jalanan, Agustus 2025

JANTUNG NEGARA

Mata jarum di ujung selang infus
Menusuk jantung negara. Apakah
Negara sakit? Kabel listrik menyalakan
Televisi, mengalirkan telenovela luka
Ke dalam rumah-rumah tak layak huni


Siapakah negara? Orang-orang cemas
Menantikan hujan turun bersamaan
Bayangan banjir bandang. Mata jarum
Di ujung selang infus malih penyembuhan
Ataukah ancaman. Negara adalah tanah
Tempatku berdiri. Tanah cinta dan hidupku


Tetapi, negara apakah ini? Pejabat-pejabat
Sibuk mengurusi partai -- berjoget-joget
Di ruang sidang. Botol-botol infus, iklan
Obat sakit kepala dan poster pertunjukan
Bergantungan, seperti seni instalasi yang
Gagal. Apakah partai membutuhkan puisi?


Senja ini, saat yang tepat untuk mengemasi
Kalimat-kalimat bernas. Matahari terdampar
Di kaki langit bersama siluet awan berwarna
Konvensional. Di bawah gambar burung Garuda
Seseorang mempersembahkan karangan bunga

Jalanan, 24 Agustus 2025

KEMERDEKAAN MODE SENYAP

Tak ada bunyi dan getaran-getaran -- apalagi
Ledakan. Apa artinya pesan-pesanmu tanpa
Demokrasi dan keadilan? Kemerdekaan telah
Beralih ke mode senyap. Tetapi sebuah sound
Horeg sedang menghancurkan puing bangunan


Pesan-pesanmu adalah suara-suara burung hantu
Di tengah malam. Aku meloloskan sebatang rokok
Dari bungkusnya. Yanti dan Siti di dalam kamar
Tidur -- mimpi-mimpinya menjadi bintang-bintang
Di langit. Di manakah partai-partai ketika mahasiswa
Turun ke jalan? Orang-orang menahan lapar di kolong
Jembatan tak terjangkau notifikasi jadwal makan malam


Sumber-sumber air membuat perempatan di bawah
Tanah. Yanti dan Siti masih tidur -- kata-kata telah
Pergi meninggalkan mulutnya. Angin berjalan-jalan
Di rambutku. Sebuah demonstrasi sudah dibubarkan
Jam 4 sore tadi. Ruang dan waktu adalah realitas
Penuh bisikan setiap diskusi tentang kesejahteraan


Aku adalah tubuh yang sunyi, seperti lampu neon
Di ujung jalan buntu. Kemerdekaan mode senyap
Di luar orbit sejarah. Blitz-blitz kamera mengaborsi
Batas antara manuskrip dan peta negara. Tetapi
Tubuhku yang sunyi tetap tegar ditekan keterasingan

Tangerang Selatan, Agustus 2025

REVOLUSI TOILET

Mesin-mesin cetak mengalirkan brosur-brosur
Pemberontakan di luar kultur. Lalu kamar mandi
Kehilangan sabun, ember dan sikat gigi. Bayangan
Homo Sapiens di atas puing-puing bangunan. Biji
Kacang telah terpisah dari kulitnya. Orang-orang
Telah menjadi gelombang eksodus yang masif --
Hukum dan keadilan dalam mulut tokek, kekasihku


Revolusi toilet melewati batas kota-kota
Dan benua. Aku melihat kendaraan listrik
Tergesa-gesa meluncur di jalan raya. Demokrasi
Di ujung tanduk, kekasihku. Angin mondar-mandir
Di atas kompor elektrik yang menyala -- apinya
Seperti pidato-pidato tentang anggaran belanja


Detik-detik bermigrasi dari toilet ke wastafel. Bau
Sambal terasi dan bawang goreng mengendap
Di dapur. Ada saos dan kecap tercecer di lantai
Yang licin, kekasihku. Harga minyak goreng
Dan telur ayam naik berlipat-lipat. Bau uang
Mengalir setelah transfer antar rekening


Sebuah kamera memotret senja -- matahari
Hampir tenggelam tanpa dramaturgi. Lalu
Aku lupakan parfum yang berdansa dalam
Pesta. Orang-orang adalah gerakan di setiap
Aksi perlawanan. Aku masih menyimpan ideologi
Dalam saku bajuku. Revolusi tak bisa dibunuh
Seperti bara api magma dalam tanah, kekasihku

Depok, Agustus 2025

SETELAH LEDAKAN LABORATORIUM BAYANGAN

Sebuah detik membuat lintasan-lintasan
Untuk musim panas setelah musim hujan
Berlalu. Siapakah yang memasukkan musim
Hujan ke dalam koper? Di luar jendela, musim
Panas telah menghubungkan kabel-kabel listrik
Yang putus. Mesin-mesin AC berdengung lagi


Aku melihat sebuah ketakutan dimulai dari
Kantor pajak dan bank. Pemblokiran rekening
Menjadi pandemi kepanikan di antara pecahan
Kaca dalam gemuruh sound horeg. Dekonstruksi
Bahasa di antara gravitasi prosa dan puisi setelah
Ledakan laboratorium bayangan. Aku melihat seekor
Burung bertengger di atas monumen belimbing


Musim panas merenovasi daftar menu dan kenaikan
Gaji anggota legislatif. Mimpi apa aku semalam
Aku sudah lupa. Aku tak ingat lagi. Angin memotong
Tumpukan-tumpukan kenangan yang kusut. Sejarah
Ditulis ulang tanpa penggaris. Speaker membatalkan
Iklan pewangi pakaian. Seseorang mengangkut
Televisi, mesin cuci dan kipas angin rusak dengan
Gerobak. Awas: semua sedang tak baik-baik saja


Aku membeli lem tikus -- membuat sebuah jebakan
Di atas loteng nanti malam. Jebakan untuk tikus
Yang rakus. Aku melihat tubuh-tubuh berkeringat
Di bawah tatapan musim panas. Musim panas
Menjadi buas dan ganas di luar kamera -- membakar
Rumputan, bunga-bunga, kultur dan biografimu

Depok, 20 Agustus 2025

RUMAH KITA

Apakah artinya rumah bila kita tak saling
Menawarkan pelukan? Sebuah cermin retak
Seperti luka gores pada sekeping hati yang
Tak disorot kamera televisi. Di rumah ini kita
Pernah berbagi dan tetap tegak di antara
Cerita-cerita yang mengalirkan airmata


Seorang perempuan yang gagal menjadi
Bintang iklan menghapus make up yang
Membungkus wajahnya. Percakapan kita
Selalu menjelma dengung lebah. Kita tak
Pernah lupa alamat pulang ke rumah. Ingatan
Jatuh di ranjang -- membaringkan keletihan


Lalu dengung lebah bersembunyi di balik
Potretmu. Apa lagikah yang kita cari? Bekas
Bibirku masih hangat di keningmu. Sesobek
Kenangan terbang, seperti layang-layang
Di udara luas. Kita kembali menyusun pelukan
Di antara jahitan-jahitan kultur warisan leluhur

Depok, Agustus 2025

KARTU KESEHATAN RAKYAT MISKIN

Seusai senam pagi: kartu jaminan kesehatan
Dirilis bersama vaksin dan vitamin C. Jaminan
Kesehatan untuk rakyat miskin. Rakyat miskin
Di rumah petak -- hidup pas-pasan bersama
UMR rendah, raskin dan tabung gas 3 kilogram


Sebuah klinik dibangun bersebelahan dengan
Apotek. Seorang perempuan berkacamata gelap
Membeli obat sesuai resep dokter. Sebuah pagi
Turun bersama angin di kuburan-kuburan tanpa
Nisan -- di sisi lain, detik-detik melaju bergegas


Aku melihat garis-garis cahaya oranye di dinding
Gedung. Aku lihat juga bayangan kartu jaminan
Kesehatan, bayangan rumah sakit, bayangan
Dokter dan suster di antara brosur-brosur
Pengobatan alternatif. Aku mundur selangkah
Di hadapan televisi yang dimatikan, tak ada
Nyala seribu mata kunang-kunang. Aku masih
Menunggu perempuan berkacamata gelap
Keluar dari apotek. Aku ingin bertanya: adakah
Resep dokter untuk anak-anak telantar yang lapar


Angin berembus dari kuburan-kuburan tanpa
Nisan. Aku mencium bau gosong dari dapur
Warung Tegal. Suara api, seperti data-data
Kemiskinan di atas meja seminar. Lalu kartu
Jaminan kesehatan direnovasi dalam mesin
Cetak yang ketakutan. Setiap yang berlalu akan
Menjadi kenangan. Setiap proyek bisa menjadi
Jejaring kolusi, nepotisme dan ladang-ladang cuan --
Suara tokek bergema dalam laboratorium bahasa
Setelah ledakan-ledakan rekaman amatir di luar bioskop

Jalanan, 16 Agustus 2025

--------------------------
IMAN SEMBADA
Penulis kelahiran Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ia menulis puisi, cerpen dan melukis. Buku antologi puisi tunggalnya antara lain Airmata Suku Bangsa (2004), Perempuan Bulan Ranjang (2016), Orang Jawa di Suriname (2019),dan Garis Lurus (2025). Ia kini bergiat di Lembaga Kebudayaan Depok, Jawa Barat.

Ilustrasi:
"Kopi Muria", karya: Putut Pasopati

INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14

Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com

Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI

Mitra Kerja: