Sang Katekis

BUKU

RASANYA inilah jawaban atas kerinduan kita akan hadirnya sebuah novel yang mengisahkan pergumulan seorang awam menjadi seorang katekis, seseorang yang bukan sekadar guru agama, juga mengemban tugas sebagai pewarta iman dan saksi hidup yang mendampingi umat, baik anak-anak maupun dewasa, dalam pertumbuhan iman mereka. Dan novel ini mengisahkan generasi awal para katekis dan pertumbuhan kekatolikan di Jawa Tengah, Muntilan tepatnya.

Selain pergumulan “Sang Katekis” itu sendiri, novel ini juga menghidupkan banyak filsafat Jawa ke dalam perilaku hidup masyarakatnya. Kita akan menemukan pemaknaan-pemaknaan atas idiom yang dipergunakan. Dari citra semesta hingga alam diri manusia. Dari tanda-tanda alam yang dikisahkan hingga desakan dari dalam, yakni gerak spiritualitas seorang manusia. Kita membaca coro (kecoa, dalam bahasa Indonesia) tidak hanya coro itu sendiri, ia menyelinap masuk dan menjadi sikap/perilaku manusia itu sendiri.

Gerak spiritualitas dengan sangat indah, misalnya digambarkan dengan mendeskripsikan “perjumpaan paling pesona” Adhidarma. Saya cuplik, di bawah ini:

Ia mengatupkan mata, dan lihatlah cahaya putih memasuki relung matanya. Cahaya itu bergerak melingkari sekujur tubuhnya. Dalam pada itu, muncul di pelupuk matanya, pria telanjang yang bergantung di kayu, pria yang berdarah merah itu.

Di hadapan pria bercahaya itu, Adhidarma mengeluhkan kegelapan. Ia memberi orangtuanya rasa bakti namun yang ia terima penolakan keji. Yang ia tanam benih jagung, namun yang bertumbuh ilalang. Yang ia katakan kebenaran namun yang disebarkan tetangganya adalah pencemaran. Ia menyembuhkan namun ia justru kesakitan.

Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan. Tangannya begitu lembut nan ringan. Begitu bangkit berdiri, ia serasa berayun-ayun dalam kemahaluasan semesta. Semesta memenuhi dirinya, memasuki tubuhnya. Pria bercahaya itu kemudian berkata, “marilah menari.”

“Sang Katekis” akan memasuki ruang-ruang permenungan setiap pribadi, dengan cara yang juga spesial sebagaimana Romo van Lith, SJ., memanggil Adhidarma memberi kebebasan untuk “sembuh”. Anda akan menemukan hal-hal spesial lainnya, dan mungkin lebih banyak dan lengkap pada saat Anda membaca novel ini.

Selamat untuk penulis “Sang Katekis”. Novel ini niscaya memperkaya khasanah sastra Indonesia, dan lebih khusus lagi sastra Katolik yang dilahirkan oleh sastrawan-sastrawan kita.(*)




Asa Jatmiko,
Penerbit Iniibubudi

Judul: SANG KATEKIS
Penulis: Johannes Berchmans Haryono
Editor: Asa Jatmiko dan Yohanes Budi Utomo

Tebal Hal: viii + 346 Hal
Cetakan Pertama:
Februari 2026
Penerbit: Iniibubudi
ISBN: 978-634-96531-1-4