
Saya Berhenti di Beberapa Baris
ESAI
Oleh: Jimat Kalimasadha
SAYA ingin masuk sebagai pembaca yang mengalami buku ini secara langsung. Saya tidak datang untuk menjelaskan apa arti puisi-puisi Pipiek. Saya datang sebagai pembaca: untuk mengatakan bagian mana yang membuat saya terkesan, bagian mana yang membuat saya bertanya, dan bagian mana yang menurut saya masih bisa dibuat lebih kuat.
Saya menemukan Pipiek sangat kuat ketika dia membiarkan benda berbicara. Rel bisa menjadi perpisahan. Daun bisa menjadi kenangan. Bau tanah bisa menjadi pintu menuju seseorang. Rambut kelabu bisa menjadi tanda bahwa waktu sedang berjalan.
Tetapi saya juga menemukan beberapa bagian ketika puisinya justru terlalu cepat menjelaskan maksudnya. Bagi saya, ketika penyair sudah menemukan benda atau metafora yang kuat, kadang-kadang kita tidak perlu diberi tahu lagi apa artinya. Biarkan saya sebagai pembaca menemukannya sendiri.
Jadi, bagi saya, pertanyaan menarik setelah membaca buku ini bukan hanya: ‘Apa yang ingin dikatakan Pipiek?’ Tetapi juga: ‘Di bagian mana Pipiek berhasil membuat saya menemukan makna sendiri, dan di bagian mana saya merasa maknanya terlalu cepat diberikan?’
Sebagai penikmat puisi, saya merasa, salah satu cara paling menyenangkan membaca puisi adalah tidak buru-buru bertanya, “Apa maksud penyair?”
Tetapi bertanya:
“Apa yang pernah saya alami yang mirip dengan puisi ini?”
Sebab puisi sebenarnya tidak selalu jauh dari kehidupan kita.
Kadang-kadang puisi hanya mengambil sesuatu yang biasa kita alami, lalu melihatnya dengan cara yang berbeda.
Ketika Hatimu Lara
Mari kita baca puisi “Ketika Hatimu Lara.” (hal. 33)
Puisi ini menarik karena penyair tidak memberikan nasihat yang rumit ketika seseorang sedang sedih.
Ia justru menyarankan pergi ke makam Kanjeng Sunan, berwudu, berdoa, berdzikir, kemudian pulang membawa makanan seperti pisang byar atau intip bundar, lalu membagikannya kepada tetangga.
Ada satu gagasan sederhana tetapi menarik di sini:
Kadang-kadang cara mengatasi kesedihan bukan dengan terus memikirkan kesedihan itu.
Kita sering melakukan sebaliknya.
Ketika kecewa, kita membuka kembali chat.
Ketika putus dengan seseorang, kita melihat fotonya.
Ketika gagal, kita terus bertanya, “Mengapa saya gagal?”
Akhirnya kesedihan diberi makan terus-menerus.
Puisi ini menawarkan cara lain: bergerak.
Pergi. Berwudu. Berdoa. Bertemu orang. Berbagi makanan.
Dengan kata lain, kesedihan tidak selalu harus dilawan dengan kata-kata. Kadang-kadang ia perlu dilewati dengan tindakan.
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang cukup menarik dari puisi Pipiek:
hal-hal sederhana bisa menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih besar.
Makam, air wudu, makanan, tetangga—semuanya bukan lagi sekadar benda atau kegiatan. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan seseorang untuk keluar dari kesedihan.
Berikut beberapa contoh yang cukup kuat dari Mencari Jejakmu.
A. Ungkapan yang sangat kuat dan mengesankan
1. “Bau tanah” menjadi pintu menuju kenangan
Dalam “Mencium Baumu di Simpang Tujuh” (hal. 8), Pipiek menulis tentang bau seseorang yang hadir bersamaan dengan bau tanah setelah hujan:
“Saat bau tanah yang mewangi seusai hujan”
Lalu bau itu tidak berhenti sebagai aroma. Ia masuk ke tubuh:
“Menelusup ke rongga dada”
“Bersemadi di jiwa”
“Membasah bersama aliran darahku”
Menurut saya, ini salah satu bagian yang berhasil.
Mengapa?
Karena penyair tidak sekadar mengatakan “aku rindu kepadamu.” Ia membuat rindu terasa melalui indra penciuman. Kita semua tahu pengalaman seperti ini: mencium parfum tertentu lalu tiba-tiba teringat seseorang; mencium bau masakan lalu teringat rumah; mencium tanah setelah hujan lalu teringat masa kecil.
Jadi, bau menjadi tombol memori.
2. “Senja Rel Rendeng” sebagai metafora perpisahan (hal. 53)
Ini salah satu metafora yang saya suka:
“kita senantiasa terpisah bagai rel Rendeng ini”
Bayangkan dua rel.
Mereka berjalan berdampingan.
Dekat.
Sama-sama panjang.
Tetapi tidak pernah bertemu.
Itulah yang membuat metafora ini kuat.
Penyair tidak perlu mengatakan panjang lebar, “Kita sebenarnya saling dekat tetapi tidak mungkin bersama.”
Cukup:
rel.
Ini contoh bagus bagaimana benda konkret dapat menggantikan penjelasan yang panjang.
Lebih menarik lagi, rel tersebut berada di Rendeng, sebuah ruang yang juga menyimpan sejarah. Penyair menghubungkan kesepian pribadi dengan sejarah penderitaan petani dan pekerja pabrik gula.
Ada dua luka di sana:
luka sejarah dan luka pribadi.
Keduanya bertemu di satu tempat: rel Rendeng.
3. “Rambutmu yang Kelabu” (hal 45)
Puisi ini pendek sekali, tetapi menurut saya punya satu pertanyaan yang sangat kuat:
“Lalu usia, kepada siapa, hendak kau titipkan?”
Ini menarik karena usia diperlakukan seperti sesuatu yang bisa dititipkan.
Padahal usia tidak bisa dititipkan kepada siapa pun.
Justru ketidakmungkinan itulah yang membuat pertanyaannya terasa.
Rambut berubah.
Matahari semakin “rabun”.
Hari semakin “tertatih”.
Tiga hal sederhana itu membuat saya melihat usia sebagai sesuatu yang bergerak menuju senja.
Dan pertanyaan terakhir terasa seperti tamparan kecil:
Kita mau menitipkan usia kita kepada siapa?
Atau mungkin sebenarnya tidak kepada siapa-siapa.
Waktu hanya berjalan.
4. “Daun” sebagai sesuatu yang harus dibereskan
Dalam “Tentang Daun”, (hal. 42) kegiatan membereskan halaman berubah menjadi usaha membereskan kenangan:
“aku pun akan terus memungutinya
sampai tak ada lagi sisa
tak boleh ada yang tercecer seperti cerita kita”
Ini juga kuat.
Daun yang berserakan menjadi semacam gambaran hubungan yang berantakan.
Dan ada permainan yang menarik:
daun yang tercecer terhubung dengan cerita yang tercecer.
Penyair seolah ingin mengatakan:
Kalau halaman bisa dibereskan, apakah kenangan juga bisa?
Tentu tidak.
Daun bisa dipungut.
Kenangan tidak.
Di situlah kekuatan puisinya.
5. “Pesan” yang tidak membutuhkan WhatsApp
Dalam “Pesan-Pesan yang Tak Pernah Kukirim”, saya menemukan gagasan yang sangat cocok dibicarakan kepada generasi sekarang.
Penyair mengatakan pesan tidak perlu dikirim melalui teknologi. Pesan itu sudah ditulis pada daun, batang pohon, hujan, udara, bahkan aroma tembakau.
Ini bisa dibaca sebagai metafora:
Ada pesan yang tidak dikirim lewat HP, tetapi dikirim lewat alam dan perasaan.
Tentu saya tidak harus menyetujui logika puisinya secara harfiah. Justru sebagai gagasan puitik, ini menarik.
Karena kita semua mengenal “pesan yang tidak pernah dikirim”.
Dan mungkin yang paling menarik:
pesan yang tidak pernah kita kirim sering kali justru paling sulit kita lupakan.
B. Bagian yang ambigu atau terasa belum selesai
Nah, di baris-baris beberapa puisi ini saya berhenti.
Saya akan menggunakan istilah “belum selesai” atau “belum sepenuhnya berhasil”, bukan “jelek”.
6. “Musim Ketiga” sangat menarik (hal. 3)
Penyair sejak awal memberi sebuah istilah yang membuat penasaran:
“Kau selalu menyebut musim ini musim ketiga”
Lalu diberikan petunjuk:
“Musim dimana kita bertemu untuk berpisah”
Ini menjadi premis puisi yang bagus.
Seolah-olah ada dua orang yang mempunyai sejarah bersama, dan mereka mempunyai istilah pribadi: musim ketiga.
Saya tertarik dengan istilah ‘musim ketiga’ karena sejak awal ia membuat saya bertanya: musim ketiga itu sebenarnya apa? Saya menemukan beberapa petunjuk—daun jambu yang mengering, udara yang mengering, rasa dingin, pertemuan yang berakhir dengan perpisahan. Tetapi sebagai pembaca, saya merasa konsep ‘musim ketiga’ ini masih menyisakan ruang yang cukup besar untuk saya tafsirkan. Dan bagi saya, itu menarik, sekaligus menjadi pertanyaan: apakah ambiguitas ini memang sengaja dibiarkan oleh penyair, atau sebenarnya konsepnya masih bisa dikembangkan lebih jauh?”
7. “Namaku Batu”: menarik, tetapi terlalu cepat (hal. 55)
Puisi ini hanya terdiri dari beberapa baris:
“Namaku batu
pernah berfikir menjadi angin
tapi itu dulu
Kini aku menjadi sungai dan rumput yang
tumbuh di telapak tanganmu”
Jujur, ini sangat menarik.
Batu berubah angin berubah sungai berubah rumput.
Tetapi justru karena sangat singkat, pembaca mungkin bertanya:
Apa hubungan perubahan itu?
Mengapa batu ingin menjadi angin?
Mengapa sekarang menjadi sungai?
Mengapa kemudian menjadi rumput yang tumbuh di telapak tangan seseorang?
Saya bisa menafsirkan macam-macam.
Mungkin tentang perubahan identitas.
Mungkin tentang perjalanan kehidupan.
Mungkin tentang seseorang yang ingin menjadi sesuatu yang bebas, tetapi akhirnya menemukan bentuk lain dalam hubungan dengan orang lain.
Tetapi teks tidak memberi cukup pegangan.
Jadi, menurut saya, ini contoh gagasan yang menarik tetapi belum sepenuhnya dikembangkan.
8. “Batas Sampai”: misterius, tetapi terlalu kabur (hal. 24)
Dalam “Batas Sampai”, kita menemukan:
“Perjalanan ini menuju
pantai atau batas kota sebentar lagi sampai?”
Kemudian:
“sakit? Ah,
tak ada lagi aku mengenalnya atau apa?
atau siapa?”
Ada suasana misterius.
Kita merasa ada seseorang atau sesuatu yang sedang dicari.
Tetapi pertanyaan:
“sakit? Ah, tak ada lagi aku mengenalnya atau apa? atau siapa?”
membuat arah puisi menjadi sangat kabur.
Kabur bisa menjadi kekuatan puisi, tetapi ada perbedaan antara “membiarkan pembaca menafsirkan” dan “pembaca kehilangan pegangan”.
Ini bisa menjadi bahan diskusi yang bagus:
“Apakah puisi harus selalu jelas?”
Jawabannya tentu tidak.
Tetapi kalau semuanya terlalu kabur, pembaca juga bisa kehilangan alasan untuk terus mengikuti puisi.
C. Bagian yang terasa tergesa-gesa
9. “Langit 1” dan “Langit 2”: gagasannya menarik, tetapi seperti potongan
“Langit 1” sangat pendek:
“Pernah, ingin
aku bernama langit
tapi matahari, ayahku, dan
telaga, ibuku, ingin aku menjadi biduk
yang merenangi garam lautan”
Kemudian “Langit 2” berbunyi:
“Langit itu, Sayangku, seperti
rupa-rupa hatimu
dipenuhi pelangi dan burung...”
Gagasannya sebenarnya indah.
Anak ingin menjadi langit, tetapi orang tua menginginkannya menjadi biduk.
Ada persoalan tentang keinginan diri dan harapan orang tua.
Ini justru sangat dekat dengan anak muda.
Misalnya:
“Saya ingin menjadi seniman, tetapi orang tua ingin saya menjadi dokter.”
Atau:
“Saya ingin kuliah di kota lain, tetapi orang tua ingin saya tetap dekat rumah.”
Sayangnya, puisi ini terasa seperti baru membuka pintu tetapi belum masuk ke dalam ruangan.
Konfliknya menarik, tetapi tidak dikembangkan. Baru hook atau opening.
D. Bagian yang idenya kuat tetapi terlalu banyak dijelaskan
10. “Sate Kebo Mbah Bibit”
Saya tetap menganggap puisi ini menarik karena berangkat dari sesuatu yang sangat lokal dan sehari-hari: seorang perempuan tua yang bertahun-tahun membuat sate kerbau.
Tetapi ada bagian yang menurut saya terlalu cepat berubah menjadi penjelasan:
“tentang sebuah cinta kasih antar sesama manusia
hormat-menghormati walau berbeda keyakinan...”
Kemudian dijelaskan lagi:
“Di saat kini kita masih hiruk pikuk tentang sesuatu
bernama toleransi...”
Pesannya baik.
Tetapi secara puitik, saya justru ingin penyair lebih mempercayai Mbah Bibit dan sate kerbaunya.
Bukankah cerita tentang seorang perempuan tua yang setiap hari menjaga warung warisan keluarga, memasak kerbau, bangun sebelum fajar, dan tanpa sadar ikut menjaga tradisi toleransi sudah cukup kuat?
Pembaca bisa menemukan sendiri maknanya.
Di sini kita bisa memakai prinsip sederhana:
Show, don't tell.
Daripada mengatakan:
“Ini tentang toleransi.”
biarkan pembaca melihat seorang perempuan tua menjalankan tradisi toleransi setiap hari.
Pesannya mungkin justru akan terasa lebih kuat.
E. Ada metafora yang indah, tetapi juga bisa diperdebatkan
11. “Tubuh dan jiwaku telah membatu bahkan melumut beku”
Dalam “Ku Tunggu Kau di Gerbang Kotaku”, (hal 10) setelah menunggu seseorang begitu lama, penyair mengatakan:
“walaupun tubuh dan jiwaku telah membatu bahkan
melumut beku”
Ini cukup kuat karena menunggu diterjemahkan menjadi perubahan tubuh.
Tetapi “membatu”, “melumut”, dan “membeku” adalah tiga gambaran yang sekaligus dipakai.
Bisa terasa kaya.
Tetapi bisa juga terasa seperti penyair menumpuk metafora karena ingin memperkuat kesan, padahal satu metafora sebenarnya sudah cukup.
Misalnya “membatu” saja sudah memberi kesan lama, diam, tidak bergerak.
“Membatu + melumut + membeku” membuat pembaca bisa bertanya:
Mana sebenarnya gambaran utama yang ingin dibangun?
Ini bukan kesalahan besar, tetapi menarik untuk dibicarakan sebagai persoalan ketepatan memilih kata.(*)
Catatan sebagai Pembaca atas Antologi Antologi Puisi "Mencari Jejakmu"
Saya Berhenti di Beberapa Baris
Oleh. Jimat Kalimasadha




--------------------------
JIMAT KALIMASADHA
Penyair dan Cerpenis.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






