
Seluka Waktu
PUISI
Karya: Eddy Pranata PNP
1/1/2026


SUARA BERGEMA DARI KETINGGIAN BUKIT
ada suara bergema dari ketinggian bukit, memantul ke
lembah ke pohon-pohon menjulang: “aku hanya ingin
berbagi intuisi; bahwa tak mudah menjadi penyair...
sampai sekarang aku masih bertarung... aku terus
berguru kepadanya; ruang dan waktu...”
Cirebah, 16 Juni 2025
DARI PINGGIR JEMBATAN
dari pinggir jembatan yang di bawahnya air kali mengalir keruh
aku hanya ingin mengabarkan: gerimis pagi turun serupa rindu
kesukaanku pada peluk kedamaian, dan burung-burung di pohon
akasia, mahoni serta pucuk bambu yang menjulang
masih terus berkicau, menyanyikan ketulusan dan harapan
: "au, hidup alangkah menyenangkan!"
Cirebah, 11 Juni 2025
SEMUT YANG TERUS MERAYAP
kalau engkau tak mampu menjadi gajah
jadilah semut yang terus merayap.
Cirebah, 10 Juni 2025
PERAHU DIAYUN ALUN GELOMBANG
teluk ini – dan gemuruh laut, perahu diayun alun gelombang
berlindunglah dari sengat matahari, meluncurlah ke pasir putih
catat sejarah kecil, au, sajak-sajak yang asin kelat menyatu tubuh
jiwa yang luas menyala, menyala serupa cita-cita dan cinta.
di teluk ini-- semula ingin kubelah selat; melarung seluruh
dendam-rindu tetapi matahari terik, kupilih berlindung
di bawah rimbun waru, nikmati kelapa muda + tempe mendoan;
mengingat puisimu : "seberapa perih luka dada, setajam apa
sembilu dua mata? jangan kautanya sengilu apa cinta, kau rengkuh
hati cahaya!"
teluk ini berpasir sejarah jingga, berlangit kesetiaan purba.
Cirebah, 1 Juni 2025
JALAN KAMPUNG BERKABUT TIPIS
aku suka sekali jalan kampung yang lengang, bersatu dengan
burung-burung liar dan kelelawar
: "segala riuh aku singkirkan, apalagi runyamnya pertengkaran
hidupku untuk saling menyinta, alam semesta!"
seperti pernah kukatakan; aku suka sekali jalan kampung yang
lengang-- berkabut tipis, aku mandi embun seraya meneguhkan
cinta damai juga rindu senantiasa gugur tanpa rasa benci berlebihan
: "aku ingin hidup sederhana dengan cinta-- yang serupa jalan
kampung berkabut tipis itu..."
Cirebah, 28 Mei 2025
BILIK RAHASIA PALING MENYENANGKAN
langit di atas bukit mulai mendung, suara nyanyimu
serupa bisik masa lalu, semula aku mengira yang
kaudendangkan puisi ebied. g. ade, tetapi bukan
ternyata dangdut lama dari beberapa penyanyi;
aku sih suka-suka saja, mungkin suasan hatimu
sedang sangat bahagia, atau bertanya-tanya
: apakah cinta bisa seutuhnya? tak cemburu, tak
ada benci, lalu seseorang bisa menjelma malaikat?
menyelamatkanmu dari jurang perih, menyeretmu
ke bilik rahasia paling menyenangkan, paling purba.
Cirebah, 24 Mei 2025
AKU MAU JADI PENYAIR PALING SEDERHANA
ada suara dari kejauhan, serupa gema rindu membentur
dinding kamar
: "apakah kepergian bisa tidak menyakitkan?
masa lalu ungu runtuh dari dalam kepala, au, beri aku
puisi tentang batu nisan di atasnya cahaya rembulan!”
seandainya engkau ditawarkan memilih; sayap malam yang rapuh
atau cahaya pucat rembulan? kukira engkau hanya akan diam seraya
menggelengkan kepala lalu melangkahkan kaki ke musala pinggir kali
zikir hingga subuh
: "aku mau jadi penyair paling sederhana tanpa panggung..."
Cirebah, 18 Mei 2025
SELUKA WAKTU
yang ngilu selain cemburu dan rindu-- usia menakar cinta
: "aku ingin terus bersamamu," bisik mawar pada duri
seluka waktu; lorong rahasia kaubangun
dengan hati dan air mata; "ketuklah pintu jiwa kaca,
sepenuh imaji, serengkah janji!" au, yang sembilu selain
sakit hati dan cinta-- kesetiaan mengukur cahaya
: "sedalam apa lautmu, setajam karang-karangmu, aku
tak peduli!" seluka-luka waktu; ruang rahasia,
setajam duri, serengkah puisi.
Cirebah, 12 Mei 2025
BUNGA BERMEKARAN DITERPA PUCAT REMBULAN
seandainya benar aku berkunjung dan menginap ke rumahmu
aku ingin tidak kautempatkan di kamar belakang
aku mau di kamar depan, agar bisa melihat bunga-
bunga bermekaran diterpa pucat rembulan
dan keesokan, dari balik gorden jendela-- aku juga bisa leluasa
melihat siapa saja tamu yang datang sebelum lewat pintu gerbang,
aku bisa menerka tabiat orang dari cara berjalan
dari langkahnya yang tergesa atau ragu-ragu, atau yang pelan
tapi pasti, bisa saja yang datang itu manusia yang suka membangga-
banggakan harta, atau yang mengorbankan diri demi ambisi,
pamer kecantikan palsu dengan topeng mulut manis, o,
suka memaksa dan berburuk laku dan yang harus sangat waspada
adalah manusia ular berkepala dua, ciah! tetapi seberapa sungguh
engkau bisa menerima kedatanganku? perempuan embun; di tengah
hiruk-pikuk hidupmu, beri aku waktu jingga mawar!
Cirebah, 10 Mei 2025
AKU MENJELMA DEBUR OMBAK
aku menjelma debur ombak di antara selat; merasakan perih
begitu terhempas di pasir pantai; aku buih
zikir sepanjang waktu, nyaris tanpa cinta: dan runcing karang
berbisik: "aku tak ingin engkau pergi hanya karena mawar,
bunga pinus, atau sebait puisi!"
Cirebah, 10 Mei 2025
--------------------------
EDDY PRANATA PNP
adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Raykat, Medan Pos, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Minggu Pagi, Asyik.asyik.com., dll. Puisi-puisinya juga terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama.
Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).


Larung, karya Putut Pasopati

