Siksaan yang Manis di Pentas "Lurung Kalabendu"

ESAI

Oleh: Khothibul Umam

8/3/2026

ADA sesuatu yang ironis sekaligus mengharukan (kalau tidak mau dibilang menarik) ketika sebuah naskah yang lahir dari Solo tahun 1997, setahun sebelum krisis moneter dan kerusuhan Mei 1998, dipentaskan kembali di Auditorium UMK Kudus pada 2026 untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya pinjaman online dan kredit HP cicilan. Lurung Kalabendu karya Joko Bibit Santoso, yang semula lahir dari kegelisahan terhadap tanda-tanda zaman "Kala Bendu" ala Jangka Jayabaya dan Serat Kala Tidha Ranggawarsita, kini direkontekstualisasi oleh Teater Jaten Batang sebagai kampanye literasi keuangan bagi masyarakat yang hidup dalam pusaran fintech, gaya hidup hedonis, dan cicilan barang elektronik.

Dalam perjumpaan inilah lahir apa yang saya sebut sebagai "siksaan yang manis" berupa usaha tulus sekelompok aktor Pantura untuk berdialek Surakartan, tetap setia pada tubuh tekstual naskah Solo, tetapi tersandung oleh logat lokal dan artikulasi yang kabur pada dialog cepat. Siksaan itu manis karena niat menjaga otentisitas terasa jelas, namun tetap siksaan karena telinga yang terbiasa dengan ritme Solo ditarik masuk ke gang sempit tempat vokal-vokal Pantura menyelonong di antara krama alus.

Lurung Kalabendu:
Dari Reportase Nyata ke Ramalan Sosial
Naskah Lurung Kalabendu sendiri bukan teks sembarangan yang lahir di ruang abstrak. Joko Bibit merumuskannya dari reportase nyata atas fragmen kehidupan masyarakat kecil di sekitarnya seperti hutang-piutang, kecemasan orang tua, dan retaknya keluarga karena tekanan ekonomi. Semua itu kemudian ia bingkai dengan lensa kosmologi Jawa, Jangka Jayabaya dan Serat Kala Tidha, untuk memaknai tanda-tanda jaman sebagai "penanda datangnya Kala Bendu".

Dalam lakon, gang sempit (lurung) menjadi representasi ruang sosial tempat krisis ekonomi menubuh. Ngabdul mengigau di becak, Santoso mengusir istrinya Darsi yang berhutang 3,5 juta kepada Bu Sugi, sementara Mbah Sumi menangis kehilangan uang kecil hasil berjualan bunga, yang bagi orang kaya mungkin sekadar uang rokok. Semua ini adalah dramaturgi ekonomi rakyat kecil menjelang runtuhnya Orde Baru. Ranggawarsita menggambarkan Kalabendu sebagai zaman ketika orientasi orang terpusat pada harta benda, orang kaya jadi primadona, dan puncaknya ditandai oleh rusaknya tatanan masyarakat. Jika demikian, maka naskah ini adalah catatan kaki sastra dari sebuah bab besar sejarah politik Indonesia.

Dari tema lakon seperti itu, Teater Jaten, komunitas yang berbasis di Batang, memutuskan mengangkat kembali Lurung Kalabendu dengan agenda yang jelas, yaitu mengingatkan masyarakat supaya berpikir panjang sebelum mengambil keputusan finansial, tidak tertipu jebakan pinjol dan kredit barang elektronik yang ujungnya membentuk "jaring laba-laba" bagi masyarakat kecil. Lakon ini mereka baca sebagai refleksi jeratan pinjaman online dan gaya hidup yang melebihi kemampuan. Sebuah naskah lakon Jawa dari Solo, dipentaskan komunitas Pantura di kampus Muria, demi menyelamatkan masyarakat dari Kalabendu versi kiwari.

Sampai di titik ini, estetika dan politik bahasa mulai saling mengganggu.

Dialek Surakartan di Mulut Pantura: Ketika Otentisitas Menjadi Latah
Secara sosiolinguistik, dialek Jawa Surakartan memegang posisi hegemonik sebagai "bahasa panggung" bagi teater klasik Jawa, dari wayang hingga teater berbahasa Jawa, pusat referensinya sering kali Surakarta-Yogyakarta karena status historisnya sebagai wilayah keraton dan produksi sastra Jawa. Ketika naskah lahir di Solo, ia membawa serta logat, ritme, dan musikalitas ujaran setempat.

Teater Jaten, sebagai komunitas Pantura, memilih untuk berdialek Surakartan ketika mementaskan naskah ini. Sebuah keputusan yang, dalam kerangka pelestarian naskah, bisa dibaca sebagai bentuk hormat kepada teks dan tradisi. Namun di ranah praksis, pilihan ini memperlihatkan betapa "otentisitas" sering kali menjadi proyek yang lebih ideologis daripada praktis.

Penelitian tentang pengucapan dialek Jawa menunjukkan bahwa penutur dari latar dialek lain cenderung mengalami interferensi berupa fonem tertentu mengikut kebiasaan dialek asal, ritme bicara bertahan, dan kejelasan vokal-konsonan bergeser ketika mereka "memakai" dialek yang bukan miliknya. Apa yang terjadi pada pentas Teater Jaten di panggung UMK Kudus adalah contoh konkret. Logat Batang/Pantura menyelinap di sela-sela krama Surakartan, seperti tamu tak diundang yang tiba-tiba ikut duduk di ruang tamu keraton.

Bagi penonton yang tidak mengenal naskah asli, mungkin tidak akan jadi soal, yang penting cerita terasa, pesan tentang utang dan pinjol sampai. Tetapi bagi penonton yang hafal tekstur Surakartan, perpaduan logat ini terasa seperti kopi pahit yang disajikan dengan gula yang belum larut. Niat manisnya jelas, tapi ada serbuk-serbuk yang menggangu permukaan lidah. Di sinilah lahir metafora "siksaan yang manis".

Artikulasi yang Terseret Tempo: Ketika Vokal Menyerah pada Dramaturgi
Masalah kedua yang muncul adalah artikulasi, unsur dasar vokal teater yang ironisnya sering dianggap remeh sampai penonton mulai bertanya, "Tadi dia bilang apa ya?". Literatur teknik vokal teater menegaskan bahwa artikulasi adalah kejelasan ucapan per suku kata, yang wajib dilatih melalui pengucapan berlebih, latihan dengan berbagai emosi, hingga pembiasaan kerja vokal konsonan-vokal yang spesifik.

Dalam pementasan Teater Jaten di UMK, problem artikulasi menjadi terlihat justru pada arus dialog cepat. Ketika konflik memuncak, tempo naik, dan aktor mencoba menghentakkan emosi, kejelasan suku kata mengorbankan dirinya di altar dramaturgi. Penonton dengan kompetensi bahasa Jawa tinggi mungkin masih menangkap garis besar, tetapi penonton lain harus memilih antara mengikuti alur atau menebak makna.

Paradoks muncul: pementasan ini bertujuan mengedukasi tentang keuangan, namun pada beberapa titik, kata-kata yang seharusnya membawa "pesan edukasi" justru menguap di udara karena tidak terdengar jelas. Ketika kritik sosial terhadap pinjol ikut lenyap di mulut aktor, Kala Bendu seolah menang dua kali: di dunia fiksi dan di auditorium UMK.

Literatur mengenai teknik vokal menekankan bahwa tempo tidak boleh melampaui kejelasan suara, aktor mesti menguasai artikulasi pada tempo rendah sebelum bermain di tempo tinggi. Teater Jaten tampaknya sedang berada di fase transisi. Keberanian dramaturgis untuk mengkontekstualisasi naskah sudah kuat, tapi peralatan vokal belum sepenuhnya siap menanggung beban tersebut.

Di sisi lain, usaha rekontekstualisasi Teater Jaten patut diapresiasi. Mereka tidak sekadar memindahkan naskah 1997 ke panggung 2026, tetapi membacanya melalui lensa jeratan pinjol, kredit elektronik, dan gaya hidup konsumtif yang menjadi realitas keseharian masyarakat saat ini.

Kajian tentang transkulturasi naskah klasik ke konteks Indonesia menunjukkan bahwa proses pemindahan teks selalu melibatkan perubahan bahasa, latar, dan penambahan kritik sosial baru. Dalam kasus adaptasi naskah Chekhov The Proposal menjadi Pinangan versi Indonesia, hasil kajian memperlihatkan bahwa dramaturgi lokal bukan hanya menerjemahkan teks, tetapi juga menambahkan nuansa kritik kelas menengah urban yang tidak ada dalam teks asal.

Teater Jaten melakukan hal serupa, tetapi dengan arah yang berbeda. Mereka menambahkan lapisan kritik finansial berbasis pengalaman masyarakat kecil di era internet, sebuah tindakan yang secara politis sah dan dramaturgis menarik. Namun setiap penambahan konteks membawa risiko over-correction. Naskah yang semula memotret krisis struktural menjelang runtuhnya rejim bisa tergelincir menjadi sekadar brosur tentang "hidup sesuai kemampuan".

Kala Bendu, Teater Komunitas, dan Politik Bahasa
Lurung Kalabendu lahir dari teater komunitas Jawa (Teater Gapit/Ruang, jaringan sanggar Kenthoet-Roedjito) yang secara historis memposisikan bahasa Jawa sebagai medium kritik sosial dan pembacaan zaman. Teater Jaten mungkin adalah bagian dari mata rantai ini, kelompok teater di wilayah pinggiran Jawa Tengah yang bertemu dengan segmen penonton yang pas, yaitu masyarakat Jawa pinggiran kota dan pelosok.

Pementasan di UMK Kudus mempertemukan dua lapis politik bahasa. Hegemoninya Surakartan sebagai bahasa teks dan kehendak Pantura untuk menjadi pemilik suara atas teks itu. Ketika logat Pantura menyelinap ke dalam krama Solo, sebenarnya sedang terjadi proses demokratisasi tubuh bahasa. Teater komunitas mengklaim hak untuk berbicara dalam register yang dulu dimonopoli rezim keraton.

Dalam kacamata satir, kegagapan pelafalan itu bisa dibaca sebagai bentuk "kecelakaan" yang menguntungkan. Ia membongkar ilusi bahwa bahasa panggung harus selalu mulus, menunjukkan bahwa Jawa bukan hanya Surakarta dan Yogyakarta, dan bahwa kritik Kala Bendu kini juga datang dari Batang dan Kudus.

Pada akhirnya, pementasan Lurung Kalabendu oleh Teater Jaten di UMK Kudus adalah laboratorium kecil tempat berbagai tegangan bekerja. Antara teks dan konteks, antara dialek hegemonik dan logat lokal, antara niat edukatif dan keterbatasan teknik vokal, antara penonton awam dan penonton ahli. Semua itu beroperasi di bawah bayang-bayang Kala Bendu, baik versi Ranggawarsita maupun versi kiwari.

"Siksaan yang manis" yang saya rasakan sebagai penonton adalah metafor yang biasa saja sebenarnya untuk kritik teater kontemporer. Di mana kita seharusnya mencintai usaha teater komunitas tanpa menutup mata terhadap cacat produksi. Teater Jaten sendiri layak diapresiasi karena keberanian mereka membawa naskah 1997 ke hadapan krisis 2026, sekaligus berani memasang aktor-aktor muda yang masih SMA.

Pertanyaan penutupnya adalah, jika setahun setelah naskah lakon Lurung Kalabendu ditulis sebuah rezim yang berkuasa puluhan tahun lengser, maka apa yang terjadi dalam tempo setahun ke depan?(*)

--------------------------
KHOTHIBUL UMAM
Akademisi dan kritikus teater.

INIIBUBUDI
Sejak 17 Februari 2016

Iniibubudi.com merupakan media nirlaba, terbit setiap bulan, menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan kesenian dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI DANA KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

© 2026 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang