
Siti-siti
NASKAH LAKON
Oleh: Joni Hendri
6/1/2026


CATATAN GELAP:
Lakon ini menceritakan tentang perempuan yang melawan ketidakadilan. Memperjuangkan hak-hak mereka sebagai perempuan. Pada masa yang berbeda-beda. Lakon ini menyoroti peran perempuan dalam sejarah Indonesia dan masa kerajaan Melayu. Perempuan juga penting dalam menjaga keseimbangan antara emansipasi dan identitas dirinya masing-masing.
Semua perempuan di dalam lakon ini bernama Siti. Nama Siti menjadi lambang perempuan yang tidak mempunyai kemampuan untuk melawan atas penindasan kekuasaan. Siti menjadi gambaran ironi dari kondisi yang keras. Tidak ada keberuntungan bagi Siti dalam kedudukannya masing-masing.
Bagi penulis, lakon ini menjadi lahan penyampaian yang paling tepat untuk menjadikan cerminan bagi siapa saja yang membaca dan mementaskan lakon ini. Bahwa begitu banyak kesulitan yang dialami oleh kaum perempuan mulai dari masa kerajaan hingga masa kemerdekaan. Penindasan yang tak pernah usai. Padahal perempuan telah melahirkan anak-anak yang menjadi pemimpin. Namun hak-hak mereka sebagai perempuan masih gelap, bahkan menjadi kuli sampai sekarang.
Suku Seni Riau, Agustus 2025
PELAKON:
-Siti 1
-Siti 2
-Siti 3
-Siti 4
-Sekelompok Berbaju Hitam (5 Orang)
BAGIAN SATU
BEGITU LAYAR DIBUKA ATAU PERTUNJUKAN HENDAK DIMULAI. YANG TERHIDANG DI PANGGUNG ADALAH JEJAK-JEJAK SEJARAH PEREMPUAN YANG SUNYI DALAM INGATAN. JEJAK-JEJAK ITU PADAHAL SUDAH MERAYAP DARI ZAMAN KE ZAMAN. HANYA SAJA TIDAK BEGITU DIBUNYIKAN PADA DISKUSI-DUSKUSI.
KAIN-KAIN PUTIH MENJUTAI DARI LANGIT TEPAT DI TENGAH PANGGUNG. DI KAIN TERSEBUT TERLIHAT BERCAK-BERCAK MERAH MENYERUPAI DARAH. SEAKAN-AKAN SEDANG MENGHIDANGKAN PERTUNJUKAN JEJAK-JEJAK PEREMPUAN YANG TERBUNUH DALAM SEJARAH INDONESIA DAN MELAYU PADA MASA KERAJAAN. PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG DISUNYIKAN OLEH SEBAGIAN KELOMPOK DEMI KEPENTINGAN DAN NAFSU.
LAMPU BIAS MENYOROTI EMPAT TITIK. KETIKA SALAH SATU AKTOR MULAI BERDIALOG. LAMPU AKAN HIDUP PADA SATU TITIK AKTOR.
MUSIK GAMBUS BERBUNYI LANTANG DARI LUAR PANGGUNG. BESERTA SUARA SESEORANG SEDANG MEMBACA PUISI:
“Inilah sejarah yang hilang
dalam buku-buku malang
segalanya belum usai
senandung yang hampir mati
kepedihan yang mengapung
luka yang mengangkang.
Padahal kisah-kisah yang itu-itu juga
namun jadi ayat-ayat di mata
dibaca di penghujung tahun
menjadikan riwayat serumpun
walau kadang dihantam gelombang waktu:
siapakah penguasanya?
masihkah kekuasaan yang sama?”
DI PANGGUNG TERLIHAT SEMUA AKTOR BERLARIAN KE KIRI DAN KANAN PANGGUNG, SUASANA BEGITU CEOS. TIDAK LAMA KEMUDIAN LAMPU NETRAL MENYOROT BERGANTIAN KE TITIK TERTENTU. TEPAT PADA AKTOR YANG SEDANG MEMAINKAN PERANNYA.
DI TITIK SATU: SITI 1 SEDANG DUDUK DI ATAS KURSI DENGAN TANGAN YANG TERBORGOL.
Siti 1:
Aku tidak bersalah. Aku hanya seorang TKW yang bekerja untuk mencari nafkah. Kenapa aku ditangkap? Kenapa? (Berteriak). Bertahun-tahun saya menjilati kaki orang. Demi mencari makan di luar negeri. Tiba-tiba aku dituduh pembunuh. Bahkan dituduh keturunan PKI. (Bercerita). Pernah aku jatuh cinta kepada seorang tentara, kemudian cinta kami berlanjut dan bersemi. Seperti bunga yang mekar di taman lalu disaksikan ribuan pasang mata. Tentu aku sebagai orang biasa merasa melabung tinggi. Tiba-tiba tentara itu memutuskan hubungan, dengan alasan tidak bisa melanjutkan hubungan, karena aku keturunan PKI. Padahal dia hanya mendengar dari bisik-bisik para penggosip itu. Betapa sakitnya hati dan perasaan ini. Bukan hanya soal cinta, tapi soal pekerjaan. Semua terbatas, kutukan apa yang tuhan berikan kepada aku? Kenapa malang itu menghampiri! Kenapa? Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. (Menjerit histeris).
DI TITIK DUA: TERLIHAT SITI 2 DUDUK DI ATAS KAIN PUTIH DENGAN PAKAI YANG LUSUH, RAMBUT ACAK-ACAK. MENYERET-MENYERET TUBUHNYA YANG TERLIHAT LEMAH.
Siti 2:
Aku ingat betul, ketika sosok bertubuh besar itu datang lalu menangkapku. Mengikat mata, tangan, kaki dan mulutku dengan kain hitam. Kemudian membenturkan kepalaku ke tembok. Kemudian aku menjerit sakit. (Bunyi lonceng dan deru kereka api). Aku bukan melawan hukum, tapi untuk menegakkan keadilan. Aku beserta kaum buruh yang lain, bekerja dari pagi sampai malam. Hanya untuk membeli beras dan menyekolahkan anak. (Marah). Tapi upah yang diberikan tidak sesuai dengan pengorbanan telah aku lakukan dengan teman-teman yang lain. Meninggalkan keluarga demi memperjuankan hidup ini. Aku bukan mesin, bukan robot. Aku punya hak untuk hidup yang layak. (Bunyi tapak sepatu dari luar panggung diringin dengan tembakan). Mereka membunuhku, mereka bisa membinasakan tubuh ini. Membungkamkan suara aku. Semua dilakukan seperti layaknya binatang. (Tertawa) Tapi mereka tidak akan bisa menghilangkan kebenaran yang sesungguhnya. (Sedih). Aku bukan penjahat, bukan penjajah kenapa aku dibunuh? Kenapa harus perempuan yang dibungkam? Kenapa? (Marah, melotot). Hinggap bak langau, titik bak hujan. Ayam ditambat disambar elang, padi di tangan tumbuh lalang.
DI TITIK TIGA: SOSOK SITI 3 MENJERIT KESAKITAN. BUNYI GONG BERSAHUTAN.
Siti 3:
Hanya buah nangka, seorang raja tega membunuh hamba. Raja seperti apa yang sanggup membunuh rakyatnya? Tidak adakah keadilan yang lahir dari hati nurani? Lucu sekali. Padahal hanya seulas nangka. Terlalu lemah dalam berpikir, saat mengambil keputusan. Hamba ini hanya seorang perempuan, tak berdaya. Kenapa aku yang kau bunuh? Kenapa tidak Megat? (Musik gambus melengking berbunyi dari luar panggung, Siti 3 sekan-akan sedang berhadapan dengan Raja). Kenapa tuanku tidak mempertimbangkan keputusan yang dibuat. Tidakkah tuanku merasa bersalah? Padahal Megat suami hamba, rela meninggalkan hamba yang sedang bunting ini, demi menjaga negeri ini dari penjajah. Kenapa tidak mengingat hal itu tuanku! (Terdiam sejenak). Bagai ikan pulang ke lubuk. Bagai kaca terhempas ke batu. Tapi rupanya ada udang di sebalik batu. (Menyobekan baju pada perutnya). Manis nangka menusuk lidah, namun getirnya membawa nyawa. Hamba terlalu berani menyentuhnya. Hamba perempuan lemah, tergoda dengan wangi nangka disebabkan kehendak si buah hati. Tapi tak menyangka seulas itu menjadi kutukan dan maut.
DI TITIK EMPAT: SITI 4 DUDUK DI KURSI RODA DI BAWAH PAYUNG BERWARNA KUNING YANG BERCORAK EMAS. WARNA KEBESARAN RAJA MELAYU. DIIRINGI MUSIK NAFIRI BESERTA PUKULAN KOMPANG.
Siti 4:
Hamba diperdaya oleh Laksamana Hang Tuah yang gagah itu. Ia membawa daku dari negeri Pahang. Meninggalkan Ayahnda. Ia membawa daku bukan karena cinta. Tapi karena perintah Sultan Malaka. Hamba ditipu (marah). Laksamana seperti apa itu? Hanya mampu menipu perempuan dengan kegagahan. Lemah dalam berterus terang. Tidak jujur dengan keadaan. Dikhianatinya kepercayaan dan hati hamba. Laksamana Hang Tuah datang sebagai penipu yang ulung bukan sebagai kekasih. Seorang hulu balanag Melayu hanya mampu menjadi penipu! Setelah di tengah perjalanan Hang Tuah baru jujur, demi amanah dan negeri. Ia merasa bertanggung jawab atas perintah Sultan. Namun mengorbankan cinta. Merampas kehormatan dan masa depan hamba sebagai seorang perempuan. Hamba bukan boneka dalam permainan politik. (Memutar-mutar kursi roda). Luka di tangan nampak berdarah, luka di hati siapa yang tahu. Seperti kain kasa di atas duri. Tapi hamba memang tak sempat menyediakan payung sebelum hujan.
DI TENGAH PANGGUNG DIPENUHI BAJU-BAJU PEREMPUAN TERLIHAT BERGANTUNGAN KEMUDIAN DISUSUN SEDEMIKIAN RUPA.
LAMPU MATI.
BUNYI PESAWAT TEMPUR DAN SIRINE AMBULANCE TERDENGAR MEMECAH SUNYI. MENGISI KEGELAPAN DAN KEHITAMAN MATA. MEMBANGUNKAN SEGALA YANG TERTIDUR, MEMBERI LAMBANG BAHWA PERISTIWA-PERSITIWA TAK PERNAH SELESAI DIDENGARKAN. BUNYI YANG MERAYAP MEMENUHI PANGGUNG PERTUNJUKAN MERUPAKAN TANDA-TANDA YANG HARUS DIBACA DENGAN AKAL YANG JERNIH.
TIDAK LAMA KEMUDIAN TIBA-TIBA MUNCUL DUA AKTOR DARI KANAN PANGGUNG MEMBAWA LAMPU BESERTA SEROK IKAN. LAMPU PANGGUNG NETRAL KEMBALI. KEPALA AKTOR TERIKAT KAIN MERAH. BERJALAN MENUJU KE TENGAH PANGGUNG SAMBIL BERDIALOG:
Siti 1:
Siti............. (Memangil-manggil berulang-ulang kali).
Siti 2:
Siti............ (Mencari-cari).
Siti 1:
Apakah kau Siti?
Siti 2:
Siti, jangan takut. (Memanggi-memanggil dengan suara lembut). Keluarlah dari liangmu. Luka dan penderitaan tidak akan terulang.
SITI 1 DAN 2 SALING TABRAKAN.
Siti 1:
Siti... Aku Siti!
Siti 2:
Apa kau Siti? Aku tidak bisa melihat wujudmu. Hanya merah dan merah.
Siti 1:
Iya, aku Siti. Tapi aku juga mencari Siti. Mataku hanya melihat merah dan merah.
Siti 2:
Aku juga Siti. Jangan kurang ajar, mempermainkan aku.
Siti 1:
Iya, aku juga Siti. Kita sama-sama mencari Siti. Barangkali siti sedang bersembunyi di sungai ini.
Siti 2:
Ini bukan sungai, ini panggung sendiwara. (Dengan suara meninggi).
KEDUA AKTOR SALING TATAP. CAHAYA LAMPU PELAN-PELAN MULAI NETRAL. LALU KEDUA AKTOR MEMBUKA IKATAN KAIN MERAH DI MATANYA.
Siti 1:
Kau Siti?
Siti 2:
Kau yang Siti!
Siti 1:
Kenapa kau mencari Siti?
Siti 2:
Dan kau kenapa juga mencari siti?
Siti 1:
Karena Siti perempuan. Kalau laki-laki tak mungkin aku mencarinya. Dan kau kenapa mencari Siti? Apa Siti punya hutang? Atau Siti mencuri uang? Jangan-jangan Siti selingkuhan suami kau?
Siti 2:
Tidak, tidak! Semua pertanyaan kau salah. Aku mencari Siti karena ia perempuan yang tangguh.
HENING.
Siti 1:
Siti perempuan yang malang. (Mengingat, suasana hening). Aku pun sama sepertinya.
Siti 2:
Kita sama-sama mencari Siti. Kita sama-sama malang.
Siti 1:
Jangan-jangan Siti itu sudah lama mati.
Siti 2:
Bukankah kita ini Siti?
Siti 1:
Bukan, aku sedang mencari Siti yang mati dikurung di dalam jeriji. Saat ia menjadi TKW di negara tetangga.
Siti 2:
Sama nasibnya dengan Siti yang mati dianiaya akibat suaranya lantang melawan penguasa. Tujuan kita sama-sama mencari Siti.
Siti 1: Siti.. (Memanggil).
BUNYI LONCENG TERDENGAR NYARING.
CAHAYA LAMPU TERLIHAT TAMARAM BERWARNA MERAH. SUARA ANJING MENGGONGGONG DI LUAR PANGGUNG BESERTA JENGKRIK. BUNYINYA MEMENUHI RUANGAN PERTUNJUKAN.
SETIAP AKTOR DISOROT LAMPU. SEHINGGA DI PANGGUNG TERLIHAT DUA TITIK LAMPU. DI BELAKANG PANGGUNG TERLIHAT VIDEO PENYIKSAAN PEREMPUAN.
Siti 1:
Aku adalah seorang perempuan yang disiksa dan dituduh sebagai anak dari seorang PKI. Sehingga aku sulit untuk mendapatkan perkerjaan yang layak. Padahal nilai aku setelah tamat S1 Jurusan Ekonomi sangat tinggi. Sungguh memuaskan.
Siti 2:
Aku juga bernama Siti yang diculik lalu diperkosa. Aku masih ingat dengan semua peristiwa yang keji itu. Suaraku lantang, membuat para penembak itu lari dan ketakutan. Mereka rela bersembunyi di WC bahkan tempat pembuangan sampah. (Ketawa).
Siti 1:
Saat aku dihadapkan dengan dewan hakim. Lalu dewan hakim itu membungkamkan semua suara-suara yang aku pekikkan. Mereka hanya menyalahkan saja. Pekerjaan mereka hanya menyalah-nyalahkan saja. Padahal aku sudah menceritakan semua kejadian dengan fakta yang sesungguhnya.
Siti 2:
Perjuangan yang aku lakukan saat unjuk rasa demi kepentingan kaum-kaum perempuan dan rakyat jelata. Jadi peristiwa yang memilukan. Apakah perempuan tidak boleh berbicara? Apakah perempuan dibatasi dengan dapur? Aku rasa perempuan adalah suara yang harus ditakutkan. Perempuan merupakan simbol bagi kehidupan.
Siti 1:
Aku mohon, bantu aku berbicara untuk menjelaskan kebenaran. Siapa yang bilang aku Siti anak PKI? (Marah). Siapa? Jangan terlalu otoriter, jangan suka menggosip dan jangan terlalu menyalahkan aku yang tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi tentang PKI. Aku adalah Siti bukan keturunan PKI. (Menangis).
Siti 2:
Nasib kita sama. Nasib siti selalu sama. Kita juga perempuan yang melahirkan mereka. Suara-suara kita hanya sunyi. Senadainya mereka bisa merasakan kesunyian yang aku alami. Tidak mungkin mereka menghilangkan nama saya di dalam sejarah. Mereka menganggap kematian adalah sebagai solusi yang damai.
Siti 1:
Tidak sama, nasib manusia berbeda-beda.
Siti 2:
Sama! (Tegas).
Siti 1:
Tidak! (Mengeraskan suara).
TERDENGAR LANGKAH KAKI.
Siti 2:
Suara itu, pasti langkah kaki sekelompok jendral. (Ketakutan). Pergi! Kalin pembunuh.
Siti 1:
(Tertawa). Itu suara langkah kaki yang pengecut. Kenapa kau takut.
Siti 2:
Langkah kaki itu (ketakutan). Mereka pemburu, merekalah yang menangkapku. Lalu memasukan besi ke dalam kemaluanku. (Menutup telinga). Pergi, pergi.
Siti 1:
(Mendekati Siti 2 lalu memenggang pudak). Tidak ada sesiapa di sini. Kenapa kau begitu takut?
Siti 2:
Kalau saja aku tidak dibunuhnya, aku tidak akan mencari Siti. Tapi semua telah berlalu, penyesalan yang tak ada ujungnya. Andai sesaat saja aku diberikan kekuasaan untuk merasakan betapa pentingnya diriku ini. (Menangis). Keberanian ini sebagai batu yang menghidupkan api. Lebih baik bungkum terhormat daripada hidup dalam penindatasan tanpa batas. (Di luar panggung terdengar sorak-sorai). Jangan suara kita diam dan terbatas. Biar saja mereka bilang kita melawan. Kalau kita diam siapa yang akan bicara tentang kita? Kalau kita tunduk akan diinjak. Sampai kapan kita akan diinjak?
Siti 1:
Sudahlah. Kita sama-sama mencari Siti. Kalau diceritakan tentang nasib. Tidak akan pernah habisnya. Kita sama-sama mencari Siti. Kita sama-sama mempunyai cerita pahit tentang kehidupan di negeri ini.
Siti 2:
Aku tidak akan berhenti meceritakan masa lalu. Sebab masa lalu adalah sebuah sejarah yang harus diceritakan. Sebelum sejarah ini dihilangkan. (Mengingat). Aku ingat tahun 1993, betapa tidak berharganya diriku.
Siti 1:
Kau korban 1993?
Siti 2:
Iya, beberapa temanku hilang. Tangisan orang tua yang kehilangan anaknya terdengar di sudut-sudut kota. Betapa ceosnya kehidupan waktu itu. Namun sejarah itu hilang dibawa angin.
TIBA-TIBA BUNYI SIRINE POLISI DAN AMBULAN SALING BERTABRAKAN.
SEKELOMPAK BERBAJU HITAM SAMBIL MEMBAWA PAYUNG HITAM MASUK DARI KANAN PANGGUNG LALU MEMBENTUK KOREO PERLAWANAN. SITI 1 DAN 2 MENGAMATI SATU PERSATU SOSOK BERBAJU HITAM .
Siti 1:
Kehidupan ini telah lama ceos. Aku telah merasakan hal tak mungkin merugikan suatu pihak. Mungkin tidak sama dengan kejadian 1998 atau 1993. Tapi aku sebagai perempuan yang mengalami penderitaan, hanya disebab bahwa aku keturan dari anggota PKI.
SEKOLOMPOK BERBAJU HITAM MEMATUNG SAMBIL MENUTUP WAJAH MENGGUNAKAN PAYUNG.
SUASANA HENING.
Siti 2:
Jadi kau dituduh sebagai keturunan PKI?
Siti 1:
Iya, aku dituduh. Sungguh fitnah itu lebih kejam. Padahal kami hanya keluarga tukang jual kelapa parut.
Siti 2:
Sejak kecil kau sudah dikucilakn dari masyarakat?
Siti 1:
Benar, sudah dikucilkan sejak kecil, hingga ke bangku Sekolah. Karena stigma yang melekat kepada keluarga kami.
Siti 2:
Benar-benar kehilangan hak sebagai perempuan.
Siti 1:
Hilang! Lenyap. Disenyapkan. Semuanya sudah dimiliki.
Siti 2:
Apakah Siti berperan dalam hal itu?
Siti 1:
Sangat berperan. Bahkan semua rencana itu, berawal dari pemikirannya.
Siti 2:
Bagaiamana bentuk rupa Siti itu? Kita telah mencari dari zaman ke zaman.
Siti 1:
Aku tidak tahu persis rupanya, tapi Siti itu penyelamat. Kadang juga ia menjadi durhaka. (Mengingat peristiwa masa lalu). Padahal aku lahir jauh setelah peristiwa 1965, tapi label anak PKI melekat begitu saja. Orang-orang menilai aku bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan garis keturunan. Aku merasa hidup ini selalu diawasi. Bahkan terasing di negeri sendiri. Aku tidak bisa membela diri secara terbuka, karena setiap ungkapanku dianggap sebagai ideologi yang berbahaya.
TIBA-TIBA TERDENGAR DJ WISNU SANTIKA. SITI 1 & SITI 2 BERGOYANG MENIKUTI MUSIK SAMBIL MELEMPAR-MELEMPARKAN BAJU YANG BERGANTUNGAN DI TENGAH PANGGUNG.
Siti 1:
Apakah kalian Siti? (Menujuk penonton).
Siti 2:
Mungkin saja kau bukan Siti, yang bernasib malang. (Menghadap penonton).
Siti 1:
Malam itu, aku menggenggam sebuah kertas hasil dari pembicaraa yang berisikan tuntutan para buruh. Tapi suara-suara motor di luar rumah menderu-deru tiada henti. Mereka seperti mata-mata yang tak pernah tidur mengintai aktivitasku.
HENING, HANYA BUNYI JANGKRIK.
LAMPU PADAM.
BAGIAN DUA
BUNYI LONCENG TIBA-TIBA MUNCUL KEMBALI. MASUK SITI 3. BERPAKAIN PUTIH, MENGENAKAN KEBAYA. LAMPU REDUP. SUARA-SUARA KERIBUTAN DI LUAR PANGGUNG TERDENGAR. SEPERTI SUARA-SUARA ORANG YANG SEDANG DEMONTRASI YANG SEDANG MEMPROTES HAK-HAK PEREMPUAN.
Siti 3:
Siti itu memang bunga yang tersuruk dalam rimbun semak. Ia adalah perempuan yang dijadikan sebagai sumber kehidupan. Siti menyimpan luka dalam sejarah. Siti tak bisa dilepaskan dari diri manusia. Dulu kita melihat Siti yang dibelah perutnya, karena mengidam nangka milik raja. Dulu sekali, dalam sejarah Melayu. Kegirangan mereka masih terngiang-riang karena berhasil membunuh dan membelah perut ini. (Menggosok-gosok perutnya, yang hamil). Kita akan mengingat masa lalu. Tapi hari ini masa lalu itu, harus diceritakan kembali. Peristiwa itu jernih sekali serupa kaca.
MASUK SITI 4 MENGGUNAKAN KURSI RODA.
Siti 3:
Kau siti?
Siti 4:
(Hanya diam, wajahnya terlihat tua).
Siti 3:
Kau tak mendengarkan pertanyaanku?
Siti 4:
(Diam).
Siti 3:
Kenapa kau diam saja?
Siti 4:
Aku memang Siti. Tapi hamba sedang mencari Siti. Apakah Siti ada di istana Melaka?
Siti 3:
Kau terlalu tua untuk mencari Siti. Raut wajahmu semakin pucat.
Siti 4:
Jangan urusi segala sesuatu yang ada pada tubuh hamba.
LAMPU AGAK REDUP
Siti 4:
Iya, hamba sudah tua. Namun dendamku kepada Siti masih belum tuntas. (Terdiam sejenak, mengingat masa lalu). Hamba ditipunya dengan secerbik sirih dari Hang Tuah. Ia jampi dengan mantra pengasih. Sehingga hamba tergila-gila dan rela meninggalkan Pahang. Namun pada akhirnya hamba dinikahi dengan Rajanya.
Siti 3:
Nasib kita sama. Laki-laki selalu membungkamkan perempuan karena nafsunya. Aku dibunuh. Aku mati hanya karena seulas nangka.
Siti 4:
Padahal hamba sebagai bunga jambangan di istana. Tiba-tiba menjadi malang hanya karena jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Ia hanya mengingikan untuk dipersembahkan kepada penguasa.
Siti 3:
Kita perempuan hanya sebagai tumbal dari pengkhianatan cinta.
Siti 4:
Tumbal kekerasan. Perempuanlah yang sudah melahirkan mereka. Tapi mereka jadi perndurhaka.
BUNYI MUSIK GAMBUS MELENGKING DARI LUAR PANGGUNG.
Siti 3:
Pendurhaka memang selalu lahir dari perut kita.
Siti 4:
Hamba tidak mau melahirkannya!
Siti 3:
Bukankah kau perempuan?
Siti 4:
Walaupun perempuan! (Kesal). Hamba tidak mau jatuh cinta lagi kepadanya. Ia hanya bangga dengan kepahlawanannya sebagai hulubalang Melaka.
Siti 3:
Bukankah Melaka dan Bintan satu darah?
Siti 4:
Iya satu darah.
Siti 3:
Suami hamba penjaga perbatasan, ketika protugis masuk ke Bintan. Kepergian suamiku membuat aku mati. Tidak ada keadilan bagi kehidupan yang berjuang membela negeri ini.
Siti 4:
Kenapa harus perempuan yang jadi korban?
Siti 3:
Apakah setiap ada masalah besar ada perempuan di dalamnya?
Siti 4:
Kita harus jadi perdurhaka. Menjadi pembrontak agar bisa menegakkan kebenaran.
Siti 3:
Kita hanya perempuan yang kalah.
Siti 4:
Kita tidak pernah kalah.
Siti 3:
Kita kalah. Kita telah ditakdirkan untuk kalah.
Siti 4:
Mereka yang kalah. Mereka ingin mendapatkan hamba. Tapi dengan cara yang licik. Menggunakan jampi-jampi. Sekelas Raja Melaka saja, ingin mendapatkan hamba menggunakan jampi-jampi.
Siti 3:
Tapi, status kita telah kalah.
Siti 4:
Hamba hanya seumpama ayam termakan rambut. Bahkan hamba seperti orang tidak berbudi. Dipuji-puji. Bagai binatang ditepuk, menjungkit ekor.
Siti 3:
Ikut hati mati, ikut rasa binasa. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.
Siti 4:
Memang rasa kecewa dan penyesalan tak ada artinya, akan tetapi sendiwara ini adalah cara ampuh menyampaikan hal yang penting.
Siti 3:
Perasaan berlebihan sering berujung pada kekecewaan.
Siti 4:
Cantik hamba dipuji, namun tubuh hamba hanya jadi taruhan. Dipermainkan cinta, maruah dipertaruhkan. Darahku diikat oleh kehendak lelaki, untuk meringankan beban kekuasaan.
LAMPU MATI. DIRINGI JERITA HITERIS DARI LUAR PANGGUNG. SURA-SURA TERSEBUT ADALAH SUARA SITI-SITI YANG SEDANG DICARI.
BAGIAN TIGA
PELAN-PELAN LAMPU BIAS BERWARNA HIJAU MENYOROTI EMPAT AKTOR YANG BERADA DI ATAS PANGGUNG. SEMUA AKTOR MENUTUP WAJAHNYA DENGAN KAIN MERAH.
Siti 1:
Tidak perlu disembunyikan lagi, saat tujuan telah bertemu.
Siti 2:
Kita belum bertemu.
Siti 3:
Siti itu, terus tumbuh.
Siti 4:
Siti merupakan sebuah simbol hilangnya hak perempuan. Kita telah mencari hak-hak kita.
Siti 1:
Sebenarnya Siti itu ada dalam jiwa kita.
Siti 2:
Bukankah Siti marwah perempuan?
Siti 3:
Siti adalah kelembutan yang datang dari hati nurani yang suci.
Siti 4:
(Diam).
TIBA-TIBA SEKELOMPOK BERBAJU HITAM MASUK KE DALAM PANGGUNG MENGGUNKAN ATRIBUT SEPERTI ORANG PERANG. SAMBIL BERDIALOG “Kami datang bukan diundang, kami datang karena ditendang.”SAMBIL MENGELILINGI AKTOR YANG MEMATUNG DI TEMPATNYA MASING-MASING. BEBERAPA MENIT KEMUDIAN SEKELOMPOK BERBAJU HITAM KELUAR PANGGUNG.
MUSIK CEOS BESERTA SALAK ANJING PEMBURU.
Siti 1:
Hak sebagaimana manusia yang lainya.
Siti 2:
Namun kita telah mengalami kehidupan yang hitam.
Siti 3:
Sedangkan hamba, telah merasakan penindasan sejak sejarah belum tercatat pada buku-buku.
Siti 4:
Hamba akan menceritakan kepada kalian. (Menggerakkan kursi roda dalam keadaan susah payah). Hamba perempuan yang berjuang untuk mendapatkan rasa cinta. Sebagai hak-hak hidup yang indah. Namun dijadikan sebagai politik untuk mengangkat status seorang hulu balang Melaka yaitu Hang Tuah. Sungguh memalukan cara mendapatkan tempat di hadapan pemimpin yaitu Raja.
Siti 1:
Hak kita selalu begitu.
Siti 2:
Aku bukan hanya tertuduh, tapi juga sebuah metafor kegagalan pada perempuan.
Siti 3:
Hamba merasakan pedihnya kehidupan.(Menangis). Hamba jadi sangketa cinta, lalu Raja zalim membelah perut, seorang perempuan yang tak bersalah.
Siti 4:
Kalimat-kalimat yang diucapkan Hang Tuah sangat indah. Sehingga hamba terpikat. Padahal kalimat itu sebagai cara untuk mengkelabui hamba.
Siti 1:
Peristiwa kita sepertinya termasuk ke dalam lubang hitam. (Melempar baju-baju yang ada di atas panggung).
Siti 2:
Siti di mana? (Mencari sekeliling panggung). Siti pasti bisa menjawab semua permasalahan perempuan.
Siti 3:
Lubang sejarah, adalah lubang segala rahasia yang pilu dan memalukan.
Siti 4:
Kita semua diciptakan untuk masuk ke dalam kegelisahan dunia.
Siti 1:
Gelisah yang tak ada ujungnya.
Siti 2:
Kita punya hak kesetaraan, untuk mencapai tujuan.
Siti 3:
Apakah ini sebuah siasat untuk menyingkirkan perempuan?
Siti 4:
Tidak! Kita hanya larut dalam penyesalan. Padahal itu hanya sebuah lambang ketidakwarasan, jika larut dalam peremasalah.
SEMUA AKTOR MEMBUKA PENUTUP WAJAH.
Siti 1:
Hidup hanya digunakan sebagai bahan tuduhan. Bahan yang menjadi sampah dalam kacamata penguasa.
Siti 2:
(Berteriak lantang ke depan panggung). Perjuangan belum selesai. lembar baru terus dibuka.
Siti 3: Padahal, membunuh bukan solusi untuk menyelesaikan masalah.
Siti 4:
Alangkah bodohnya Hang Tuah. Titah Raja Melaka, membuat ia hilang nama sebagai hulu balang Melayu. Kakinya gemetar ketika menipu hamba. (Musik Melayu). Walaupun sejarah menuntut untuk setia. Tapi hamba perempuan yang dianiayanya, tidak pernah merasakan bagaimana perasaan perempuan dikhianti. Hang Tuah datang ke Pahang mendayung gelobang. Perasaannya dengan hamba pasang surut. Tapi harapan yang diinginkan hanya untuk orang lain.
TERDENGAR BUNYI HENTAKAN KAKI BERTUBI-TUBI.
Siti 1:
(Bergumam dengan artikulasi tidak jelas).
Siti 2:
(Melempar-lempar kain ke atas).
SUARA ANAK MENANGIS LANTANG TERDENGAR. MENEMBUS DINDIDNG-DINDING PANGGUNG HINGGA SAMPAI KE PENONTON.
Siti 3:
(Berteriak seperti orang yang ingin melahirkan).
Siti 4:
(Memutar-mutar kursi rodanya keliling panggung).
SEKELOMPOK BERBAJU HITAM MASUK KEMBALI DENGAN MEMAKAI TOPENG. SAMBIL MENYERET-NYERET KAIN PUTIH BERBENTUK MAYAT. SEKELOMPOK BERBAJU HITAM TERLIHAT KEGIRANGAN. KAIN PUTIH YANG DISERAT TERSEBUT TAMPAK SEPERTI DILUMURI DARAH. ADA BERCAK-BERCAK MERAH MENGHIASI BAGIAN KAIN.
Siti 1:
Perjuangan belum selesai.
Siti 2:
Iya, perjuangan belum selesai.
Siti 3:
Perjuangan harus ditingkatkan lagi. Perjuangan merupakan alat perlawanan yang harus diasah dengan niat yang tulus.
Siti 4:
Mereka datang lagi. Mereka membawa kepedihan-kepedihan sejarah. Membawa luka-luka beserta darah-darah.
LAMPU SEDIKIT REDUP.
MUSIK SENDU MENGIRINGI.
Sekelompok Berbaju Hitam:
(Berdialaog secara bersamaan). Perempuan-perempuan yang teraniaya. (Tertawa).
AKTOR SITI-SITI KETAKUTAN.
Siti 1:
Siapa kalian?
Siti 2:
Pergi!
Siti 3:
Jangan dekati kami!
Siti 4:
Apakah kalian Siti?
Sekelompok Berbaju Hitam:
Kami adalah kami. Siti adalah Siti. (Mengejek).
Siti 1:
Kalian PKI.
Siti 2:
Pergi, pembunuh tidak layak hidup di bumi.
Siti 3:
Pasti kalian orang suruhan.
Siti 4:
Apakah kalian sahabat Hang Tuah?
Sekelompok Berbaju Hitam:
Kami sekelompok berbaju hitam. Bukan PKI, bukan pembunuh. Tidak ada yang layak memerintah kami. Bukan pula sahabat Hang Tuah. (Tertawa).
Siti 1:
Kenapa kalian mendekati kami? Pergi!
Siti 2:
Sudahlah, jangan ganggu kehidupan perempuan.
Siti 3:
Pergi!
Siti 4:
Cukup, jangan dekati kami.
Sekelompok Berbaju Hitam:
(Tertawa) kami tidak mendekati kalian. Tapi kami didekatkan oleh penguasa. Kami tak punya niat untuk membunuh, tapi kami diperintahkan jadi pembunuh. Kami bukan siapa-siapa tanpa tugas ini.
Siti 1:
Dunia begitu kejam. Tidak ada kadilan!
Siti 2:
Dunia tidak kejam, yang kejam adalah isi dari dunia ini.
Siti 3:
Mereka tidak memahami cara hidup di dunia.
Siti 4:
Mereka mengira hidup ini untuk selamanya?
Sekelompok Berbaju Hitam:
Hidup memang tidak selamanya bertahan, tapi tingkah laku manusia akan selamanya ada. Dan itu-itu juga persitiwa yang terjadi. Kalian hanya menyuarakan kedudukan perempuan yang selalu dikalahkan?
Siti 1:
Kami tak pernah kalah.
Siti 2:
Kami selalu menang, tapi dengan cerunganlah kekalahan kami terlihat.
Sekelompok Berbaju Hitam:
Orang yang kesal takkan pernah kalah.
Siti 3:
Kami tidak kesal.
Siti 4:
Kami tidak kalah! Kalian perusak manusia!
PELAN-PELAN KAIN PUTIH YANG TERGANTUNG NAIK KE ATAS LANGIT. SEMUA AKTOR SITI-SITI BERKUMPUL DI BAWAH KAIN TERSEBUT. SAMBIL MELIHAT KE ATAS. SUARA-SUARA ORANG-ORANG DARI LUAR PANGGUNG MEMANGGIL-MANGGIL “SITI-SITI” SEOALAH-OLAH TAKUT KEHILANGAN SITI.
DI LAYAR BELAKANG TERLIHAT VIDEO CUPLIKAN KORAN-KORAN YANG MEMBERITAKAN TENTANG PEMBUNUHAN DENGAN MUSIK YANG CEOS.
SEKELOMPOK BERBAJU HITAM MENGELILINGI AKTOR SITI-SITI. SAMBIL MENGARAHKAN TANGAN KE LANGIT.
BUNYI TEMBAKAN TERDENGAR BERTUBI-TUBI. KABUT PUTIH MUCUL MEMENUHI PANGGUNG.
LAMPU PELAN-PELAN REDUP DAN MATI.
SUARA TERIAKAN ORANG-ORANG DEMONSTRASI PUN TERDENGAR LANTANG.
SELESAI.


--------------------------
JONI HENDRI
Kelahiran Teluk Dalam, 12 Agustus 1993. Pelalawan. Alumnus Jurusan Teater AKMR. Dan juga alumnus Jurusan Sastra Indonesia FIB-UNILAK. Karya-karya berupa naskah Drama, Essai, Cerpen, dan Puisi. Sudah dimuat di beberapa antologi dan media seperti: Jawa Pos, Riau Pos, Solo Pos, kompas.id, Dll. Terpilih sebagai penulis muda Emerging Writers BWF 2024 katagori puisi. Bergiat di Rumah kreatif Suku Seni Riau. Sekarang mengajar di SD Negeri 153 Pekanbaru.
INIIBUBUDI
Didirikan sejak 17 Februari 2016
AHU-0104264-AH.01.14
Alamat Redaksi:
Jl. Kelapa Sawit V/6 Megawon, Jati, Kudus - Indonesia 59342
E-mail iniibubudi.publishing@gmail.com
Donasi Pengembangan Iniibubudi:
Bank BRI No. Rek.: 0038-010038-75566 - INIIBUBUDI
Mitra Kerja:




