
Tak Dilirik di Indonesia, Film Confessio Karya Sutradara Asal Kudus Malah Tembus Festival Film Internasional
BERITA
Oleh: Ihza Fajar - KAIFANEWS
2/24/2026


Pengantar Redaksi:
Berita ini sudah diterbitkan dan dibaca di Kaifanews.com
--------------------------------
KUDUS, Kaifanews — Dunia perfilman internasional kembali mencatatkan nama sineas asal Kabupaten Kudus. Film pendek berjudul Confessio karya sutradara muda Cornel Innos berhasil masuk nominasi Best Short Film dalam ajang Mirabile Dictu International Catholic Film Festival edisi XVII tahun 2026 di Italia.
Film produksi rumah kreatif Garam Serta Terang (GST Productions) tersebut menjadi salah satu karya Indonesia yang tampil di kompetisi film religi tingkat dunia. Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi sineas daerah yang mampu menembus panggung internasional melalui karya independen.
Cornel Innos menjelaskan, awal perjalanan film tersebut sebenarnya tidak langsung diarahkan ke festival internasional. Ide awal muncul ketika tim kreatif mencoba mengikuti festival bertema anti korupsi. “Kami awalnya hanya ingin ikut festival yang berkaitan dengan isu antikorupsi namun malah tidak tembus. Setelah itu teman-teman punya ide untuk mengirimkan ke berbagai festival lain, termasuk festival internasional,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (24/2/2026). Menurutnya, proses distribusi festival dilakukan bertahap setelah film selesai diproduksi. Beberapa festival nasional hingga internasional menjadi target untuk memperluas jangkauan karya.
Mengangkat Pergulatan Moral Seorang Pemuka Agama
Film Confessio menghadirkan cerita yang cukup berbeda dari film religi pada umumnya. Premis utama berkisah tentang seorang imam Katolik yang menghadapi pergulatan batin saat mendengarkan pengakuan dosa seorang pejabat yang terjerat praktik korupsi dan persoalan moral.
“Premisnya sederhana, bagaimana jika seorang pemuka agama juga mengalami pergumulan hati ketika mendengar pengakuan dosa umatnya,” jelas Cornel.
Tokoh utama dalam film digambarkan sebagai pejabat yang selama ini hidup dalam kemewahan hasil kejahatan, mulai dari praktik korupsi hingga perselingkuhan. Namun di titik tertentu, ia mulai dihantui rasa bersalah dan ingin mengakhiri kehidupannya yang penuh dosa.
Film tersebut menyoroti sisi kemanusiaan pelaku kejahatan, bahwa bahkan seorang koruptor tetap memiliki konflik moral dan kesempatan untuk bertobat. “Kami ingin menunjukkan bahwa manusia itu pada akhirnya harus berani berdamai dengan dirinya sendiri,” katanya.
Produksi Kolektif
Menariknya, proses produksi film berlangsung relatif singkat. Proses syuting dilakukan selama tiga hari dua malam di kawasan Ambarawa dengan melibatkan puluhan kru dan sekitar 50 pemeran tambahan.
“Persiapannya sekitar dua sampai tiga bulan, tapi syutingnya sendiri hanya tiga hari,” ujarnya.
Produksi film melibatkan komunitas kreatif lintas daerah, termasuk relawan komunitas gereja yang membantu kru maupun pemain.
Total biaya produksi film diperkirakan mendekati Rp100 juta, seluruhnya dikerjakan secara kolektif oleh tim independen.
Terinspirasi Fenomena Korupsi Nyata
Penulis sekaligus aktor film Confessio, Asa Jatmiko, mengungkapkan ide cerita berangkat dari pengalaman pribadi yang kemudian berkembang menjadi kritik sosial.
“Awalnya hanya kejadian kecil yang memantik ide. Lalu saya mengembangkan cerita tentang koruptor yang mengganti bantuan beras rakyat demi keuntungan pribadi,” paparnya.
Ia mengaku saat proses penulisan naskah, tema korupsi dipilih karena relevan dengan kondisi sosial Indonesia. Bahkan setelah film selesai, kasus serupa justru muncul di tingkat nasional.
“Saya ingin mengajak siapa pun yang punya kekuasaan atau pernah berbuat salah untuk berani mengaku dan membersihkan diri,” jelasnya.
Dalam tradisi Katolik, pengakuan dosa menjadi elemen penting dalam cerita film ini. Melalui ruang pengakuan dosa, konflik spiritual dan moral tokoh utama mencapai klimaks emosional.
Dari Nominasi Internasional ke Roadshow Screening
Meski belum meraih penghargaan utama di festival tersebut, mereka menilai pencapaian nominasi internasional menjadi motivasi besar bagi sineas muda.
“Ini karya pertama kami sebagai rumah produksi. Setidaknya kami sudah menancapkan bendera bahwa teman-teman daerah juga bisa berkarya di level dunia,” ucapnya.
Setelah festival, film Confessio dijadwalkan menjalani rangkaian pemutaran dan diskusi publik di sejumlah kota, termasuk Ambarawa dan Kudus. Tim produksi juga tengah menunggu hasil seleksi festival film tingkat ASEAN.
Menurut Asa Jatmiko, tujuan utama film ini bukan sekadar kompetisi, melainkan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. “Pesannya sederhana, menjadi manusia itu harus berani memaafkan dan berani mengakui kesalahan,” tandasnya.
Keberhasilan Confessio membuktikan bahwa karya sineas daerah mampu bersaing secara global, sekaligus menunjukkan bahwa cerita lokal dengan isu kemanusiaan universal tetap memiliki tempat di panggung perfilman dunia.(*)
--------------------------
SUMBER:
https://kaifanews.com/tak-dilirik-di-indonesia-film-confessio-karya-sutradara-asal-kudus-malah-tembus-festival-film-internasional/



