Taman Cattleya

PUISI

Oleh: Selendang Sulaiman

8/1/2026

taman cattleya

di taman cattleya seberang mal taman anggrek,

malam terjun dari bising perlintasan tol tomang.

kau ulurkan tangan ke tanganku yang gemetar,

di atas rumput basah, kita duduk tanpa bicara.

sambil menatap kemilau iklan di layar videotron,

di bawah barisan pohon palem kita bercermin:

pada sepasang remaja pelukan tanpa ragu,

parfum sengaknya tersapu angin basah november.

kita saling merapatkan bahu enggan berdekapan,

merasakan hangat sebelum gerimis turun sebentar,

dan kita tak mencari atap berteduh biar romantis.

lihat gadis itu, tertunduk saat rambutnya digerai,

lelakinya menangis bagai gelaran teater di lumpur:

dan kita eratkan genggaman—saling menyembuhkan.

sepatu cokelat.

“aku lebih suka memanggilmu, pak

dan lebih suka kau memanggilku, bu!”

tegasmu tempo hari di bawah beringin tua,

sambil minum kopi penangkal getir masa depan.

kau tahu, lantaran hanya sepatu cokelat,

kita terperangkap persekutuan nasib—

sebagai seniman yang belajar menjadi manusia.

sejak itu kita saling memanggil: pak & bu.

lalu kumitoskan sepasang sepatu cokelat itu,

satu-satunya saksi kita melangkah ragu-ragu,

mencari jalan ke titik tujuan yang sama.

“aku lebih suka memanggilmu, pak

dan lebih suka kau memanggilku, bu!”

kita akrab saling sapa padahal belum menikah.

napas riskiana.

perjalanan kita sudah telanjur jauh,

sejak gerimis turun pertama di pelaminan—

meski di gang-gang sempit ini penuh gemuruh:

suara token listrik dan teriakan manusia jakarta.

dari halaman rumah, ruang tunggu terminal,

hingga pintu stasiun tempat kita antar-jemput—

sungguh cukup meneguhkan nyali di dada,

walau cita-cita kita sempat nyaris pupus.

kaki dan punggungku masih kekar,

mari melangkah tanpa memekik klakson,

menuju rumah baru tempat kita menua.

walau kini tak ada lilin dan lagu perayaan,

kuucapkan ikrarku padamu: cintaku total—

sebab menua bersamamu adalah kemenangan.

jakarta, 2026

nikmat hidup.

membaca ulang riwayat perjalanan kita,

seperti berjalan di bantaran kali ciliwung.

rindu serupa arus menghanyut bangkai badan,

yang babak belur usai bertarung dengan nasib.

malam tiba tak pernah telat mengunjungi kita,

yang merentangkan lengan untuk saling dekap.

tak ada bulan di langit pucat jakarta malam ini,

dan wajahmu melenyapkan kelesuan hidupku.

betapapun kefanaan membayangi sisa usia,

aku tak pernah takluk, kecuali terus belajar,

pada kesetiaan jarum pada angka-angka.

kita tak pernah mengejar kesempurnaan,

bisa bernapas tenang sepanjang istirah—

adalah nikmat hidup paling nyata dan fana.

nisan kemiskinan.

jika puisi hilang lidah pembela kaum papa,

apa guna memiara ilusi gelap mencipta-cipta?

jika metafora tak bisa mendobrak tembok kemaruk,

siapa yang bersedia mengeja nisan kemiskinan?

bila seluruh kata-kata menjadi buta dan lumpuh,

mana bisa ia turun melawan barracuda penindasan?

dan jika puisi sekadar jadi pajangan sentimentil

untuk apa kita pamerkan di panggung kesenian?

aku tak butuh puisi jadi lembah dan sungai,

tempat pelarian orang-orang munafik.

kuburlah seluruh pidota kebijaksanaan!

soneta ini tak mesti jadi pemantik gencatan senjata,

di atas negeri yang diam-diam kembali dijajah,

biar tak ada lagi orang kecil gugur sia-sia.

nenggak energi.

sabtu biru,

menunda lelah yang suntuk,

saat orang-orang melarikan diri

dari kota yang terkepung debu.

kepada wajah-wajah asing,

mereka suguhkan senyum.

mencipta kenangan pelarian,

untuk menimbun ingatan lain.

sabtu kini lekas berlalu,

hari minggu tersekap cemas.

saat mereka dipaksa nenggak energi baru,

untuk kembali berjibaku—

bertarung dengan tenggat kantor:

pencekik rasaceria di kota yang ruwet.

salah pilih.

di negeri antah-berantah, seorang putra mahkota

ditinggal sendirian dalam cengkeraman takhta.

penasehat agung, menteri, patih, dan permaisuri—

bahkan seluruh prajurit sepakat hengkang bersama.

berat beban sejarah menindih pundak putra mahkota,

istana megah seketika menjelma sangkar kutukan.

rakyat dari segala penjuru beruntun menghujatnya:

kesalahan silsilah mana yang sedang ia rayakan?

siang hari, muncul seorang kawindra asing

dari utara lembah, melompati bukit larangan

pakaian sederhana, tanpa alas kaki, tanpa gawai.

di pasar induk ia masuk ke kedai kopi yang ramai.

pada kerumunan yang bergunjing ia berbisik dingin:

para dewa salah memilih wakil di negeri ini.

Jakarta, 2026

--------------------------
SELENDANG SULAIMAN
Penulis tinggal di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.id. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, republika.id, dll. Antologi Puisi Tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan “Peta Biru Dunia Ketiga” (Penerbit JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya, segera terbit di akhir tahun 2026.

INIIBUBUDI
Sejak 17 Februari 2016

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

© 2026 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang